Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Mulai Mendapatkan Petunjuk


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Ke esokan harinya..


"Wake up Babby.. Sudah waktunya untuk mu meminum obat siangmu.." Javer berkaya seraya mengelus pipi kiri Teya dengan lembut.


"Hmmm.. Berikan aku waktu 10 menit lagi.." Gadis itu berkata seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Javer.


Yang mana, hal itu seketika membuat Javer terkekeh gemas lalu mencubit pipi kiri Teya dengan sangat gemas. "Ini sudah ke 4x nya kau meminta waktu 10 menit.."


Gadis itu lantas menghela nafasnya dengan sangat berat kemudian sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer. "Tidak bisa kah aku tidak meminum obat?"


"Untuk hal ini, aku tidak bisa menurutinya.."


"Ck, ayolaaaaah.. Tanpa meminum obat pun aku tetap akan sembuh.." Gadis itu merengek dengan sangat dramatis.


"Atau aku harus menyuapimu obat seperti semalam?" Javer bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Teya yang mendengar hal itu pun seketika mengerjapkan matanya seraya membayangkan tentang semalam. Di mana setelah Javer kembali dan mendengar jika Teya tidak mau meminum obatnya. Javer pun memaksa Teya meminum obatnya dengan cara menjejalkan obat itu pada Teya menggunakan mulut pria itu.


"Baiklah.. Kalau begitu, mari kita gunakan metode semalam.." Javer berkata seraya hendak beranjak dari tidurnya tat kala Teya tak kunjung memberikan respon.


Namun, gadis itu segera menghentikan Javer. "Haishh.. Ok, ok.. Aku akan meminum obatku sendiri!!" Gadis itu berkata dengan sedikit bersungut-sungut seraya beringsut dari tidurnya untuk duduk.


Javer lantas segera beranjak dari tidurnya, lalu mengambil obat dan segelas air yang ada di atas meja kemudian mengulurkannya pada Teya.


"Come on babby.. Ini hanya 1 butir.."


Teya pun menerima obat dan segelas air itu dengan sedikit enggan kemudian memasukkan obat itu ke dalam mulutnya, lalu segera meminum air itu hingga tandas kemudian kembali menyerahkan gelas itu pada Javer.


"Kau puas? Pergilah.. Aku akan kembali tidur, perutku rasanya mual!!" Gadis itu kembali berkata dengan sedikit bersungut-sungut seraya menenggelamkam tubuhya di balik selimut.


Karena ya, begitulah Teya.. Alasan gadis itu enggan untuk meminum obat adalah karena dia tiba-tiba akan merasa mual.


Javer yang melihat hal itu pun hanya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian hendak mencium kening Teya.


"Jangan menciumku!! Aku membencimu!!" Gadis itu berkata dengan sinis sebelum Javer sempat menciumnya.


"Ok, ok.." Ucap Javer seraya terkekeh geli. "Kalau begitu tidurlah, aku berada di ruang tamu bersama Kheil, kau bisa memanggilku kapan saja.."


"Hmmm!!" Gadis itu menyahut dengan sangat ketus.

__ADS_1


Javer yang mendengar hal itu pun lagi-lagi terkekeh geli kemudian segera berlalu pergi dari sana.


"Bagaimana?" Javer bertanya seraya duduk di samping Kheil.


"Semuanya sesuai dengan dugaan kita, kita hanya perlu memastikannya sekali lagi."


Javer pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menghubunginya." Pria itu berkata kemudian menghubungi seseorang menggunakan ponselnya.


Setelah dering ke 4, orang itu pun mengangkat panggilannya.


(Hai Javer.. Apa yang membuatmu menghubungi *Zia?)


*Zia : Tante dalam bahasa itali.


"Bisa kah kita bertemu?"


(Sure, kau bisa datang ke rumah nanti malam.)


"Ok," Ucap Javer kemudian mematikan sambungan.


....


Malam harinya, Javer pun segera mendatangi rumah seseorang yang di panggilnya Zia itu.


"Apa yang membawamu kemari?" Tanya wanita yang di panggil Zia itu pada Javer yang kini tengah duduk berhadapan dengannya di sofa.


Namun, ketika wanita itu hendak menjawab. Seorang pria tua sudah lebih dulu menginterupsinya.


"Mona, siapa yang datang?" Pria tua berkaca mata itu bertanya seraya berjalan mendekat menggunakan sebuah tongkat sebagai alat bantu jalannya.


Ya, Wanita yang di panggil oleh Javer dengan sebutan Zia itu adalah Mona.


"Ohooo.. Lihatlah pria berandal ini.. Sudah 2 tahun lamanya, dia tiba-tiba datang untuk meminta informasi dengan tanpa membawa apa pun.." Pria tua berkaca mata itu kembali berkata kemudian duduk di samping mona.


Javer pun menatap pria tua itu dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kau masih hidup? Aku kira kau sudah mati kakek tua Robert.."


Kakek Robert yang mendengar hal itu pun seketika tertawa renyah. "Haaaah.. Kau memang benar-benar keturunan Yama."


Ya, kakek tua berkaca mata itu adalah kakek tua Robert. Pria tua yang kini sudah memasuki usianya yang ke 90 tahun. Namun ketahuilah, di umurnua yang terbilang sudah terlalu tua untuk hidup, meskipun pria itu harus berjalan dengan menggunakan alat bantu berupa tongkat, pria itu masih terlihat sangat segar bak pria berusia 60 tahun.


Kakek Robert lantas melepaskan kaca matanya kemudian meletakkan kaca mata itu di atas meja. "Apa yang membawamu kemari?"


"Javer ingin menanyakan tentang dia." Mona berkata seraya menyerahkan foto itu pada Kakek Robert.


Kakek Robert pun menerima foto itu kemudian menatap Javer dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kau meminta informasi tanpa memberikan imbalan?" Kakek tua itu bertanya dengan sedikit sinis.

__ADS_1


Yang mana, hal itu seketika membuat Javer mengembangkan senyum simpulnya.


"Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong." Javer berkata seraya meletakkan sebuah kotak kecil ke tas meja.


Kak Robert yang melihat hal itu pun segera membuka kotak itu lalu menatap isi kotak itu dengan pandangan mata yang sangat berbinar.



Pict by : Pinterest


Yang mana, isi di dalam kotak itu adalah cerutu langka yang setiap 1 batang cerutunya bisa mencapai harga jutaan dolar akibat cara pengolahannya yang terbilang sulit.


*Note : Anggap aja kayak gitu lah ya wakk..


"Kau memang selalu mengerti apa yang kakek tua ini butuhkan.." Kakek Robert berkata kemudian.


Mona dan Javer yang melihat hal itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Ok, baiklah.. Sampai di mana tadi kita?" Kakek Robert bertanya seraya meletakkan kembali kotak cerutu itu ke atas meja.


"Siapa pria itu?" Tanya Javer.


Kakek Robert menghela nafasnya sejenak lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "*Fier? Hmm.. Dia adalah salah satu anak didik kakek yang sangat kakek andalkan juga sangat kakek percaya, bahkan kakek dulu sedikit enggan untuk mempekerjakan dia pada daddy mu. Tapi, setelah dia memberitahu kakek kalau dia berhenti dari pekerjaannya, dia dan adik perempuannya tiba-tiba saja menghilang entah kemana." Tutur Kakek Robert.


*Fier : Nama si mata-mata.


"Adik perempuan?" Javer bertanya dengan sedikit mengerutkan dahinya.


"Hmm.." Mona menganggukkan kepalanya. "Adik perempuan, dulu kakek tidak hanya merawat pria itu saja, tapi juga adik perempuannya. Karena mereka adalah anak yang di buang oleh orang tua mereka. Bahkan dulu *Eliza adalah teman bermain Zia."


*Eliza : Nama adik perempuan si mata-mata.


Javer pun mengangguk-anggukan kepalanya kemudian bertanya. "Apa dia tidak mengatakan sesuatu sebelum dia dan adik perempuannya menghilang? Atau, adakah sesuatu yang sedikit aneh dari adik perempuannya sebelum mereka menghilang?"


"Ada.." Sahut Mona cepat.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2