
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Di sisi lain.. Di hari yang sama..
Terlihat seorang pria yang tengah duduk di meja kerjanya seraya memandangi beberapa foto yang ada di atas mejanya dengan sangat intens.
Bersama seorang pria yang berdiri di depannya yang merupakan orang yang telah memberikan foto-foto itu.
"Jadi, hari ini gadis itu sudah kembali menjalani kehidupan normalnya, heh.. Beruntunglah kau karena masih bisa selamat dari kecelakaan mau itu.." Pria itu bergumam seraya menatap hasil jepretan itu lekat-lekat.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Tuan?" Tanya si pria yang tengah berdiri itu.
"Biarkan saja dulu, kita harus menyusun rencana dengan sangat matang.."
"Baik Tuan.. Lantas, apa ada sesuatu hal lain yang anda butuhkan, Tuan?"
Si pria yang sedang duduk itu menggelengkan kepalanya. "Tidak.. Kau boleh pergi."
"Baik Tuan, permisi." Ucap si pria itu lalu menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Tepat saat si pria itu membuka pintu, terlihat seorang wanita berusia sekitar 50tahunan yang sudah berdiri di depan pintu. Pria itu lantas menundukkan kepalanya pada si wanita itu sebelum akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana.
Si wanita itu pun masuk ke dalam ruangan dan menatap tajam si pria yang ada di dalam ruangan itu.
"Bisa kah kau menghentikan semua kegilaan ini, Fabio?" Wanita itu bertanya dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Ya, si pria yang tengah memandangi hasil jepretan itu adalah Fabio. Pria yang kini tengah menjadi incaran Javer.
Fabio yang mendengar hal itu pun mengangkat wajahnya, lalu membalas tatapan si wanita itu dengan tak kalah tajam. "Mah, bisa kah mamah berhenti mencampuri urusanku?" Pria itu bertanya dengan suara rendahnya.
Yup.. Wanita itu adalah ibu Fabio.. Atau yang kita ketahui bernama Eliza.
"Kau benar-benar tidak mengerti, Fabio.. Tidak seharusnya kau melakukan semua ini!!" Eliza berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
"Apa yang tidak aku mengerti mah!! Bukannya semua sudah cukup jelas untuk aku pahami!!"
Eliza yang sudah tidak bisa menahan emosinya pun semakin meninggikan suaranya. "Fabio!! Dengarkan mamah!! Semuanya tidak akan pernah selesai dengan membalas dendam.. Cukup sudahi sampai di sini.. Atau kita semua yang akan berada dalam bahaya!!"
"Aku tidak akan pernah menghentikannya, mah!! Aku sudah sejauh ini.." Fabio membalas perkataan Eliza dengan tak kalah tajamnya.
"Tapi Fabio.. Mereka bukan orang sembarangan!! Tidak bisa kah kau berhenti mendengarkan pamanmu?? Tidak bisa kah kau hanya mendengarkan mamah?? Mamah tidak ingin kau terus berada dalam belenggu kebencian yang tidak berkesudahan!! Mamah mohon, hentikan semua ini.."
"Mah!! Apa mamah lupa tentang apa yang sudah dia perbuat kepada kita?? Aku tidak bisa membiarkan mereka hidup dengan tenang!! Sementara kita harus menderita di balik pengasingan!!"
__ADS_1
"Fabio!! Sudah mamah bilang, itu bukan salah mereka!!"
"Lantas siapa di sini yang salah, hah!!"
"Fabio, mamah mohon.. Dengarkan mamah untuk satu kali ini saja.. Mamah akan menjelaskan semuanya kepadamu.. Tapi mamah mohon, hentikan semua ini.."
Fabio lantas beranjak dari duduknya. "Sudahlah mah.. Mamah cukup diam dan memperhatikan saja apa yang aku lakukan.." Pria itu berkata kemudian berlalu pergi dari sana dengan di penuhi rasa emosi.
Namun, di balik emosinya itu. Tersirat tanda tanya besar di dalam kepalanya tentang apa yang hendak di sampaikan oleh ibunya yang katanya menderita gangguan mental?
Karena ya, selama ini, yang Fabio ketahui.. Ibunya menderita gangguan mental, hingga membuat pamannya sedikit menjauhkannya dari ibunya.
Tapi, setelah apa yang Fabio pelajari akhir-akhir ini.. Ibunya terlihat seperti orang pada umumnya.
Fabio yang kini sedang mengemudi untuk menemui seseorang pun menghela nafasnya dengan sedikit lelah.
Haruskah dia mendengarkan apa yang akan di katakan oleh ibunya? Atau haruskah dia tetap bertahan dengan kepercayaannya terhadap pamannya?
....
Ke esokan harinya...
"Apa kalian tidak melihat kedatangan si gadis tengil itu?" Teya bergumam seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja cafe.
Gena dan Hana menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, untuk apa memikirkan gadis yang tidak penting itu.." Ucap Gena.
Teya menelungkupkan wajah pada kedua tangannya yang di lipat di atas meja seraya kembali bergumam. "Ck, tapi ini sedikit mengganggu pikiranku.. Lantas untuk apa dia pindah kemari jika hanya untuk bermain-main??"
"Sudahlah Te... Mungkin dia sedang memiliki urusan lain hingga tidak menghadiri kelas.." Gena berkata kemudian menyesap kopinya.
"Tapi Javer juga sejak pagi tidak bisa di hubungi!!" Teya menyahut cepat dengan sedikit merengek.
"Kenapa kau tidak mendatangi kantornya saja.." Hana berkata dengan acuh tak acuh.
Teya yang mendengar hal itu pun seketika menegakkan tubuhnya. "Ah ya, kenapa aku tidak terpikirkan hal itu sejak tadi!!" Gadis itu bekata kemudian beranjak dari duduknya.
"Kalau begitu aku pergi dulu.. Bye.." Gadis itu kembali berkata seraya berlalu pergi dari sana.
Teya kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kantor milik Javer.
Sesampainya di sana, Teya lalu segera melangkah menuju ruangan Javer.
Marco yang melihat kedatangan Teya pun seketika menghentikan gadis itu dengan sedikit gelagapan.
"Nona.. Anda mau kemana?" Marco bertanya seraya menghampiri Teya.
__ADS_1
Teya lantas menghentikan langkahnya lalu menatap Marco.
"Aku?" Teya menunjuk dirinya sendiri. "Bukan kah terlihat jelas jika aku akan masuk ke ruangan Javer.."
"Begini nona.." Marco berkata dengan sedikit ragu. "Sebaiknya nona kembali nanti, saat ini Tuan sedang memiliki urusan."
Yang mana, hal itu seketika membuat Teya menaikkan sebelah alisnya. "Urusan?"
Marco mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, urusan.."
Teya yang melihat itu pun bersedekap dada. "Bisa kah aku tidak mempercayaimu? Kau terlihat mencurigakan.." Gadis itu berkata dengan sangat menyelidik.
Marco dengan refleks mengusap tengkuknya canggung. "Sebaiknya Nona mempercayai saya.."
"Gelagatmu aneh Marco.. Apa yang sedang berusaha kau sembunyikan?" Teya bertanya dengan alis yang menukik tajam.
"Saya tidak menyembunyikan apa pun nona.." Sahut Marco cepat.
"Maka menyingkirlah.. Biarkan aku melihat apa yang terjadi di dalam sana."
"Tapi nona.."
"Jika kau tidak menyembunyikan sesuatu, seharusnya kau tidak menghalangi jalanku Marco!!" Teya segera memotong perkataan Marco dengan sangat tajam.
Marco pun mau tidak mau menyingkir dari jalannya.
Teya lantas segera melangkah menuju ruangan Javer yang hanya tinggal beberapa langkah di depannya.
Marco pun hanya bisa menatap punggung Teya dengan tatapan pasrah.
Hingga ketika Teya membuka pintu, gadis itu seketika mematung di depan pintu.
Marco yang melihat hal itu pun hanya bisa meneguk ludahnya dengan kasar.
"Mati aku..." Marco bergumam seraya mengusap tengkuknya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..