
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Sebelumnya..
Namun, ketika gadis itu selesai membersihkan diri.
"Astaga Teya.. Kenapa kau bodoh sekali....." gadis itu berkata pada dirinya sendiri yang terpantul dari cermin kamar mandi.
.....
"Kenapa kau tidak meminta pakaian dulu sebelum pria itu pergi.. Tidak mungkin kan kau akan terus-terusan mengenakan jubah mandi" gadis itu kembali berkata seraya mengetuk-ngetuk keningnya menggunakan jari telunjuknya.
Gadis itu kini baru sadar jika dia sama sekali tidak membawa satu helai pun pakaian ganti. Salahkan saja Javer yang tiba-tiba memaksanya untuk mengikuti pria itu ke jepang, sehingga dia sama sekali tidak menyiapkan apa pun.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar seseorang menekan bel.
Teya pun segera membukakan pintu untuk orang itu yang ternyata adalah Marco.
"Nona, saya datang untuk mengantarkan makan malam" ucap Marco seraya menundukkan kepalanya.
Teya menganggukkan kepalanya. "Kau bisa meletakkannya di dalam" ucap gadis itu kemudian memberikan jalan untuk Marco masuk ke dalam kamar.
Setelah meletakkan makanan itu di atas meja, Marco pun berniat untuk segera pergi. Namun, saat di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya lalu kembali membalikan tubuhnya nenghadap ke arah Teya yang kini tengah mengetik sesuatu di ponselnya.
"Nona, saya sudah menyiapkan semua perlengkapan yang Nona butuhkan di dalam lemari" ucap Marco.
Mendengar apa yang di katakan Marco, seketika membuat Teya menoleh pada Marco dengan pandangan berbinar. "Ah, terima kasih" ucap Teya.
Marco pun menganggukkan kepalanya kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.
Setelah Marco menutup pintu kamar, Teya segera menghampiri lemari yang menyatu dengan tembok, kemudian menekan tombol yang ada di pintu lemari untuk membuka pintu lemari itu.
"Ck, ck, ck, ck, ck.. Aku lupa jika tunanganku adalah seorang Javer Vencentio Griffiths.." ucap Teya seraya menatap beberapa perlengkapan untuknya yang sudah tersusun rapi dengan beberapa perlengkapan milik Javer.
Pict by : Pinterest
Teya lantas meraih satu pakaian santai lalu segera mengenakannya.
Setelahnya, gadis itu melangkah menuju makanan yang sudah tersusun rapi di atas meja.
__ADS_1
"Apa aku harus menunggu pria itu?" gadis itu bergumam setelah mendudukan dirinya di atas kursi.
"Tapi aku lapar..." mata Teya kini menatap makanan itu dengan tatapan sendu.
"Tapi.. Ah sudahlah, sebaiknya aku menunggu pria itu" ucap Teya lalu menopang dagu di atas meja menggunakan tangan kirinya.
1 menit, 2 menit, 3 menit.. Hingga 30 menit terlewati..
Hingga tak terasa kini Teya sudah merebahkan kepalanya di atas meja dengan mata yang terpejam.
Tak berselang lama setelah gadis itu kembali tertidur, Javer datang memasuki kamar mereka.
Javer seketika terkekeh saat melihat gadisnya yang menunggu kedatangannya hingga tertidur di atas meja. Pria itu sekilas melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang kini waktu telah menunjukkan pukul setengah 12 malam.
Javer pun melangkah menghampiri Teya lalu mengelus kepala gadis itu dengan lembut. "Maaf, aku meninggalkanmu terlalu lama" ucap Javer kemudian menggendong gadis itu ala bridal menuju kasur.
Setelah membaringkan Teya di atas kasur, Javer beranjak untuk membersihkan diri sebelum akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di samping Teya.
Pria itu menarik Teya agar masuk ke dalam pelukannya lalu mengecup kening Teya untuk beberapa saat. "Good night babby" ucap Javer lalu memejamkan matanya.
.....
Ke esokan harinya...
Setelah melewati perdebatan yang cukup dramatis, Javer pun setuju untuk menemani gadis itu berbelanja.
Karena permintaan gadisnya yang tidak bisa di ganggu gugat, juga karena tidak ingin membuat gadisnya semakin bertambah kesal. Javer pun mau tidak mau harus sedikit mengundur waktu untuk melakukan transaksi dengan Mr.Yokotama.
Dan berakhirlah dengan mereka yang kini tengah berada di pusat perbelanjaan.
"Javer.." ucap Teya seraya melirik Javer yang tengah berjalan di sampingnya.
"Hmm" Javer menjawab tanpa menoleh pada Teya.
"Ayo kita kesana" gadis itu berkata seraya menunjuk salah satu toko sepatu yang sedikit menarik perhatiannya.
"Sure" ucap Javer.
Namun, ketika mereka akan mendekati toko, tiba-tiba saja ada seorang pria tua dan seorang gadis yang datang menghampiri mereka.
"Tuan Javer, tidak di sangka kita akan bertemu di sini" ucap pria tua itu yang ternyata adalah Mr.Yokotama.
"Ya, tidak di sangka" Javer menyahut dengan nada datarnya.
Mr.Yokotama yang sudah terbiasa dengan sikap Javer pun hanya menanggapinya dengan senyuman.
__ADS_1
Seakan tidak menghiraukan keberadaan Teya, Mr.Yokotama berkata. "Kalau begitu kebetulan sekali.. Perkenalkan, ini anak gadis saya" kemudian menarik seorang gadis yang usianya terlihat tidak terlalu jauh dengan Teya agar berhadapan dengan Javer.
Yang mana, hal itu membuat Teya menatap Mr.Yokotama dan gadis itu dengan sedikit menaikkan sebelah alisnya.
Teya lantas berdecih kecil ketika gadis itu memperkenalkan diri pada Javer dengan gayanya yang terkesan malu-malu.
"Perkenalkan, saya Akira" ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Javer.
Teya pikir, Javer akan menyambut uluran tangan gadis itu dengan sikap dinginnya. Namun tebakannya salah, Javer justru menyambut uluran tangan gadis itu dengan ramah.
"Kau sudah pasti mengenalku" ucap Javer.
Melihat hal itu, entah kenapa tiba-tiba saja membuat hati Teya terasa sedikit panas. "Apa mereka benar-benar tidak melihat keberadaanku?" teya merutuk di dalam hati.
Namun, saat Teya hendak memalingkan wajahnya, gadis itu mengurungkan niatnya ketika Mr.Yokotama mengajaknya untuk berkenalan.
"Lalu, siapa gadis cantik ini?" Mr.Yokotama bertanya seraya mengulurkan tangannya pada Teya.
Teya lantas menyambut uluran tangan Mr.Yokotama dengan sedikit menyunggingkan senyum kecilnya. "Anda bisa memanggil saya Teya, Tuan"
Mr.Yokotama pun membalas senyuman Teya. "Baiklah Nona Teya" ucap Mr.Yokotama lalu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Kebetulan ini sudah memasuki waktu makan siang, bagaima kalau kita makan siang bersama?"
Javer pun menganggukkan kepalanya guna menyetujui ajakan Mr.Yokotama.
Selama makan siang berlangsung, Teya tidak bisa benar-benar menikmati makanannya karena merasa sedikit terganggu dengan celotehan-celotehan yang terus saja keluar dari mulut Akira.
Dan yang membuat Teya lebih terganggu lagi adalah Javer yang justru sesekali menanggapi celotehan Akira dengan sikap yang begitu santai.
Namun, Teya masih berusaha menekan kesabarannya dengan berusaha bersikap acuh tak acuh.
Tapi, lama kelamaan, Teya mulai merasa tidak sabar ketika memperhatikan sikap Akira yang kian lama kian berani melakukan kontak fisik dengan Javer.
Karena entah kenapa, hal itu membuat hati Teya yang sebelumnya terasa panas kini kian memanas.
Yang mana, hal itu membuat tangan kanan Teya tanpa sadar terangkat untuk meremat lengan kiri Javer. "Sayang, bisa kah kita cepat kembali? Kepalaku tiba-tiba saja terasa sedikit pusing"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Byee byeeee..