
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Setelah menutup pintu kamar, Javer segera menghampiri Kheil dan Marco yang sedang duduk di ruang tamu dengan sebuah laptop menyala yang ada di hadapan Kheil.
Pict by : Pinterest
"Apa yang kau temukan?" Javer bertanya pada Kheil seraya duduk di sofa single yang ada di sebelah kiri Kheil.
Kheil lantas mengembangkan senyum simpulnya lalu menoleh pada Javer. "Kau akan sedikit terkejut atas apa yang aku temukan." Pria itu berkata seraya menghadapkan laptop itu pada Javer.
Setelah membaca apa yang Kheil temukan, seketika membuat Javer menaikkan sebelah alisnya. "Kau yakin?"
Kheil menganggukkan kepalanya. "Aku sudah mencocokkan datanya berkali-kali, dan hasilnya selalu sama. Tapi kita tetap perlu memastikannya sekali lagi agar semuanya menjadi jelas."
Javer pun menganggukkan kepalanya kemudian menatap Marco. "Bagaimana dengan pria itu?"
"Sudah berada di markas bersama dengan Tuan Liam dan Tuan Enzo."
Javer lantas beranjak dari duduknya. "Kau tetap lah di sini bersama Kheil dan pastikan semuanya aman terkendali." Titah Javer.
"Baik Tuan."
Setelahnya, Javer pun segera berlalu pergi dari sana untuk menuju markas.
.....
Sesampainya di markas..
Javer tidak segera memasuki ruangan penyiksaan, pria itu terlebih dahulu menghampiri Liam dan Enzo yang berada di ruang khusus pengawasan ruang penyiksaan.
"Bagaimana keadaan gadismu?" Enzo bertanya pada Javer yang baru saja memasuki ruangan.
"Dia baik-baik saja.."
"Hmm.." Liam menghela nafasnya kemudian berkata. "Dia memang gadis yang sangat kuat, tidak heran kau begitu tergila-gila padanya."
Javer hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh lalu duduk di samping Liam.
"Kalian sudah menginterogasinya? Dia terlihat baik-baik saja.." Javer berkata seraya memperhatikan monitor yang tengah menampilkan gambar seorang pria yang sedang terikat dalam posisi duduk.
"Kami menunggu kedatanganmu." Jawab Liam dengan acuh tak acuh.
Javer lantas menghela nafasnya lalu mengeluarkan sebatang rokok milik Liam kemudian menyalakannya.
Setelah menikmati hisapan kedua, Javer segera beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju ruang penyiksaan.
__ADS_1
Sejenak, Javer menatap pria yang masih tak sadarkan diri itu dengan sangat tajam seraya kembali menghisap rokok itu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, Javer menyundutkan rokok itu pada pipi kiri si pria yang terikat hingga membuat pria itu berjengkit kemudian berteriak kesakitan.
"Sia..lan.. Terkutuk.. Iblis jaha..nam..!!" Pria itu memaki Javer dengan suara yang menggeram seraya menatap Javer dengan sangat tajam.
Alih-alih menghiraukan makian pria itu, Javer lebih memilih untuk mendekati lemari kaca.
"Apa yang akan kau lakukan padaku breng..sek??!!"
Pria itu berteriak tat kala melihat Javer mengambil sebuah tang yang tersusun rapi dengan beberapa gunting yang ada di dalam lemari kaca.
Namun, Javer lagi-lagi tidak menghiraukan pria itu.
Javer lantas melangkah mendekati pria itu dengan perlahan. "Katakan, siapa yang menyuruhmu?" Pria itu bertanya seraya menimang tang yang ada di genggamannya.
"Cuiiih.." Pria itu meludah lalu berkata. "Aku tidak akan mengatakan apa pun!!"
Javer yang mendengar hal itu pun hanya terkekeh kecil lalu mencengkram mulut pria itu dengan sangat kuat. "Siapa yang menyuruhmu?"
"Aku twidwak... Aaaarrghhhhhhhh!!!!!!!"
Perkataan pria itu seketika tergantikan dengan teriakan pilu tat kala Javer mencabut 1 gigi depannya menggunakan tang itu secara perlahan hingga membuat darah mulai mengalir dari mulutnya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Javer kembali bertanya seraya membuang gigi pria itu ke sembarang arah.
Alih-alih menjawab, pria itu berusaha mengatupkan mulutnya rapat-rapat seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap agar rahangnya terlepas dari cengkraman Javer.
Namun apalah daya, kekuatan pria itu tidak sebanding dengan kekuatan Javer.
"Mmmmmmmmmm..." Pria itu tetap berusaha untuk mengatupkan mulutnya.
Javer yang mulai kehilangan sedikit kesabarannya pun kini kembali mencabut 2 gigi depan pria itu dengan sangat brutal, membuat darah semakin mengalir dari mulut pria itu hingga benar-benar membasahi dada si pria itu.
"Aaaarrghhhhhhhh..." Pria itu berteriak dengan nafas yang kini sudah sangat tersengal-sengal juga dengan keringat yang sudah membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.
"Cuihhh.." Pria itu lantas meludah tepat mengenai wajah Javer lalu berkata. "Kau.. Kau mwemwang kwetwurunwan ibwils!!" Pria itu berkata dengan sedikit lirih seraya menatap Javer dengan sangat tajam.
Yang mana, hal itu membuat Enzo dan Liam yang tengah memperhatikan adegan itu dari layar monitor kini menatap pria yang sedang terikat itu dengan sedikit iba.
"Ck, ck, ck, ck, ck.." Liam berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bergumam dengan sedikit heran. "Apa pria itu memiliki nyawa cadangan?"
Enzo yang mendengar itu pun menoleh pada Liam. "Ku rasa pria itu kini sedang mencoba untuk uji nyali." Sahut Enzo dengan acuh tak acuh lalu kembali fokus pada layar monitor, memperhatikan apa yang selanjutnya akan Javer lakukan.
Setelah melepaskan cengkramannya pada rahang pria itu. Javer lantas mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya untuk menyeka ludah bercampur darah yang ada di wajahnya. Setelah menyeka wajahnya, Javer lalu membersihkan darah yang mengotori tangannya kemudian melemparkan sapu tangan itu ke sembarang arah.
"Apa kau sudah cukup bermain-main?" Javer bertanya pada pria itu seraya mengambil sebuah gunting kecil yang ada di dalam lemari kaca.
Alih-alih menjawab, pria itu hanya menatap Javer dengan sangat nyalang seakan tengah menantang Javer.
Javer yang melihat hal itu pun hanya menaikkan sebelah alisnya, kemudian menghampiri pria itu lalu menarik sejumput rambut pria itu dengan sangat kuat.
"Kau benar-benar tidak akan mengatakannya??"
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah mengatakannya!!" Pria itu menyahut dengan teriakan yang sangat nyalang.
"Ck, ck, ck.. Kau terlalu keras kepala.."
Tepat setelah mengatakan hal itu, Javer menggunting sejumput rambut pria itu sampai ke kulit kepalanya, hingga membuat darah si pria itu sedikit terciprat mengenai kemeja yang Javer kenakan, dan juga mulai mengalir membasahi kepala si pria itu.
"Aaaarrghhhhhhh.." Pria itu kembali berteriak dengan sangat pilu tat kala merasakan betapa sakit area kulit kepalanya yang di gunting oleh Javer..
"Iblis gilaaa!! Bang..shaat..!!! Bunuh saja aku kepa..rat!!!" Pria itu berkata dengan sedikit lirih.
Pria itu kini terlihat mulai merasa lemas karena darah terus saja keluar dari dalam tubuhnya.
"Masih tidak mau mengatakannya??" Javer bertanya seraya kembali menarik sejumput rambut pria itu di sisi yang lainnya.
Namun, karena pria itu tetap tidak menjawab. Javer pun kembali menggunting rambut pria itu sampai ke kulit kepalanya.
Hingga ketika Javer akan kembali menggunting sejumput rambut si pria di sisi kepala yang lainnya lagi, pria itu segera berseru dengan cepat.
"Aku, aku akan mengatakannya.. Aku mohon, lepaskan aku, aku akan mengatakannya.."
Karena sungguh, pria itu kini benar-benar sudah merasa sangat tak berdaya. Bukan hanya karena rasa sakit yang di deritanya, tapi juga karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya yang kini benar-benar membasahi seluruh kepala dan juga seluruh badannya.
Namun, Javer tidak segera melepaskan sejumput rambut pria itu. Javer justru semakin menarik sejumput rambut pria itu dengan sangat kuat.
"Katakanlah.." Ucap Javer.
"Fabio.. Fabio El Dorado.." Pria itu berkata dengan sangat lirih.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Javer pun melepaskan sejumput rambut pria itu lalu melemparkan gunting itu ke sembarang arah.
"Masukan dia ke kandang *Edora dan *Enora dalam keadaan hidup-hidup." Javer berkata pada bawahannya yang sedari tadi ada di sana seraya melepaskan kemeja yang di kenakannya.
*Edora dan Enora : Serigala peliharaan Javer.
Si pria yang mendengar kata kandang pun seketika berteriak dengan sangat pilu. "Tidak, tidak.. Tunggu.. Jangan lakukan itu.. Aku sudah mengatakan apa yang ingin kau ketahui.."
Namun, Javer tidak menghiraukannya. Pria itu lebih memilih untuk segera berlalu pergi dari sana karena sudah sangat merindukan pelukan hangat gadisnya..
...-TBC-...
Kira-kira kurang greget ga wakk adegan sadisnya??
Thanks for reading lah ya pokoknya.
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..