
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Cuap-cuap sebentar..
Buat yang udah baca bab 120, harap di baca kembali ya, soalnya sensi udah nambahin beberapa bagian. Kalo udah di baca, silahkan lanjut baca ke bab 121. Terimakasih β€οΈ
.....
7 tahun kemudian..
Beberapa minggu lagi, Al akan memasuki usianya yang ke 7 tahun. Anak itu kini sudah tumbuh menjadi anak pintar yang bisa melakukan segala hal hanya dengan beberapa kali pembelajaran. Dia kini sudah pandai menggunakan senjata. Tidak hanya senjata api, bocah tampan nan pintar itu juga pandai menggunakan pisau dan panah. Bahkan dia pandai bertarung dengan tangan kosong.
Semua itu berkat Javer dan ke empat pamannya yang selalu mengajarinya berbagai senjata dan juga bela diri. Siapa lagi jika bulan Enzo, Liam, Kheil dan Marco.
Ya, sejak Al berusia 3 tahun, mereka semua sudah mengenalkan Al pada senjata dan bela diri. Mereka tidak memaksa Al, melainkan Al sendirilah yang tertarik pada semua hal itu.
Itu semua berawal ketika Liam tengah mengajari Gena menembak. Al yang kebetulan berada di sana pun bermain-main dengan pistol yang ada.
Liam yang melihat hal itu pun meminta Al untuk mencoba menembakkan pistol yang di mainkannya. Dan ya, Al yang saat itu masih berusia 3 tahun, mampu menembakkan pistol itu dengan tangan mungilnya.
Sejak saat itulah, Javer dan ke empat temannya mulai mengajari Al berbagai senjata dan juga bela diri.
Para orang tua yang mengetahui hal itu pun tidak memberikan larangan apa pun. Karena selama itu merupakan kemauan dari Al sendiri, maka tidak ada satu pun dari mereka yang akan melarangnya.
Sedangkan untuk Javer sendiri, pria itu masih melakukan aktifitas seperti hari-hari biasanya.
Namun, ada perubahan signifikan yang terjadi pada pria itu.
Semanjak kejadian nahas yang menimpa Teya, Javer benar-benar berubah menjadi pria yang lebih dingin.
Javer yang dulu masih bisa berbincang dengan orang-orang terdekatnya, kini berubah menjadi pria yang benar-benar irit bicara. Pria itu hanya akan mengucapkan kata 'Ya' dan 'tidak. Pria itu hanya akan mengatakan kalimat panjang ketika dia memberikan perintah.
Tidak ada satu orang pun yang kini bisa berbincang panjang lebar dengan Javer, termasuk Yama dan Athena.
Sekalipun itu Al yang merupakan anak kandungnya sendiri, Javer tidak akan terlalu banyak berbicara. Dia hanya akan berbincang dengan Al untuk seperlunya saja. Meskipun Javer tetap memberikan kasih sayang yang sangat besar kepada Al, Javer lebih banyak menunjukkan kasih sayangnya itu berupa tindakan yang nyata.
__ADS_1
Bahkan, ketika Al mengalami *tantrum sekali pun, Javer tidak akan mengucapkan kata-kata manis atau pun kata-kata penenang agar Al bisa menghentikan tangisannya. Yang akan Javer lakukan hanyalah membawa Al pergi ke arena berlatih, karena itu adalah cara paling ampuh agar Al menghentikan tangisannya.
*Note : Pengertian singkat - Tantrum adalah kondisi saat seorang anak menunjukkan ledakan emosi yang tidak terkendali. Hal itu berupa tangisan tiada henti yang di iringi dengan teriakan atau tindakan berupa melemparkan suatu benda, memukul suatu benda, atau memukul suatu benda.
Kepribadian Javer yang kini menjadi lebih dingin pun menurun pada Al. Semenjak Al memasuki usianya yang ke 5 tahun, Al benar-benar tumbuh menjadi anak yang pendiam. Anak itu hanya akan berbicara ketika dia membutuhkan sesuatu.
Semenjak saat itu juga, tidak ada emosi yang di tunjukkan oleh Al. Al bahkan tidak lagi menangis, tangisan anak itu benar-benar berhenti pada saat itu. Bahkan ketika di terjatuh atau teluka sekali pun, Al hanya akan meringis tanpa menunjukkan tanda-tanda akan menangis.
Jangankan menangis, matanya saja tidak terlihat berkaca-kaca. Kepribadian anak itu benar-benar sama persis dengan kepribadian Javer saat ini.
Contohnya seperti sekarang ini, Al saat ini tengah di obati oleh Athena karena mendapatkan luka yang cukup dalam di kaki kirinya akibat tergores kayu. Luka itu dia dapatkan ketika dia tengah mengejar mangsa buruannya bersama dengan Kheil. Tapi, meskipun luka itu cukup dalam, Al hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Ya, Athena. Setelah kejadian waktu itu, Javer memutuskan untuk membawa Al tinggal bersama dengan Yama dan Athena di mansion utama keluarga Griffiths.
Athena yang kini sudah terbiasa akan sikap dingin Al pun tidak lagi memikirkan hal itu, dia hanya fokus mengobati luka goresan yang di miliki Al.
"Sudah." Ucap Athena kemudian merapikan alat-alat P3K yang sebelumnya dia gunakan untuk mengobati luka Al.
"Terima kasih, nenek." Ucap Al.
Athena pun mengangguk seraya menyunggingkan senyumnya.
Karena meskipun Al tumbuh menjadi anak yang sangat dingin. Anak itu tetap tidak pernah lupa untuk mengucapkan kata 'terima kasih' pada seseorang yang sudah membantunya. Anak itu bahkan tidak merasa enggan untuk mengucapkan kata 'maaf' ketika dia melakukan kesalahan.
"Istirahatlah agar lukamu cepat sembuh, nenek akan kembali turun ke bawah."
Al menganggukkan kepalanya.
"Apa kau ingin meminta sesuatu untuk makan malam?" Athena bertanya sebelum dia benar-benar pergi dari sana.
Al menggelengkan kepalanya.
"Baiklah.. Kau bisa beristirahat." Athena pun benar-benar berlalu pergi dari sana.
Melihat pintu kamarnya yang sudah di tutup oleh Athena, lantas membuat Al beranjak dari duduknya. Dia mendekati kaca besar yang terhubung ke balkon kamarnya. Anak itu terdiam merenung seraya menatap langit sore yang masih terlihat cerah melalui kaca besar itu. Namun, entah apa yang tengah di renungkan oleh anak yang sudah akan berusia tujuh tahun itu.
Setelah puas dengan renungannya, Al menghela nafasnya dalam-dalam kemudian memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Tepat setelah Al meninggalkan kamarnya, terlihat Javer yang kini tengah menuju kamar Al.
__ADS_1
"Al?" Javer memanggil Al dari luar kamar anak itu.
Tidak mendapat sahutan apa pun, Javer lantas membuka pintu kamar Al.
"Boy, are you here?"
Namun, Javer tidak menemukan keberadaan Al. Bahkan pintu kamar mandi bocah itu terbuka yang menandakan kalau dia tidak ada di sana.
Javer pun kembali menutup pintu kamar Al kemudian mencari keberadaan Al di setiap ruangan yang ada di lantai itu, karena semua ruangan yang ada di lantai itu merupakan ruangan yang di design khusus untuk Al melakukan segala aktifitas yang ingin di lakukannya.
Tapi sayangnya, setelah mencari Al ke setiap ruangan yang ada, Javer tetap tidak menemukan keberadaan Al.
"Di sana kah?" Javer bergumam seraya memikirkan satu tempat yang sering Al kunjungi ketika Al tidak memiliki kegiatan apa pun.
Javer lantas menuju ke lantai 4, pria itu menuju ke tempat yang baru saja dia pikirkan.
Dan benar saja, saat Javer tiba di lantai itu. Javer melihat Al yang tengah berdiri di depan salah satu kamar yang ada di lantai itu. Kamar yang selama bertahun-tahun ini menjadi tempat utama yang paling sering di kunjungi oleh Al.
Javer pun segera mendekati Al. "What are you doing here boy? Kau tidak masuk ke dalam?"
Al menoleh pada Javer. "Haruskah? Aku terluka dad. Aku tidak ingin membuatya sedih."
"No problem, just come in. Ceritakan apa yang kau alami hari ini padanya."
Al menghela nafasnya kemudian kembali menatap pintu kamar itu. Dia merasa sedikit ragu, haruskah dia masuk ke dalam sana? Tapi, Al benar-benar merindukan seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah menghela nafasnya, Al pun memutuskan untuk masuk ke dalan ruangan itu.
"Hai mom.." Ucap Al saat dia masuk ke dalam ruangan itu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..