
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
"Bagaimana? Apa Mr. Hans menyetujui proposalmu?" Gena bertanya pada Teya yang baru saja keluar dari ruangan kepala studi.
Teya tidak segera menjawab pertanyaan Gena. Gadis itu menatap kedua temannya untuk beberapa saat kemudian menunjukkan proposal magangnya.
"Bahkan dia menandatangani proposalku tanpa membacanya" Teya berkata seraya tersenyum lebar.
Hana lantas tersenyum simpul kemudian berkata. "Aku tidak merasa terkejut karena kau adalah mahasiswi kesayangannya.. Bahkan aku sudah memperkirakannya sejak awal."
"Ya.. Sejak awal masuk kuliah, kau sudah menjadi mahasiswi kesayangannya.. Jadi tidak mengejutkan jika dia menandatangani proposalmu dengan mudah" Gena menyetujui perkataan Hana.
"Ck, ayolaaaah.. Kalian juga mahasiswi kesayangannya kan.. Tidak mungkin dia selalu mempermudah segala urusan kalian jika kalian bukan mahasiswi kesayangannya.." Teya berkata seraya mengedip-ngedipkan matanya.
"Cih, Mulut manismu selalu mampu membuat kami gagal untuk merasa iri" ucap Gena.
"Hehe.. Tapi.. Bukankah ini berarti adalah hal yang baik?? Jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk menghindari Jav..." sejenak, Teya menghentikan kalimatnya. "Tunggu dulu, aku sepertinya melupakan sesuatu" gadis itu kembali berkata seraya merogoh ponselnya yang ada di dalam tasnya.
Gena dan Hana pun hanya memperhatikan Teya yang kini tengah menyalakan layar ponselnya hingga..
"Oh God.. Sepertinya aku akan berada dalam masalah" Teya berkata dengan sedikit panik seraya memperlihatkan ponselnya yang menampilkan notifikasi 12 panggilan tak terjawab dari Javer kepada Gena dan Hana.
"Dan sepertinya, masalahmu datang saat ini juga" ucap Hana seraya menatap lurus ke arah belakang Teya.
"Jangan bilang...." Teya menjeda kalimatnya kemudian membalikkan tubuhnya secara perlahan "Ya.. Masalahku datang saat ini juga" gadis itu kembali melanjutkan kalimatnya tat kala melihat Javer yang kini tengah berjalan ke arahnya dengan tatapannya yang sangat tajam.
Teya lantas tersenyum lebar saat Javer semakin mendekat ke arahnya.
"Girl, bisa kah kalian menolongku?" Teya bertanya dengan gigi yang terkatup rapat.
"Tidak" jawab Gena dan Hana cepat.
Teya seketika mendengus sebelum akhirnya berkata. "Ha, hai.." dengan sedikit kaku pada Javer yang kini sudah berada tepat di hadapannya.
Alih-alih menanggapi sapaan Teya, Javer justru menarik tangan kiri gadis itu agar mengikutinya.
Teya lantas menoleh pada kedua temannya yang justru memalingkan wajah mereka seakan tidak peduli dengan apa yang akan Teya hadapi.
"Oh God.. Kenapa kau memberikanku teman yang sangat terkutuk!!!" gadis itu menggerutu di dalam hati.
"Javer.. Lepaskan aku.. Kau tau.. Ini akan semakin menimbulkan gosip" Teya berkata dengan sedikit frustasi seraya berusaha melepaskan tangannya.
__ADS_1
Namun, pria itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan Teya.
Yang mana, hal itu semakin membuat Teya merasa frustasi. "Ayolah Javeeer.. Aku sudah bersusah payah menghindari gosip yang terus saja bermunculan, tidak bisa kah kau sedikit bekerja sama denganku??" gadis itu kembali berkata seraya berusaha menutupi wajahnya dengan proposal yang dipegang tangan kanannya.
Javer lantas menghentikan langkahnya kemudian melepaskan tangan Teya yang ada di dalam genggamannya.
"Diam dan ikuti aku" Javer berkata seraya menatap Teya dengan sangat tajam.
"Aku akan mengikutimu, tapi kita membawa mobil kita masing-masing, ok??"
Javer hanya menghela nafas seraya memejamkam matanya sejenak. Lalu dengan gerakan cepat, pria itu mengangkat Teya di bahunya.
Pict by : Pinterest
*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi..
Teya pun kini hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan proposal yang dia pegang dengan pasrah.
"Ya Tuhan.. Tolong selamatkan aku" gadis itu terus saja melapalkan do'a di dalam hatinya.
....
"Bukan kah sudah ku katakan untuk mengajukan proposal magangmu atas nama perusahanku? Lalu kenapa kau mengajukan proposal magang atas nama perusahaan Bottega Veneta?" Javer bertanya pada Teya yang kini tengah duduk di sofa apartment pria itu.
"Kau mengetahuinya?" gadis itu bertanya dengan alis yang sedikit menukik tanpa menatap ke arah Javer.
Javer seketik menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu?"
Ya, Javer sudah pasti mengetahui hal itu. Karena sesaat setelah Mr. Hans menandatangani proposal magang milik Teya, Mr. Hans yang sudah mengetahui jika Teya adalah tunangan dari Javer pun segera memberitahukan hal itu kepada Javer.
Sebenarnya, Javer bisa saja memerintahkan Mr. Hans untuk tidak menandatangani proposal magang milik Teya kecuali atas nama perusahannya.
Namun, Javer tidak akan melakukan hal licik itu untuk mendapatkan apa yang di inginkannya jika hal itu menyangkut Teya. Karena seperti apa yang sudah Javer katakan sebelumnya, dia ingin gadis itu luluh padanya tanpa ada tindak kekerasan atau sebuah trik licik. Karena jika Javer nekat melakukannya, hal itu justru akan merugikan dirinya sendiri.
Teya lantas menghela nafasnya kemudian menatap Javer yang kini tengah berkacak pinggang seraya menatapnya dengan sangat tajam.
"Apa kau membawaku kemari hanya untuk menanyakan hal itu?" gadis itu bertanya dengan kening yang sedikit mengerut.
"Jika saja kau mengangkat panggilanku, aku tidak akan mungkin membawamu kemari, babby"
Mendengar jawaban Javer yang memang sangat masuk akal, seketika membuat Teya merasa sedikit gugup.
Tangan kiri gadis itu terangkat untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah itu.. Em, aku, aku benar-benar tidak tau jika kau menghubungiku.."
__ADS_1
"Sungguh, aku menyimpan ponselku di dalam tas.. Jadi wajar saja kan jika aku tidak menyadari panggilanmu?" gadis itu segera memberikan penjelasan tat kala Javer menatapnya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Oh ayolah.. Tidak bisa kah kau memberiku sedikit kebebasan?? Aku ini tunanganmu, Javer.. Aku bukan bawahanmu yang harus selalu menuruti semua keinginan atau perintah mu! Sungguh, kau terlalu egois, Javer.." gadis itu berkata dengan suara yang sedikit bergetar akibat menahan rasa marah.
Karena sungguh, Teya merasa sedikit emosi kepada Javer yang terus saja menuntutnya untuk selalu menuruti kemauan pria itu.
Tapi entah kenapa, jika berhadapan dengan Javer, Teya merasa sedikit sulit untuk mengeluarkan semua rasa marahnya.
Entahlah.. Teya juga merasa sangat bingung pada dirinya sendiri.
Setelah puas mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, Teya lantas memalingkan wajahnya dan menunggu respon seperti apa yang akan Javer berikan padanya.
Namun, Teya merasa terkejut ketika Javer justru duduk bersimpuh di hadapannya.
Pict by : Pinterest
*Note : Posisinya kaya gitu ya wakk, tapi si Javer posisi duduknya tegak ya wakk ya.. Ingat, gambar hanya sekedar ilustrasi..
"E,eh.. Javer, apa yang kau lakukan??" gadis itu bertanya dengan sedikit kikuk, karena ini pertama kalinya Javer bersikap seperti ini kepadanya.
Javer lantas menatap Teya dengan lembut kemudian menggenggam tangan gadis itu sebelum akhirnya berkata. "Maaf, aku terlalu egois"
Begitulah Javer.. Sekejam atau sebringas apa pun dia ketika berhadapan dengan musuh atau dengan orang di sekitarnya. Sikapnya akan berubah 180 derajat jika berhadapan dengan orang yang di cintainya.
Meskipun terkadang dia sedikit susah untuk mengontrol sisi gelapnya, tapi setidaknya dia akan lebih cepat menyadari kesalahannya.
Bukan karena dia menurunkan harga dirinya, tapi karena dia tidak ingin menyakiti orang-orang yang di cintainya.
Tapi, meskipun begitu, Javer tetaplah orang yang akan memilih dengan teliti tentang siapa yang akan masuk ke dalam daftar orang yang harus dia perlakukan dengan istimewa.
Dan ya, pilihannya jatuh kepada Teya.. Gadis mungil dengan jiwa pembangkang yang mampu memporak porandakan hatinya..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..