
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Sebelumnya...
Hingga ketika pria itu kembali menyerang, Teya berhasil menarik slayer yang menutupi wajah pria itu.
Namun sayangnya, belum sempat Teya melihat wajah pria itu. Javer beserta teman-temannya sudah lebih dulu datang dan membuat pria itu kabur entah kemana.
....
"Haishhh..." Gadis itu memutar bola matanya..
Javer lantas segera menghampiri Athena. "Babby, apa kau baik-baik sa..."
"Kau.." Teya memotong perkataan Javer seraya menunjuk wajah Javer dengan penuh emosi. "Kenapa kau harus datang di saat yang tidak tepat!! Aku hampir saja melihat wajahnya, Javeeeer..!! Haisssh.." Gadis itu berkata dengan bersungut-sungut.
Yang mana, hal itu seketika membuat teman-teman Javer menahan tawa mereka. Karena sungguh, melihat Javer di marahi oleh seseorang selain Athena adalah kejadian yang sangat langka, bahkan baru saja terjadi hari ini.
Sedangkan Javer, pria itu di buat melongo tak percaya tat kala gadis itu justru nengamuk padanya. Javer kini tidak habis pikir pada dirinya sendiri, bisa-bisanya dia jatuh cinta pada gadis bar-bar seperti Teya.
Tapi jujur, Javer sedikit tidak menyangka jika Teya akan baik-baik saja. Bahkan dari tampilannya, meskipun gadis itu terlihat sedikit berantakan, tapi gadis itu benar-benar terlihat sangat baik-baik saja.
Javer merasa sedikit terkejut karena sejauh yang Javer tau, gadis itu hanya belajar menembak. Javer benar-benar tidak tau jika Teya juga merupakan seorang ahli bela diri. Tapi sudahlah, bukan kah hal itu merupakan hal yang baik?
"Khem.."
Javer lantas berdehem kecil untuk menetralkan rasa terkejutnya, kemudian melepaskan jas yang di pakainya.
"Ku rasa, aku tidak perlu menanyakan keadaanmu.. Jadi, sebaiknya kita segera kembali, biarkan Marco menderek mobilmu ke kediaman uncle Leon." Javer berkata seraya memakaikan jas itu pada Teya yang masih saja mendelik padanya.
Mereka pun menyetujui ucapan Javer dengan menganggukkan kepala.
.....
Sesampainya di kediaman Leon, mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Dimana kedatang mereka sudah di tunggu oleh semua orang.
Athena lantas segera menghampiri Teya lalu menelisik tubuh gadis itu dengan di penuhi rasa khawatir. "Sayang, apa kau baik-baik saja? Mana yang terluka, hmmm? Biarkan mommy mengobatimu.."
Teya seketika mengembangkan senyum tulusnya, gadis itu sangat tersentuh akan. kekhawatiran Athena. "Aku baik-baik saja mom.. Mommy tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku." Gadis itu berkata kemudian menatap Gladys dengan di penuhi rasa bersalah. "Maafkan aku, aku telah mengacaukan pestamu."
Ya, setelah mendengar kabar penyerangan yang di dapatkan Teya Sesuai dengan permintaan Gladys, mereka sepakat untuk membatalkan pesta ulang tahun gadis itu.
Gladys lantas menatap Teya seraya tersenyum lembut. "Tak apa, aku bisa mengadakan pesta di lain hari. Lagi pula, aku tidak mungkin mengadakan pesta di saat salah satu keluargaku berada dalam masalah."
"Tapi tetap saja.. Maafkan aku.."
Gladys pun menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita berkumpul di ruang keluarga, kau juga perlu mengistirahatkan diri terlebih dulu." Ucap Leon kemudian.
"Terima kasih uncle.." Ucap Teya.
Leon tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
.....
"Dan ya.. Begitulah.. Javer datang terlalu cepat, jadi pria itu memanfaatkan situasi untuk melarikan diri."
Setelah mendengar cerita Teya, semua orang yang ada di sana kecuali pun menganggukkan kepala..
Ya, semua orang, termasuk para orang tua. Awalnya, Javer tidak mengijinkan para orang tua untuk ikut campur dalam masalah ini. Namun, karena mereka sudah terlanjur mengetahui masalah ini, Javer pun mengijinkan mereka ikut berkumpul untuk membahas masalah ini. Tapi tidak dengan Gladys, Javer dan ke 3 kakak pria yang lainnya meminta Gladys untuk pergi bersama teman-temannya.
Dan ya, di sinilah mereka sekarang. Berkumpul bersama di ruang keluarga. Dengan para anak yang duduk di sisi kanan, dan para orang tua yang duduk di sisi kiri.
Pict by : Pinterest.
Ken kemudian bertanya pada Teya. "Tapi, apa kau bisa mendeskripsikan ciri-ciri si penyerangan?"
Teya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin bisa mendeskripsikannya dengan jelas, uncle.."
"Uhmmm.." Teya berpikir untuk sejenak. "Postur tubuhnya hampir sama dengan Kheil, tapi sepertinya Kheil memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi. Dan jika di lihat dari gestur tubuhnya yang masih sangat segar, aku kira usia pria itu masih sekitar 35-40 tahun."
Alex bertanya kemudian. "Apa kau tidak melihat ciri-ciri lain?"
"Ah ya, kameraa!!" Gadis itu tiba-tiba saja berseru dengan begitu bersemangat.
Yang mana hal itu seketika membuat semua orang yang ada di sana menatap Teya dengan sedikit bingung.
Teya lantas menoleh pada Javer yang ada di samping kanannya. "Javer, apa Marco sudah membawa mobilku kemari?"
Javer perlahan mengangguk-anggukan kepalanya. "Dia sedang memperbaikinya di depan, apa kau membutuhkan sesuatu?"
"Kamera dashboard.." Ucap Teya cepat.
Javer terlihat menaikkan sebelah alisnya.
"Cepat ambilkan memori kamera dashboardku.. Aku baru ingat kalau aku sempat membuka penutup wajahnya tepat saat dia menghadap mobilku. Harusnya itu cukup untuk membuat wajahnya tersorot kamera dashboard." Teya berkata dengan begitu bersemangat.
Athena yang mendengar hal itu pun seketika mengacungkan ibu jarinya pada Teya seraya berkata. "Good job." Yang di balas dengan cengiran lebar oleh Teya.
Javer lantas segera menghubungi Marco untuk mengantarkan apa yang Teya inginkan.
Setelah mendapatkan apa yang Teya inginkan, Kheil segera memutar vidio itu menggunakan laptop yang Leon punya.
"Percepat sedikit.." Ucap Javer..
Kheil pun menurutinya..
__ADS_1
"Tunggu, mundur ke 2 menit sebelumnya.." Ucap Javer.
"Perlambat.."
"Stop.."
Kheil pun menghentikan vidio itu.
"Zoom dan perjelas wajahnya.."
Kheil melakukan apa yang Javer minta.
"Apa kalian mengenalnya?" Javer bertanya pada teman-temannya.
Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang mengenal pria itu.
Javer lalu menoleh pada Teya. "Apa kau juga tidak mengenalnya baby?"
"Tidak.." Teya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah sekali pun bertemu dengan pria itu."
Kheil lantas menatap para orang tua yang duduk di depan para anak.
"Apa ada salah satu dari kalian yang mengenalnya??" Kheil bertanya seraya memutar laptop itu agar menghadap kepada para orang tua.
Yang mana, hal itu seketika membuat mereka melongo karena merasa terkejut setengah mati. Tapi tidak dengan Bella, Calista, dan Keisha. Karena mereka juga tidak mengenali pria itu.
Para anak yang melihat itu pun mengerutkan kening mereka seraya menatap satu persatu wajah para orang tua dengan bingung. Hingga tatapan mereka terpaku pada wajah Leon yang terlihat sangat pucat pasi.
"You know something, dad?" Liam bertanya dengan sedikit ragu.
Leon perlahan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak.. Ini tidak mungkin.. Ini.. Ini sangatlah mustahil..." Leon berkata dengan sangat lirih.
...-TBC-...
Hayooooo... Wakk wakk sekalian ada yang bisa nebak ga, siapa orang yang terekam kamera dashboardnya Teya??
Hmm.. Penasaran ga nih siapa orangnya??
Tunggu Bab selanjutnya ya..
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1