
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Oh God.. Apa penampilanku baik-baik saja? Aku benar-benar merasa gugup.." Teya bergumam seraya menatap pantulan dirinya dari cermin besar yang ada di hadapannya.
Gumaman Teya itu berhasil membuat Hana dan Gena yang kini tengah duduk di sofa menatap Teya dengan sebelah alis mereka yang terangkat.
"Bisakah kau menggumamkan sesuatu yang sesuai dengan ekspresi wajahmu?" Tanya Hana.
Karena ya, meskipun Teya berkata kalau dirinya merasa gugup. Tapi Percaya, ekspresi wajah gadis itu benar-benar datar seolah mengatakan kalau dirinya tidak merasakan apa pun.
"Apa aku tidk terlihat gugup?" Teya melirik Hana melalui cermin.
Hana seketika memutar bola matanya malas. "Apa cermin yang besarnya jauh melebihi tubuhmu itu tidak cukup kau gunakan untuk bercermin?"
Teya lantas mengerjapkan matanya. "Ayolah.. Aku benar-benar gugup.."
"Tapi ekspresi wajahmu mengatakan hal yang sebaliknya Te.." Sahut Gena.
"Oh ayolah.. Apa wajahku harus mengkerut? Atau haruskah wajahku bergetar untuk menunjukkan rasa gugupku?" Teya bertanya dengan sedikit bersungut-sungut.
Hana menghela nafasnya kemudian mendekati Teya. Hana berdiri di belakang Teya kemudian memegang kedua bahu gadis itu.
"Atur nafasmu lalu bercermin lah dengan baik.. Kau cantik, kau sempurna, tidak ada yang kurang dari penampilanmu. Percaya dirilah.. Kau cukup yakin kalau semuanya akan berjalan dengan lancar, hmm.." Tutur Hana seraya menatap mata Teya lekat-lekat.
Teya pun melakukan apa yang baru saja di katakan oleh Hana. Gadis itu mengatur nafasnya kemudian menatap pantulan dirinya dari cermin dengan lekat-lekat.
"Ya, i'm perfect.. And everything will be fine.." Teya berkata seraya terus mengatur nafasnya.
"Bagus.. Buatlah dirimu sepercaya diri mungkin.." Kata Hana.
"But.. Teya.." Ucap Gena.
Teya lantas menoleh pada Gena. "Why?"
"Melihatmu mengenakan gaun itu, benar-benar membuatku ingin menangis.. Aku sungguh terharu.. Aku masih merasa sedikit tidak percaya kalau kau sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang istri." Tutur Gena dengan mata yang tiba-tiba saja terlihat berkaca-kaca.
"Oh stop.. Don't cry!! Atau aku juga akan ikut menangis!! Jangan merusak riasanku, okay!!" Teya menatap Gena dengan sangat tajam.
"Tapi aku benar-benar terharu Teya.. Bayangkan saja, kau adalah gadis yang paling freak di antara kita bertiga.. Tapi justru kau yang lebih dulu menikah.." Gena kini menatap Teya dengan mata yang semakin berkaca-kaca.
"Ooowwwwwh.. Kau sedang memujiku atau sedang menghinaku???" Mata Teya kini juga mulai terlihat berkaca-kaca.
Melihat drama yang di lakukan oleh kedua sahabatnya, lantas membuat Hana terkekeh kecil. Namun percayalah, di dalam hatinya, da juga merasa sangat terharu melihat Teya yang kini tengah mengenakan gaun pernikahan itu.
"C'mon girl.. Sudahi drama kalian, sudah waktunya untuk kalian turun ke bawah.." Itu Roma.
Pria itu berjalan menghampiri Teya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Uncle, kau memang selalu berhasil merusak suasana.." Gena berkata dengan bibir yang mencebik sebal.
Karena ya.. Begitulah.. Di setiap ada kesempatan, ketika mereka tengah dalam suasana sedih. Roma selalu berhasil memecah suasana yang membuat kesedihan mereka lenyap seketika.
"Bukankah uncle baru saja menyelamatkan riasan kalian?" Roma menatap Gena dengan tatapan jahilnya.
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Hana terkekeh geli.
"Sudahlah, bukankah kita seharusnya turun ke bawah?" Tanya Hana.
Roma lantas menatap Teya dengan tatapan harunya. "Kau sudah siap?"
__ADS_1
Teya menatap Roma untuk sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
Roma menyunggingkan senyum kecilnya. "Bagus.. Mari kita turun.."
Roma lantas sedikit merenggangkan lengan kanannya untuk Teya menggandeng lengannya.
Teya menghela nafasnya untuk sejenak kemudian menggandeng lengan Roma.
Mereka ber 4 pun segera turun ke lantai paling bawah, di mana acara pernikahan Teya di adakan. Acara pernikahan itu di adakan di salah satu hotel milik keluarga Griffiths yang memang sering di jadikan tempat untuk melangsungkan acara pernikahan.
"Pa.. Aku gugup.." Ucap Teya saat mereka memasuki lift.
"Tarik nafasmu, lalu angkat kepalamu tinggi-tinggi.. Ingat, hari ini, kau adalah pemeran utama dalam acara ini. Jangan biarkan ada orang lain yang mengangkat kepalanya lebih tinggi darimu." Roma berkata seraya mematap Teya dengan lembut.
Teya lantas menghela nafasnya kemudian semakin menegakkan tubuhnya.
Roma yang melihat hal itu pun menyunggingkan senyum kecilnya. "Bagus, percaya dirilah.. Kau benar-benar cantik sayang.. Kau bahkan mengalahkan kecantikan mamamu di kala itu.."
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Teya terkekeh kecil.
Lalu 'Ting!' terdengar suara yang menunjukkan pintu lift akan terbuka.
Hingga ketika pintu lift terbuka, Javer seketika saja memusatkan atensinya ada gadis yang baru saja keluar dari lift. Di mana gadis itu adalah gadis yang dalam hitungan menit sudah akan menjadi istrinya.
Javer menatap Teya dengan jantung yang berdegup dengan sangat cepat. Karena sungguh, melihat Teya dalam balutan gaun pengantin itu, benar-benar membuat Javer tidak bisa mengendalikan perasaannya yang bercampur aduk.
Sedangkan Teya, ketika pintu lift terbuka, dia menggandeng lengan Roma dengan semakin erat tat kala melihat Javer yang tengah berdiri di penghujung altar dengan sangat gagahnya.
Pict by : Michelle Morrone
"Pa, bukankah menantumu sangat tampan?" Bisik Teya.
Roma seketika saja menyunggingkan senyum kecilnya. "Ya, dia tampan."
Teya menyusuri altar yang bernuansa putih abu-abu itu dengan tatapan semua orang yang tertuju padanya.
Pict by : Pinterest
Hingga ketika Teya dan Roma sudah sampai di altar, Javer lantas mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut Teya.
Namun, sebelum Teya menerima uluran tangan Javer. Roma lebih dulu menggenggam tangan Teya.
"Aku menyerahkan semua tanggung jawab atas putri ku padamu. Sayangi dia seperti aku menyayangi dia, lindungi dia seperti aku menyayangi dia. Jika kau merasa bosan, jangan sakiti dia. Kembalikan dia padaku dengan cara yang baik-baik, sama hal nya seperti aku saat ini menyerahkan dia padamu." Tutur Roma seraya menatap mata Jaber dengan sangat tajam.
Javer menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Roma lantas melirik Teya untuk sejenak sebelum akhirnya meletakkan tangan kanan Teya di atas telapak tangan Javer yang memang sudah terulur.
"Berbahagialah.." Ucap Roma kemudian berlalu dari sana untuk bergabung dengan Amaya dan yang lainnya.
Teya dan Javer pun berdiri saling berhadapan di depan pendeta yang sudah siap untuk mengikrarkan janji suci mereka.
"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan pernikahan kalian. Saya persilahkan kalian masing-masing untuk menjawab pertanyaan saya" Kata Pendeta.
Teya dan Javer menganggukkan kepala.
"Javer Vencentio Griffiths, bersedia kah engkau menikah dengan Mateya Bifatigirni yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun duka?"
"Ya, saya bersedia"
__ADS_1
"Mateya Bifatigirni, bersedia kah engkau menikah dengan Javer Vencentio Griffiths yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun duka?"
"Ya, saya bersedia"
Pendeta itu pun menyerahkan sepasang cincin pernikahan yang bertaburkan berlian itu ke hadapan mereka. Yang di mana, cincin itu merupakan cincin yang di design khusus oleh Javer.
Pict by : Pinterest
"Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Tuhan yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi kalian, untuk meniru kasih Tuhan dalam kehidupan rumah tangga, dengan mengasihi pasangan tanpa awal, juga tanpa akhir." Kata sang pendeta.
Javer lantas meraih satu cincin itu kemudian menyematkan cincin itu di jari manis tangan kanan Teya. Begitu pun dengan Teya, dia juga menyematkan cincin itu di jari manis tangan kanan Javer.
"Hiduplah menurut janjimu, hayatilah tugas dan tanggung jawabmu dan terimalah berkat Tuhan yang telah memanggil dan mempersatukan kalian dalam pernikahan ini. Jalani rumah tangga kalian dengan kasih dan sayang agar kalian bahagia selama-Iamanya.β Kata sang Pendeta kemudian menutup alkitabnya.
"Kalian telah sah menjadi suami istri, kalian bisa mencium pasangan kalian masing-masing" Sambung pendeta itu seraya menatap Teya dan juga Javer.
Tanpa berkata apa pun lagi, Javer memegang tengkuk Teya menggunakan yangan kanannya kemudian perlahan mulai mencium gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.
Melihat hal itu, seketika saja membuat para tamu undangan yang hadir memberikan tepuk tangan di sertai sorak sorai yang meriah.
"Kapan kau akan menyusul adikmu? Kau sudah terlalu tua Rion.." Amaya berbisik tepat di telinga kiri Rion.
Rion sedikit berjengkit karena merasa terkejut. "Ayolah ma, jangan membahas hal ini sekarang, okay.. Mari kita fokus pada pernikahan anak gadis satu-satunya di keluarga kita."
"Ck, kau ini!!! Tidak kah kau merasa kasihan pada Hana? Dia sudah menunggumu terlalu lama." Kata Amaya.
Rion seketika saja melirik Amaya dengan alis yang menukik tajam. "Dari mana mama tau hal ini?"
Namun, Amaya hanya mengangkat bahunya acuh dengan tatapan mata yang terus saja terfokus pada Javer dan juga Teya.
"I Love You.." Ucap Javer saat dia sudah melerai ciumannya.
Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian berkata. "I love you too.."
Mereka lantas menghadap ke arah para tamu undangan kemudian menunjukkan tangan kanan mereka di mana terdapat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis mereka.
Teya pun menggulirkan matanya ke setiap para tamu undangan yang ada dengan tatapan harunya.
Hingga ketika Teya menatap sudut ruangan, dia tiba-tiba saja memicingkan matanya tat kala melihat seseorang yang tidak asing untuknya.
"Javer, bukan kah itu Flow?" Teya bertanya seraya melirik Javer sekilas.
Namun, ketika Teya dan Javer melihat ke arah yang sebelumnya di lihat oleh Teya. Mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan Flow.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja babby.. Tempat ini di jaga dengan sangat ketat." Ucap Javer.
"Ssh.. Benarkah?" Gadis itu bergumam seraya terus menatap tempat di mana sebelumnya dia melihat keberadaan Flow.
...-The End Of Love-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1