Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Dua Pria Berjiwa Iblis


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sebelumnya...


Teya seketika mengusap tengkuknya canggung. "I know but, tetap saja perbuatanmu itu sedikit berlebihan. Apa kau tidak berpikir tentang berapa kerugian yang akan di alami oleh pem.."


"Aku tidak rugi.." Javer memotong perkataan Teya dengan cepat. "Lagi pula, aku bisa melakukan apa pun atas apa yang menjadi milikku. Bukan begitu, babby?" pria itu lantas menarik senyum simpulnya.


Teya seketika menatap Javer seraya mengerjapkan matanya dengan bingung. "Tunggu.. Jangan bilang kalau..."


.....


Javer pun mengangkat bahunya acuh.


Teya lantas duduk di samping Javer dengan sedikit linglung lalu menoleh pada Javer dengan tatapannya yang masih penuh dengan rasa tidak percaya.


"Kau benar-benar membelinya hanya untuk kau bakar?" Teya kembali bertanya untuk memastikan


Javer lagi-lagi hanya mengangkat bahunya acuh.


Teya yang mendalat respon seperti itu pun kini benar-benar kehilangan kata-katanya, gadis itu lantas memalingkan wajahnya lalu menghela nafas dengan lelah.


Entahlah, dia sudah tidak tau lagi harus berkata apa. Sungguh, Teya kira, Javer akan melampiaskan rasa cemburunya itu dengan memarahinya atau dengan hal apa pun itu. Teya benar-benar tidak menyangka jika Javer akan melampiaskan rasa cemburunya dengan hal yang sama sekali tidak terlintas di pikiran Teya.


Tapi.. Ah, sudahlah.. Cukup sudah, setelah ini, Teya akan berpikir 2 kali jika ingin bermain-main dengan Javer. Atau jika tidak, mungkin akan ada lebih banyak hal gila lagi yang akan di lakukan oleh pria itu.


Setelah menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, Teya memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


Namun, ketika Teya beranjak dari duduknya dan hendak melangkah, Javer sudah lebih dulu menarik Teya lalu menempatkan gadis itu di sela-sela pahanya kemudian memeluk gadis itu dengan cukup erat.



Pict by: Pinterest


*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi..


"Setelah apa yang kau lakukan, kau akan pergi begitu saja?" Javer bertanya dengan suara rendahnya, tepat di samping telinga kanan Teya.


Mendengar hal itu, seketika membuat Teya meneguk ludahnya dengan kasar. "Ok, ok.. Aku, emm, aku minta maaf.." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Teya.

__ADS_1


Karena entah kenapa, setelah mendengar suara pria itu yang sangat dominan, membuat kata-kata makian yang hendak Teya lontarkan tiba-tiba saja menghilang entah kemana.


"Katakan sekali lagi." Javer berkata dengan mata yang terpejam seraya nengendus perpotongan leher Teya.


"Aku, aku minta maaf..." Suara gadis itu kini terdengar sedikit bergetar karena menahan rasa gugupnya, bahkan jantung gadis itu kini mulai berdetak dengan cepat.


"Berjanjilah untuk tidak membuatku kembali merasakan cemburu," Javer kini mulai menghisap perpotongan leher Teya dengan lembut.


"Haahh.. Yaaahhh, aku, enghh.. Aku berjanji.." Teya berkata dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.


Tanpa Teya sadari, Javer membuka 2 kancing teratas piyama yang di kenakan Teya dengan gerakan yang begitu lembut, kemudian sedikit menurunkan sebelah piyama Teya secara perlahan hingga bahu kanan gadis itu terekspos.


"Berjanjilah dengan benar" ucap Javer kemudian mulai menyusuri bahu mulus gadis itu.


"Aku berjanji.. Aku, enghh, tidak akan.. Memm.."


"Errrrghhhh Javer!!!" Teya seketika menggeram tat kala Javer mengigit bahunya dengan cukup kuat.


"Anggap itu sebagai hukuman atas kesalahanmu" ucap Javer.


Lalu dengan gerakan cepat, pria itu mengangkat tubuh Teya agar berada di atas pangkuannya.


"Yakkk... Lepaskan aku!!!" Teya berkata dengan sedikit meninggikan suaranya seraya berusaha untuk melepaskan diri.


"Javeeer.. Lepaskan aku.. Apa kau ingin membunuhku? Kau memelukku terlalu erat."


"Tidak sebelum kau mengulangi janji mu" sahut Javer cepat.


"Ok, ok.. Aku berjanji tidak akan membuatmu kembali merasakan cemburu."


"Tatap mataku jika sedang berbicara"


Teya lantas menatap Javer lalu mengulangi perkataanya. "Aku berjanji tidak akan membuatmu kembali merasakan cemburu. Apa kau puas? Sekarang lep.. Emmmm."


Kalimat yang di ucapkan gadis itu seketika tergantikan dengan gumaman tat kala Javer membungkam mulut gadis itu dengan sebuah ciuman.


"Khem.."


Namun, kegiatan mereka harus terhenti tat kala mendengar suara deheman dari seorang pria.


Teya dan Javer lantas menoleh ke arah asal suara yang ternyata di sana ada Yama dan Athena yang kini tengah berdiri seraya menatap mereka dengan sangat tajam.


Teya pun hendak beranjak dari pangkuan Javer. Namun, lagi-lagi Javer menahan tubuh Teya agar tidak beranjak dari pangkuan pria itu.

__ADS_1


"Javer, lepaskan akuuu..." gadis itu berkata dengan suara yang sedikit tertahan.


"Diamlah," ucap Javer.


Teya lantas mendengus dengan pasrah kemudian menenggelamkam wajahnya pada perpotongan leher Javer. Tak tahukah dia jika kini Teya sedang merasa malu setengah mati.


"Apa yang membuat daddy dan mommy kemari?" Tanya Javer kemudian.


Athena seketika bersedekap dada. "Ck, ck, ck, ck, ck." Athena menggeleng-gelengkan kepalanya. "Setelah apa yang kau perbuat, kau masih bisa bertanya tentang alasan mommy dan daddy datang kemari? Bahkan kini kau menahan tunanganmu tanpa ada niat untuk menyelesaikan masalahnya? Oh Javer.. Mommy benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."


"See?? Bahkan ibunya sendiri saja tidak mengerti jalan pikiran anaknya. Jadi wajar saja kan jika aku lebih tidak mengerti lagi?" Teya menggerutu di dalam hatinya.


Namun, Javer menanggapi perkataan panjang lebar Athena hanya dengan mengangkat bahunya acuh.


Yang mana, hal itu seketika membuat Athena melirik Yama dengan sinis. "Kau.. Kenapa kau harus menurunkan sifat iblismu pada anakku!!" Tangan wanita itu terangkat untuk memijat pelipisnya karena kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut. "Oh astaga, kenapa hidupku di kelilingi oleh pria-pria yang memiliki jiwa iblis!!"


Mendengar gerutuan Athena yang begitu sarkas, seketika membuat Javer dan Yama mengatupkan mulut mereka rapat-rapat. Karena jika Athena sudah menyuarakan kata-kata mutiaranya, akan lebih baik untuk diam dari pada harus menyahutinya.


Setelah menghela nafasnya, Athena lantas melangkah menghampiri Javer dan Teya.


Athena sekilas melirik Javer dengan sinis lalu beralih menatap Teya. "Sayang, sebaiknya kau ikut mommy, biarkan dua pria iblis itu menyelesaikan masalah mereka." Athena berkata dengan begitu lembut kepada Teya yang masih saja membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Javer.


Teya yang mendengar perkataan Athena pun seketika mengembangkan senyumnya. Gadis itu menoleh pada Athena lalu menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar yang tak lepas dari wajahnya.


Teya lalu kembali menatap Javer. "Kau dengar.. Lepaskan aku, ok.." Gadis itu berkata seraya hendak beranjak dari pangkuan Javer.


Namun, pria itu lagi dan lagi tetap menahannya.


Teya lantas mencebikkan bibirnya lalu menoleh pada Athena dengan tatapan memelas seolah meminta pertolongan.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2