Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Doa dan Harapan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Kembali ke sisi Javer dan Al.


"Hai mom.." Ucap Al saat dia masuk ke ruangan itu.


Tapi tidak dengan Javer, dia memutuskan untuk berdiri di ambang pintu. Dia hanya melihat Al yang kini naik ke atas kasur untuk duduk di samping wanita yang tengah berbaring di atas kasur itu.


"How are you today mom?" Tanya Al seraya mengelus kepala wanita yang dia ketahui sebagai ibunya itu dengan sangat lembut.


Ya, wanita yang tengah berbaring di atas kasur itu tidak lain dan tidak bukan adalah Teya.


Namun sayangnya, meskipun Al mengelus kepala wanita itu, wanita itu tidak membuka matanya.


Karena, ketahuilah, akibat kejadian waktu itu, Teya mengalami masa kritis. Ah tidak, lebih tepatnya, wanita itu kini tengah dalam masa koma. Hal itu bisa terjadi karena pisau yang tertancap di punggung Teya tepat mengenai organ fitalnya.


Sebenarnya, sebelum melakukan operasi, dokter sudah mengatakan kalau Teya tidak akan selamat, sehingga dokter sedikit ragu untuk melakulan operasi itu. Namun, karena Javer yang tidak ingin menyerah pada hidup Teya, Javer meminta dokter untuk tetap melakukan operasi itu. Javer bahkan rela menjemput sendiri para dokter terbaik menggunakan helikopternya demi untuk menyelamatkan nyawa Teya.


Javer benar-benar rela mengorbankan segalanya agar nyawa Teya terselamatkan. Jika harus mengorbankan nyawanya sekali pun, Javer rela melakukan hal itu agar Teya bisa terhindar dari kematiannya.


Dan ya, berkat doa yang terus di panjatkan oleh semua orang yang ada. Tuhan pun mengijinkan Teya untuk melewati operasinya dengan lancar sehingga kondisi wanita itu baik-baik saja. Bahkan alat-alat medis yang sebelumnya terpasang di tubuh wanita itu sempat di lepaskan.


Tapi sayangnya, beberapa jam setelah alat-alat medis itu di lepaskan, belum sempat Teya membuka matanya, Teya justru kembali kritis yang membuat wanita itu kini menjadi koma. Hal itu membuat alat-alat medis yang sebelumnya di lepaskan harus kembali di pasangkan ke tubuh Teya demi menopang kehidupan wanita itu.


Semua orang pun hanya bisa menerima keadaan itu dengan lapang dada, dengan harapan kalau Teya akan segera bangun dari komanya.


Meskipun Teya dalam keadaan koma, Javer selalu membawa Al untuk menemui Teya. Javer selalu memberitahu Al kalau wanita yang tengah terbaring tak berdaya itu adalah ibu kandungnya. Wanita yang telah mengandung dan melahirkan Al dengan penuh perjuangan.


Javer selalu mengatakan pada Al kalau Teya tengah tertidur, Javer selalu mengatakan pada Al kalau Teya tengah beristirahat.

__ADS_1


1 bulan, 2 bulan, 3 bulan.. Hingga tahun pun berlalu, namun Teya tidak kunjung bangun dari tidur lelapnya.


Lambat laun, Al pun mulai mengerti kalau Teya tidaklah sedang tertidur, kalau Teya tidaklah sedang beristirahat. Semua itu karena Al tumbuh menjadi anak yang sangat pintar. Ah tidak, anak itu bisa di katakan tumbuh menjadi anak yang jenius.


Oleh sebab itu, Al yang saat itu baru berusia 5 tahun sudah bisa mengerti apa yang sebenarnya di alami oleh Teya.


Setelah mengerti apa yang di alami oleh Teya, Al menjadi semakin sering mengunjungi Teya. Saking seringnya, terkadang dalam satu hari, Al bisa lima kali berkunjung ke kamar Teya. Tidak hanya itu, Al bahkan bisa menghabiskan waktunya di kamar Teya selama satu hari penuh.


Di dalam kamar Teya, Al tidak hanya berdiam diri. Al akan mencurahkan segala isi hatinya pada Teya. Al akan menceritakan semua hal yang di lakukannya pada Teya.


Semua itu dia lakukan agar wanita yang berstatus sebagai ibunya itu cepat bangun. Al berharap, dengan dia mengajak Teya berbicara, Teya akan segera meresponnya. Al juga ingin menjadi orang pertama yang di lihat oleh Teya ketika wanita itu terbangun dari tidurnya.


Tidak hanya Al saja yang berusaha, Javer pun sama berusahanya dengan anak laki-lakinya itu.


Segala cara sudah Javer lakukan untuk membuat Teya sadar. Dokter terbaik, obat termahal, alat medis paling apik. Semuanya sudah Javer sediakan. Javer bahkan sudah meminta para dokter untuk membuat obat yang bisa membangunkan Teya.


Namun, apa lah daya.. Teya tak kunjung membuka matanya.. Teya seakan enggan untuk bangun dari tidur panjangnya.. Teya seakan enggan untuk kembali ke dunia nyata.. Bahkan Teya sempat beberapa kali mengalami masa kritis yang membuat jantung wanita itu hampir berhenti berdetak.


Hal itu membuat semua orang hampir menyerah untuk terus mempertahankan Teya. Bahkan Amaya dan Roma sempat meminta Javer dan Al untuk mengikhlaskan Teya.


Mau bagaimana pun caranya, mau seberapa mahal pun pengobatannya, Javer akan terus berusaha untuk memperjuangkan kehidupan Teya. Bahkan jika Javer harus kehilangan seluruh harta kekayaannya sekali pun, Javer akan merelakannya agar Teya bisa terbangun dari tidur panjangnya.


Selain perjuangan yang terus di lakukannya, Javer juga terus menerus berdoa dan berharap. Ya, doa dan harapan.. Selain perjuangan, doa dan harapan lah yang selama ini menguatkan Javer.


Javer yang sedari tadi memperhatikan Al yang terus mengajak Teya bercengkrama pun menyunggingkan senyum kecilnya. Karena meskipun Al tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian yang sama persis dengan dirinya, namun Al berubah menjadi anak yang hangat, periang, dan banyak berbicara jika bersama dengan Teya.


Hal itu setidaknya bisa membuat Javer merasa sedikit lega karena Al tidak menyimpan semua beban kesedihannya sendiri. Javer benar-benar bersyukur akan hal itu.


Al yang menyadari kalau Javer sedari tadi tengah memperhatikannya pun hanya membiarkannya. Al tidak keberatan kalau siapa pun akan melihatnya menjadi orang yang berbeda ketika bersama Teya.


Al yang duduk di sebelah kiri Teya pun kini menggenggam tangan kiri wanita itu dengan penuh kasih dan kelembutan.


Al lantas menoleh pada Javer. "*You don't want to come in, dad?"

__ADS_1


*Note : Kau tidak ingin masuk, dad?


Javer menggelengkan kepalanya.


Al mengangkat bahunya acuh kemudian kembali bercerita pada Teya.


Puas memperhatikan dua orang terkasihnya, Javer pun memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Javer akan menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan pada Al itu nanri. Dia akan menunggu hingga Al selesai menemui Teya.


Karena selain Javer juga masih memiliki pekerjaan yang harus segera dia kerjakan, Javer juga ingin memberikan waktu pribadi pada dua orang terkasihnya itu.


Setelah menghela nafasnya, Javer pun menutup pintu kamar itu kemudian berlalu pergi dari sana.


Namun, baru beberapa langkah dia lewati. Javer menghentikan langkahnya tat kala mendengar suara teriakan Al yang memanggilnya.


"Daaaad!! Daddy!!!"


Javer pun membalikan tubuhnya menghadap Al yang baru saja keluar dari kamar Teya.


Javer mengernyitkan dahinya melihat Al yang kini tengah menatapnya dengan di penuhi rasa ketidak peecayaan.


"Apa yang terjadi, apa mommy kembali kritis?" Tanya Javer.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2