Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Alur Permainan Yang Menarik


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Puas menyusuri rumah itu, Javer dan Enzo pun memutuskan untuk segera kembali ke titik lokasi di mana Liam dan 3 anak buahnya sedang menunggu.


"Apa yang kalian dapatkan?" Liam bertanya tat kala Javer dan Enzo sudah berada di dekatnya.


"Sebaiknya kita kembali ke markas terlebih dahulu, tidak memungkinkan untuk kita membahasnya di sini." Ucap Enzo.


"Baiklah, mari kita kembali ke markas." Ucap Liam.


Mereka lantas bergegas untuk kembali ke markas dengan posisi yang tidak berubah. Dimana Liam dengan 3 anak buah yang lain dan Enzo juga Javer dengan 2 anak buah yang lainnya.


.....


Setibanya di markas, saat 3 pria itu menyusuri lorong hingga sampai di ruangan di mana mereka biasa mengadakan rapat rahasia, mereka merasa sedikit bingung lantaran tidak melihat tanda-tanda keberadaan Kheil.


"Apa Kheil belum juga kembali?" Liam bergumam seraya menengok kesana kemari untuk memastikan keberadaan Kheil.


"Mungkin dia benar-benar lelah." Sahut Enzo.


Ya, saat di perjalanan, Enzo bertanya pada javer mengenai pria itu yang tidak biasanya dengan mudah meninggalkan salah satu temannya untuk menjalankan misi. Dan ketika Javer mengatakan Kheil butuh waktu untuk beristirahat, Enzo yang awalnya hendak bertanya kembali karena merasa heran pun seketika di buat terdiam seribu bahasa tat kala Javer berkata.


"Dia sudah menjaga Teya untuk beberapa malam hingga dia tidak memiliki waktu tidur yang cukup."


Dan ya, jika sudah menyangkut Teya, maka siapa pun tidak dapat menganggu gugat keputusan Javer. Oleh sebab itu, Enzo lebih memilih untuk diam dan menyingkirkan segala macam pertanyaan yang sudah muncul di dalam benaknya.


Liam yang mendengar jawaban seperti itu dari Enzo pun hanya mengangkat bahunya acuh kemudian bergabung dengan Enzo dan Javer yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Liam bertanya seraya mengeluarkan sebungkus rokok yang selalu ada di dalam saku jaketnya, kemudian menyalakan sebatang rokok guna menghilangkan rasa masam di mulutnya.


Karena ya, pria itu merupakan perokok akut yang sampai kapan pun akan sangat sulit untuk berpisah dengan lintingan-lintingan nikotin itu.


Javer yang sudah menyiapkan rencana pun berkata. "Untuk saat ini, tempatkan beberapa elite untuk mengawasi keadaan sekitar rumah itu untuk beberapa waktu ke depan. Meskipun kecil kemungkinan untuk dia kembali ke rumah itu, tapi kita tetap perlu memastikan se kecil apapun kemungkinan itu. Bisa saja sewaktu-waktu ada pergerakan yang dia lakukan di sekitar rumah itu."

__ADS_1


"Baiklah, serahkan hal itu padaku. Aku akan mengurusnya." Ucap Enzo.


Javer menganggukkan kepala pertanda menyetujui perkataan Enzo.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Liam.


Javer pun menoleh pada Liam. "Aku membutuhkanmu sebagai partner mengemudiku." Pria itu berkata seraya menampilkan senyum simpulnya.


Liam yang mengartikan senyum simpul Javer sebagai sebuah kode pun seketika menatap pria itu dengan pandangan mata yang berbinar.


"Ohooo... Apa yang kau dapatkan di rumah itu hingga membuatmu menarikku untuk turun ke arena?" Liam bertanya dengan sangat antusias.


Javer lantas mengeluarkan pemutar rekaman yang sebelumnya dia bawa kemudian meletakkannya di atas meja.


"Apa ini?" Liam bertanya seraya meraih pemutar rekaman itu.


"Perhatikan baik-baik." Ucap Javer.


Liam pun mencoba memperhatikan pemutar rekaman itu dengan seksama, hingga ketika dia membalikan pemutar rekaman itu dan memahaminya untuk beberapa saat. Pria itu seketika mengembangkan senyum lebarnya tat kala menyadari titik koordinat tempat yang tertera pada pemutar rekaman itu.


Enzo dan Javer pun hanya mengangkat bahu acuh.


Ya, setelah Javer memperhatikan lebih teliti mengenai kode koordinat itu. Tanpa harus bersusah payah meminta Kheil untuk menemukan tempat itu pun, 3 pria tampan nan gagah yang ada di sana sudah bisa mengetahui secara pasti dimana titik koordinat itu berada.


Karena perlu kalian ketahui, tempat itu merupakan arena balap mobil liar yang sengaja di bangun oleh kakek tua Robert dalam rangka memuaskan hasrat jiwa mudanya yang sudah tidak bisa di hidupkan kembali.


Dan yang membuat Javer sangat tertarik untuk mengikuti alur permainan pria itu adalah karena tempat itu merupakan tempat yang di tanggung jawabi secara penuh oleh Cosa Nostra.


"Tapi, apa tidak sebaiknya kita mengabarkan hal ini pada Uncle Yama?" Tanya Enzo kemudian.


"Sebaiknya kita tidak perlu melibatkan mantan iblis itu.." Sahut Javer cepat.


Enzo dan Liam yang mendengar hal itu pun hanya bisa menggaruk pelipis mereka yang tidak gatal.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengumpulkan beberapa elite untuk segera mengawasi rumah itu." Enzo berkata seraya hendak beranjak dari duduknya.


Namun, Enzo harus mengurungkan niatnya tat kala Kheil memasuki ruangan dengan wajah yang di tekuk sangat dalam.

__ADS_1


"Ada apa dengan wajahmu??" Enzo bertanya seraya menatap wajah Kheil dengan alis yang menukik tajam.


Namun, alih-alih menjawab, Kheil justru memberikan pertanyaan pada 3 pria itu dengan sedikit bersungut-sungut. "Kenapa kalian pergi begitu sana dan meninggalkanku sendirian?"


"Bukan kah kau butuh istirahat? Jadi kami meninggalkanmu di sini.." Enzo menjawab dengan acuh tak acuh.


Kheil yang mendengar jawaban acuh tak acuh dari Enzo pun seketika mendelikkan matanya.


"Istirahat kau bilang?? Tak tahu kah kau di saat kalian pergi, aku justru harus bekerja dengan sangat ekstra!!" Kheil kembali berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


Liam yang tidak mengerti arah pembicaraan Kheil pun bertanya dengan sedikit bingung. "Maksudmu?"


Sedangkan Javer dan Enzo, mereka yang mengerti apa yang di maksud oleh Kheil pun hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Karena apa lagi yang bisa membuat Kheil emosi dengan begitu dahsyatnya jika bukan karena kelakukan dan permintaan aneh Teya.


Yang mana, hal itu seketika membuat Kheil mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. "Ah, sudahlah, sebaiknya aku mengistirahatkan tubuh dan pikiranku sebelum aku benar-benar hangus terbakar amarah." Pria itu berkata kemudian berlalu pergi begitu saja.


Meninggalkan Liam yang menatapnya dengan tatapan bingung.


"Ada apa dengannya?" Liam bertanya pada Javer dan Enzo yang terlihat acuh tak acuh.


Namun, bukannya menjawab, 2 pria itu justru beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi begitu saja menuju tempat tujuan mereka masing-masing, tanpa menghiraukan kebingungan yang masih di rasakan oleh Liam.


"Apa di sini hanya aku saja yang tampak sangat bodoh??" Liam bergumam seraya beranjak dari duduknya kemudian melangkah untuk mencari keberadaan Kheil.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2