Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Masih Menjadi Kemungkinan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Sebelumnya..


Teya lantas segera menetralkan rasa terkejutnya kemudian segera membelokkan mobilnya untuk memasuki gerbang perpustakaan kota.


Namun.. BRAAAAAAAAAAKKKKKKK.........!!!!


....


Belum sempat Teya memasuki gerbang perpustakaan kota, mobil itu sudah lebih dulu menabrak mobil bagian belakang Teya dengan sangat kuat. Membuat mobil bagian kiri milik Teya menghantam sebuah pohon besar. Bahkan saking kuatnya hantaman itu, membuat mobil bagian kiri milik Teya menjadi penyok.


Tapi beruntungnya, gadis itu masih bisa selamat karena bagian mobil yang menghantam pohon itu adalah bagian kursi penumpang.


Teya yang masih memiliki sedikit kesadaran pun segera menegakkan tubuhnya secara perlahan, kemudian sedikit menggelengkan kepala guna tetap menjaga kesadarannya.


"Ssssshhh..." Gadis itu berdis tat kala merasakan kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


Karena sungguh, kepala bagian kirinya membentur kaca jendela dengan sangat kuat hingga membuat kaca jendela itu pecah.


Setelah menegakkan tubuhnya, Teya lantas menghela nafasnya kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa saat. Lalu, tangan kiri gadis itu perlahan terangkat untuk menyentuh kepalanya yang terasa basah. Gadis itu seketika terkekeh kecil saat melihat telapak tangannya yang di lumuri dengan darah.


"Oh God.. Bisa kah kau tidak mencabut nyawaku sekarang? Aku baru saja mengungkapkan perasaan cintaku.. Tidak bisa kah kau menunggu hingga aku menikah dan melahirkan??" Gadis itu bergumam tat kala merasakan pandangan matanya yang mulai mengabur.


Hingga ketika orang-orang mulai mencoba untuk mengeluarkan gadis itu dari dalam mobil. Pandangan mata gadis itu pun benar-benar menjadi gelap.


....


Di sisi lain..


Terlihat Marco yang berlari menuju ruang rapat.. Setelah sampai di depan pintu, pria itu lantas membuka pintu ruang rapat dengan sedikit kasar.


Semua orang yang melihat itu pun seketika menatap Marco dengan berbagai pandangan.


"Apa yang ka..."


"Nona Teya kecelakaan" Marco segera memotong perkataan Javer dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


Mendengar apa yang di katakan Marco, seketika membuat Javer langsung beranjak dari duduknya.


"Katakan sekali lagi?" Javer bertanya dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Nona Teya kecelakaan" Marco mengulangi perkataanya dengan cepat.


Dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, Javer menyambar ponselnya yang berada di atas meja kemudian segera berlalu pergi dari sana, dengan Marco yang mengikutinya di belakang.

__ADS_1


"Dimana dia sekarang?" Javer bertanya setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Nona sedang di pindahkan ke rumah sakit milik keluarga Griffiths untuk menjalani operasi." Marco menjawab seraya mulai mengemudikan mobilnya.


"Apa yang terjadi?"


"Menurut orang-orang di sekitarnya, ada sebuah mobil yang menabrak mobil Nona. Tapi, untuk keterangan lebih lanjut, saya sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Dan juga untuk pelaku, kini dia sedang dalam interogasi pihak kepolisian."


"Katakan pada komisaris, aku akan mengatasi pelaku itu dengan tanganku sendiri." Titah Javer.


"Baik Tuan."


.....


Sesampainya di rumah sakit, Javer segera menuju ruang operasi. Di mana, di sana sudah ada kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Teya.


Sejenak, Javer menatap lampu ruang operasi yang masih menyala lalu menoleh pada Athena.


"Mom, bagaimana keadaan Teya?"


"Dokter sedang melakukam operasi pengambilan pecahan kaca yang tertanam di kepala Teya." Jawab Athena.


"Kapan operasinya akan selesai?"


"Kami tidak tahu, Teya baru saja masuk ruang operasi sekitar 1 jam yang lalu."


Javer lantas menghela nafasnya kemudian menatap Roma dan Amaya. "Ma, Pa, Maakan aku.. Aku tidak bisa menjaga Teya dengan baik.. Aku berjanji akan mengusut masalah ini hingga tuntas."


"Ya, jangan menyalahkan dirimu sendiri Javer. Kami tau kalau kau selalu menjaga Teya dengan baik selama ini, dan kami juga percaya kalau kau pasti akan mengusut masalah ini hingga tuntas. Hanya saja, yang terpenting untuk sekarang ini adalah berdo'a semoga Teya baik-baik saja." Amaya bertanya kemudian tersenyum Tulus.


Javer pun menganggukkan kepalanya lalu menghampiri Marco yang baru saja datang.


"Bagaimana?"


"Saya sudah menghubunginya dan menyampaikan apa yang Tuan inginkan. Tapi.." Marco menjawab dengan sedikit ragu karena mereka sedang di tempat yang tidak memungkinkan untuk membahas hal ini.


Javer seketika menaikkan sebelah alisnya. "Tapi?"


"Dia meminta sebuah penukaran."


Javer lantas menganggukkan kepalanya. "Pergilah, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku hanya ingin *benda itu berada di *kawasan malam ini juga." Titah Javer.


(*Benda : Maksud dari benda ini konteksnya kata ganti orang ya wakk.. Cuma kan mereka lagi di RS, jadi Javer makenya kata istilah atau kode, ga mungkin kan mereka bahas penukaran orang secara terang-terangan di RS.)


(*Kawasan : Markas.)


"Baik Tuan." Ucap Marco kemudian berlalu pergi dari sana.


Setelahnya, Javer pun kembali menghampiri para orsng tua dan menunggu berlangsungnya operasi dengan harap-harap cemas. Hingga 5 jam kemudian, lampu ruang operasi pun terlihat sudah tidak lagi menyala. Lalu, keluarlah seorang dokter yang bernama Lay dengan masih mengenakan seragam operasi. Di mana dokter itu adalah dokter kepercayaan keluarga Griffiths.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan menantuku?" Yama bertanya cepat.


Sejenak, Lay menatap wajah satu persatu orang yang ada di sana lalu mulai menjelaskan keadaan Teya. "Untuk sekarang ini, semuanya terlihat baik-baik saja. Hanya saja, ada kemungkinan untuk Nona Teya mengalami kebutaan mata sebelah kiri. Hal itu di sebabkan karena kepala nona yang mengalami benturan dengan sangat kuat hingga menekan pembuluh darah yang menyuplai saraf penglihatan. Tapi, itu baru kemungkinan. Kita tetap perlu menunggu hingga Nona Teya bangun untuk memastikan kemungkinan itu. Berdoa saja semoga kemungkinan itu tidak terjadi."


Semua yang ada di sana pun seketika menghela nafas dengan penuh rasa ke khawatiran.


"Lalu, kapan kita bisa melihat keadaannya?" Tanya Roma.


"Setengah jam lagi Nona akan di pindahkan ke *ruang G, kalian bisa melihat keadaannya di sana."


*Ruang G : Ruangan khusus untuk keluarga Griffiths.


"Baiklah, kau boleh kembali bekerja." Titah Yama.


"Baik, kalau begitu saya permisi." Lay berkata lalu sedikit menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.


.....


2 jam kemudian...


Terlihat Teya yang kini tengah berbaring di atas brangkar dengan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya. Di temani oleh Javer yang sedari tadi berdiri di dekat jendela seraya menatap Teya, dengan para orang tua yang duduk di sofa.


"Kenapa dia belum bangun juga?" Javer bertanya kemudian.


Pria itu terlihat mulai kehilangan kesabarannya karena seharusnya Teya sudah sadar sejak setengah jam yang lalu.


Yama menoleh pada Javer kemudian berkata. "Tenanglah son, biarkan tunanganmu beristirahat untuk sejenak."


Javer lantas mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. "Tapi ini sudah melebihi batas waktu yang seharusnya dad, aku benar-benar takut jika terjadi sesuatu.."


Athena menghela nafasnya lalu berkata. "Kau pikir kami tidak merasa takut?? Cukup di.."


"Sssshhh..."


Perkataan Athena seketika terhenti tat kala mendengar sebuah desisan lirih dari Teya.


Yang mana, hal itu membuat semua orang yang ada di sana terdiam lalu memusatkan perhatian mereka pada pada gadis itu. Mereka tidak segera memanggil dokter, mereka memilih memastikan hal itu terlebih dahulu karena mungkin saja mereka salah mendengar. Tapi, ketika mereka melihat Teya yang mulai mengerjapkan matanya, Amaya lantas segera menekan tombol intercom untuk memanggil dokter.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2