
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
5 menit pun berlalu.. Dokter Freya kembali mengambil sang bayi untuk di bersihkan terlebih dahulu.
"Saya akan membersihkan anak nyonya terlebih dahulu agar nyonya lebih nyaman menggendongnya. Nyonya juga harus membersihkan diri agar tubuh nyonya terasa lebih segar." Kata Dokter Freya.
Teya menganggukkan kepalanya.
Dokter Freya pun segera membersihkan sang bayi di bantu olah satu orang suster.
Saat para suster hendak membantu Teya untuk beranjak dari kasur. Javer segera mencegahnya karena dia ingin menggendong Teya ke kamar mandi.
Para suster itu pun hanya menuruti apa yang di inginkan oleh Javer.
Setelah mengantar Teya ke kamar mandi, Javer pun lebih memilih untuk menunggu di ambang pintu karena dia tidak ingin menghambat para suster dalam membantu membersihkan diri Teya. Selama Javer menunggu, tatapan matanya tak lepas dari Teya barang sedetik pun. Pria itu tidak hentinya mengagumi kehebatan Teya dalam menahan segala rasa sakit yang di alaminya demi untuk melahirkan sang buah hati.
Setelah menunggu untuk beberapa saat, Javer pun segera menghampiri Teya yang kini sudah selesai membersihkan diri. Pria itu kembali menggendong Teya ala bridal kemudian membaringkan Teya di atas kasur yang sebelumnya sudah di bersihkan oleh para suster.
"Terima kasih.." Teya menatap Javer dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Javer membalas senyuman Teya. "Apa pun untukmu, babby.."
Tak lama setelah itu, dokter Freya pun kembali menghampiri Teya dengan menggendong sang buah hati yang kini sudah bersih dan sudah mengenakan pakaian bayi.
"Nyonya, apakah asi nyonya keluar?" Tanya dokter Freya.
Teya menganggukkan kepalanya. "Beberapa hari ini, payudaraku sering mengeluarkan air."
"Baiklah, kalau begitu, bisakah nyonya duduk seraya bersandar pada sadaran tempat tidur? Saya akan mengajari nyonya bagaimana caranya menyusui." Kata Dokter Freya.
Javer pun segera membantu Teya untuk duduk dengan punggungnya yang bersandar pada sandaran kasur.
Dokter Freya lantas meletakkan bayi itu di dalam gendongan Teya, dokter Freya kemudian mengajari Teya bagaimana caranya menyusui sang bayi yang nyaman untuk sang bayi dan untuk Teya itu sendiri.
Teya yang memang dasarnya cepat belajar pun, hanya dengan satu kali arahan dari Dokter Freya. Teya sudah bisa langsung menyusui sang bayi dengan cara dan dengan posisi yang nyaman.
"Anda hebat Nyonya.." Ucap dokter Freya.
Teya pun hanya menyunggingkan senyumnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu nyonya. Jika ada sesuatu yang di butuhkan, tolong segera memanggil saya." Kata Dokter Freya.
Teya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak dokter."
__ADS_1
Dokter Freya menyunggingkan senyumnya. "Sudah kewajiban saya, nyonya.."
Dokter Freya dan para suster pun segera keluar dari ruangan itu.
"Javer, lihatlah.. Anakmu benar-benar sangat haus.. Dia menyedot asi ku dengan sangat kuat." Teya berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari sang buah hati.
Namun, Teya mengernyitkan dahinya karena tak mendapat sahutan apa pun dari Javer. Teya lantas menoleh pada Javer yang kini tengah duduk di sofa. Melihat Javer yang tengah memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang terlihat kesal, seketika saja membuat Teya nenahan kekehannya.
"Javer, apa kau merasa cemburu pada anakmu sendiri?" Teya bertanya dengan nada yang terdengar sedikit geli.
"Tentu saja." Sahut Javer cepat. "Dia sudah merenggut apa yang sebelumnya menjadi milikku!" Pria itu berkata dengan sedikit kesal.
Mendengar hal itu, sontak saja membuat Teya kini benar-benar terkekeh geli. Dia sedikit tidak menyangka kalau Javer akan merasa cemburu pada anaknya sendiri. Teya juga merasa geli karena meskipun Javer merasa cemburu, pria itu tidak bisa berbuat apa pun karena itu merupakan kewajiban yang harus Teya lakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan sang buah hati.
Ketika Teya hendak menyahuti perkataan Javer, dia harus menelan kembali kalimatnya karena para orang tua sudah memasuki ruangan.
Karena sebelumnya, setelah melihat dokter Freya dan para suster keluar dari ruangan. Para orang tua yang sudah tidak sabar untuk melihat cucu pertama mereka pun segera masuk ke dalam ruangan.
Namun, bukannya sang bayi, Athena dan Amaya justru menanyakan keadaan Teya.
"Apa kau baik-baik saja sayang?" Tanya Athena.
"Ya, apa kau baik-baik saja?" Timpal Amaya.
Teya lantas menatap Amaya dan Athena dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Aku baik-baik saja.. Aku bahkan tidak pernah merasa sebaik ini."
Athena dan Amaya pun menghela nafas dengan sangat lega.
"Kau hebat sayang.." Ucap Amaya seraya mengelus kepala Teya.
Setelah memastikan keadaan Teya, antensi Athena dan Amaya pun kini teralihkan pada sang bayi yang tengah menyusu pada Teya.
"Ah, tampan sekali.." Ucap Athena.
Tepat setelah Athena mengatakan hal itu, sang bayi melepaskan pu...ting Teya dari mulutnya karena dia sudah merasa kenyang.
Teya pun segera menutup kembali ***********.
"Sepertinya dia mengerti kalau para grandmanya ingin segera menggendongnya." Kata Amaya.
Athena seketika saja terkekeh gemas. "Ya, dia sepertinya mengerti apa yang di inginkan oleh para grandmanya.."
"Bolehkah mama menggendongnya?" Tanya Amaya.
"Tentu saja.." Sahut Teya.
Namun, saat Amaya hendak menggendong sang bayi. Athena seketika saja menepis tangan Amaya dengan pelan.
__ADS_1
"Aku ingin menggendongnya terlebih dahulu." Kata Athena.
"Heeeey.. Kau tidak bisa begitu.. Aku yang memintanya terlebih dahulu.. Kau bisa menggendongnya setelah aku menggendongnya." Amaya menyahut dengan sedikit tidak terima.
"Tapi aku yang terlebih dahulu memuji cucuku." Kata Athena.
"Tidak tidak! Aku yang akan menggendongnya terlebih dahulu." Amaya tidak ingin kalah.
Melihat perdebatan konyol yang di lakukan oleh Amaya dan Athena, seketika saja membuat Javer memutar bola matanya malas.
Yama dan Roma yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas mereka.
Sedangkan Teya, dia hanya bisa mengerjapkan matanya, dia merasa sedikit terkejut karena dua orang yang selama ini selalu akur itu kini tengah berdebat dengan sangat sengit.
"Begini saja.. Bagaimana kalau kita suit. Yang menang, maka akan menggendongnya terlebih dahulu." Kata Athena.
"Ok, deal." Sahut Amaya cepat.
Kedua wanita itu pun melakukan suit yang di mana Athena memenangkan suit itu.
Namun sayangnya, ketika dia hendak menggendong sang bayi. Dirinya harus merasa sedikit kesal karena bayi itu kini justru berada dalam gendongan Javer.
"Javer, berikan pada mommy.. Mommy ingin menggendong cucu mommy." Athena menghampiri Javer.
"Tidak! Aku yang akan menggendongnya! Aku sama sekali belum menggendongnya." Sahut Javer cepat.
Mendengar hal itu, Athena pun hanya bisa menghela nafasnya dengan sedikit kecewa.
"Javer, Teya, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" Tanya Yama kemudian.
Javer lantas menoleh pada Teya. Mendapat anggukan kepala dari Teya, Javer pun menatap Yama.
"Aku sudah menyiapkan nama untuknya." Kata Javer.
"Siapa?" Tanya Roma.
Javer menatap bayi itu untuk sejenak. Pria itu menyunggingkan senyum kecilnya kemudian berkata. "Ralvano Del Griffiths."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..