Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Hanya Perasaan?


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Ketika sore hari menjelang, Gena dan Liam pun datang untuk mengunjungi Teya. Melihat betapa menggemaskannya Ralvano, benar-benar membuat Liam tak kuasa menahan keinginannya untuk segera memiliki anak.


Di tambah lagi dengan godaan dari para orang tua yang menyuruhnya untuk segera menikahi Gena agar dia segera memiliki anak, semakin membuat Liam merasa tidak sabar untuk segera menikahi Gena.


Gena yang terus menerus mendapatkan godaan pun hanya bisa tersenyum malu karena dirinya benar-benar bingung harus memberikan tanggapan seperti apa.


Setelah memastikan keadaan Teya baik-baik saja, dan juga setelah puas bermain dengan Ralvano, mereka yang ada di sana pun memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


Terlebih lagi, waktu kini mulai memasuki malam hari.


Meskipun mereka sedikit enggan untuk kembali ke rumah, namun mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat Teya.


Kini, Teya dan Javer pun berbaring di kasur setelah sebelumnya Teya menyusui sang buah hati.


Saat Teya hendak memejamkan matanya, dia harus mengurungkan niatnya tat kala mendengar ponselnya yang berbunyi.


Teya lantas mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer. "Javer, bisakah kau mengambilkan ponselku?"


"Akan aku ambilkan." Ucap Javer.


Teya pun segera beringsut dari pelukan Javer agar pria itu bisa mengambil ponselnya yang terletak di atas meja yang berada di samping kasur.


"Siapa?" Tanya Teya.


"Hana." Ucap Javer.


Javer pun menyerahkan ponsel itu pada Teya kemudian menempatkan Teya kembali ke dalam pelukannya.


Teya pun segera mengangkat panggilan itu.


"Hai Hana.." Ucap Teya.


πŸ“ž(Teya, bagaimana? Apa kau baik-baik saja? Apa babby mu baik-baik saja? Apa semuanya berjalan dengan lancar?) Suara Hana terdengar sangat antusias.


Teya seketika saja terkekeh kecil. "Tanyakan satu persatu, okay.. Aku kesulitan untuk menjawabnya."


πŸ“ž(Ah ya, maafkan aku.. Aku hanya terlalu bersemangat. Bagaimana jadinya?)


"Semuanya berjalan dengan sangat baik.."


πŸ“ž(Ah, syukurlah.. Maaf karena aku tidak bisa mengunjungimu hari ini. Ada sesuatu hal yang tidak bisa aku tinggalkan.) Hana terdengar sedikit kecewa.


"Tak apa.. Gena sudah mengatakannya padaku. Lagi pula, besok aku sudah bisa pulang. Kau bisa mengunjungiku di rumah."


πŸ“ž(Ah, benarkah?? Kalau begitu, besok aku akan berkunjung ke rumahmu. Jam berapa kau akan pulang?)


"Siang hari, mungkin.."


πŸ“ž(Okay.. Aku akan datang di sore hari.)

__ADS_1


"Ok.. Aku tunggu.."


πŸ“ž(Kalau begitu, aku akan menutup telponnya. Selamat beristirahat..)


"Okay.."


Sambungan pun terputus.


Teya lantas meletakkan ponselnya di bawah bantal.


"Dia akan berkunjung ke rumah?" Tanya Javer.


"Hmm.." Teya menganggukkan kepalanya.


"Beristirahatlah.. Kau pasti lelah.. Jika Ralvano merasa lapar, aku kan membangunkanmu." Javer berkata seraya membenarkan posisi selimut yang di kenakan mereka.


Teya menganggukkan kepalanya. Dia lalu menyamankan posisi tidurnya kemudian segera memejamkan matanya.


.....


Ke esokan harinya..


Setelah berbincang mengenai beberapa hal dengan dokter Freya, Javer kini mengemasi barang-barang milik Teya dan juga milik Ralvano ke dalam koper.


Sebenarnya, Javer bisa saja meminta salah satu suster untuk mengemasi barang-barang milik mereka. Namun, Javer ingin memastikan kalau semuanya aman dengan tangannya sendiri.


Karena meskipun ini merupakan rumah sakit miliknya, namun Javer tetap harus memastikan keamanan Teya dan juga Ralvano dengan tangannya sendiri. Javer tidak ingin sampai kejadian yang lalu-lalu terulang kembali.


Setelah selesai mengemasi barang-barang, Javer lantas menghampiri Teya yang tengah duduk di sofa.


"Apa dia sudah selesai memuaskan dahaganya?" Tanya Javer saat melihat Teya yang sudah tidak lagi menyusui Ralvano.


Lalu, masuklah Marco yang memang datang untuk menjemput Javer dan Teya.


"Tuan, mobil sudah siap." Ucap Marco.


Javer menganggukkan kepalanya.


Marco lantas segera membawa koper yang ada menuju mobil mereka.


"Biarkan aku yang menggendong Ralvano." Kata Javer.


Teya pun memberika Ralvano pada Javer.


Javer lantas menempatkan Ralvano di tangan kirinya dengan sangat hati-hati.


Javer seketika saja terkekeh. "Bayi ini terlalu mungil dalam gendonganku." Pria itu berkata seraya membantu Teya untuk beranjak dari sofa menggunakan tangan kanannya.


"Bukan dia yang terlalu mungil, tapi kau yang terlalu besar." Sahut Teya.


Javer lagi-lagi terkekeh. "Ah ya, aku lupa.. Bahkan kau saja terlihat mungil saat berada dalam gendonganku."


Teya pun hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya.


Javer lantas meminta Teya untuk menggandeng lengan kanannya agar Teya lebih mudah untuk berjalan. Karena meskipun 24 jam sudah berlalu, Teya masih belum bisa berjalan dengan normal karena intinya masih terasa sedikit ngilu akibat sehabis melahirkan.

__ADS_1


Sebenarnya, Teya bisa saja menggunakan kursi roda. Namun Teya memilih untuk berjalan karena dia ingin membiasakan diri dari rasa ngilu itu. Toh meskipun saat ini dia menggunakan kursi roda, jika sudah sampai rumah, Teya juga nantinya akan tetap berjalan dengan kakinya sendiri.


Saat mereka menyusuri lorong rumah sakit, banyak orang yang berbisik mengenai betapa serasinya Javer dan Teya. Mereka juga mengagumi betapa menggemaskannya bayi yang di lahirkan oleh Teya.


Namun, tak sedikit pula orang yang merasa iri pada Teya karena bisa bersanding dengan Javer. Mereka juga merasa iri karena Teya terpilih sebagai gadis yang melahirkan pewaris dari keluarga Griffiths.


"Javer, apa penampilanku terlihat aneh? Kenapa banyak orang yang melihat ke arah kita?" Bisik Teya.


"Tidak, kau sempurna babby.. Kau bahkan tidak terlihat seperti wanita yang baru saja melahirkan." Balas Javer dengan berbisik juga.


"Bisa kah kau berhenti membual?" Teya mencubit pinggang Javer dengan gemas.


Namun, Javer hanya mengedikkan bahunya. Karena ya, memang begitu adanya, Javer sama sekali tidak membual. Mau di lihat dari sudut mana pun, Teya tidak terlihat seorang wanita yang baru saja melahirkan. Tubuh Teya benar-benar terlihat ramping tanpa ada celah seidkit pun.


Bahkan Teya kini justru terlihat lebih cantik dari biasanya. Entahlah, setelah melahirkan, aura kecantikan yang di pancarkan oleh Teya justru semakin berlipat-lipat ganda.


Hal itu kini justru membuat Javer merasa sedikit was-was kalau saja sampai ada pria lain yang menganggap Teya masih lajang. Setelah ini, sepertinya Javer harus mengumumkan perlihal Teya yang sudah menjadi istri dan juga ibu dari anaknya.


Javer benar-benar tidak ingin kalau sampai nantinya ada pria dari kampus Teya yang berusaha mendekati istri mungilnya itu.


Hingga ketika mereka hendak menuju pintu keluar rumah sakit, Teya tiba-tiba saja menghentikan langkahnya tat kala dia merasa berpapasan dengan seseorang yang di kenalinya.


"Ada apa?" Tanya Javer.


Namun, alih-alih menjawab, Teya hanya menggulirkan matanya ke setiap penjuru arah untuk melihat orang yang di kenalinya itu.


"Babby.." Ucap Javer.


"Babby, hey.." Ucap Javer lagi.


"Ah ya?" Teya menoleh pada Javer.


"Ada apa?" Tanya Javer.


"Aku merasa seperti berpapasan dengan Flow, tapi aku tidak menemukan keberadaannya." Teya berkata dengan sedikit bingung.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat dada Javer berdegup dengan sangat cepat karena merasa sedikit panik. Namun pria itu berusaha menetralkan rasa paniknya.


"Sudahlah. Mungkin itu hanya perasaanmu saja."


Teya mengangkat bahunya acuh. "Ya, mungkin itu hanya perasaanku saja."


Javer menelan ludahnya kemudian kembali menuntun Teya untuk segera menuju mobil.


Andai saja Javer tidak sedang bersama Teya dan Ralvano, Javer tidak akan mungkin merasa panik. Karena selain Teya dan Ralvano adalah orang yang di kasihinya, Teya dan Ralvano juga masih dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menghadapi situasi yang berbahaya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2