Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Penyerangan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Di sisi lain..


"Apa tidak sebaiknya kita mematikan lampu mobil kita?" Tanya Liam saat mereka hampir samai di lokasi, pria itu melirik Javer yang terlihat fokus pada jalanan.


Javer menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, team Alpha sudah memblokir semua jalan keluar yang ada di area itu. Meskipun mereka mengetahui kedatangan kita, mereka tetap tidak akan bisa keluar dari tempat itu."


"Kecuali jika mereka menggunakan helikopter." Sahut Tey cepat.


Liam seketika saja terkekeh kecil. "Ya, itu suatu pengecualian."


Hingga ketika mereka mulai memasuki tikungan yang menuju arena balap itu, Liam melirik Javer dan juga Teya secara bergantian.


"Ready?" Tanya Liam.


"Aku bahkan tidak sabar untuk segera menghabisi orang yang menculik anakku!" Teya berkata dengan suara datarnya.


Sedangkan Javer, dia hanya mengedikkan bahunya.


"Tapi Teya, bukan kah kau terlihat terlalu santai untuk seseorang yang tidak sabar untuk menghabisi musuhnya."


Teya menatap Liam dengan menaikkan sebelah alisnya. "Apa aku harus mengaum seperti singa? Atau harus kah aku berteriak seperti gorila?"


Javer seketika saja mengulum senyumnya.


Sedangkan Liam, pria itu menggeleng cepat. "Ok, kau memang terlihat seperti seseorang yang tidak sabar untuk menghambisi musuhnya."


Teya pun hanya memutar bola matanya.


Sesampainya di pintu masuk menuju arena balap, Liam memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Karena ya, ini merupakan penyerangan secara terang-terangan. Jadi, tidak ada gunanya juga dia memarkirkan mobilnya di tempat tersembunyi.


Liam, Javer dan Teya pun segera keluar dari dalam mobil.


Begitu pula dengan yang lainnya. Setelah memarkirkan mobil, mereka segera keluar dari dalam mobil mereka masing-masing.


Selagi yang lainnya mulai masuk ke dalam arena balap, Kheil dan Enzo menghampiri Liam, Javer dan Teya.


"Pakai ini." Kheil memberikan masing-masing dari 3 orang itu 1 earphone. "Aku akan mengarahkan kalian ber empat menuju posisi Al berada."


Mereka menganggukkan kepala.


Kheil lantas kembali masuk ke dalam mobil untuk mengecek lokasi Al.


Begitu pula dengan Javer, Liam, Enzo dan Teya. Mereka segera masuk ke dalam arena balap.


"Kalian berdua, berpencarlah. Dan kau babby, kau harus tetap berada dalam jarak pandangku." Titah Javer.


Liam dan Enzo pun segera berpencar untuk mencari keberadaan Al.


Ketika Javer dan Teya menyusuri arena balap, Teya meminta Javer untuk menghentikan langkah.


Javer pun menatap Teya dengan sedikit bingung.

__ADS_1


Namun, Teya meletakkan jari telunjuknya di birinya, dia meminta Javer untuk diam. Wanita itu lantas menunjuk ke arah kursi penonton yang terhalang oleh tembok sebatas pinggang.


Javer yang mengerti maksud Teya pun menganggukkan kepalanya.


Mereka lantas mendekat ke arah yang Teya maksud dengan langkah pelan.


Javer pun mengarahkan pistolnya ke arah yang Teya maksud, berjaga-jaga kalau saja musuh mereka menyerang dengan tiba-tiba.


Dan benar saja, saat mereka mengintip ke balik tembok. Musuh pun langsung mengarahkan pistolnya ke arah Javer dan Teya.


Namun, gerakan orang itu kalah cepat dengan gerakan Teya. Wanita itu sudah lebih dulu melayangkan tembakan pada orang itu.


Orang itu pun seketika saja tergeletak tak berdaya karena tembakan yang di layangkan Teya tepat mengenai dadanya.


"Bukan kah kau terlalu cepat, babby.." Ucap Javer.


"Dia yang terlalu lambat, sayang.." Teya mengedipkan sebelah matanya pada Javer.


"Tcih!" Javer seketika saja menyunggingkan smirknya.


(Sepertinya kalian harus mencari Al dengan usaha kalian sendiri.) Kheil berkata tiba-tiba.


"Kenapa?" Sahut Teya.


(Aku tidak bisa melacaknya, sinyal yang di pancarkan benar-benar hilang.) Kheil berkata dengan sedikit frustasi.


(Baiklah.. Kami akan berusaha menemukannya.) Sahut Enzo.


(Sebaiknya begitu, aku akan bergabung dengan kalian.) Kata Kheil.


"Hm." Sahut Javer.


Teya menganggukkan kepalanya. "I'm okay, sebaiknya kita bergegas."


Javer mengguk kecil kemudian segera menuntun Teya untuk kembali menyusuri arena balap itu.


Merasakan arena balap yang begitu sepi, seketika saja membuat Teya kembali menghentikan langkahnya.


"Javer, apa tidak sebaiknya kita masuk ke dalam bangunan itu?" Teya menatap bangunan besar yang letaknya cukup jauh dari posisinya. "Sedari tadi kita tidak melihat adanya musuh kecuali orang yang baru saja aku tembak."


(Tidak, nyonya.. Sebaiknya nyonya jangan kemari. Di sini terlalu berbahaya, kami sedang mengalami baku tembak.) Marco berkata cepat.


Dan ya, memang begitulah adanya, Teya dapat mendengar suara tembakan yang saling bersahutan. Teya baru bisa mendengar suara baku tembak itu karena Marco baru saja mengaktifkan earphonnya.


"Tidak, aku akan bergabung dengan kalian." Sahut Teya.


Javer seketika saja mengernyitkan dahinya. "Kau yakin babby?"


Teya menaikkan sebelah alisnya. "Kau meragukanku? Kita tidak tahu di mana Al. Bisa saja Al ada di dalam bangunan itu."


"Tapi."


"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita masuk ke dalam bangunan itu." Teya berkata seraya berlalu menuju bangunan itu.


Javer pun hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah kemudian mengikuti langkah Teya.


Hingga ketika Javer dan Teya samai di depan bangunan itu, mereka dapat mendengar dengan jelas suara tembakan yang saling bersahutan.

__ADS_1


Javer dan Teya saling bertukar pandang, mereka menganggukkan kepala kemudian segera masuk ke dalam bangunan itu dengan Javer yang memimpin langkah.


Tepat saat mereka masuk ke dalam bangunan itu, mereka langsung di hadapkan dengan 3 orang musuh yang tengah mengisi peluru.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Teya dan Javer segera melayangkan tembakan pada 3 orang itu hingga membuat 3 orang itu terkapar tak berdaya.


Javer dan Teya pun segera mengambil langkah untuk menghadapi setiap musuh yang ada.


Begitu pula dengan yang lainnya.


Liam dan Enzo yang sedari tadi sudah berada di dalam gedung pun menghadapi setiap musuh yang mereka temui.


"Sial, peluruku habis!" Enzo menggerutu seraya menoleh ke arag di mana Liam berada.


Enzo bermaksud untuk meminta peluru pada Liam. Namun sayangnya, dia tidak melihat keberadaan Liam.


"Oh God, dam*n It!! Kemana perginya orang itu!" Enzo mengusap wajahnya dengan kasar.


Pria itu lantas membuang pistolnya kemudian melepaskan ikat pinggang yang dia kenakan.


Tepat setelah Enzo melepaskan ikat pinggangnya, dia tiba-tiba saja diam mematung saat ada seseorang yang menempelkan moncong pistol pada dahinya.


Enzo lantas mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang menodongkn pisto padanya yang ternyata orang itu adalah Flow


Melihat Flow yang memegang pistol itu dengan tangan yang bergetar, seketika saja membuat Enzo menyunggingkan smirknya.


"Hai girl, mau bertaruh denganku?" Enzo bertanya dengan santainya.


"Diam atau aku akn menembakmu!" Flow berteriak dengan suara yang sedikit bergetar.


Karena sungguh, meskipun dirinya bukan gadis baik-baik. Tapi ini adalah kali pertama dia memegang senjata. Hal itu benar-benar membuat Flow merasa takut akan apa yang dia hadapi saat ini.


"Kau benar-benar akan menembakku?" Enzo bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Sudah ku bilang diaaam!!" Sahut Flow seraya menembakkan pistol itu dengan mata yang terpejam.


Namun sayangnya, tidak terdengar suara tembakan apa pun.


Flow lantas membuka matanya kemudian menatap Enzo yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Kau belum menarik pelatuknya, honey.." Enzo berkata seraya menyunggingkan senyum manisnya.


Dan dalam satu kali gerakan, Enzo merebut pistol itu dari tangan Flow kemudian menodongkan pistol itu pada Flow.


"Akan aku tunjukkan cara menembak yang baik dan benar." Enzo berkata seraya menarik pelatuk pistol itu.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2