Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Sedikit Tegang


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Mari kita beralih ke sisi Kheil..


Setelah mengirimkan gambar wajah si pegawai hotel pada Javer, Kheil lantas melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 20.55, pria itu lantas segera memberikan arahan kepada Liam dan Juga Enzo.


"Liam, Enzo, bersiaplah.. 5 menit lagi, target akan segera meninggalkan tempat itu."


Kheil memberikan arahan seraya terus memperhatikan layar monitor yang menampilkan 2 titik merah di mana Enzo dan Liam berada.


(5 menit lagi?) -Tanya Enzo.


"Ya, 5 menit lagi." Sahut Kheil dengan sangat yakin.


Pria itu bisa begitu yakin dengan apa yang di arahkannya karena, setelah menugaskan salah satu bawahannya untuk melakukan pengintaian selama beberapa waktu terakhir ini. Fier akan selalu meninggalkan tempat persembunyian itu tepat pukul 9 malam di setiap harinya.


Meskipun Kheil tidak tahu kemana pria itu pergi selama 30 menit lamanya, namun kheil tidak mencari tahu hal itu karena dia terlalu mementingkannya. Karena baginya, yang paling penting adalah Liam dan Enzo memiliki waktu yang cukup untuk menjalankan rencana.


"Kalian sudah bersiap?"


Kheil memastikan kesiapan Liam dan Enzo setelah melihat sedikit pergerakan 2 titik merah yang di tampilkan layar komputernya.


....


Sekarang, mari kita beralih ke sisi Liam dan Enzo.


(Kalian sudah bersiap?)


"Kami bahkan sudah melakukan ancang-ancang." Sahut Enzo cepat.


(Baiklah, 2 menit lagi..)


"Tunggu dulu, kau tidak melupakan untuk mempersiapkan rencana B kan?" Tanya Liam.


(Tentu.. Aku bahkan sudah menyiapkan rencana C.)


Mendengar apa yang di katakan oleh Kheil, lantas membuat Enzo menatap Liam dengan wajah yang terlihat seakan tengah berpikir.


Menyadari tatapan yang Enzo berikan kepadanya, seketika membuat Liam mengernyitkan dahinya. Pria itu mengedikkan kepalanya seolah bertanya ada apa.


"Tidak, hanya saja.. Ternyata dia lebih baik dari ku dalam hal menyiapkan rencana."

__ADS_1


"Tcih.." Liam menampilkan senyum mengejeknya. "Dia bahkan lebih baik dari kau dalam segala hal."


"Haissh!! Bisa kah satu kali saja kau mencoba untuk tidak mendebatku!!" Enzo menatap Liam dengan sangat sinis.


Saat Liam hendak kembali menyahuti perkataan Enzo, pria itu harus menelan kembali kalimatnya tat kala Kheil berkata.


(Berhentilah berdebat, sudah saatnya..)


Dan ya, tepat sesaat setelah Kheil mengatakan hal itu, Liam dan Kheil melihat Fier yang mulai meninggalkan tempat persembunyian itu dengan menggunakan sepeda motor.


"Kemana dia akan pergi? Bukan kah jalan rahasia menuju kemari tidak bisa di lalui menggunakan sepeda motor?" Enzo bertanya seraya terus memperhatikan Fier yang masih ada dalam jarak pandangnya.


"Entahlah, abaikan saja.. Sebaiknya kita bergerak sekarang."


Liam menarik Enzo agar segera mendekati tempat persembunyian itu setelah Fier sudah tidak lagi berada dalam jarak pandangnya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Enzo pun mengikuti Liam yang keluar dari tempat pengintaian. Mereka kemudian segera menuju tempat persembunyian Fier yang masih berjarak sekitar 5 meter dari tempatnya itu dengan langkah cepat namun tidak menimbulkan bunyi.


Saat 2 pria itu sudah berada di area tempat persembunyian Fier, Enzo menatap sekitar area itu dengan wajah yang sedikit melongo tak percaya.


"Waaaah... Pantas saja kita tidak bisa menemukan tempat ini menggunakan drone, area ini tertutupi dahan pohon yang menjulang tinggi.."


Enzo menggerutu seraya terus memperhatikan area sekitar tempat persembunyian itu dengan wajah yang masih saja sedikit melongo tak percaya. Karena selain Liam dan Enzo yang melakukan pengintaian dalam jarak jauh, waktu saat ini juga merupakan malam hari. Sangat sulit untuk Enzo bisa memperhatikan area tempat persembunyian ini dengan baik-baik.


Karena sungguh, area tempat persembunyian ini benar-benar tertutup rapat oleh dahan pohon yang menjulang tinggi. Saking tertutup rapatnya area tempat ini, bahkan cahaya matahari sekali pun sepertinya sangat sulit untuk menyinari area tempat persembunyian ini.


Memikirkan hal itu, lantas membuat Enzo bergumam. "Bagaimana bisa selama ini mereka bertahan di tempat seperti ini?"


Yang mana, hak itu seketika membuat Liam menghentikan langkahnya kemudian menatap Enzo dengan sangat tajam.


"Kau akan menjalankan rencana atau akan terus berpikir?" Liam bertanya dengan sedikit sinis.


"Tentu saja menjalankan rencana." Enzo menyahut dengan cepat.


"Kalau begitu fokuslah.. Hilangkan pikiran-pikiran aneh yang ada di kepalamu itu."


Tanpa menunggu tanggapan dari Enzo, Liam kembali melanjutkan langkahnya untuk mendekati rumah yang menjadi tempat persembunyian Fier.


Tidak ingin mengulur waktu lagi, Enzo pun akhirnya segera kembali memfokuskan diri untuk menuntaskan rencana yang tengah mereka jalankan.


Saat Liam dan Enzo sudah berada di depan pintu masuk rumah itu, mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan mereka seolah bertanya siapa kah yang akan membuka pintu.


Lalu, Liam pun menganggukkan kepalanya pertanda dia yang akan membuka pintu itu. Pria itu lalu mengeluarkan kawat kecil dari dalam saku celananya untuk membobol pintu kalau saja pintu itu terkunci.


Namun, saat Liam hendak membuka pintu, seseorang sudah lebih dulu membuka pintu itu dari dalam rumah dengan sangat cepat, bahkan hinggga membuat Liam dan Enzo tidak memiliki waktu untuk bersembunyi.

__ADS_1


Tapi, ketika melihat orang yang membuka pintu itu merupakan seorang perempuan yang bisa langsung Liam dan Enzo ketahui kalau perempuan itu adalah Eliza. Liam segera menutup mulut Eliza menggunakan tangan kirinya tat kala Eliza hendak berteriak.


Bersamaan dengan itu, Liam juga menempelkan jari telunjuk tangan kanannya pada bibirnya sendiri.


"Ssshuuutt!!"


Liam mendesis pelan seraya menatap Eliza dengan sangat lembut, pria itu seolah mengisyaratkan kalau Eliza tidak sedang dalam keadaan yang terancam.


Eliza yang menyadari arti dari tatapan Liam pun akhirnya menganggukkan kepalanya seolah menjawab kalau dia tidak akan berteriak.


Liam lantas kembali menurunkan tangan kirinya seraya bertanya. "Apa kau Eliza?" Pria itu mencoba untuk memastikan kalau perempuan itu benar-benar Eliza.


"Ya, aku Eliza.. Apa kalian adalah orang yang di kirimkan oleh Mona untuk menolongku?" Eliza bertanya dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tangis.


Liam dan Enzo menganggukkan kepala, mengiyakan apa yang di tanyakan oleh Eliza.


Mendapat Jawab pasti, seketika saja membuat Eliza mengeluarkan air mata dengan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya.


Eliza sedikti terisak karena awalnya dia pikir, Mona tidak ingin membantunya karena hingga saat ini, Mona sama sekali tidak merespon pesan yang di kirimkan.


Namun, setelah melihat kedatangan 2 pria asing yang mengaku utusan Mona. Eliza tidak kuasa menahan senyum bahagianya karena Mona masih peduli kepadanya.


Saat Enzo hendak mengatakan sesuatu, pria itu harus mengurungkan niatnya tat kala telinganya samar-samar mendengar suara deru mesin motor yang mendekat.


Menyadari kalau suara deru mesin motor itu adalah deru mesin motor yang di pakai oleh Fier, seketika saja membuat Liam dan Enzo saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.


"Oh Shii...T!!!" Liam dan Enzo mengumpat secara bersamaan.


.....


Hayoloooooohhhh.. Kira-kira, bakal ketahuan ga nih??


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2