Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Maaf?


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Saat di perjalanan, Javer merasa sedikit bingung harus mencari Teya kemana. Pria itu lantas memilih untuk memelankan laju mobilnya seraya berpikir tentang tempat seperti apa yang mungkin sekiranya akan di datangi Teya.


Hingga beberapa saat berlalu, tangan kiri Javer tiba-tiba saja terangkat untuk memijat pangkal hidungnya karena terpikir suatu hal. Pria itu lantas menepikan mobilnya di area yang memungkinkan.


"Bodoh.. Kenapa aku tidak melacak keberadaannya saja.." Pria itu bergumam seraya membuka ponselnya kemudian mulai melacak keberadaan Teya.


Sungguh, Javer benar-benar baru teringat jika cincin pertunangan yang di gunakan oleh Teya tertanam alat pelacak yang sengaja di pasangkan oleh Athena. Athena berkata, hal itu sengaja dia lakukan untuk berjaga-jaga jika saja sesuatu hal yang buruk terjadi pada Teya.


Namun, bukannya hal buruk yang datang dari orang lain, melainkan hal buruk yang datang dari Javer itu sendiri.


Setelah melihat pergerakan posisi di mana Teya berada, Javer seketika mengembangkan senyumnya karena kini Teya sedang menuju ke rumah mereka.


Tapi sedetik kemudian, pria itu tiba-tiba saja mengerutkan keningnya karena terpikirkan satu hal.


"Tunggu, jangan bilang jika dia akan mengemasi barang-barangnya.."


"Oh shi..t!! Kenapa semua menjadi runyam seperti ini!!"


Javer pun bergegas kembali melajukan mobilnya menuju rumah dengan kecepatan penuh.


....


Sesampainya di rumah, saat melihat mobil Teya yang terparkir di pekarangan rumah, Javer pun segera masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa bahkan hingga berlari.


Dan benar saja, sesuai dengan dugaannya, setelah mencari keberadaan Teya di semua sudut rumah, gadis itu kini terlihat tengah mengemasi pakaiannya di dalam walk in closet.


Teya yang menyadari kedatangan Javer pun semakin mempercepat gerakannya dalam memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Tunggu, tunggu.. Babby, kau hanya salah paham, aku bisa menjelaskan semuanya.." Javer berkata seraya menahan tangan Teya.


Teya menghempaskan tangan Javer kemudian menatap pria itu dengan sangat nyalang. "Hanya salah paham kau bilang?? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika kalian tengah bermesaraan di atas sofa.. Dan kau bilang itu hanya sebuah kesalah pahaman?? Oh.. Sungguh.. Aku benar-benar muak melihat wajahmu Javer!!" Gadis itu berkata dengan acuh tak acuh.


Karena sungguh, meskipun Teya emosi, Teya bukanlah tipe perempuan yang akan berteriak untuk meluapkan emosinya. Dia tidak mau membuang-buang tenanga dengan berteriak kepada orang yang telah membuatnya marah.

__ADS_1


Teya selalu berpikir, dari pada dia harus berteriak pada orang yang sudah membuatnya emosi, lebih baik dia menyimpan tenaganya untuk meluapkan emosinya dengan bersenang-senang.


Yang mana, sikap Teya yang terlihat acuh tak acuh itu justru membuat Javer semakin merasa serba salah. "Tapi sungguh, babby.. Kau hanya salah paham, aku benar-benar bisa menjelaskan semuanya.."


"Apa yang akan kau jelaskan? Tentang kau yang bermesaraan di atas sofa? Atau kau yang menyuruh Marco untuk menghalangiku agar aku tidak masuk ke ruanganmu?"


Javer yang mendengar hal itu pun seketika menelan ludahnya dengan kasar. Karena sungguh, Javer sama sekali tidak menyuruh Marco untuk melakukan hal itu. Bahkan Javer saja sama sekali tidak memperkirakan kedatangan Teya.


Toh meskipun Javer memperkirakan kedatangan Teya, Javer tidak mungkin menyuruh Marco untuk menahan gadis itu agar tidak masuk ke ruangannya. Hanya saja, mungkin Marco melakukan hal itu demi untuk menghindari keributan.


Tapi, jika sudah seperti ini, siapa yang harus di salahkan? Karena entah kenapa, dalam situasi ini, Javer sama sekali tidak bisa berpikir jernih.


Jangankan untuk berpikir, menatap wajah Teya saja Javer merasa sedikit enggan. Karena sungguh, ini pertama kalinya Teya menatap Javer dengan tatapan penuh kebencian. Dan itu karena kecerobohan Javer sendiri, sehingga membuat Javer sedikit bingung harus berbuat seperti apa.


Mungkin, jika yang marah padanya itu adalah gadis lain, Javer tidak akan terlalu memperdulikannya. Namun, gadis ini adalah Teya, gadis yang sangat berharga dalam hidup Javer. Gadis yang bisa membuat Javer kehilangan akal hanya dengan tatapan penuh kebenciannya.


"Babby.. Tidak bisa kah kau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu?" Javer lantas mencoba kembali untuk menggenggam tangan Teya.


Namun, Teya kembali menghempaskan tangan Javer begitu saja. "Aku tidak membutuhkan penjelasanmu!! Aku membencimu.."


"Tidak babby.. Kau harus mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.."


Javer pun mau tidak mau sedikit bergeser dari tempatnya. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat Teya yang berjalan mendekati lemari.


"Ok, babby.. Maaf kan aku, aku benar-benar minta maaf.. Aku tau aku salah karena dengan cerobohnya membiarkan gadis itu masuk ke dalam ruanganku.. Kau bisa melampiaskan emosimu dengan melakukan segala hal.. Tapi tolong, jangan pergi dari rumah ini, ok.." Javer berkata cepat ketika Teya hendak kembali mengambil pakaiannya dari dalam lemari.


Teya yang mendengar hal itu lantas menghentikan kegiatannya lalu menatap Javer dengan mata yang memicing tajam.


"Dengarkan aku, aku salah.. Aku ceroboh.. Tapi sungguh, apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan babby.. Jika perlu, aku akan memberikan rekaman CCTV yang ada di dalam ruanganku padamu.. Aku akan membuktikan kalau apa yang kau lihat, tidak seperti apa yang kau pikirkan, hmm.." Javer berkata seraya mendekati Teya dengan perlahan.


Hingga ketika Teya hanya tinggal 3 langkah berada di depannya, Javer merasa sangat terkejut saat melihat Teya yang tiba-tiba saja meneteskan air matanya.


"Hey, hey, hey.. Jangan menangis, hmm.. Maafkan aku, aku salah.." Javer berkata cepat seraya menarik Teya masuk ke dalam pelukannya.


"Kau!! Kau tau.. Aku.. Hatiku.. Hatiku benar-benar sakit.." Teya berkata dengan suara yang sedikit tertahan, di iringi dengan isakan kecil yang terus lolos dari bibirnya.


Javer menghela nafasnya perlahan seraya menepuk-nepuk punggung Teya dengan lembut. "I know.. I know.. Maafkan aku, hmmm.. Aku berjanji, aku akan memulangkan gadis itu secepatnya.."


Namun, Teya tidak kunjung memberikan respon. Gadis itu terus saja terisak kecil.

__ADS_1


Javer pun hanya membiarkan Teya meluapkan semua emosinya dengan menangis seraya terus menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut.


Hingga setelah beberapa saat berlalu, Teya lantas bertanya. "Kau sungguh berjanji?"


"Aku berjanji.." Javer menyahut dengan cepat.


"Awas saja jika besok gadis itu masih datang ke kampus.."


"Hal itu tidak akan terjadi.."


"Hmm.." Teya pun menganggukkan kepalanya.


"Jadi, kau sudah memafkanku?"


"Tidak sebelum kau mandi dan membuang pakaian ini.. Parfum gadis itu benar-benar menempel di tubuhmu!! Dan baunya sungguh menyakiti hidungku!!"


Javer yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh kecil. "Baiklah, aku akan membersihkan diriku dan akan membuang pakaian ini.."


"Hmm.. Lakukan sekarang.."


Javer lantas mengecup puncuk kepala Teya untuk beberapa saat kemudian melepaskan pelukannya dengan sedikit enggan sebelum akhirnya berlalu pergi menuju kamar mandi.


Seperginya Javer, Teya pun menatap kopernya untuk beberapa saat. Gadis itu menghela nafasnya kemudian mulai merapikan kembali pakaiannya ke dalam lemari.


Toh, jika di pikir kembali, Teya juga dulu pernah melakukan kesalahan yang sama dengan membiarkan atasannya memeluknya. Dan Javer memberikan maaf dengan mudah padanya. Jadi, untuk kali ini, Teya juga akan memafkan Javer karena pria itu tidak benar-benar melakukan kesalahan yang fatal.


Karena ya.. Bukan kah dalam sebuah hubungan memang harus saling mengerti dan harus saling memafkaan? Toh pasanganmu juga tidak sepenuhnya melakukan kesalahan. Jadi, tidak ada salahnya kan memberikan maaf dengan mudah?


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2