
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Selesai berbicara dengan Marco lewat ponselnya, Javer menghela nafas sejenak seraya menatap Teya yang sedang mengintip luar dari celah horizontal blinds yang terpasang di jendela.
Pict by : Anna Maria Sieklucka
Namun, Javer seketika menelan ludahnya dengan kasar. Sungguh, hanya dengan menatap kaki mulus gadis itu saja sudah mampu membuat hasrat kelelakiannya naik. Hah.. Javer merasa sedikit menyesal karena telah membawa gadis itu masuk ke dalam apartemennya.
Niatnya, Javer ingin meminta gadis itu untuk sejenak menemaninya menyelesaikan pekerjaan yang sedikit tertunda. Namun siapa sangka, akibat perdebatan mereka yang sedikit konyol, membuat jus mangga yang di pegang gadis itu tumpah mengenai baju juga celana yang di kenakannya. Dan ya, seperti itu lah keadaan gadis itu sekarang. Hanya menyenakan kemeja putih kebesaran milik Javer.
Javer pun mengusap wajahnya untuk menghilangkan pikiran kotornya, dia berdehem guna menetralkan tenggorokannya yang terasa kering, lalu mendekati Teya yang terlihat acuh tak acuh dengan penampilannya sendiri.
"Babby.."
"Hmm.." Teya menjawab seadanya, dia sudah terlalu lelah melarang pria itu untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Babby.
"Apa yang sedang kau lihat?" Javer bertanya seraya meletakkan kedua tangannya di sisi kanan kiri pinggang ramping gadis itu.
Namun, belum sepenuhnya tangannya bertengger di pinggang Teya, gadis itu sudah lebih dulu menghindar.
"Yakkk.. Apa yang ingin kau lakukan"
Javer mengangkat bahunya acuh. "Tanganku terlalu refleks untuk bertengger di sana"
Teya memicingkan matanya seraya memeluk perutnya sendiri. "Enyahkan pikiran kotormu itu.. Sebaiknya kau cepat antarkan aku pulang, ini sudah malam"
"Tunggu lah, aku sudah meminta Marco untuk membelikanmu pakaian baru"
Sesaat setelah Javer mengatakan hal itu, terdengar seseorang menekan bel apartemennya.
"Diam di sini, biarkan aku yang membuka pintu" Javer mencegah Teya yang hendak melangkah untuk membukakan pintu.
"Tuan, tadi Tuan Marco meminta saya untuk mengantarkan pesanan anda" ucap salah satu bawahan Javer seraya menyerahkan sebuah paper bag setekah Javer membukakan pintu.
Javer menerima paper bag itu lalu kembali menutup pintu.
"Gantilah pakaianmu, setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang" ucap Javer seraya menyerahkan paper bag itu kepada Teya.
.....
Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Javer bersedia menurunkan Teya di luar gerbang rumah gadis itu. Dan perlu kalian ketahui, bahkan tanpa harus menunjukkan jalan pun, Pria pemaksa itu sudah tau dimana letak rumah Teya.
Pict by : Pinterest
__ADS_1
Sebelum Teya sempat keluar dari mobil, Javer lebih dulu mencegahnya.
Teya pun menoleh pada Javer "Apa lag..."
Namun, Teya seketika terdiam mematung seraya mengerjapkan matanya dengan cepat.. Teya sungguh terkejut akan tindakan pria itu yang tiba-tiba mencium bibirnya.. Ah tidak, lebih tepatnya mengecup.. Ya, Javer mengecup bibir Teya untuk beberapa detik.. Tapi hal itu sudah mampu membuat Teya kehilangan kata-katanya.
"Sepertinya setelah ini, bibirmu akan menjadi canduku" ucap Javer seraya mengusap bibir Teya yang sedikit terbuka menggunakan ibu jarinya.
Ketika Javer memundurkan tubuhnya, Teya dengan refleks memegang bibirnya.. Gadis itu menatap Javer dengan tatapan kosong.
"Oh God, bibirku sudah tidak perawan lagi.." Teya berkata dalam hati.
Melihat reaksi Teya yang seperti itu, seketika membuat Javer terkekeh geli.
"Apa aku telah mencuri ciuman pertama mu?" Javer bertanya seakan tak memiliki dosa.
Teya tidak menjawab pertanyaan Javer, gadis itu memilih untuk keluar dari mobil dan segera berlalu ke dalam rumahnya dengan kondisi yang masih sedikit linglung. Yang mana hal itu membuat Javer semakin terkekeh geli. Karena dengan reaksi yang di tunjukan oleh Teya, Javer merasa sangat yakin jika dia sudah mencuri ciuaman pertama gadis itu.
Setelah memastikan Teya benar-benar masuk ke dalam rumahnya, Javer pun memutuskan untuk segera kembali ke kediamannya, di iringi dengan rasa bangga yang ada di hatinya. Karena, kini dia tahu jika gadis pujaannya itu belum tersentuh oleh siapa pun. Dan Javer berjanji di dalam hatinya, setelah ini, Javer akan menjadi satu-satunya pria yang bisa menyentuh gadis itu.
.....
Di sisi lain..
Shock yang masih Teya rasakan seketika sirna saat mendengar suara deheman seorang pria.
Teya pun menolehkan kepalanya ke kanan, dimana asal suara suara itu berada. Gadis itu sedikit terkejut ketika melihat papanya yang sedang duduk di sofa dengan bersedekap dada seraya menatapnya dengan tajam.
Pict by : Kim Wallin
"Apa kau tidak melihatnya?? Sudah jelas papa sedang menunggumu"
"I know.. But, untuk apa papa menungguku?"
Roma menaikan sebelah alisnya. "Apa papa tidak boleh menunggumu?"
"Bukan begitu.. Aku hanya.. Merasa sedikit aneh.. Lagi pula, tidak biasanya papa menungguku pulang.. Ah, sudahlah.. Sebaiknya aku masuk ke kamarku" Teya berkata seraya hendak melangkah.
Sejujurnya Teya mengerti, bahkan sangat mengerti kenapa papa nya menunggu kepulangannya. Hanya saja, dia tidak tau harus menjelaskannya seperti apa. Jadi, sebaiknya dia menghindari papa nya.
Tapi, belum sempat Teya melangkah, Roma sudah lebih dulu menyahut dengan cepat. "Hey girl.. Kau belum menjelaskan sesuatu pada papa"
Mau tidak mau, Teya harus mengurungkan niatnya. Dan entah kenapa, rasa gugup tiba-tiba saja menghampiri gadis itu. Namun, dia berusaha untuk menetralkan rasa gugupnya.
Teya pun menghela nafas sejenak. "Apa yang harus aku jelaskan pada papa??"
Roma menopang dagunya seraya menatap Teya dengan seksama.
__ADS_1
Pict by : Kim Wallin
Teya seketika memicingkan matanya. "What?? Why?? Kenapa papa menatapku seperti itu?"
"Tidakkah kau ingin memberitahu papa tentang bagaimana kau bisa berkencan dengan Javer?"
Teya memutar bola matanya malas. "Oh ayolah pa, aku sungguh, sungguh, sungguh, suuuuuuungguh tidak berkencan dengannya.." Teya berkata seraya nenengadahkan kedua tangannya di depan dada.
"Kau pikir.. Setelah apa yang terjadi, kita akan percaya padamu begitu saja?"
Teya sedikit berjengkit kaget karena tiba-tiba mendengar suara mama nya.
"Oh God, maaaa.. Sejak kapan mama berada di situ?" Teya bertanya seraya berbalik menatap ke arah pantry.
Dimana, disana mama nya tengah menopang dagu seraya menatapnya dengan sangat intens.
Pict by : Martyna Wojciechowska
"Sejak kau melangkahkan kaki ke dalam rumah dengan keadaan sedikit linglung" Amaya menjawab dengan acuh tak acuh.
"Ma.. Aku tidak linglung"
"Katakanlah pada dia yang tadi memasuki rumah dengan pandangan mata kosong.. Ah, jangan lupakan tentang tangannya yang juga memegang bibirnya"
"Hah???" alis Teya menukik dengan tajam.
Amaya berjalan mendekati Teya, lalu mecolek dagu anak gadisnya anak gadisnya itu.
"Kau tau girl.. Ekspresimu mengatakan seakan kau telah kehilangan ciuman pertama mu" Amaya berkata seraya mendudukan diri di samping Roma.
"What!!" sungguh, Teya benar-benar kehilangan kata-katanya.
"Bercerminlah, pipi mu merona" ucap Roma seraya terkekeh geli.
"Ma.. Pa.. Aku tidak... Ah sudahlah, terserah kalian" ucap Teya seraya berlalu menuju kamarnya.
Yang mana hal itu membuat Roma dan Amaya semakin terkekeh geli.
"Hey girl.. Kau masih memiliki hutang penjelasan pada kita, mama akan menagihnya esok hari" teriak Amaya.
Teya pun hanya mendengus kesal seraya berlalu tanpa menghiraukan perkataan mama nya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..