
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Beberapa hari pun berlalu..
Sesuai dengan apa yang di janjikan oleh Javer, setelah kejadian yang lalu, Akira benar-benar tidak menampakkan batang hidungnya di kampus.
Yang mana, hal itu cukup menjadi tanda tanya untuk sebagian orang yang mengetahui Akira. Bagaimana tidak? Gadis itu tiba-tiba saja menghilang setelah mengatakan jika dia adalah gadis pindahan dari jepang. Bukan kah hal itu sedikit aneh?
Namun, bagi para petinggi kampus yang mengetahui alsannya, mereka cukup tau diri untuk menutup mulut mereka ketika banyak dari para mahasiswa yang menanyakan keberadaan Akira.
Begitu pun juga dengan Teya, meskipun Gena dan Hana bisa menebak alasan hilangnya gadis itu. Tapi ketika mereka berdua bertanya kepada Teya, Teya lebih memilih untuk bungkam dari pada harus menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Kini, Teya yang tengah berbaring di atas punggung Javer seraya bermain ponsel pun menghela nafasnya karena sudah benar-benar merasa lelah.
Pict by : Pinterest
*Note : Anggap aja si Javernya lagi mainan tablet, terus si Teya nya tidurnya terlentang di atas punggung si Javer sambil mainan HP ya wakk.. Soalnya rada susah mau nyari yang sesuai dengan bayangan tuh.. Udah nyari selama 2 hari, tapi ga nemu-nemu juga.. Ingat!! Gambar hanya sekedar ilustrasi..
"Javer.." Ucap Teya kemudian.
"Hmm..." Javer bergumam tanpa mengalihkan fokusnya dari layar tablet yang menyala.
"Berapa lama lagi? Aku lapar.." Gadis itu merengek seraya melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
"10 menit lagi." Sahut Javer cepat.
Teya yang mendengar hal itu seketika memutar bola matanya malas kemudian beranjak untuk duduk bersila di atas punggung Javer.
"Kau sudah mengatakan 10 menit untuk yang kesekian kalinya.. Apa kau tidak menengar?? Cacing-cacing yang ada di dalam perutku sudah berpesta sejak tadi.." Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut seraya menekan-nekan punggung Javer menggunakan jari telunjuknya.
Javer menghela nafasnya sejenak. "Biarkan mereka berpesta sebentar lagi, ok.. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku.."
Teya mencebikkan bibirnya. "Ck, tidak bisa kah kau menunda hal itu.."
"Tidak bisa, babby.. Ini penting.."
Teya lantas mendengus dengan sangat sebal. "Baiklah, kalau begitu aku akan membeli makan sendiri!!" Gadis itu berkata kemudian beranjak dari sana.
Javer pun menghela nafasnya kemudian menyimpan tabletnya sebelum akhirnya beranjak untuk duduk atas kasur seraya memperhatikan gadisnya yang terus saja berkomat kamit. Pria itu sedikit terkejut tat kala melihat Teya yang menyambar cardigannya kemudian hendak berlalu menuju pintu.
"Wait babby.." Ucap Javer menghentikan langkah Teya.
Teya yang mendengar hal itu pun membalikan tubuhnya untuk menghadap Javer. "What??" Ucap gadis itu dengan sedikit ketus.
Javer lalu memperhatikan penampilan Teya dari atas ke bawah, kemudian kembali lagi dari bawah ke atas.
Pict by : Pinterest
__ADS_1
"Kau yakin akan pergi dengan pakaian itu?" Javer bertanya dengan sebelah alisnya yang naik.
Teya menatap Javer dengan alisnya yang sedikit menukik. "Lalu? Apa ada yang salah?"
"Tidak kah, itu terlalu terbuka?"
Gadis itu seketika memutar bola matanya malas. "Aku terlalu lapar untuk berganti pakaian. Lagi pula, aku hanya membeli makanan di cafeteria lantai bawah gedung ini, bukan akan berkeliaran di jalanan."
Karena ya, berhubung saat ini mereka tengah berada di apartment Javer, jadi Teya memutuskan untuk membeli makan di cafeteria yang terletak di lantai paling bawah gedung ini.
"No babby.. Aku tetap tidak akan mengijinkannya.." Javer berkata seraya beranjak dari kasur.
"Ck.." Teya hanya bisa berdecak kesal ketika pria itu mendekatinya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ganti pakaianmu, lalu kita akan membeli makan di cafeteria bersama-sama." Javer berkata seraya menarik tangan Teya menuju walk in closet.
Teya pun hanya bisa mendesah pasrah mengikuti Javer. Setelah Javer meninggalkannya di dalam walk in closet, Teya lantas segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tertutup.
Setelahnya, gadis itu kemudian menghampiri Javer yang tengah menunggunya dengan duduk di sofa.
"Ayo.. Aku benar-benar lapaaar.."
Javer memperhatikan Teya untuk sejenak kemudian mengembangkan senyumnya. "Ok.. Come on.."
Mereka pun segera turun ke Cafeteria yang ada di lantai paling bawah untuk membeli makanan guna meredakan rasa lapar Teya.
.....
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Javer pun meletakkan tabletnya di atas meja kemudian menghampiri Teya yang tengah berbaring di atas kasur seraya memainkan ponselnya.
"Kau sudah selesai?" Teya bertanya pada Javer yang naik ke atas kasur.
"Hmm.. Aku lelah.." Javer berkata kemudian menarik Teya ke dalam pelukannya.
Teya mengembangkan senyumnya. "Kalau begitu beristirahat lah.." Gadis itu berkata seraya menyamankan posisinya dalam pelukan Javer.
"Bisa kah aku mendapatkan 1 ciuman?" Tanya Javer kemudian.
Teya yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh geli. "Untuk apa kau bertanya? Bukan kah kau selalu menciumku dengan tib..."
Perkataan Teya seketika terhenti tat kala Javer menciumnya dengan gerakan cepat.
Benar kan.. Javer selalu mencium Teya dengan tiba-tiba. Jadi, untuk apa pria itu bertanya?
Teya pun hanya menikmati ciuman itu dengan membalas setiap luma...tan yang Javer berikan.
Setelah mendapatkan apa yang Javer inginkan, pria itu pun melerai ciumannya kemudian terkekeh kecil saat melihat wajah Teya yang selalu memerah ketika gadis itu merasa malu.
"Kau sungguh menjadi canduku, babby.." Javer berkata seraya mengelus pipi Teya.
Teya yang masih saja sering merasa malu dengan perlakukan manis Javer pun memilih untuk menenggelamkam wajahnya pada dada bidang pria itu.
"Ck, diam dan tidurlah.." Teya berkata dengan suara yang sedikit teredam.
Javer pun terkekeh geli. "Ok, ok.. Kita tidur.." Pria itu berkata seraya menyamankan posisi tidurnya.
__ADS_1
Setelah hening untuk beberapa saat, Teya lalu sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer yang masih membuka matanya.
"Javer.."
"Hmmm.." Javer bergumam tanpa mengalihkan tatapannya dari langit-langit kamar.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu tentang Liam?"
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Javer bertanya dengan alis yang sedikit menukik.
"Begini.. Emmm.. Apa Liam memiliki seorang kenalan di kampus?"
"Kampus?"
"Iyaaaa.. Kampus.."
"Maksudmu Griffiths University?"
Teya menganggukkan kepalanya.
"Hmmm.." Javer lantas terlihat berpikir untuk sejenak. "Entahlah.. Tapi, setauku tidak. Ada apa memangnya?"
"Tidak.. Hanya saja, 2 hari yang lalu, aku melihat Liam mendatangi kampus. Tapi, aku tidak sempat menyapanya karena terburu-buru untuk menemui dosen pembimbingku.."
"Biarkan saja.. Mungkin dia memiliki suatu urusan di sana.. Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Tidak, aku hanya merasa sedikit penasaran.." Teya berkata kemudian memejamkan matanya.
Javer pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Teya yang memang sedikit sulit untuk di tebak. Pria itu lalu memilih untuk ikut memejamkan matanya.
.....
Di sisi lain..
"Hachu.... Hachu..."
Gena yang mendengar hal itu pun menoleh pada Liam yang tengah mengemudikan mobilnya. "Apa kau baik-baik saja?"
Liam menganggukkan kepalanya. "Ya.. Aku baik-baik saja.. Hanya saja, hidungku sedikit gatal. Tapi, aku baik-baik saja.." Pria itu berkata seraya menggosok hidungnya menggunakan tangan kirinya.
"Kau yakin baik-baik saja?" Gena memastikan sekali lagi.
"Ya.. Sure.."
"Ah, ok.." Ucap Gena kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada pemandangan malam kota yang terlihat sangat indah.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..