Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Kedatangan Gadis Tengil


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Saat Teya telah selesai bersiap untuk pergi ke kampus, gadis itu merasa sedikit bingung tat kala mlihat Javer yang melamun seraya menatap bekas luka yang ada di telapak tangannya.


"Apa aku harus menyadarkannya?" Teya bergumam seraya terus memperhatikan Javer.


"Ah, biarkan saja.."


Gadis itu lalu hendak berlalu pergi dari sana. Tapi, baru 3 langkah dia lewati, gadis itu menghentikan langkahnya.


"Ah, sebaiknya aku menyadarkan dia.."


Teya lantas menghampiri Javer.


"Javer..." 1x, tdak ada tanggapan.


"Haih.. Dia bahkan tidak menyadari kehadiranku.." Gadis itu kembali bergumam.


"Javeeer.." 2x, tetap tidak ada tanggapan.


"Javeeeeerr..." 3x, masih tidak ada tanggapan.


"Javeeeeerr.." 4x, masih juga tidak ada tanggapan.


"Yaakkkk, Javer.." Teya berteriak tepat di telinga kiri Javer.


Yang mana, hal itu seketika membuat Javer sedikit berjengkit karena merasa terkejut kemudian menatap Teya dengan tajam.


"Haisssshhhh, babby.. Aku tidak tuli.." Javer berkata seraya menggosok-gosokan telinga kirinya yang terasa sedikit berdengung.


"Haiiihhhh.. Katakan itu pada manusia yang namanya ku sebut berkali-kali tapi tidak menjawab.. Bahkan jin saja akan langsung merespon ketika aku panggil sebanyak 3x.." Teya mengomel seraya berkacak pinggang.


Javer yang mendengar hal itu pun seketika mendelikkan matanya.


"Ah, sudahlah, aku hanya menyadarkanmu dari khayalanmu.. Lebih baik aku segera berangkat ke kampus.." Ucap gadis itu kemudian berlalu pergi begitu saja.


Meninggalkan Javer yang menatap kepergian Teya dengan wajah melongo tak percaya.


"Apa gadis itu benar-benar tunanganku?"


"Apa kau menikmati libur panjangmu? Aku benar-benar merindukan kehadiranmu.. Kau tahu, suasana kampus terasa sangat berbeda saat kau tidak ada di antara kami." Gena bertanya pada Teya yang kini menikmati sepiring cake strawberry kesukaannya.


"Hmm.." Hana mengangguk-anggukkkan kepalanya. "Rasanya sepi sekali ketika tidak ada ocehan-ocehan anehmu yang mengiringi hari-hari kami.. Kami sungguh sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukan kami??"

__ADS_1


Teya lantas meletakkan alat makannya kemudian menatap Gena dan Hana yang ada di hadapannya dengan tatapan sendu.


"Tapi, di lihat dari tampang kalian, sepertinya kalian menjalani hidup dengan damai tanpa adanya kehadiranku.." Teya berkata dengan sarkas kemudian melanjutkan kembali kegiatan memakan kuenya.


Gena dan Hana yang mendengar hal itu pun menggeleng-gelengkan kepala.


"Kami benar-benar kesepian..." Ucap Hana.


Teya sedikit merengutkan wajahnya. "Eeehmmm.. Tidak, tidak, tidak.. Kalian terlihat lebih cerah.. Bahkan wajah tampak lebih mulus dari sebelumnya.. Apa kalian melakukan perawatan khusus??" Gadis itu menunjuk-nunjuk wajah Gena dan Hana menggunakan garpu kecil yang dia pegang.


"Hey hey hey.. Singkirkan benda ini.. Meskipun itu hanya garpu, itu tetap lah benda yang berbahaya.." Gena berkata seraya menyingkirkan tangan Teya yang menodongkan garpu tepat di depan hidungnya.


Teya mengangkat bahunya acuh. "Sejujurnya aku ingin menggores wajah mulus kalian berdua.." Gadis itu berkata dengan acuh tak acuh.


Yang mana, hal itu seketika membuat Gena dan Hana melongo tak percaya.


"Apa kini kau tertular jiwa iblis yang di miliki Javer? Aku tidak menyangka kini kau berubah menjadi gadis yang sangat kejam.." Ucap Gena.


Hal itu pun di setujui oleh Hana dengan anggukan kepala.


"Ah, sudahlah.. Sebaiknya kita kembali ke kelas, sebentar lagi jam pelajaran Mr. Yuta akan di mulai.." Teya berkata seraya beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi dari sana.


Gena dan Hana yang melihat itu pun hanya bisa menghela nafas dengan pasrah kemudian beranjak untuk menyusul Teya.


Beberapa saat setelah mereka berada di dalam kelas, terlihat Mr. Yuta memasuki ruangan bersama dengan seorang gadis yang sangat tidak asing di dalam penglihatan Teya.


"Kau mengenalnya?" Tanya Hana.


"Entahlah, aku tidak yakin.. Tapi, aku seperti pernah bertemu dengannya." Teya menjawab dengan sedikit ragu.


"Ok class, hari ini kita kedatangan seorang mahasiswi pindahan dari jepang.." Ucap Mr.Yuta.


Teya yang mendengar itu pun seketika berseru.. "Aaaa.. Aku ingat.."


"Siapa??" Tanya Gena.


"Akira.." Ucap Teya bersamaan dengan Mr.Yuta.


Yang mana, hal itu seketika membuat Gena dan Hana menatap Teya dengan di penuhi rasa penasaran.


"Kau benar-benar mengenalnya?" Tanya Gena.


"Tidak juga, dia hanya seorang gadis tengil yang tidak tau sopan santun." Teya menjawab dengan acuh tak acuh.


"Sssh.. Tapi, tunggu dulu.. Untuk apa gadis itu pindah ke sini??" Teya bergumam seraya memperhatikan Akira yang kini duduk di kursi seberang yang ada di sebelah kirinya.


__ADS_1


Pict by : Pinterest


*Note : Kelasnya Teya bentuknya kek gini ya wakk..


Akira yang menyadari tatapan Teya pun menoleh pada Teya lalu menampilkan senyum simpulnya seolah tengah mengejek Teya.


Teya yang mendapatkan hal itu pun hanya membalas dengan tatapan datarnya kemudian memalingkan wajahnya ke depan.


"Aku mencium bau-bau permusuhan di sini.." Hana berbisik pada Gena yang ada di sebelah kanannya.


"Hmm.. Aku juga bisa merasakannya dengan sangat jelas.." Sahut Gena.


"Diam dan dengarkan apa yang di jelaskan oleh Mr. Yuta." Teya berkata dengan penuh penekanan.


Gena dan Hana yang mendengar hal itu pun seketika memfokuskan pandangannya ke depan.


Setelah kelas usai, ketika 3 gadis itu berada di gerbang kampus. Mereka harus di kejutkan oleh Akira yang terlihat menempel pada Javer yang datang untuk menjemput Teya.


"Apa aku tidak salah lihat?" Hana bergumam seraya menatap pemandangan di depannya dengan mata yang hampir tidak berkedip.


"Sepertinya akan drama besar di sini.." Sahut Gena.


Tepat setelah Gena mengatakan hal itu, Teya lantas segera menghampiri Javer yang terlihat risih dengan Akira yang terus menempel kepadanya.


"Apa kau memang suka menempel seperti lintah pada tunangan seseorang?" Teya bertanya dengan sangat lantang.


Sungguh, Teya kini sudah tidak peduli lagi jika dirinya kini akan menjadi pusat perhatian.


Mendengar pertanyaan Teya yang sangat sarkas, seketika membuat Akira mendelikkan matanya. "Ooooh.. Bukankah ini adalah gadis tunangan yang tidak di akui itu..!!!"


"Tcih.. Jika dia tidak mengakuiku, dia tidak akan menjemputku!! Sebaiknya kau menyingkir, kau menghalangi jalanku!!" Teya berkata kemuidan menabrak bahu Akira dengan cukup keras.


Gadis itu lantas mendorong Javer untuk masuk ke dalam mobil, di susul dengan dirinya yang masuk ke kursi penumpang.


Akira yang melihat hal itu pun seketika menatap Teya dengan sangat tajam. "Awas aja.. Akan ku balas perbuatanmu...!!!!" Gadis itu berkata dengan di penuhi kilatan emosi yang terpancar dari matanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2