
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
3 Minggu kemudian..
"Javeeer.. Lepaskan aku.. Aku bisa terlambat pergi ke kampus!!" Teya sedikit berteriak seraya berusaha melepaskan tangan Javer yang melilit pinggangnya dengan sangat erat.
"Babby.. Tidak bisa kah kau diam di rumah saja? Ini hari sabtu, semua orang seharusnya menikmati libur panjang mereka." Javer menyahut dengan suara seraknya seraya semakin mempererat pelukannya pada pinggang Teya.
Yang mana, hal itu seketika membuat Teya memutar bola matanya malas. "Apa kau bodoh?? Aku bahkan sudah terlalu lama menikmati libur panjangku!! Ayolah Javeeer... Biarkan aku pergi mencari ilmu.. Ok?"
Ya, hari ini adalah hari di mana Teya akan kembali memulai kuliahnya setelah sekian lama berbaring di atas kasur dengan dalih pemulihan tubuh.
Ketahuilah, seharusnya gadis itu sudah memulai kembali kuliahnya sejak 1 minggu yang lalu. Tapi kalian sudah pasti bisa menebak tentang alasan kenapa gadis itu baru bisa memulai kembali kuliahnya hari ini.
Yup, apa lagi jika bukan ulah dari Javer, pria tua pemaksa itu.
Awalnya, Teya juga berniat untuk memulai kembali kuliahnya sejak 1 minggu yang lalu. Namun, pria itu selalu berkata bahwa Teya belum lah pulih sepenuhnya.
Ah, dan satu hal lagi.. Ketika gadis itu hendak melepaskan perban yang ada di kepalanya, Javer selalu saja bertingkah seolah-olah luka Teya belum lah sembuh sepenuhnya dan memaksa gadis itu untuk tetap memakai perbannya. Bahkan keluar dari rumah hanya untuk berjalan-jalan di taman pun, pria itu melarangnya dengan alasan khawatir kaki Teya akan terluka.
Bukankah hal itu benar-benar konyol??
Teya yang sudah merasa jengah pun akhirnya mengancam akan kabur dari rumah jika pria itu terus memaksa Teya untuk melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak pria itu.
Dan ya, ancaman itu berhasil membuat Javer akhirnya mengijinkan Teya untuk melakukan apa pun yang gadis itu inginkan.
karena pernah satu kali, ketika gadis itu merasa jengah akan tingkah Javer yang sangat kekanakan. Gadis itu mengancam akan membakar salah mobil kesayangan milik Javer.
Namun, Javer menganggap jika ancaman Teya itu hanya main-main.
Teya yang benar-benar merasa jengah pun akhirnya benar-benar membakar salah satu mobil kesayangan milik Javer tanpa berpikir 2x.
Yang mana, hal itu pun akhirnya mampu membuat Javer menyerah akan gadis itu..
Namun tetap saja.. Meskipun Javer menyerah, pria itu tetap merasa tidak rela untuk melepaskan gadisnya untuk memulai kembali kuliahnya. Karena selain merasa masih terlalu nyaman, Javer juga masih merasa sedikit mengantuk.
Teya yang benar-benar sudah merasa muak pun akhirnya mengigit bahu Javer dengan sangat kuat hingga Javer melepaskan pelukannya. Gadis itu pun memanfaatkan kesempatan itu untuk beranjak dari kasur.
Javer yang merasa sedikit kesakitan pun seketika menatap Teya dengan sangat tajam. Karena sungguh, gigitan Teya tidaklah main-main. Terbukti dari deretan gigi gadis itu yang membekas dengan indah di bahu kekarnya.
"Haissshh!! Babby.. Apa yang kau lakukan?? Apa kau akan memakanku hidup-hidup??" Javer berkata dengan sangat tajam.
__ADS_1
"Rasakan itu.. Kau sendiri yang tidak kunjung melepaskanku!!" Gadis itu menyahut dengan sedikit bersungut-sungut seraya membalas tatapan Javer dengan tak kalah tajamnya.
Javer yang merasa gemas pada Teya pun hendak beranjak dari tidurnya untuk membalas perbuatan gadis itu. Namun, dia harus mengurungkan niatnya tat kala gadis itu sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi.
Pria itu seketika berdecih tat kala Teya mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya saat gadis itu hendak masuk ke kamar mandi.
Javer lantas kembali merebahkan tubuhnya kemudian menatap bekas luka sayatan yang ada di telapak tangan kirinya dengan sangat intens..
"Mari kita lihat.. Seberapa jauh kau bisa berlari dariku.." Pria itu bergumam seraya membayangkan kejadian 2 minggu yang lalu..
Flashback On...
2 minggu yang lalu..
"Kau yakin akan turun ke arena?" Liam bertanya pada Javer yang tengah bersiap untuk mengemudi.
"Hmm.. Aku sudah terlalu lama berdiam diri." Javer menjawab kemudian memakai sepatunya.
Liam yang mendapat jawaban pasti dari Javer pun akhirnya hanya mengangkat bahunya acuh kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Javer yang sudah selesai bersiap pun juga segera masuk ke dalam mobil.
Mereka lantas segera melajukan mobil mereka dengan kecepatan penuh menuju arena balap yang terletak di kaki bukit.
Yang mana, hal itu seketika membuat mereka jadi pusat perhatian. Karena, mereka pikir, untuk apa 2 pria dengan catatan bersih itu datang ke tempat seperti ini?
Karena ya.. Meskipun Javer adalah sang ketua Cosa Nostra.. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Yang mereka ketahui hanyalah Javer sang pengusaha no 1 di seluruh daratan Eropa.
Begitu pun dengan Liam, mereka hanya tau jika Liam adalah sang ahli otomotif terbaik di seluruh daratan Eropa, bukan sebagai salah satu pemegang kekuasaan di Cosa Nostra.
Maka tidak heran jika orang-orang tidak mengetahui identitas asli dari Javer dan Liam.
Javer dan Liam yang mendapatkan berbagai pandangan pun hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh seraya memperhatikan keadaan sekitar guna mencari apa yang mereka tuju.
Picy by : Pinterest
Setelah mendapatkan target mereka, Javer dan Liam lantas saling bertukar pandang kemudian menganggukkan kepala.
Dua pria itu pun berniat untuk segera mendekati apa yang menjadi tujuan mereka. Yaitu sekelompok pembalap yang di naungi oleh Fabio.
Namun, baru saja mereka hendak melangkah. Mereka harus menghentikan niat mereka tat kala ada seorang perempuan sexy yang mendekati mereka.
Yang mana Javer ketahui jika wanita itu merupakan penanggung jawab setiap pertandingan yang berlangsung.
__ADS_1
"Haloo tuan-tuan yang terhormat.. Apa yang membuat kalian tertarik untuk datang kesini??" Wanita itu bertanya dengan nadanya yang begitu centil.
Berbeda dengan Javer yang hanya berdehem kemudian memalingkan wajahnya. Liam justru terlihat tertarik untuk menanggapi wanita itu.
"Oh hai lady.. Kami datang kemari hanya untuk sekedar melihat-lihat.." Ucap Liam.
"Ah, akan sangat tidak asik jika hanya sekedar melihat-lihat.. Bagaimana kalau kalian ikut turun ke arena? Aku yakin, kalian cukup lihai dalam mengemudi.." Wanita itu berkata kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Liam lantas melirik Javer yang terlihat menganggukkan kepalanya, kemudian kembali menatap wanita itu.
"Baiklah.. Kami akan menerima tawaranmu.." Liam berkata dengan menampilkan senyum simpulnya.
"Ok.. Kalian bisa memilih lawan kalian.. Hadiah tergantung dari kesepakatan bersama.. Ah, dan kalian bisa memanggilku Dalinda.."
Javer dan Liam pun menganggukkan kepala.
"So, siapa yang ingin kalian ajak bertanding?" Tanya Dalinda.
Liam lantas membisikkan sesuatu pada Dalinda.
Dalinda yang mendengar itu pun seketika mengerutkan keningnya karena merasa sedikit terkejut.
"Apa kau yakin Tuan?" Dalinda bertanya dengan sedikit ragu..
Liam menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Dalinda terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala kemudian berjalan menuju kelompok *Haistatu.
(*Haistatu : Sekelompok pengemudi yang di naungi oleh Fabio.)
...-TBC-...
Mulai aneh ga sih wakk alur ceritanya?? Sensi tu tadinya ga ada niat buat masukin alur tentang balap-balapan.. Tapi kok ya pas ngetik tau-taunya ke ketik aja gitu wakk.. Ah gitu lah ya pokoknya, berharap aja semoga alur ceritanya engga akward..
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1