Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Penyerangan Tak Terduga


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Setelah puas menikmati sore hari di atas bukit yang menjadi saksi bisu terjalinnya hubungan baik antara mereka. Javer dan Teya pun memutuskan untuk segera kembali sebelum hari mulai gelap.


Berbeda dengan Javer yang terus saja menampilkan senyum bahagianya, Teya justru menampilkan wajah cemberut karena semakin merasa kesal.


Bagaimana tidak? Setelah dia menganggukkan kepalanya guna menyetujui permintaan Javer yang memintanya untuk membuka hati. Pria itu kini justru semakin menempel kepadanya.


Seperti sekarang ini, pria itu sama sekali tidak mau melepaskan tangan Teya yang berada dalam genggamannya.


Cukup, kini Teya mulai kehilangan kesabarannya, dia menghela nafasnya lalu menatap Javer dengan tajam. "Javer, lepaskan tanganku dan fokuslah mengemudi"


Javer melirik Teya sekilas. "Tidak kah kau lihat, aku sedang fokus mengemudi"


"Tapi Ja..."


"Oh shi...t" perkataan gadis itu berubah menjadi makian saat tiba-tiba ada sebuah peluru yang menghantam kaca mobil yang tepat berada di sampingnya.


Teya perlahan menghela nafasnya, dia merasa sedikit lega karena mobil Javer di lapisi anti peluru, sehingga peluru itu tidak menembus mobil Javer. Andai saja mobil Javer seperti mobil pada umumnya, mungkin saja sekarang kepala gadis itu sudah berlubang.


Javer lantas melepaskan tangan Teya yang berada di genggamannya, pria itu mulai memfokuskan dirinya untuk mengemudi.


"I'm sorry babby, sepertinya perjalanan kita akan sedikit terganggu" ucap Javer kemudian menambah kecepatan laju mobilnya.


"I don't care.. Hanya, bawa aku pulang dalam ke adaan selamat" sahut Teya cepat.


Tepat setelah teya mengatakan hal itu, tiba-tiba mobil mereka di ikuti oleh 2 mobil yang entah muncul dari mana.


"Lain kali, jika kau ingin mengajakku berkencan, pastikan dulu tidak akan ada musuhmu yang akan mengganggu kita" ucap Teya dengan sedikit bersungut-sungut seraya menoleh untuk melihat 2 mobil yang mengejar mereka.


"Akan aku ingat" sahut Javer tanpa mengalihkan fokusnya dalam mengemudi.


"Oh fu..ck" Teya kembali mengumpat saat mobil mereka lagi-lagi di hantam oleh peluru.


Javer yang mendengar umpatan yang terus keluar dari mulut gadisnya pun hanya bisa terkekeh. "Bukan kah ini adalah keinginanmu sejak kecil?"


Teya seketika menatap Javer dengan tatapan bingung. "Maksudmu?"

__ADS_1


Javer mengangkat bahunya acuh. "Memiliki pasangan seorang mafia"


Teya memutar bola matanya malas. "Bisa kah kau tidak membahas hal ini sekarang??" Teya tidak terkejut tentang bagaimana pria itu bisa mengetahui hal ini. Siapa lagi jika bukan dari mamanya yang memang memiliki hobi menistakan anak gadisnya.


"Ok.. Aku akan membahasnya lain kali.." ucap Javer seraya terkekeh geli.


Teya hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya lalu memfokuskan pandangannya ke depan. Teya sedikit sebal pada Javer, karena bisa-bisanya pria itu masih sempat menggodanya dalam situasi genting seperti sekarang ini.


Javer melirik teya sekilas. "But, Babby.." Javer berkata dengan sedikit ragu.


"What??" Teya menjawabnya dengan ketus.


"Bukan kah kau pernah belajar menembak?"


"Aku bahkan belajar hingga merasa muak" Teya menjawab dengan sedikit bersungut-sungut.


"Kalau begitu, sekarang kau bisa menguji kebolehanmu dalam menembak"


Teya seketika menoleh pada Javer dengan kening yang mengerut. "Bagaiman caranya???"


Javer menghela nafasnya sejenak. "Tepat di bawah kursimu, ada sebuah desert eagle yang tertempel di sana." Javer mau tidak mau harus mengatakan hal itu. Karena sialnya, jalur yang mereka lewati saat ini adalah jalur lurus yang begitu panjang. Sangat tidak memungkinkan bagi Javer untuk mengecoh mereka.


Teya menatap Javer dengan gemas. "Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi, Javer!!"


Oh God.. Bisa kah Teya mencakar wajah tampan pria yang berstatus sebagai tunangannya itu. Tapi Teya segera menyimpan rasa kesalnya, gadis itu lantas memundurkan kursinya, lalu segera meraih pistol yang di maksud oleh Javer.


Setelah kembali menempatkan kursinya pada posisi semula, Teya menoleh pada Javer.


"Lalu?" gadis itu bertanya seraya menimang pistol yang ada di dalam genggamannya.


"Pistol itu hanya berisi 3 peluru. Jadi, bisa kah kau menembak tepat sasaran?"


Teya menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Akan aku usahakan."


Gadis itu merasa tertantang untuk menembak target hidup. Toh dia juga menembak musuh, bukan menembak orang yang tidak bersalah. Jadi, tidak ada salahnya kan dia sedikit bersemangat untuk memcoba kebolehannya dalam menembak?


"Kau bisa menembak lewat atap," ucap Javer.


Teya kemudian melepaskan sabuk pengamannya, lalu segera berpindah posisi kebagian kursi penumpang. Gadis itu memposisikan diri untuk menembak dengan menggunakan lututnya sebagai tumpuan pada kursi mobil, dia akan menunggu hingga lawannya berhenti melayangkan tembakan.


Beruntungnya, kaca bagian belakang mobil Javer adalah kaca film yang tingkat kegelapannya mencapai 80%, sehingga membuat Teya bisa memastikan keadaan musuh dengan leluasa.

__ADS_1


Javer pun melirik Teya sekilas melalui kaca spion depan lalu menghela nafasnya sejenak. Sebenarnya, Javer bisa saja menghentikan mobilnya dan menghadapi mereka secara langsung. Namun, dia tidak ingin mengambil resiko dengan membahayakan gadisnya. Meskipun hal ini juga cukup berbahaya, tapi setidaknya gadis itu hanya perlu menghadapi mereka dalam jarak jauh. Anggap saja hal ini untuk menguji kemampuan gadisnya dalam mempertahankan diri.


"Are you ready babby?" Javer bertanya kemudian setelah melihat musuh yang sedang mengisi ulang peluru.


"Yes" ucap Teya.


Javer lantas menekan tombol untuk membuka kaca atap mobilnya.



Pict by : hundai.com


Dan dengan gerakan cepat, Teya segera menyembulkan tubuhnya keluar lalu mengarahkan pistol itu pada target, hingga ketika Teya menarik pelatuknya.


"Duar...."


Terdengar ledakakan dari ban mobil yang musuh tumpangi, sampai-sampai membuat mobil itu terjungkal karena kecepatan laju mobil mereka yang sangat cepat.


"Ugh.." Teya sedikit berjengkit saat satu mobil lain ikut terjungkal karena menabrak mobil yang sudah terjungkal itu.


Melihat hasil kebolehannya yang sangat memuaskan, Teya lalu menempatkan pistol itu di depan wajahnya dan "Fyuuuuhhh.." dia meniup ujung pistol itu sekilas.


"Bukan kah keterampilan menembakku begitu baik? Satu peluru di tembakkan, dua mangsa yang berhasil tumbang.." ucap Teya dengan nada yang begitu pongah. Kini Teya mengerti, kenapa kakaknya selalu memaksa dia untuk belajar menembak dan bela diri.


Yang mana, hal itu mampu membuat Javer tertawa renyah. Dia benar-benar gemas akan tingkah gadisnya yang selalu sulit untuk di tebak.


Javer kini merasa sangat bangga pada dirinya sendiri, karena dia telah memilih gadis yang tepat untuk di jadikan sebagai pendamping hidupnya. Gadis yang selalu bersikap apadanya, gadis yang bisa menjaga dirinya sendiri, juga gadis yang satu frekuensi dengan dirinya.


Tidak seperti para gadis lain yang mendekatinya, yang hanya mengerti tentang bagaimana caranya menghabiskan uang.


"Kenapa kau tersenyum?" Teya bertanya setelah kembali pada posisinya semula.


Javer pun hanya menanggapi Teya dengan mengangkat bahunya acuh, lalu mulai menormalkan kembali laju mobilnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye...


__ADS_2