Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Berusaha Meloloskan Diri


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Namun..


Saat Fabio hendak membawa yang lain untuk segera keluar dari bangunan itu, salah seorang anak buahnya datang menghampiri dengan sangat tergesa.


"Ada apa?" Tanya Fabio pada anak buahnya.


"Tuan, sepertinya kita tidak bisa pergi dari tempat ini. Semua akses untuk keluar dari tempat ini sudah di blokir oleh pihak Cosa Nostra." Dia berkata dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari.


Fabio seketika saja mengusap wajahnya dengan sangat kasar. "Sial!!!"


"Kerahkan semua pasukan untuk melawan!" Titah Fabio pada anak buahnya itu.


Pria itu pun segera pergi dari sana untuk melakukan perintah Fabio.


"Tunggu, Fabio. Bukan kah itu terlalu berbahaya? Semua ini di luar rencana yang telah kita susun!! Anggota kita tidak sepadan jika di bandingkan dengan anggota Cosa Nostra! Ini sama saja dengan kita mencari mati!" Flow menatap Fabio dengan alis yang menukik tajam


"Apa kita memiliki solusi selain melawan mereka!! Lebih baik kita mati karena melawan mereka dari pada mati tanpa melakukan perlawanan apa pun!!" Sahut Fabio.


"Sudah, diam dan tutup mulutmu! Sebaiknya kau segera bergegas untuk menghadapi mereka." Fier mencoba untuk menengahi perdebatan Flow dan Fabio.


Flow pun mendengus kesal kemudian meraih senjata miliknya, dia bergegas keluar dari bangunan itu untuk melawan pihak cosa Nostra.


Begitu pula dengan Fier, dia meraih senjata miliknya kemudian bergegas untuk membantu para anggota. Karena meskipun usianya sudah tidak lagi muda, tapi percayalah, tenaga dan kelincahannya tidak bisa di ragukan.


Sedangkan Fier, sebelum dia membantu para anggota yang lainnya, dia terlebih dahulu menarik Nay agar mengikutinya.


"Tunggu, kau akan membawaku kemana?" Tanya Nay.


"Diam dan ikuti saja aku!!" Fabio berkata dengan tegas.


Nay pun akhirnya hanya bisa pasrah. Dia mengikuti langkah Fabio yang membawanya melewati beberapa lorong.


Fabio pun menghentikan langkahnya saat tiba di salah satu pintu yang terbuat dari besi. Dia membuka pintu itu kemudian mendorong Nay agar masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Diam dan jangan membuat ulah. Pastikan agar tidak ada yang bisa mengambil anak itu. Atau kalau tidak, nyawamu yang akan menjadi taruhannya!" Kata Fabio.


Tanpa menunggu tanggapan apa pun dari Nay, Fabio lantas menutup pintu itu kemudian mengunci pintu itu. Pria itu lalu segera pergi dari sana untuk bergabung dengan yang lainnya.


Sedangkan Nay, setelah Fabio mengunci pintu. Dia menatap ruangan yang cukup pengap itu dengan dahi yang mengernyit. Tidak ada jendela atau pun lampu yang menerangi ruangan itu, hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui ventilasi kecil yang letaknya di dekat atap.


Ruangan berlantaikan semen yang kotor itu kosong tanpa ada satu benda pun. Ruangan itu benar-benar mirip seperti ruang isolasi. Hanya saja, ruangan itu lebih luas jika di bandingkan dengan ruang isolasi.


Nay lantas meletakkan tas yang sedari tadi dia bawa kemudian membuka kemeja atasan yang dia kenakan hingga hanya menyisakan tanktop hitam yang melekat di tubuhnya. Wanita itu lalu menggelar atasan yang sebelumnya dia lepaskan di atas lantai sebagai alas untuk Al duduk di sana.


Setelah mendudukkan Al dengan posisi nyaman, Nay lalu menatap Al dengan lembut.


"Tuan muda, tolong duduk di sini sebentar, ok.. Saya akan mencari cara agar kita bisa keluar dari ruangan ini."


Seolah mengerti dengan apa yang di katakan oleh Nay, Al yang sedari tadi menangis tiba-tiba saja menghentikan tangisannya kemudian menatap Nay dengan tatapan polosnya.


"Bagus.. Berhentilah menangis dan duduk diam dengan tenang di sini. Bersabarlah sebentar lagi, hmm.. Saya yakin, kita akan segera keluar dari sini." Nay berkata seraya menghapus air mata Al yang membahasi pipi cabinya.


Setelah memastikan Al benar-benar tenang, Nay pun berdiri kemudian mendekati pintu. Nay melepaskan penjepit rambutnya yang berbentuk lidi itu kemudian menekuk penjepit rambut itu agar bisa dia gunakan untuk membobol pintu itu.


Nay lalu memasukkan penjepit rambut itu ke dalam lubang kunci setelah sebelumnya dia menekuk penjepit rambut itu. Nay lantas menggerakkan penjepit rambut itu dengan sangat hati-hati, dia memusatkan konsentrasinya untuk menemukan celah yang pas.


"Khem! Ku harap pintu ini terbuka." Nay bergumam seraya berdiri.


Wanita itu memegang gagang pintu kemudian memutar gagang pintu itu secara perlahan.


"Gothca!!" Nay berseru saat pintu itu berhasil terbuka.


Nay lantas mendekati tas yang berisi keperluan milik Al kemudian mengeluarkan gendongan kain untuk menggendong Al.


"Tuan muda, mari kita keluar dari tempat ini." Nay bergumam seraya meraih Al ke dalam gendongannya.


Setelah memastikan Al benar-benar aman berada dalam gendongannya, Nay pun segera membuka pintu. Dia sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat keadaan sekitar.


Tidak melihat satu pun tanda-tanda keberadaan orang lain di lorong itu, Nay pun segera keluar dari ruangan itu. Meninggalkan tas yang berisi keperluan milik Al. Karena jika dia membawa tas itu, mala pergerakannya akan terganggu. Jadi, Nay memutuskan untuk meninggalkan tas itu.


"Saya mohon, bekerja sama lah dengan saya. Jangan mengeluarkan suara sedikit pun, okay."


Seolah mengerti dengan apa yang di katakan oleh Nay, Al pun hanya diam tanpa menunjukkan tanda kalau dia akan mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Nay menghembuskan nafasnya kemudian mulai menyusuri lorong itu untuk mencari jalan keluar.


Setiap kali ada belokan, Nay bersembunyi terlebih dahulu. Dia menjulurkan kepalanya untuk melihat situasi. Jika dia merasa kalau situasi aman, Nay pun akan kembali menyusuri lorong.


Begitu seterusnya.


Namun sayangnya, saat dia berbelok pada lorong selanjutnya, Nay harus mengalami kesialan karena dia berpapasan dengan salah satu pria yang merupakan anak buah Fabio.


"Haissshhh!!" Nay membalikkan tubuhnya kemudian segera berlari menghindari kejaran dari pria itu.


Ketika Nay tengah berlari, Nay seketika saja mendecih kecil saat mendengar suara kekehan dari Al.


"Apa tuan muda benar-benar menikmati momen menegangkan ini?" Tanya Nay seraya terus berlari.


Al pun memberikan tanggapan dengan semakin terkekeh.


Hingga setelah menemukan belokan di satu lorong, Nay pun berbelok ke sebelah kanan. Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di belokan lorong itu.


Dia sengaja melakukan hal itu karena dia ingin menunggu datangnya pria itu. Dia berniat untuk melawan pria itu guna mengambil senjata yang di bawa oleh pria itu.


Ketika Nay mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Nay pun segera bersiap untuk menyerang pria itu.


Saat Nay melihat sosok pria itu, Nay pun segera menendang pria itu hingga pria itu terjungkal.


Namun, saat Nay melihat orang yang baru saja dia tendang, Nay tiba-tiba saja menelan ludahnya dengan kasar.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2