Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Pemaksaan?


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Ke esokan harinya..


Teya meniup helaian rambut yang sedikit menutupi wajahnya. "Kau gila Javer" ucap gadis itu seraya menatap Javer dengan sangat tajam.


Ketahuilah, gadis itu kini benar-benar sedang di uji kesabarannya. Bagaimana tidak.. Teya kira, pria itu akan datang menjemputnya untuk mengantarkan dia pergi ke kampus. Tapi ternyata, pria itu justru datang untuk membawanya pergi Jepang.


Teya tentu saja menolak keras perihal ajakan pria itu. Namun siapa sangka, pria itu membawa Teya secara paksa. Meskipun gadis itu sudah memberontak dengan sekuat tenaga, namun tetap saja tenaganya tak sebanding jika harus melawan tenaga Javer. Yang parahnya lagi, orang tuanya seakan mendukung Javer untuk melakukan tindakan itu.


Hingga akhirnya, Teya kini hanya bisa pasrah mengikuti kemana pria itu akan pergi. Namun, dia sedikit khawatir tentang mata kuliahnya yang dia lewatkan hari ini, karena mata kuliah hari ini adalah mata kuliah terakhirnya sebelum memasuki masa magang.


Tapi, ketika Teya membahas hal itu pada Javer, pria pemaksa itu dengan mudahnya mengatakan "Universitas itu milikku, aku bisa meminta dosen pengajarmu untuk memberikan pelajaran secara pribadi untukmu, jadi kau tidak perlu takut kehilangan materi kuliahmu"


Sungguh, Teya tidak mengerti, kenapa takdir hidupnya harus jatuh ke dalam genggaman pria pemaksa yang sayangnya kini sudah menjadi tunangannya itu. Andai saja Teya bisa mengatur takdir, dia tidak akan pernah mau mengenal pria itu.


"Javer.. Lepaskan aku!!" Teya berkata seraya mendongakkan wajah untuk menghela nafasnya yang sedikit tertahan.


Gadis itu terlihat sudah tidak tahan dengan posisi yang kini mulai menyebabkan tubuhnya mulai terasa kaku.


Javer lantas menatap acuh tak acuh pada Teya yang kini sedang terikat pada kursi pesawat pribadinya.



Sejujurnya, Javer juga tidak memiliki niat untuk membawa gadis itu pergi ke jepang. Namun, setelah di pikir-pikir kembali, tidak ada salahnya memberi pelajaran pada Mr.Yokotama dengan cara yang halus.


Karena meskipun Mr.Yokotama bersikukuh untuk mengenalkan anak gadisnya pada Javer. Pria tua itu adalah salah satu client setia yang selalu memesan serbuk dalam jumlah besar dari Cosa Nostra, bahkan sejak Cosa Nostra di pimpin oleh Yama.

__ADS_1


Oleh karena itu, Javer hanya akan memberi pelajaran yang sekiranya tidak akan memutuskan hubungan bisnis dengan Mr.Yokotama.


"Astaga.. Jangan hanya menatapku Javer!! Cepat lepaskan aku, tubuhku mulai terasa kaku!! Kau tau, ini termasuk dalam kategori penculikan" Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


Namun, Javer masih tetap setia menatap Teya tanpa berniat melepaskan ikatan gadisnya.


Yang mana, hal itu kian membuat rasa kesal Teya semakin menjadi.


"Ayolaaaah Javer, lepaskan akuuuuu.. Lagi pula pesawat ini sudah mengudara, aku tidak akan bisa lagi lari kemanapuuun" gadis itu kini tak kuasa menahan rengekannya.


Teya sedikit merasa frustasi. Karena entah kenapa, jika berhadapan dengan Javer, Teya selalu tak kuasa menahan rengekan yang keluar dari mulutnya.


Javer yang mendengar rengekan dari gadisnya itu, tiba-tiba saja tersenyum kecil lantaran terbersit sedikit pikiran jahil di kepalanya. Pria itu pun lantas segera beranjak dari duduknya.


Yang mana, hal itu membuat Teya seketika bernafas lega, karena dia pikir Javer akan segera melepaskan ikatannya. Namun, perasaan lega nya itu seketika tergantikan dengan rasa panik saat Javer justru menutup tirai penghubung antara kursi depan dan kursi belakang.



Alih-alih menanggapi pertanyaan dari Teya, Javer justru mendekatkan wajahnya pada perpotongan leher gadis itu.


Teya yang kini mulai merasakan endusan di lehernya pun seketika merasa sedikit gelagapan. Hingga saat tangan Javer terangkat untuk mengelus perpotongan leher Teya, jantung gadis itu kini mulai berdetak dengan cepat. Detak jantung gadis itu kian bertambah cepat ketika elusan tangan Javer perlahan mulai turun ke arah dadanya.


Gadis itu terlihat meneguk ludahnya dengan kasar ketika tangan kasar Javer sedikit mengelus salah satu pucuk dadanya.


"Ja.. Javer.. Bukan kah ini di sebut sebagai ngeh tindakan yang tidak adil.. Ngehhh, kau.. Kau menyerangku dalam keadaan aku yang sedang terikat" gadis itu berkata dengan nafas yang kini mulai terdengar memburu.


"Tu.. tunggu Javer.. A.. Apa yang akan kau lakukan" Teya berkata dengan sangat panik lantaran tangan Javer semakin turun untuk membuka kancing celana yang di kenakan gadis itu.


"Javerhh.." ucap Teya dengan nafas yang tercekat saat Javer mulai menelusupkan tangannya ke dalam celana yang di kenakan gadis itu.


Teya seketika menengadahkan kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut tat kala Javer mulai mengelus permukaan intinya dari luar kain segitiga yang menutupi intinya.

__ADS_1



Yang mana, hal itu membuat Javer semakin gencar mengelus permukaan inti Teya seraya menatap lekat-lekat wajah gadis pujaanya. Sungguh, Javer sangat menikmati wajah frustasi gadisnya yang kini sudah memerah hingga ke telinga, dengan keringat yang juga kini sudah membasahi kening gadis itu.


Namun, Javer segera menarik kembali tangannya ketika mendengar suara erangan tertahan yang di keluarkan gadis itu. Karena jika Javer tetap meneruskan kegiatannya, itu akan membuat Javer sulit untuk mengontrol hasrat kelelakiannya.


Javer kemudian segera mengancingkan kembali celana yang di kenakan Teya. "Anggap saja itu sebagai hukuman untukmu karena kau selalu memberontak padaku" Javer berkata seraya melepaskan sabuk pengaman yang mengikat gadis itu.


Sejenak, Javer menatap Teya yang masih memejamkan matanya dengan nafas yang masih sangat menburu. Pria itu tersenyum kecil lalu mengecup kening Teya sekilas sebelum akhirnya beranjak untuk bergabung dengan Marco dan beberapa anak buahnya yang lain di kursi bagian depan.


Teya pun lantas membuka matanya seraya mengatur nafasnya yang masih sedikit tersengal-sengal. Sepertinya, mulai saat ini, Teya akan lebih sedikit berhati-hati dalam menghadapi Javer. Dia benar-benar tidak ingin jika hal ini sampai terulang kembali.


Tapi, meskipun begitu.. Tak dapat di pungkiri, jika Teya sedikit menikmati sensasi asing yang baru saja di berikan oleh pria itu kepadanya.


Kini Teya mengerti, kenapa teman-temannya yang lain sering kali berkata "meskipun awalnya terasa sakit, tapi hal itu merupakan hal yang bisa membuat kita sedikit kecanduan".


Karena setelah merasakannya sendiri, Teya merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.. Sedikit berlebihan memang, tapi begitulah yang tadi sempat Teya rasakan.


Namun, Teya segera menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghilangkan pemikiran konyolnya, jangan sampai dia terbuai pada Javer hanya karena hal itu.


Teya pun akhirnya memilih untuk memejamkan matanya, mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2