
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Jangan bilang kalau kalian masuk ke keluargaku dengan tujuan untuk membalaskan dendam atas kematian orang tuamu.." Mona kini menatap Eliza dengan kedua alisnya yang terangkat, wanita itu perlahan melepaskan tangan Eliza yang berada dalam genggamannya.
Namun, Eliza segera menggenggam tangan Mona seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak, kami tidak bermaksud untuk seperti itu. Itu hanya sebuah kebetulan.. Kami awalnya benar-benar tidak tahu kalau Kakek Robert memiliki hubungan baik dengan klan Cosa Nostra.."
"Aku bisa bersumpah untuk hal itu.." Ucap Eliza seraya menatap Mona dengan sedikit memelas.
"Tapi, bagaimana bisa Kavin setuju untuk melakukan rencana yang di buat oleh Fier? Bukankah Fier sempat tidak merestui hubungan kalian?" Tanya Mona.
Eliza lantas mengernyitkan dahinya karena merasa sedikit bingung. "Tunggu dulu.. Dari mana kalian tau kalau pria yang dekat denganku adalah Kavin? Seingatku, aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun."
"Apa kau lupa? Tidak ada 1 informasi pun yang tidak bisa di cari oleh keluarga Griffiths.." Sahut Leon.
Eliza lantas menoleh pada Leon kemudian menyunggingkan senyum kecilnya. "Ah ya, aku sedikit lupa mengenai hal itu."
Eliza menghela nafasnya kemudian melanjutkan kalimatnya. "Kakaku memanfaatkan rasa dendam Kavin pada Tuan Yama atas kematian kakaknya."
"Lalu, apa Fabio juga mengetahui hal ini?" Tanya Athena.
Eliza menggelengkan kepalanya. "Dia hanya tau kalau tujuan balas dendam itu atas kematian Kavin. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi mengenai kenapa Kavin bisa terbunuh. Aku juga sudah berusaha untuk melarangnya melakukan rencana balas dendam ini."
Eliza menghapus air matanya yang kembali mengalir kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Tapi sayangnya, Fabio sama sekali tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku. Itu semua karena Fier selalu mengatakan padanya kalau aku memiliki penyakit mental yang di sebabkan karena kematian Kavin. Jadi, Fabio menganggap kalau apa yang aku katakan hanya sebuah omong kosong belaka. Padahal yang sebenarnya, aku baik-baik saja.. Aku bahkan sudah mengikhlaskan kematian Kavin. Tapi Fabio sama sekali tidak mau mendengarku. Itulah mengapa Fabio sangat terobsesi untuk melakukan rencana balas dendam ini.."
"Fier selalu meracuni otak Fabio kalau kemalangan yang di alami oleh kami adalah karena kematian Kavin. Padahal, andai saja Fier tidak terobsesi untuk membalaskan dendam atas kematian orang tua kami, dan merestui hubunganku dengan Kavin, juga tidak meracuni otak Kavin untuk balas dendam. Kami mungkin saja masih bisa hidup dengan layak dan menjalani kehidupan normal seperti orang lain." Eliza kini semakin terisak pilu.
Melihat Eliza yang terisak pilu, membuat Mona tak kuasa menahan kesedihannya. Dia lantas menarik Eliza masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Mona tidak bisa membayangkan, kehidupan seperti apa yang di jalani oleh Eliza akibat dari obsesi balas dendam yang di miliki oleh Fier.
"Lantas, setelah mengetahui alasan kenapa orang tuamu di bunuh, apa kau masih tetap membenci suamiku?" Tanya Athena kemudian.
Eliza melerai pelukannya kemudian menatap Athena dengan sendu. "Awalnya aku memang membenci Tuan Yama. Karena dengan dia yang membunuh orang tuaku, menyebabkan aku dan Fier harus hidup dalam kesulitan. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku banyak berfikir dan belajar untuk melupakan rasa benci itu. Aku juga selalu meminta Fier untuk melakukan hal yang sama denganku. Tapi sayangnya, Fier sama sekali tidak mau mendengarku."
Eliza kemudian menatap Yama dengan sedikit memelas. "Tapi Tuan, apa orang tuaku benar-benar penghianat?"
Wanita itu terlihat masih belum bisa mempercayai fakta yang ada.
Mendengar hal itu, lantas membuat Yama beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi entah kemana.
Mereka yang ada di sana pun menatap Yama dengan sedikit bingung.
"Yama, bukan kah seharusnya kau memberikan penjelasan terlebih dahulu?" Tanya Athena.
Yama pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Athena. "Bukan kah sebuah penjelasan membutuhkan bukti yang nyata?" Pria itu bertanya kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan apa pun.
"Jika Tuan Yama memiliki bukti, apa itu tandanya orang tuaku benar-benar penghianat?" Eliza menatap Mona dengan tatapan sendunya.
Mona menepuk-nepuk punggung Eliza dengan sangat lembut.
Hingga tak lama kemudian, Yama kembali datang dengan membawa sebuah map berwarna coklat.
Pria itu kemudian mendekati Eliza untuk memberikan map itu.
"Di dalamnya berisi foto, bukti tertulis, rekaman suara, dan juga rekaman kamera pengawas yang bisa membuktikan penghianatan yang di lakukan oleh kedua orang tuamu." Tutur Yama.
Eliza pun menerima map itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Mungkin ini sudah waktunya untuk berkas ini menghilang dari brangkas pribadiku." Ucap Yama kemudian kembali duduk di samping Athena.
__ADS_1
Ya, selama ini Yama menyimpan berkas itu di dalam brangkas pribadinya. Yama sengaja melakukan hal itu dengan tujuan agar fia selalu mengingat pembunuhan pertama yang dia lakukan.
Bukan sebagai kenang-kenangan atau suatu kebanggaan. Melainkan suatu bukti awal terbentuknya Yama sang iblis pencabut Nyawa. Bukti awal terbentuknya kekejaman yang di miliki oleh Yama.
Tapi ya.. Setelah ini, sepertinya Yama memang harus melenyapkan berkas itu. Karena selain Eliza membutuhkannya, Yama sang iblis pencabut nyawa pun sudah mati sejak lama.
Namun, alih-alih melihat berkas itu, Eliza justru menyimpan berkas itu di sampingnya. Wanita itu lantas secara perlahan turun dari sofa kemudian duduk bersimpuh menghadap Yama.
"Maafkan saya, Tuan.." Eliza mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Maafkan saya atas dendam yang sempat tertanam di hati saya.. Maafkan saya karena telah gagal meminta Fier untuk tidak melakukan balas dendam. Maafkan saya karena saya telah gagal mencegah semua hal yang terjadi pada keluarga tuan.. Maafkan saya.. Saya."
Athena segera menghampiri Eliza kemudian memeluk wanita itu dengan sangat erat. "Cukup! Hentikan, hmm.. Apa yang kau lakukan? Kau tidak bersalah sama sekali. Jangan meminta maaf. Andai aku ada di posisimu, aku juga sudah pasti akan memiliki dendam terhadap pelaku pembunuh kedua orang tuaku. Jadi ku mohon, hentikan.."
Eliza menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku, aku tidak menyangka kalau orang tuaku bisa melakukan hal se hina itu.. Aku, aku adalah anak dari seorang penghianat, aku.."
"Ssshhtt.. Sudah, cukup! Ingatlah, kau tidak tau apa-apa. Jangan menyebut dirimu sendiri sebagai anak dari seorang penghianat. Sekarang mari kita lupakan semua itu dan menjalani kehidupan yang baru selagi kita masih memiliki waktu, hmm.." Athena mengelus punggung Eliza dengan lembut.
Mendengar perkataan Athena yang begitu lembut, seketika membuat Eliza semakin terisak pilu.
Athena pun hanya membiarkannya seraya terus mengelus punggung Eliza guna membuat wanita itu sedikit lebih tenang.
Semua orang yang ada di sana pun membiarkan Eliza menyelesaikan tangisannya dalam pelukan Athena.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..