
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sementara itu.. Masih di malam yang sama...
Saat di dalam perjalanan menuju rumah tempat persembunyian, Fabio segera menghubungi Ben dengan niat untuk memberitahukan apa yang sedang terjadi.
Hal itu dia lakukan agar Ben membantunya dalam mencari keberadaan Eliza. Namun sayangnya, mau berapa kali pun Fabio mencoba untuk menghubungi Ben, Ben sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Haishhh!!! Apa yang di lakukan keparat itu?? Kenapa dia tidak bisa di hubungi sama sekali!!" Fabio menggerutu seraya mencoba untuk menghubungi bawahannya yang lainnya.
Hingga setelah dering ke 3, sang bawahan pun mengangkat panggilan dari Fabio.
(Ya Tuan?) Sang bawahan bertanya cepat.
"Perintahkan team A dan team B untuk menyusuri hutan. Cari jejak berupa apa pun itu yang bisa kita jadikan petunjuk untuk menemukan keberadaan ibuku!" Titah Fabio.
(Baik tuan.) Sahut sang bawahan.
Fabio pun segera mengakhiri sambungan kemudian mempercepat laju mobilnya menuju rumah tempat persembunyian.
Tapi, sebelum dia mendatangi rumah tempat persembunyian, pria itu terlebih dulu mendatangi markas.
"Apa mereka sudah bergerak?" Fabio segera bertanya pada orang yang dia tugaskan sebagai pemimpin dari para bawahannya.
"Mereka sudah bergerak sejak tuan memberikan perintah." Jawab si pempin seraya menyerahkan sebuah walkie talkie pada Fabio.
Fabio pun menerima walkie talkie itu. "Baiklah, segera hubungi aku jika kalian menemukan sesuatu."
"Baik Tuan."
Setelahnya, Fabio pun kembali pada niat awalnya untuk mendatangi rumah persembunyian.
Sesampainya di jalan menuju tempat persembunyian, pria itu segera menyusuri jalanan itu seraya mencari hal apa pun yang bisa dia jadikan petunjuk untuk mencari keberadaan Eliza.
Namun sayangnya, Fabio sama sekali tidak bisa menemukan satu petunjuk apa pun. Pria itu pun akhirnya memutuskan untuk segera menghampiri Fier yang dia lihatnya tengah duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Apa yang uncle lakukan disini? Bukan kah seharusnya uncle mencari mommy?" Fabio bertanya cepat ketika dia sudah sampai di hadapan Fier.
"Kemana lagi aku harus mencari? Aku sudah mencarinya ke setiap sudut hutan!!" Sahut Fier dengan sedikit ketus.
Fabio menghela nafasnya untuk sejenak. "Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi??"
__ADS_1
Fier lantas mendongakkan kepalanya untuk menatap Fabio. "Aku tidak tahu, aku pergi setelah memastikan kalau dia benar-benar tidur.. Bahkan aku sudah memastikan melihat dia meminum obatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika tidak, aku tidak mungkin meninggalkannya untuk memasang jebakan seperti apa yang biasa aku lakukan!" Tutur pria itu dengan sedikit bersungut-sungut.
Ya, alasan Fier selalu pergi pada jam 9 malam di setiap harinya adalah untuk memasang jebakan di setiap sudut tempat yang memungkinkan. Hal itu dia lakukan untuk mempermudah dia melawan musuh kalau-kalau saja suatu saat nanti ada musuh yang mengetahui keberadaan tempat persembunyiannya.
Dan ya, Fier pun selalu melakukan hal itu di saat dia sudah memastikan kalau Eliza meminum obatnya dan benar-benar tertidur, karena obat yang di minum oleh Eliza merupakan obat tidur.
Begitu pula dengan malam ini, Fier berani meninggalkan Eliza setelah memastikan semuanya berjalan sesuai dengan hari-hari sebelumnya. Fier sungguh tidak menyangka kalau dia bisa lalai dalam menjaga Eliza.
Setelah menghela nafasnya, Fabio lantas menatap Fier dengan sedikit tajam. "Lantas, jika uncle sudah memastikan kalau semuanya aman. Kenapa mommy bisa kabur dari tempat ini?"
"Bukan kah sudah ku katakan kalau aku tidak tahu? Dari pada kau terus bertanya padaku, sebaiknya kau segera memerintahkan anak buahmu untuk mencari keberadaan ibumu."
"Aku sudah melakukannya Uncle!! Aku hanya ingin tau kenapa hal ini bisa terjadi!!" Fabio kini sedikit meninggikan suaranya.
"Jika aku tau, aku tidak mungkin meminta bantuan dari mu!!" Sahut Fier dengan tak kalah meninggikan suaranya.
"Seharusnya dari awal aku tidak membiarkan uncle untuk selalu memasang jebakan!!" Fabio kembali menyahut dengan cepat.
Namun, ketika Fier hendak menyahuti perkataan Fabio, dia harus menelan kembali kalimatnya karena walkie talkie yang di pegang oleh Fabio berbunyi.
"Bagaimana?" Tanya Fabio.
(Team A tidak menemukan apa pun..) Sahut pemimpin team A melalui walkie talkie itu.
(Maafkan kami Alpha, team B juga tidak menemukan jejak apa pun..) Timpal seseorang lainnya lagi yang merupakan pemimpin team B.
"Mustahil untuk dia bisa kabur tanpa meninggalkan jejak sedikit pun jika tidak ada yang membantunya!!" Fabio bergumam seraya berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.
Pria itu lantas masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa.
Fier yang melihat hal itu pun mengikuti langkah Fabio dari belakang.
"Apa yang ingin kau cari?" Tanya Fier saat Fabio masuk ke dalam kamar Eliza.
"Mencari apa pun yang bisa di jadikan sebagai petunjuk!" Sahut Fier seraya mulai menyusuri setiap sudut kamar Eliza.
Namun sayangnya, se teliti apa pun Fabio menyusuri setiap sudut kamar Eliza. Dia sama sekali tidak bisa menemukan satu hal pun yang bisa dia jadikan sebagai petunjuk.
Hingga ketika Fabio tidak sengaja menendang pot bunga kecil yang ada di sudut ruangan, dia seketika saja menatap Fier dengan sangat tajam.
"Apa ini yang uncle katakan perihal uncle yang sudah memastikan mommy meminum obatnya??" Fabio bertanya seraya menunjuk tepat di bawah pot bunga di mana banyak obat yang tersimpan di sana.
Fier lantas mendekat ke arah Fabio untuk melihat apa yang sebenarnya di temukan oleh Fabio.
Ketika Fier melihat apa yang di maksud oleh Fabio, seketika saja membuat emosinya kini semakin meluap-luap.
__ADS_1
"Siaaallan!! Wanita itu benar-benar!!" Fier bergumam kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
Fabio lantas membuang tatapannya dari Fier.
"Aku yakin, ada hal lain yang di sembunyikan oleh mommy.. Tidak mungkin dia bisa kabur dengan sangat mudah seperti ini!!" Fabio berkata seraya terus menggulirkan matanya ke setiap sudut ruangan.
Hingga ketika pandangannya beralih pada langit-langit kamar, Fabio tiba-tiba saja memicingkan matanya tat kala melihat salah satu sudut langit-langit kamar yang sedikit mencuat.
Fier yang melihat hal itu pun ikut menatap ke arah pandang yang di tuju oleh Fabio. Pria itu lantas menggeserkan kursi yang ada di sana untuk memeriksa keanehan yang terjadi pada langit-langit kamar itu.
Saat Fier menarik langit-langit kamar itu, dirinya lagi-lagi harus merasa terkejut karena melihat ponselnya ada di dalam sana. Dia lantas meraih ponsel itu kemudian menunjukkannya pada Fabio.
"Bukan kah itu ponsel milik uncle?" Fabio bertanya seraya menatap ponsel yang tengah di genggam oleh Fier.
Fier menganggukkan kepalanya. "Ini ponsel yang hilang beberapa waktu lalu."
"Berikan ponsel itu padaku!" Ucap Fabio.
Fier pun memberikan ponsel itu pada Fabio.
Setelah melihat pesan yang Eliza kirimkan untuk Mona, Fabio kembali menatap Fier dengan sangat tajam.
"Kenapa uncle bisa begitu ceroboh!!" Seloroh Fabio dengan sangat sarkas.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Fier menatap Fabio dengan mata yang memicing tajam. "Jadi kau sekarang menyalahkanku??"
"Ya!! Bukan kah hal ini bisa terjadi karena kecerobohan Uncle!! Hal ini tidak akan pernah mungkin terjadi jika saja Uncle lebih teliti lagi!!
Menyadari kalau hal ini terjadi memanglah karena kecerobohannya, Foer pun hanya bisa memalingkan wajah seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah.. Maafkan Uncle, ini memang kesalahan Uncle.. Sebaiknya kita memikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.." Tutur Fier dengan suara yang kembali normal.
Setelah menghela nafasnya, Fabio menatap Fier untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.. Yang bisa kita lakukan untuk saat ini hanyalah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya!!"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..