
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Di sisi Javer...
Mendengar keributan dari earphone yang di kenakannya, tidak serta merta membuat Javer merasa ikut panik. Pria itu justru menyikapinya dengan santai karena percaya kalau ke 3 temannya itu bisa mengatasi semuanya dengan mudah.
Karena, yang menjadi fokusnya untuk saat ini adalah untuk mendengarkan hasil akhir dari penentuan pemegang saham utama. Perusahaan yang sebelumnya berhasil memisahkan diri dari naungan perusahaan Griffiths akibat dari usaha Fabio.
Saat ini, jika Javer berhasil memenangkan hasil akhir dari penentuan pemegang saham itu, maka perusahaan itu akan kembali menjadi perusahaan yang di naungi olehnya. Dan Javer juga tidak akan mengecewakan Athena.
Oleh sebab itu, Javer sangat tidak sabar untuk mengetahui hasil akhirnya. Ya meskipun sebenarnya Javer sudah mengetahui hasil akhirnya, namun Javer tetap saja ingin mendengar langsung dari sang pembawa acara.
Pria itu memusatkan pendengarannya pada sang pembawa acara yang akan mengumumkan hasilnya, dengan matanya yang terus tertuju pada Fabio.
Javer ingin melihat, reaksi seperti apa yang akan Fabio tunjukkan ketika pria itu mengetahui hasil akhirnya.
Namun sayangnya, tepat saat sang pembawa acara tengah mengumumkan hasil akhirnya. Javer melihat pria itu yang berlalu pergi dengan mata pria itu yang terfokus pada ponsel yang tengah di genggamannya.
Javer pun menatap pria itu dengan sedikit bingung. Siapa yang membuat Fabio sampai mengabaikan pengumuman hasil akhir dari perebutan pemegang saham ini.
Tapi, saat mendengar percakapan yang di lakukan antara Fabio dan si penelpon, seketika saja membuat kebingungan yang di rasakan Javer menghilang.
Dan ya, seperti yang kalian ketahui, Javer lah yang menjadi pemegang saham utama perusahaan itu. Dia memenangkan hasil akhirnya dengan akumulasi 37% saham yang di milikinya.
Sedangkan Fabio, dia harus menerima kekalahan karena saham yang dimilikinya berjumlah 33%, hanya berselisih 4% dengan saham yang di miliki oleh Javer.
Yang mana hal itu berarti, perusahaan yang di perebutkan itu akan kembali menjadi perusahaan yang di naungi atas nama Griffiths company.
Tapi sayangnya, Javer merasa sedikit kecewa karena tidak bisa melihat reaksi dari Fabio.
Namun, Javer tidak terlalu memikirkan hal itu. Karena yang terpenting, perusahaan itu kembali menjadi miliknya dan bisa membuat Athena kembali merasa tenang.
Tangan kanan pria itu lantas terangkat untuk menekan tombol pada earphone yang di kenakannya.
"Apa kalian berhasil membawanya?" Tanya Javer kemudian.
(Sesuai dengan apa yang kita rencanakan.. Meskipun di sini kami harus mengalami sedikit ketegangan. Tapi kami berhasil membawanya..) Sahut Enzo cepat.
"Baguslah.."
Tepat setelah Javer mengatakan hal itu, sang pembawa acara meminta Javer untuk maju ke depan.
Pria itu pun melangkah maju ke depan sana dengan di iringi tepuk tangan meriah dari para tamu yang ada di sana.
__ADS_1
Setelah menerima microphone dari sang pembawa acara, Javer pun berkata.
"Selamat karena telah kembali menjadi bagian dari Griffiths Company."
Mereka yang ada di sana pun kembali memberikan tepukan meriah untuk Javer.
Javer lalu menyerahkan kembali microphone yang di peganggnya kepada si pembawa acar. Pria itu kemudian kembali berbaur dengan yang lainnya.
Lalu, si pembawa acara pun kini mempersilahkan para tamu untuk menikmati pesta perayaannya.
Saat Javer tengah menerima berbagai ucapan selamat dari kolega-kolega bisnis setianya. Javer melihat Horis yang berjalan ke arahnya.
"Selamat atas kembalinya perusahaan itu ke tangan Tua." Horis mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Javer.
Javer menyunggingkan senyum simpulnya kemudian membalas uluran tangan Horis.
"Dan, maafkan saya karena telah membiarkan Fabio untuk bersaing dengan Tuan.." Horis berkata dengan sangat tidak enak hati.
Javer kembali menyunggingkan senyum simpulnya. "Tidak masalah.. Kau hanya perlu mengajarinya agar lebih baik lagi."
"Ya, saya akan mengajarinya agar menjadi lebih baik lagi."
"Lantas, di mana Fabio? Aku tidak melihatnya sedari tadi." Javer berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
"Ah ya.." Horis mengusap tengkuknya canggung. "Saya juga sedang mencari keberadaan anak itu. Saya rasa, dia sedikt kecewa karena mengalami kekalahan.. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk mencari keberadaannya."
Di sisi Kheil...
Setelah mendapat pesan kalau Garaga telah berhasil menjemput Liam, Enzo juga Eliza. Serta setelah melihat kalau Javer berhasil memenangkan perusahaannya kembali, Kheil pun kini bisa bernafas dengan sedikit lega.
Pria itu lantas beranjak dari duduknya dengan niat untuk membuat secangkir kopi.
"Hufhhh... Kini aku bisa menikmati kopiku dengan santai.."
Pria itu bergumam seraya meracik kopi yang akan dia minum, dengan mata yang terus tertuju pada layar komputer no.3 yang menampilkan pergerakan Javer. Karena kebetulan, meja pantry tempat dia membuat kopi menghadap ke arah deretan komputer miliknya.
Jadi, hal itu tidak akan membuat dia kehilangan pengawasan terhadap setiap pergerakan yang tengah terjadi.
Saat Kheil tengah mengaduk kopi yang tengah di buatnya, pandangan matanya teralihkan ke arah komputer no.6 karena melihat tingkah aneh salah satu pelayan wanita yang membawa minuman. Dia lantas sedikit memicingkan matanya agar penglihatannya terfokus pada apa yang akan di lakukan oleh pelayan itu.
Setelah melihat pelayan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, Kheil melihat pelayan itu mengeluarkan botol kecil dari dalam saku baju yang di kenakannya, si pelayan itu lalu menuangkan cairan ke dalam satu gelas minuman yang di bawanya. Tanpa menyadari kalau pergerakannya itu terekam oleh kamera yang di pasang oleh Kheil di sana.
Kheil lantas meletakkan sendok yang dia gunakan untuk mengaduk kopi itu kemudian mulai menyesap kopi yang di buatnya, dengan mata yang terus memperhatikan ke arah mana si pelayan itu akan melangkah.
Saat melihat siapa yang di tuju oleh si pelayan itu, Kheil lantas meletakkan kembali cangkir kopi miliknya ke atas meja kemudian berniat untuk kembali ke meja komputernya.
"Javer..!!"
__ADS_1
Pria itu melangkah seraya memanggil nama Javer karena Javer adalah orang yang di tuju oleh si pelayan itu.
Namun sayang...
'Brrruuukkk!!!'
Karena dia terlalu fokus pada komputernya, Kheil membuat kesalahan kecil dengan tidak sengaja tersandung kakinya sendiri hingga membuatnya jatuh tersungkur. Bahkan hingga membuat earphone yang tengah di gunakannya terlepas dan terlempar ke bawah meja komputernya.
"Haishhh!!!"
Kheil segera berdiri kemudian berlari ke arah meja komputernya, pria itu lantas merundukkan tubuhnya untuk meraih earphonenya yang terselip di antara kabel-kabel komputer yang berserakan di bawah meja komputernya.
Tapi sayangnya, earphone miliknya terselip terlalu jauh hingga membuat Kheil sedikit kesulitan untuk mengambilnya.
"Oh ayolaaaaah!!!"
Pria itu berusaha untuk semakin mengulurkan tangannya demi menggapai earphone miliknya, bahkan hingga membuat hampir dari setengah badannya masuk ke bawah meja.
"Oh tidak, tidak!! Tunggu.. Javerrr jangan lakukan itu!!!"
Pria itu berusaha berteriak ke arah earphonenya saat melihat Javer yang hendak mengambil minuman yang di berikan si pelayan itu.
Tapi sayangnya, teriakannya itu percuma, karena Javer sama sekali tidak mendengarnya.
"Tidak, tidak, tidak!! Ku mohon jangan.. Javer!!! Yaaakk!!! Haissshhhh!!"
Tangannya berhasil meraih earphonenya.
Kheil lantas segera mendekatkan earphone itu ke mulutnya guna mencegah Javer untuk meminum minuman itu.
"Jaaa..."
"Haissshhh!!"
Tapi terlambat, Javer sudah lebih dulu menegak habis minuman yang di berikan oleh pelayan itu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye by