
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Tut.. Tut.. Tut..
Tut.. Tut.. Tut...
Tuuuuuut...
"Dasar anak iblis!! Bisa-bisanya dia tidak mengangkat panggilanku!! Dia pikir, hanya dia yang bisa menghubungiku ketika dia sedang membutuhkan sesuatu dariku!!"
Mona menggerutu seraya terus mencoba untuk menghubungi Javer.
Hingga setelah pada panggilan untuk yang ke sekian kalinya, Javer pun akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Yakk!! Bisa-bisanya kau tidak mengangkat panggilan Zia!! Apa kau sudah tidak membutuhkan Zia lagi!! Apa kau ingin Zia kutuk menjadi ular derik agar derajatmu turun karena telah menjadi keponakan yang durhaka!!"
Mona tidak kuasa menahan emosinya, bahkan nafas wanita itu kini terdengar sedikit memburu.
Setelah hening untuk beberap detik, lalu terdengar deheman kecil Javer dari ponselnya.
(Khem.. Aku tidak melihat ponselku.. Apa Zia memiliki suatu hal penting yang ingin Zia katakan padaku?)
Mendengar apa yang di tanyakan oleh Javer, seketika membuat Mona melongo tak percaya.
"Tentu saja!! Kau pikir hanya kau saja yang memiliki hal penting."
(Baiklah-baiklah, apa yang ingin Zia sampaikan padaku?)
Mona lantas menghela nafasnya untuk sejenak. "Nanti malam datanglah ke rumah Zia. Jam berapa pun itu, Zia akan menunggumu."
(Aku akan datang tepat pukul 8 malam."
"Jangan terlam..."
Tut...
"Haishhh!! Anak ini benar-benar.. Selalu saja se enaknya sendiri mematikan sambungan di saat aku belum selesai berbicara.."
Mona kembali menghela nafasnya, dia kemudian melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Wanita itu lalu beranjak dari kasurnya kemudian berlalu pergi dari sana menuju entah kemana.
.....
__ADS_1
Waktu pun berlalu, sesuai dengan apa yang di katakan Javer di telpon. Javer benar-benar datang ke kediaman Mona tepat pukul 8 malam.
Kini, Javer tengah duduk berhadapan dengan Mona di sofa yang terdapat di ruang kerja wanita yang di panggil Javer dengan sebutan Zia itu. Dengan sebuah meja kaca yang menjadi pembatas di antara mereka.
Setelah maid yang mengantarkan minuman untuk Javer dan Mona keluar dari ruangan itu, Javer lantas menatap Mona dengan penuh tanda tanya.
Mona yang mendapatkan tatapan seperti itu pun menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau menatap Zia seperti itu?"
Javer menghela nafasnya. "Tidak, hanya saja.. Tidak biasanya Zia menghubungi ku terlebih dahulu.. Hal penting apa yang membuat Zia menghubungiku terlebih dahulu?"
"Ck, apa Zia benar-benar tidak pernah menghubungimu terlebih dahulu?"
Javer hanya mengangkat bahunya acuh.
Mona seketika mencebikkan bibirnya. Wanita itu kemudian beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju meja kerjanya.
Mona membuka laci mejanya kerjanya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel jadul dari dalam laci meja tersebut. Mona lalu kembali menghampiri Javer setelah menimang ponsel itu untuk beberapa saat.
Mona lantas kembali duduk di hadapan Javer.
"Ini.." Mona meletakkan ponsel yang sebelumnya dia ambil ke hadapan Javer.
"Apa ini?" Javer bertanya dengan sebelah alisnya yang sedikit naik.
"Ponsel, tentu saja.. Apa lagi." Sahut Mona cepat.
"Ck!! Haish.. Bukan itu maksud Zia... Bukalah aplikasi pesan, lalu baca pesan terbaru yang Zia terima.."
Javer lantas meraih ponsel itu kemudian melakukan apa yang di katakan oleh Mona. Pria itu membuka aplikasi pesan yang ada di ponsel itu kemudian mengeklik pesan paling atas yang ada di sana.
Melihat pesan itu, lantas membuat Javer seketika saja menaikkan sebelah alisnya. "TOLONG AKU!! YARAI!!??" Pria itu menatap Mona dengan sedikit bingung. "Bukan kah Yarai adalah nama Zia sewaktu kecil?"
Mona mengangguk dengan cepat.
Ya, sesuai dengan apa yang Javer ketahui, Yarai adalah nama Mona sewaktu dia masih kecil. Nama itu adalah nama pemberian dari sang nenek yang berasal dari negri jepang. Namun, karena suatu alasan, kakek Robert memutuskan untuk mengganti nama Yarai menjadi Mona di saat Mona berusia 7 tahun.
Javer mengetahui hal itu setelah Mona menceritakan masa kecilnya pada Javer di saat Javer masih berusia 9 tahun. Meskipun Javer masih berumur 9 tahun, tapi Javer mampu mengingat hal itu hingga sekarang.
Namun, yang membuat Javer bingung adalah karena hanya segelintir orang yang mengetahui nama Mona sewaktu masa kecil dulu. Selain kakek tua Robert, Yama dan Athena, hanya Javer yang mengetahui hal ini.
Lantas, selain mereka, siapa lagi yang mengetahui nama kecil Mona selain mereka?
"Apa ada yang mengetahui nama kecil Zia selain aku, kakek tua Robert, mommy dan daddy?" Tanya Javer kemudian.
"Itu yang membuat Zia menghubungi mu. Zia benar-benar bingung hingga saat ini. Siapa yang mengetahui nama kecil Zia selain kalian berempat? Tidak mungkin kan nenek tua Robert bangun dari kematiannya? Tidak mungkin juga kan orang tua Zia tiba-tiba bangkit dari kuburan mereka?"
__ADS_1
"Dan juga, dari mana dia mendapatkan nomor ponsel itu? Zia sudah menggunakan nomor itu sejak Zia masih menjadi bagian dari klan, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui nomor ponsel itu. Ah tidak, lebih tepatnya hanya orang-orang yang menjadi bayangan Zia saja yang mengetahui nomor ponsel itu. Bahkan kakek tua Robert saja tidak mengetahuinya." Tutur Mona dengan wajah yang benar-benar terlihat sangat bingung.
Javer lalu kembali melihat pesan yang di terima oleh Mona, dia melihat waktu penerimaan pesan itu.
Javer kembali menatap Mona. "Kapan Zia melihat pesan ini? Di sini waktu penerimaannya pukul 4 sore lewat 17 menit." Tanya pria itu kemudian.
"Kalau tidak salah.." Mona terlihat berpikir untuk beberapa saat. "Semalam, Zia melihat pesan itu pukul 9. Kebetulan, semalam Zia hendak menghubungi salah satu mata-mata milik Zia. Tapi ya, Zia lupa pada tujuan awal Zia karena pesan itu."
Javer mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kah salah satu bayangan Zia ada yang sudah tidak bertugas lagi?"
"Itu..."
"Selain mengalami kematian tentunya." Javer segera memotong kalimat yang hendak Mona katakan.
Mendengar apa yang di katakan Javer, seketika saja membuat Mona berdehem kecil. Karena ya, sejatinya, Mona hendak mengatakan kalau semua bayangan yang bekerja di bawahnya sudah tidak lagi bertugas karena mengalami kegagalan tugas. Dalam artian mati di saat mereka tengah menjalankan tugas yang di berikan oleh Mona.
"Khem.." Mona lantas berdehem kecil. "Sepertinya tidak.."
"Tidak bisa kah Zia mengingat-ingat kembali?"
Mona lantas bersedekap dada kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Wanita itu menghela nafasnya seraya mengingat-ingat, siapa saja yang sekiranya sudah tidak lagi bekerja sebagai bayangnya.
"Atau mungkin ada juga yang mengetahui nomor ponsel Zia selain dari bayangan Zia secara langsung? Salah satu bayangan dari kakek tua Robert mungkin?" Javer mencoba untuk membantu Mona dalam berpikir.
"Hmmm.. Sepertinya tid... Tunggu dulu.. Mungkinkah?"
"Fier??" Ucap Javer dan Mona secara bersamaan.
Dengan Mona yang menampilkan ekspresi bingungnya, dan dengan Javer yang menaikkan sebelah alisnya.
...-TBC-...
Ada yang bisa nebak dengan bener ga tentang siapa yang di kirimin pesan sama Eliza??
Oh ya wakk, sensi sekalian mau ngasih tau kalian, sensi besok ga bisa update lagi, soalnya ada perjalanan ke luar kota lagi.. Makasih..
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..