
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Sebelumnya..
"You know something, dad?" Liam bertanya dengan sedikit ragu.
Leon perlahan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak.. Ini tidak mungkin.. Ini.. Ini sangatlah mustahil..." Leon berkata dengan sangat lirih.
.....
Sontak hal itu membuat para anak beserta Bella, Calista, dan Keisha semakin menatap Leon dengan di penuhi tanda tanya.
"Sayang.. Kau baik-baik saja??" Calista bertanya seraya menggenggam tangan Leon.
Leon seketika menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak baik-baik saja.. Aku.. Aku..." Leon berkata dengan tatapan matanya yang terpaku pada gambar pria itu.
"Sayang, apa yang sedang ingin kau katakan?" Calista semakin di buat penasaran setelah melihat Leon yang tampak sedikit ling lung.
"Aku.. Aku jelas-jelas membunuhnya dengan tanganku sendiri." Leon berkata kemudian menoleh pada Yama dan Athena. "Kalian percaya padaku bukan?"
Yama dan Athena pun menganggukkan kepala.
Yang mana, hal itu sontak membuat para anak, Bella, Calista, dan Keisha seketika merasa sangat terkejut. Karena sungguh, 3 wanita itu benar-benar tidak tahu menahu tentang siapa pria yang ada di dalam gambar itu.
"Bisa kah satu di antara kalian menjelaskan tentang siapa pria itu?" Enzo bertanya seraya menatap para orang tua satu per satu.
Athena lantas menghela nafasnya kemudian mulai menjelaskan tentang siapa pria yang menyerang Teya.
Setelah mendengar penjelasan dari Athena, Teya lantas menatap kembali gambar pria yang sedikit buram itu.
Pict by : _aleksagavrilovic_
"Tapi, tidak mungkin kan jika pria yang bernama Kavin itu bangkit dari kematiannya? Bukan kah itu sangat mustahil??" Teya bergumam dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari gambar pria itu.
Ya, pria yang berhasil membuat para orang tua terutama Leon merasa terkejut adalah pria yang memiliki wajah mirip seperti Kavin.
Bagaimana Leon tidak merasa terkejut? Karena dia sendiri lah yang melenyapkan pria itu hingga hanya tersisa tulang belulang. Bahkan dia sendiri juga lah yang menghancurkan tulang belulang itu. Akan sangat mustahil jika pria itu tiba-tiba bangkit dari kematiannya.
Tapi ini, sungguh.. Setelah melihat gambar pria itu, Leon benar-benar tidak tau harus berkata apa..
Javer lantas menatap Yama untuk beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. "Apa daddy yakin jika Kavin tidak memiliki seorang putra?"
__ADS_1
Karena berdasarkan cerita Athena, Kavin merupakan seorang pria lajang.
Yama menganggukan kepalanya dengan sedikit rahu. "Seharusnya tidak.. Sejauh yang daddy tau, pria itu merupakan pria yang lajang. Dan juga, berdasarkan informasi dari mata-mata yang daddy pekerjakan untuk mengawasi Kavin, pria itu sama sekali tidak pernah terlibat dengan perempuan mana pun. Tapi, setelah melihat pria yang ada di dalam gambar, daddy sedikit meragukan informasi dari mata-mata itu."
"Lalu, di mana mata-mata uncle itu sekarang?" Liam bertanya cepat.
"Entahlah.." Yama menggelengkan kepalanya. "Dia mengundurkan diri tepat di satu bulan setelah kematian Kavin."
Mendengar apa yang di katakan Yama, Khein seketika menatap Javer dengan mata yang berbinar. "Bukan kah ini menarik??"
Javer tersenyum simpul lalu menganggukkan kepalanya.
"Uncle akan membantu mu, Kheil." Ucap Leon.
Namun, Kheil menggelengkan kepalanya. "No, uncle. Aku akan melakukannya sendiri."
"Kheil, dengarkan uncle.." Ucap Ken cepat.
Kheil lantas menatap Ken.
"Kali ini kita harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini. Karena jika memang Kavin memiliki seorang putra, itu berarti dia sedang menuntut pembalasan dendam. Dan jika memang seperti itu adanya, maka seharusnya kita para orang tua yang menghadapinya. Karena akar permasalah ini berasal dari kita, jadi biarkan kita juga yang mencabut akar itu." Tutur Ken.
"Begini saja.." Javer berkata kemudian menghela nafasnya lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Untuk sekarang ini, biarkan kita yang mencoba untuk menemukan jawabannya terlebih dahulu. Kalian cukup membantu dengan memberikan informasi yang kalian ketahui. Karena semakin sedikit orang yang bertindak, itu akan semakin mempermudah kita untuk menyelinap mencari informasi."
Kheil, Liam, dan Enzo pun menyetujui perkataan Javer dengan menganggukan kepala mereka.
"Apa kalian menyetujuinya?" Javer bertanya seraya menatap satu persatu para orang tua yang ada di hadapannya.
"Baiklah.. Keputusan sudah di buat.. Jadi, untuk sekarang ini, lebih baik kita segera mengistirahatkan diri. Terutama untuk Teya, dia pasti merasa sangat kelelahan. Aunty akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar terlebih dulu." Calista berkata kemudian beranjak dari duduknya.
.....
Setelah pelayan menyiapkan kamar, satu persatu dari mereka pun memasuki kamar untuk beristirahat. Begitu pula dengan Javer dan Teya, setelah berganti pakaian, mereka kini tengah berbaring di atas tempat tidur dengan saling berbagi kehangatan melalui sebuah pelukan.
"Babby.."
"Hmmm?" Teya bergumam lalu sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer yang ada di sebelah kanannya.
"Besok, aku akan meminta Marco untuk memindahkan semua barang-barang penting milikmu ke rumahku."
Teya seketika mengernyitkan dahinya. "Kau memintaku untuk tinggal bersamamu?"
Javer menganggukkan kepalanya.
"Apa aku bisa menolak?"
Javer lantas menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Tidak, ini perintah.."
__ADS_1
"Ok.." Sahut Teya cepat.
Yang mana, hal itu seketika membuat Javer mengerutkan keningnya. "Ok?"
Teya mengangguk-anggukan kepalanya. "Hmm.. Ok.. Apa ada yang salah?"
"Tidak, aku hanya sedikit tidak menyangka jika kau akan menyetujuinya dengan mudah."
Teya memutar bola matanya malas seraya menghela nafasnya jengah. "Menolak pun percuma, aku tetap akan berakhir tinggal satu atap denganmu."
Mendengar perkataan sarkas Teya, seketika membuat Javer terkekh geli.
"Tapi tunggu dulu Javer.. Tadi kau memintaku untuk tinggal di rumahmu?"
"Hmm.." Javer menganggukkan kepalanya.
"Rumah yang mana? Aku tidak mengetahuinya.."
Javer mengedikkan bahu kanannya. "Aku baru membelinya tepat setelah aku melamarmu, dan baru selesai di renovasi sekitar 4 hari yang lalu. Tadinya aku akan memberikan rumah itu sebagai hadiah pernikahan. Tapi, sepertinya akan lebih baik jika kita menempatinya mulai besok. Lagi pula, setelah mendapatkan situasi yang sulit ini, aku tidak bisa membiarkanmu lepas dari pengawasanku."
"Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri.."
"Bukan kah akan lebih baik jika aku yang menjagamu?"
"Ok..." Ucap Teya seraya tersenyum lembut.
Javer pun membalas senyuman Teya. "Sebaiknya kita tidur.."
Teya menganggukan kepalanya. "Hmm.. Aku mulai mengantuk.."
Jave4 lantas mengecup kening Teya untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Good night babby.."
"Hmmm.. Good night Javer.." Sahut Teya lalu memejamkan matanya.
Begitu pula dengan Javer, pria itu juga segera memejamkan matanya. Menunggu hari esok yang akan tiba..
...-TBC-...
Hayooo... Kira-kira itu siapanya Kavin? Anaknya kah? Adiknya kah? Kembarannya kah?? Atu mungkin Kavin emang bangkit dari kematiannya??
Thanks for reading lah ya pokoknya..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..