
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Mari kita kembali ke sisi Javer dan Juga Teya..
Ke esokan harinya..
Tat kala sinar mentari pagi menembus masuk melalui celah jendela ke dalam ruangan yang di mana sepasang sijoli tengah berbagi kehangatan di bawah selimut tebal.
Sang pria yang bernama Javer itu pun mengerjapkan matanya guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatannya.
Hingga ketika Javer mulai mendapatkan kesadarannya, dia merasakan pergerakan kecil dari Teya yang masih terlelap di dalam dekapannya.
Seketika itu juga, Javer menghirup nafasnya dalam-dalam merasakan aroma segar di pagi hari seraya mempererat pelukannya pada gadis yang amat sangat di cintainya itu..
Ah tidak.. Javer lagi-lagi melupakan fakta kalau Teya kini bukan lagi seorang gadis, melainkan sudah menjadi wanita seutuhnya. Dan Javer sendiri lah yang merubah Teya menjadi seorang wanita yang seutuhnya.
Mengingat hal itu, membuat Javer tak kuasa untuk menahan senyum bahagianya. Pria itu menyunggingnya senyum kecilnya kemudian mengecup puncuk kepala Teya untuk sejenak.
Merasakan sesuatu yang sedikit mengusik ketenangan dalam tidurnya, lantas membuat Teya sedikit menggeliatkan tubuhnya.
"Eungh.." Gadis itu melenguh kecil seraya semakin menenggelamkam tubuhnya pada dekapan Javer.
*Note : Ga usah di gandi jadi wanita ya wakk sebutan buat si Teya nya.. Biar enak pengucapannya..
Sungguh, merasakan betapa mungilnya Teya dalam dekapannya, benar-benar membuat Javer tak kuasa menahan rasa gemasnya.
Pria itu mengecup puncuk kepala Teya secara berulang kali guna menyalurkan rasa gemasnya terhadap gadis itu.
"Javer!! Berhentilah!! Kau mengganggu tidurku!!" Teya merengek kecil dengan matanya yang masih terpejam erat.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Javer terkekeh geli merasakan betapa menggemaskannya Teya.
"*It's already morning babby, don't you want to get up?" Javer bertanya seraya sedikit mengusakkan dagunya pada puncuk kepala Teya.
*Note : Ini sudah pagi sayang, apa kau tidak ingin bangun?
Teya seketika saja mendongakkan wajahnya. "*Is it really morning now??" Wanita itu bertanya tanpa ada niat untuk membuka matanya sedikit pun.
*Note : Apa sekarang sudah benar-benar pagi?
Karena sungguh, lelah yang di rasakannya benar-benar membuat dia merasa sangat malas untuk membuka kedua matanya.
Javer yang melihat hal itu pun lagi-lagi terkekeh geli. "*Yes babby.. it was really early in the morning, in fact almost towards noon.."
*Note : Ya sayang.. Sekarang sudah benar-benar pagi, bahkan hampir menuju siang hari.
Mendengar apa yang di katakan oleh Javer, lantas membuat Teya sedikit mengernyitkan dahinya. "Tapi kenapa aku merasa saat ini masih seperti di malam hari?"
Tangan Javer seketika saja terangkat untuk menyentil dahi Teya dengan lembut. "Oh c'mon babby.. Hal itu bisa terjadi karna kau tak kunjung membuka kedua matamu.."
__ADS_1
"A, ah.. Yaa.. Aku melupakannya.." Gadis itu menampilkan cengiran lebarnya.
"Tcih!" Javer menyunggingkan senyum kecilnya kemudian memberikan kecupan ringan pada bibir Teya.
"Come, aku akan membantumu untuk bangun." Javer berkata seraya melepaskan tangan Teya yang masih melilit di pinggangnya.
Namun, Teya menggelengkan kepalanya. "Kau bersiaplah terlebih dahulu, aku bisa bangun sendiri."
Javer seketika saja menaikkan sebelah alisnya, dia merasa sanksi atas apa yang baru saja Teya katakan.
"Are you sure?" Tanya Javer kemudian.
Teya mengedikkan bahunya. "*I'm not really sure.. But, i'll try.."
*Note : Aku tidak terlalu yakin.. Tapi aku akan mencoba..
Teya merasa sedikit enggan untuk menyulitkan Javer. Karena ya, kembali lagi pada Teya yang akan tetap menjadi Teya. Wanita yang memiliki sifat gengsi yang terlalu tinggi.
Bukan karena Teya merasa benar-benar mampu. Hanya saja, dia merasa sedikit malu..
Oh ayolah.. Kalau kalian lupa, setelah melakukan kegiatan panas bersama dengan Javer tadi malam, sejak saat itu pula Teya tidak mengenakan sehelai benang pun.
Ya meskipun tadi malam Javer sudah melihat tubuh polosnya secara keseluruhan. Namun Teya tetap saja merasa malu.. Ah tidak, sebenarnya Teya hanya belum terbiasa saja. Atau bahkan mungkin hingga kapan pun juga Teya sepertinya tetap akan tidak terbiasa jika harus naked di depan Javer dalam keadaan sadar.
Javer yang ingin menguji seberapa kuat Teya bisa menahan rasa gengsi nya pun memilih untuk mengalah.
"Okay.." Ucap pria itu kemudian beringsut dari tidurnya.
Pria itu beranjak dari sana dalam keadaan naked tanpa merasa malu sedikit pun. Karena ya, Teya tidak hanya sudah melihatnya, tapi juga sudah menyentuhnya. Jadi, kenapa juga Javer harus merasa malu?
Namun, apa yang di lakukannya itu justru mendapat teriakan merdu dari Teya.
"Yakk!!! Tidak bisa kah kau mengenakan celanamu terlebih dahulu!!"
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Javer menyunggingkan senyum jahilnya.
"Oh c'mon babby.. Tadi malam kau tidak hanya melihatnya, kau bahkan sudah menyentuhnya dengan tanganmu sendiri.." Pria itu berkata dengan nada yang sedikit menggoda seraya meraih salah satu handuk yang terletak di atas nakas.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Javer, sontak saja membuat wajah Teya tiba-tiba saja terasa panas.
"Ck, itu.. Itu.. Haishh!! Jangan membahasnya!! Sebaiknya kau segera bersiap!" Teya berkata lirih dengan sedikit ketus.
Melihat betapa menggemaskannya tingkah Teya ketika dia merasa malu, seketika saja membuat Javer terkekeh geli. Sejujurnya, Javer ingin kembali menggoda Teya. Namun, mengingat masih ada hal lain yang harus mereka lakukan, Javer pun memilih untuk tidak melakukan niatnya itu.
"Khem, baiklah.. Kau yakin tidak ingin mendapatkan bantuan dariku?" Tanya Javer kemudian.
Mendengar suara Javer yang kembali normal, lantas membuat Teya kembali membuka kedua matanya.
Teya terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
Javer pun hanya mengangkat bahunya acuh kemudian berlalu menuju kamar mandi dengan senyum simpul yang tersungging di bibirnya. Pria itu menunggu permintaan tolong yang sebentar lagi pasti akan terucap dari mulut manis wanita itu.
Dan yup, benar saja.. Baru saja 3 langkah Javer lewati, Javer sudah mendengar desisan kecil yang keluar dari mulut wanita itu.
__ADS_1
"Javer?" Ucap Teya dengan sedikit lirih.
Javer pun menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Teya. Melihat Teya yang tengah meringis menahan sakit, lantas membuat Javer menatap wanita itu dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Uhmm.. Itu.. Ehmm.. Se, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu.. Aku, aku sedikit kesulitan untuk menggerakan kakiku.. Kau tau... Itu, emm.. Terlalu sakit.. Ya.. Umm.. Begitulah.." Teya berkata dengan sedikit gugup.
Teya menahan perasaan malunya sekuat tenaga, karena jika Teya tetap mengutamakan rasa gengsinya. Dia yakin, dia akan tetap berada di atas kasur hingga hari esok tiba.
Karena sungguh, ketika Teya mencoba untuk beringsut dari tidurnya. Bagian inti tubuhnya yang semula tidak terasa sakit tiba-tiba saja menjadi terasa sangat sakit seolah seseorang tengah merobeknya.
Padahal pada faktanya, bagian inti tubuhnya memanglah sehabis di sobek oleh Javer. Jadi, itu bukan hanya seolah-olah, tapi memanglah sebuah kenyataan.
Hanya saja, entah kenapa, otak gadis itu tiba-tiba saja bekerja dengan sangat lambat sehingga dia melupakan tentang fakta itu.
"Javeeeeerr...." Teya merengek kecil tat kala Javer hanya menatapnya dengan tatapan jahil.
See.. Bukan kah sudah Javer katakan sebelumnya kalau gadis itu pasti akan tetap berakhir dengan meminta bantuan kepadanya.
Mengerti dengan rasa sakit yang di alami oleh Teya, Javer pun segera mendekati gadis itu.
"Apakah sesakit itu?"
Teya menganggukkan kepalanya.
Karena ya, rasanya benar-benar sakit. Bahkan matanya kini sedikit berkaca-kaca.
Melihat hal itu, lantas membuat Javer menatap Teya dengan di penuhi rasa kekhawatiran. "Maafkan aku, okay.."
Teya kembali menganggukkan kepalanya.
"Come, aku akan membawamu ke kamar mandi." Pria itu berkata seraya hendak menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuh Teya.
Namun, Teya menahan selimut itu. "Tidak bisa kah kau membawaku bersama dengan selimutnya?" Gadis itu bertanya dengan sedikit memelas.
Javer yang merasa sedikit malas untuk berdebat pun, akhirnya memilih untuk menyingkirkan selimut itu dalam satu kali tarikan kemudian segera menggendong Teya ala bridal.
"Yaakk!!! Javeeeeerr!!! Aku maluuu!!!" Gadis itu berteriak seraya menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya dengan mata yang terpejam erat.
"Diamlah, babby.. Apa kau lupa kalau tadi malam aku tidak hanya sudah melihat seluruh tubuhmu, tapi juga sudah ******* setiap inci dari bagian tubuhmu itu? Atau haruskah sekarang aku ulang kembali agar kau dapat mengingat apa yang aku lakukan padamu tadi malam?" Javer berkata dengan nada jahilanya.
Yang mana, hal itu sontak saja membuat wajah Teya yang memang sudah memerah kini semakin bertambah merah bak kepiting rebus.
"Yakk!! Dasar baji...ngan tua mesuuuuummm!!!"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..