Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Dalang Dibalik Afrodisiak


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sebelumnya...


Namun sayangnya, mata Javer sama sekali tidak bisa melihat keberadaan si pelayan wanita itu.


"Aku harus menandai pelayan itu!"


Javer bergumam di dalam hatinya seraya menoleh pada kamera pengawas di mana Kheil dapat melihatnya.


....


Pria itu sengaja menoleh pada kamera pengawas agar Kheil dapat menyadari apa yang tengah terjadi kepadanya.


Di dalam benaknya, Javer merasa sedikit bingung, kenapa Kheil tidak memberitahunya kalau si pelayan wanita itu memberikan minuman yang di bubuhi Afrodisiak.


Tapi, setelah mengingat kembali, Javer kini mengerti kenapa Kheil sebelumnya memanggil namanya dengan cukup keras.


Namun, kenapa Kheil tidak melanjutkan untuk memberikan peringatan tentang pelayan wanita itu? Apa yang sedang di alami Kheil hingga membuat pria itu tidak melanjutkan peringatan yang akan dia berikan.


Saat Javer tengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang di alami oleh Kheil, pria itu tiba-tiba saja sedikit limbung karena tidak kuasa lagi menahan hawa panas yang terus saja menjalari tubuhnya, yang bahkan kini mulai membuat kepalanya terasa berdenyut.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya pria yang mengenakan jas berwarna merah maroon.


"Ya, aku baik-baik saja.." Sahut Javer cepat.


"Tuan, sepertinya anda perlu istirahat. Wajah Tuan terlihat sangat merah." Ucap pria yang mengenakan jas berwarna biru.


"Ya, bahkan kini Tuan mulai berkeringat. Sebaiknya tuan pergi untuk beristirahat." Si pria yang memakai jas berwarna hitam pun ikut menimpali.


"Apa Tuan memerlukan bantuan saya untuk mengantarkan Tuan ke kamar?" Tanya si pria yang memakai jas berwarna biru.


Si pria yang memakai jas berwarna biru pun hendak memegang Javer, pria itu berniat untuk memapah Javer karena Javer terlihat kesulitan untuk menjaga ke seimbangan tubuhnya.


Namun, Javer segera menepis tangan si pria.


"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri. Sebaiknya kalian melanjutkan pestanya, aku akan pergi untuk beristirahat." Javer berkata kemudian berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan apa pun lagi.


Karena sunggu, dirinya benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan hawa panas yang semakin lama semakin menjalari tubuhnya.


Javer berjalan ke arah lift dengan langkah yang sedikit limbung karena kepalanya benar-benar terasa berdenyut. Pria itu sedikit menggelengkan kepalanya agar kesadarannya tetap terjaga.

__ADS_1


Hingga saat dirinya sudah berada di depan lift, saat dia hendak menekan tombol agar lift terbuka, dia harus mengurungkan niatnya tat kala mendengar suara seorang perempuan yang memanggil namanya.


"Tuan Javer?" Ucap si perempuan itu yang ternyata adalah pelayan yang sebelumnya memberikan minuman kepada Javer.


Tapi sayangnya, Javer tidak bisa melihat wajah si pelayan itu dengan jelas karena penglihatannya mulai mengabur.


Javer pun sedikit memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya terhadap si pelayan yang berdiri di hadapannya itu.


"Tuan Javer??" Ucap si pelayan itu lagi.


Meskipun Javer sudah berusaha untuk memperjelas penglihatannya, tapi Javer tetap saja tidak bisa melihat dengan jelas wajah si pelayan itu.


"Tuan, apa Tuan baik-baik saja?" Tanya si pelayam itu dengan nada yang terdengar khawatir.


Namun, Javer masih saja mengabaikan si pelayan itu. Dia terlihat masih terus berusaha untuk melihat dengan jelas siapa perempuan itu.


Hingga ketika tangan si pelayan terulur menyentuh punggung jangan Javer dengan tujuan untuk menyadarkan Javer, hal itu seketika membuat Javer menahan nafasnya karena merasakan gelenyar aneh yang tiba-tiba saja menjalari tubuhnya.


Javer pun lantas segera menepis tangan si pelayan, dia kemudian memejamkan matanya untuk sejenak guna menormalkan hawa menggebu yang tiba-tiba saja menghinggapinya.


Tapi, anehnya, ketika Javer kembali membuka matanya, dia tiba-tiba saja melihat refleksi wajah Teya dari si perempuan yang tengah berdiri di hadapannya itu.


"Teya?" Javer menatap si perempuan itu dengan dahi yang sedikit mengernyit bingung.


"Nona Teya? Apa kah Tuan ingin saya mengantarkan anda pada nona Teya?" Tanya si perempuan itu cepat.


"Baiklah, saya akan mengantarkan anda pada nona Teya." Kata si perempuan itu.


Lalu, si perempuan itu pun segera menakan tombol agar pintu lift terbuka.


Saat mereka sudah berada di dalam lift, ketika Javer hendak menekan tombol menuju lantai 25, si pelayan tadi segera menghentikan Javer.


"Tuan, sebaiknya saya saja, saya khawatir anda salah menekan tombol. Tuan akan ke lantai berapa?"


Javer pun tidak membantahnya, pria itu memilih untuk menyandarkan punggungnya pada dinding lift.


"25." Ucap Javer dengan mata yang mengerjap merasakan betapa berdenyut kepalanya saat ini.


Si pelayan yang melihat hal itu pun segera menekan tombol yang menuju lantai 25.


Ketika mereka sudah sampai di lantai 25, saat Javer keluar dari lift, pria itu kini benar-benar limbung karena sudah tiba bisa menahan keseimbangan tubuhnya lagi.


Si pelayan pun akhirnya memilih untuk merngkulkan tangan Javer ke pundaknya.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi sepertinya Tuan memang memerlukan bantuan saya untuk berjalan." Kata si pelayan itu.

__ADS_1


Javer yang memang sudah tidak kuasa lagi menahan ke seimbangan tubuhnya pun tidak menolak bantuan yang di berikan si pelayan.


"Di mana kamar Tuan?" Tanya si pelayan cepat.


"No 250." Sahut Javer dengan suara yang terdengar sangat serak.


Tanpa berkata apa pun lagi, si pelayan itu pun segera memapah Javer.


Namun, yang tidak Javer sadari adalah, si pelayan itu tidak mengantarkannya ke kamar dengan nomor 250, melainkan kamar dengan nomor 245.


Javer yang memang sudah tidak memiliki kesadaran penuh pun hanya menurut ketika si pelayan memintanya untuk masuk ke dalam kamar.


"Di mana Teya?" Tanya Javer cepat setelah mereka masuk ke dalam kamar.


"Ah, nona Teya.. Saya tidak tahu tuan, mungkin saja dia sedang keluar." Sahut si pelayan seraya menuntun Javer untuk duduk di sofa.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan."


Tanpa menunggu jawaban apa pun dari Javer, si pelayan itu pun segera pergi dari sana.


Setelah memastikan pintu itu terkunci rapat, si pelayan itu pun segera menuju kamar dengan nomor 205 dengan langkah lebar.


Saat sampai di kamar yang dia tuju, si pelayan itu pun segera menekan bel kamar itu.


Dan tanpa harus menunggu lama, si penghuni kamar yang ternyata adalah Flow pun membukakan pintu untuk si pelayan itu.


Melihat si pelayan yang datang, lantas membuat Flow sedikit menjulurkan kepalanya dari celah pintu, gadis itu menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan sekitar.


Setelah memastikan kalau tidak ada yang melihat mereka, Flow pun segera menarik si pelayan itu untuk masuk ke dalam kamar.


"Bagimana? Apa obatnya sudah bekerja?" Tanya Flow dengan sangat penasaran seraya menutup pintu kamar itu.


Ya, dalang di balik Afrodisiak yang di berikan oleh si pelayan itu untuk Javer adalah Flow.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2