Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Hari Yang Berlalu


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Beberapa waktu pun berlalu.


Setelah alasan di balik obsesi balas dendam yang ingin di lakukan oleh Fier dan kebenaran atas kejadian di masa lalu terungkap. Kini Javer hanya perlu memikirkan tentang langkah seperti apa yang harus dia lakukan untuk mengatasi rencana balas dendam yang akan di lakukan oleh Fabio.


Namun, setelah menunggu hingga hari ini pun, Javer sama sekali belum bisa membaca tanda-tanda pergerakan dari Fabio maupun Fier.


Untuk Eliza sendiri, dia sudah bisa menerima semuanya. Dia juga sudah bisa berdamai dengan segala sesuatu yang terjadi pada kala itu. Dan kini, Eliza memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan mengabdi pada keluarga Griffiths sebagai pelayan pribadi Athena.


Awalnya, Athena melarang keras hal itu. Athena memang meminta Eliza untuk tinggal bersama dengannya. Tapi Athena tidak meminta Eliza untuk menjadi pelayan pribadinya atau untuk bekerja pada keluarga Griffiths.


Yang Athena inginkan hanyalah Eliza yang menjalani kehidupan layak seperti orang normal pada umumnya. Athena juga sudah berkata kalau harta keluarga Griffiths tidak akan habis jika hanya untuk membiayai seluruh kehidupan Eliza hingga tua nanti.


Namun, Eliza menolak hal itu. Eliza ingin membayar kehidupan layak yang di berikan oleh Athena dengan menjadi pelayan pribadi wanita itu.


Eliza tidak tahu, kalau sebenarnya, Yama lah yang terlebih dahulu menyarankan Eliza untuk tinggal bersama dengan mereka. Eliza juga tidak tau kalau sebenarnya Yama mengusulkan hal itu karena Yama ingin mengganti kehidupan pahit Eliza yang terjadi secara tidak langsung karena dirinya.


Namun, meskipun begitu, Yama melarang semua orang untuk mengatakan hal itu pada Eliza. Yama ingin Eliza cukup tau kalau semua itu Athena yang memintanya.


.....


"Javer?" Ucap Teya.


"Hm?" Javer yang tengah duduk di sofa pun menoleh pada Teya yang tengah berbaring di atas kasur.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Teya.


Javer menaikkan sebelah alisnya. "Soal apa?"


Teya mengernyitkan dahinya. "Soal Fabio dan Fier.. Apa lagi? Bukan kah kau pernah berkata kalau kakek tua Robert memintamu untuk membawa Fier ke hadapannya dalam keadaan selamat?"


Javer lantas beranjak dari sana kemudian mendekati Teya, pria itu duduk di tepi kasur tepat di samping Teya.


"Entahlah, aku juga tidak terlalu yakin soal itu. Biarkan Zia Mona yang menjelaskan semuanya pada Kakek tua Robert." Javer berkata seraya mengelus kepala Teya.


"Tapi Javer, masih ada satu hal yang ingin aku pertanyakan padamu." Kata Athena seraya beringsut untuk tidur miring agar menghadap ke arah Javer.

__ADS_1


Javer lantas menaikkan sebelah alisnya.


"Apa kau tau siapa orang yang memberimu Afrodisiak?" Teya bertanya dengan di penuhi rasa penasaran yang sangat tinggi.


Javer mengedikkan bahunya. "Kau mengenalnya dengan sangat baik. Kau bahkan selalu mengeluh tentang dia padaku."


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Javer, seketika saja membuat Teya mengernyitkan dahinya karena merasa bingung. Gadis itu tampak berpikir untuk beberapa saat.


Gadis itu berpikir mengenai siapakah orang yang sering dia keluhkan pada Javer. Hingga ketika dia mengingat 1 nama, dia menatap Javer dengan wajah yang sedikit terkejut.


"Flow?" Ucap Teya.


Javer menganggukkan kepalanya.


"Dari mana kau bisa mengetahuinya?" Teya bertanya dengan sedikit bingung.


"Oh come on babby.. Apa kau lupa siapa aku?" Javer mencubit pipi Teya dengans sedikit gemas.


"Ck, kenapa kau akhir-akhir ini sering sekali mencubit pipiku?" Gadis itu menyingkirkan tangan Javer yang tak kunjung melepaskan pipinya.


Javer terkekeh kecil. "Entahlah.. Pipimu akhir-akhir ini sedikit lebih berisi dari biasanya. Aku tidak tahan untuk tidak mencubit pipimu."


Teya seketika saja menatap Javer dengan mata yang memicing tajam. "Ck, apa kau secara tidak langsung mengatakan kalau aku bertambah gemuk?" Gadis itu berkata dengan sedikit ketus.


Mendengar penuturan Javer, sontak saja membuat Teya menatap pria itu dengan wajah melongo tak percaya. Tapi, jika di pikir kembali, Teya juga menyadari. Setiap dia bercermin, dia merasa kalau dada dan pinggulnya semakin berisi.


"Apa kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" Javer menaikkan sebelah alisnya.


Teya kini mengernyitkan dahinya. "Apa yang ingin kau buktikan?"


"Kalau apa yang aku katakan tentang tubuhmu itu benar.." Javer berkata seraya beringsut untuk mengungkung Teya.


"Yak!! Apa yang akan kau lakukan!!" Gadis itu berteriak seraya berusaha melepaskan diri dari bawah kungkungan Javer.


Alih-alih menyingkir, Javer justru mencengkram kedua tangan Teya di atas kepala gadis itu menggunakan tangan sebelah kirinya.


"Haissshh!! Yakkkk!!! Javer menying, ngeeeehh!!" Teya Seketika melenguh pelan tat kala tangan kanan Javer meremas dadanya yang sebelah kiri.


"See, bahkan tanganku kini sudah tidak bisa menangkup dadamu secara keseluruhan." Pria itu berkata dengan acuh tak acuh seolah tidak memiliki dosa sedikit pun.


Saat Javer hendak melanjutkan aksinya ke hal yang lebih jauh, Teya segera menghentikannya.

__ADS_1


"Tunggu Javer.. Pukul berapa ini?" Tanya Teya.


Javer seketika saja mengernyitkan dahinya. Untuk apa gadis itu menanyakan waktu di saat seperti ini. Bukan kah mereka biasanya melakukan tanpa melihat waktu?


Namun, Javer tetap menoleh ke arah jam yang terpasang di dinding.


"Sekarang pukul 4 sore. Why?" Kata Javer.


Mendengar waktu yang kini sudah menunjukkan pukul 4 sore, lantas membuat Teya menyingkirkan Javer dalam satu kali gerakan hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai.


"Hei babby.. Apa yang kau lakukan?" Javer bertanya seraya menatap Teya dengan sangat tajam.


"I'm sorry.. But, sepertinya kita tidak bisa melakukan hal ini sekarang." Gadis itu menyahut seraya beranjak dari atas tempat tidur.


"Yak, yak, yak.. Mau kemana kau?" Javer bertanya dengan sedikit meninggikan nada suaranya karena Teya sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Teya lantas menjulurkan kepalanya dari celah pintu kemudian berkata. "Aku akan menemui teman-teman ku.. Apa kau lupa kalau hari ini Gena akan melakukan fitting untuk gaun pertunangannya??"


Ya, beberapa hari lagi Gena dan Liam akan melangsungkan acara pertunangan. Dan hari ini adalah hari di mana Teya harus menemani Gena melakukan fitting untuk gaun pertunangannya.


Javer lantas beranjak dari sana kemudian berjalan menghampiri Teya. "Apa kita tidak bisa melakukannya terlebih dahulu? Dia sudah terlanjur berdiri tegak."


Teya menatap Javer dengan menaikkan sebelah alisnya. "Haruskah?"


Javer mengangguk tanpa ragu.


"Baiklah.. Kemarilah.." Teya berkata dengan nada genitnya.


Namun, saat Javer hendak masuk ke dalam kamar mandi. Teya terlebih dulu menutup pintu hingga membuat hidung pria itu terantuk pintu.


"Haishh!!" Javer mengusap hidungnya yang terasa sedikit sakit.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2