
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Teya yang tengah bersedekap dada itu sekilas menoleh pada Javer. "Kenapa kau tersenyum?" Gadis itu bertanya dengan ketus pada Javer yang sedari tadi tidak menghilangkan senyum kecilnya.
Javer yang kini tengah mengemudi pun melirik Teya sekilas. "Apa kau cemburu?" pria itu bertanya dengan acuh tak acuh.
Yang mana, hal itu seketika membuat Teya menatap Javer dengan sangat tajam. "Pertanyaan macam apa itu!! Apa kau bodoh!! Siapa yang tidak cemburu jika pasangannya di tempeli seorang gadis bak lintah penghisap darah.." Gadis itu berkata dengan sangat bersungut-sungut.
Namun, hal itu justru membuat Javer terkekeh geli.
"Apa yang kau tertawakan!!" sungut Teya.
Javer yang melihat hal itu semakin tak kuasa menahan kekehannya. "Kau tau babby.. Kau tampak menggemaskan ketika merasa cemburu.."
"Tcih!! Menggemaskan kepalamu!! Mendapatkan balasan, baru tau rasa kau!!" Teya bergumam seraya memalingkan wajahnya.
"Wooo.. *I'm Just kidding, babby.. *Don't do anything bad, ok.."
(*Aku hanya bercanda, sayang.. Jangan melakukan sesuatu hal yang buruk, ok..)
"Tch.. Whatever!!"
Javer pun hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal kemudian memfokuskan dirinya untuk mengemudi.
.....
Di sisi lain...
Seperginya Teya dan Javer, Gena dan Hana pun memutuskan untuk segera kembali ke kediaman mereka masing-masing.
"Be careful girl.." Ucap Hana pada Gena yang hendak melajukan mobilnya.
"Yeah.. You too girl.." Sahut Gena kemudian melambaikan tangannya.
Gena pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang terbilang cukup lengang.
Namun, ketika Gena melewati jalanan yang cukup sepi, dia tiba-tiba mengerutkan keningnya tat kala mobilnya terasa tidak seimbang.
"Wait, what!! Kenapa dengan mobil ini!!" Gena bergumam seraya menepikan mobilnya.
Gena lantas turun dari dalam mobilnya untuk mengecek apa yang salah. Gadis itu seketika berkacak pinggang saat melihat salah satu ban mobilnya yang bocor.
"Oh ayolah.. Kenapa kau harus merusak hari baikku!!" Gadis itu menggerutu seraya menatap ban mobil itu dengan sangat tajam.
"Haisssh!!!"
Gena yang merasa sangat kesal pun menendang ban mobil itu.
__ADS_1
"Ohhh, fuc..k!! Ini menyakitkan.." Gadis itu mengumpat seraya memegang ujung kaki kirinya yang terasa berdenyut.
Gena kemudian perlahan menurunkan kakinya ketika ada satu mobil yang berhenti tepat di belakang mobilnya. Gadis itu lantas menatap mobil itu dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Ooh, wow.." Gadis itu bergumam tat kala seorang pria gagah turun dari mobil itu.
"Apa ada sesuatu yang salah? Sangat tidak baik ketika seorang gadis berhenti di jalanan yang cukup sepi seperti ini.." Pria itu berkata seraya melepaskan kaca mata hitamnya.
"Nona.." Pria itu kembali berkata seraya mengibaskan tangannya di depan Gena karena gadis itu tidak merespon perkataanya.
"Aaa, ya, yaaa.." Gena tersenyum canggung seraya mengangguk-anggukan kepalanya. "Seperti yang kau lihat.. Aku mendapatkan sedikit musibah.." Gadis itu berkata seraya mengusap tengkuknya canggung.
Pria itu pun menatap ban mobil itu untuk sejenak. "Apa kau membawa ban cadangan?"
"Ya, aku membawanya.." Jawab Gena cepat.
"*Do you need help?"
(*Apa kamu membutuhkan bantuan?)
"Yeees.. I do.. But, apa aku tidak menganggu waktumu?" Gena bertanya dengan sedikit ragu.
"Ofcours not.. Kalau begitu aku akan membantumu, bisa kah kau membuka bagasi mobilmu?"
"Yeah, sure.. Wait a second.." Ucap Gena lalu segera menghampiri kemudi untuk membuka tombol bagasinya.
Setelah bagasi terbuka, pria itu lalu mengeluarkan ban mobil cadangan beserta peralatannya kemudian mulai mengganti ban mobil tersebut.
Gena yang memperhatikan kegiatan pria itu pun seketika meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat keringat yang mengalir melewati tengkuk pria itu.
Sungguh, tangan Gena benar-benar terasa sangat gatal karena ingin sekali rasanya dia mengelap keringat yang membasahi leher dan tengkuk sexy pria itu.
Uuughhh.. Membayangkannya saja membuat Gena benar-benar merasa sangat gemas.
Namun, lamunannya harus buyar tat kala pria itu selesai mengganti ban mobilnya.
"Apa sudah selesai?" Gena bertanya seraya mengedip-ngedipkan matanya.
Pria itu pun tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"Wow.. It's so fast.." Ucap Gena.
Si pria yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh kecil. "Ini pekerjaan mudah.. Lagi pula, ini hanya mengganti ban mobil, bukan mengganti mesin mobil.." Pria itu berkata seraya memasuk-masukkan kembali peralatan itu ke dalam bagasi mobil Gena.
"Ah ya.. Tapi, terima kasih banyak karena telah membantuku.. Aku tidak tau harus membalasnya dengan apa.." Gena berkata dengan tidak enak hati.
Selesai memasukkan alat-alat itu, si pria lantas menatap Gena dengan senyum kecilnya. "Kau bisa membalasku dengan segelas kopi, or.. *Maybe something that can be used as a companion for conversation?"
(*Sesuatu yang bisa di jadikan pendamping untuk berbincang.)
Gena membalas senyuman pria itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Sure.. Apa kau ingin mendapatkan kopi itu sekarang?"
__ADS_1
"Jika kau merasa tidak keberatan.."
"Aku sama sekali tidak keberatan." Sahut Gena cepat.
"Baiklah, kau bisa menentukan tempatnya."
"Ok.." Gena menganggukkan kepalanya. "Kau bisa mengikutiku dari belakang.."
"Ok.."
Mereka lalu masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Namun, belum sempat pria itu masuk ke dalam mobil, Gena segera menghentikan pria itu.
"But wait.." Ucap Gena.
Pria itu lantas menoleh pada Gena.
"Can i know your name? Akan sangat tidak lucu jika kita.. Yeah, you know.."
Pria itu pun tersenyum simpul. "You can call me Liam.."
Yup.. Pria gagah nan sexy itu adalah Liam Thonson.. Dia yang tengah melepaskan penat dengan berkeliling kota, seketika memelankan laju mobilnya tat kala melihat seorang gadis yang tengah menggerutu seraya menatap ban mobilnya yang bocor.
Awalnya, Liam hendak mengabaikan gadis itu. Namun, entah kenapa, ketika melihat kelakuan konyol gadis itu yang menendang ban mobilnya, seketika membuat Liam tertarik hingga membuat pria itu terkekeh kecil.
Karena seperti yang kita ketahui, Liam merupakan seseorang yang acuh tak acuh terhadap seorang gadis. Namun, ketika melihat Gena, entah kenapa seketika membuat rasa penasarannya timbul.
Dan ya.. Begitulah, Liam pun akhirnya memutuskan untuk membantu gadis itu..
Gena yang sudah mengetahui nama Liam pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Ok.. Liam.."
"Lalu??"
"Ah ya.. Kau bisa memanggilku Gena.."
"Ok.." Ucap Liam.
Gena pun segera masuk ke dalam mobilnya. Begitu pun dengan Liam.
Mereka lalu mulai melajukan mobil mereka dengan kecepatan sedang, menuju suatu tempat untuk melanjutkan perbincangan mereka.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..