
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sebelumnya...
"Ah ya, Tuan Javer. Jika anda berkenan, saya ingin mengenalkan putra saya yang nantinya akan menggantikan posisi saya di perusahaan." Horis berkata kemudian meminta si pria yang datang bersamanya untuk memperkenalkan diri pada Javer.
Pria itu pun mengulurkan tangannya pada Javer. "Fabio El Dorado." Pria itu berkata kemudian menyunggingkan senyum simpulnya.
....
"Javer." Sahut Javer seraya menyambut uluran tangan Fabio.
Mereka yang ada di sana kecuali Horis pun mulai merasakan hawa-hawa dingin yang menusuk kulit mereka akibat tatapan permusuhan yang saling di lontarkan oleh Javer dan Fabio.
Setelah melewati perbincangan yang cukup kaku, Horis yang perlahan mulai menyadari hawa ketegangan itu pun segera berpamitan untuk bergabung dengan kolega bisnis yang lainnya.
"Kalau begitu, ijinkan saya untuk bergabung dengan yang lainnya." Ucap Horis.
Javer pun hanya menatap Horis lalu menganggukkan kepalanya.
Namun, saat Horis dan Fabio akan berlalu pergi. Horis sempat melirik Javer dan Liam seraya menampilkan seringaian tipisnya. Seringaian tipis tanda permusuhan yang hanya bisa di sadari oleh Javer dan Liam.
Yang mana, hal itu seketika membuat dada Liam berdetak dengan sangat cepat entah karena alasan apa.
Tapi beda hal nya dengan Javer, pria itu terlihat sangat tenang dalam menghadapi situasi yang sangat tegang ini.
Hingga tepat setelah Horis dan Fabio pergi, Kheil yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu pun segera menghampiri Javer.
"Jadi ini alasan kau sangat yakin jika acara ulang tahun perusahaanmu tidak akan terganggu?" Kheil bertanya seraya menatap Fabio yang terlihat tengah berbincang dengan beberapa tamu undangan yang ada di sana.
"Tunggu dulu, jadi kau sudah mengetahuinya?" Athena segera menyela Javer yang hendak menjawab pertanyaan Kheil.
Javer pun menatap Athena lalu menganggukkan kepalanya.
"Sejak kapan kau mengetahui hal itu?" Tanya Liam.
"Sejak Horis bersikukuh untuk mengakuisisi anak cabang perusahaanku yang ada di paris." Javer menjawab dengan santainya.
"Jadi kau melakukan penyelidikan tanpa memberitahu kami?" Tanya Kheil.
Javer lantas meneguk anggurnya lalu tersenyum simpul. "Bukan kah kalian menyukai kejutanku?"
__ADS_1
Mereka yang ada di sana pun hanya menatap Javer dengan penuh rasa tidak percaya. Karena hingga saat ini, mereka sama sekali tidak bisa menebak tentang apa yang ada di pikiran Javer.
Bahkan untuk Athena sendiri, meskipun Athena adalah ibu kandung Javer. Sejak Javer kecil hingga sekarang, Athena juga sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Javer.
Karena sungguh, Javer terlalu pintar menyembunyikan tentang segala hal yang ada di dalam pikirannya.
.....
"Jadi luka yang kau dapatkan di telapak tanganmu itu hasil dari mengejar pria itu?" Teya bertanya seraya masuk ke dalam rumah dengan langkah yang terlihat sedikit kesal.
Ya, tepat setelah Javer mengatakan tentang kejutannya, Teya meminta Javer untuk mengantarkannya kembali ke rumah. Dan selama dalam perjalanan pulang, Teya memaksa Javer untuk menceritakan semua kepadanya. Dan ya, kini Teya tau tentang bagaimana Javer mendapatkan luka di telapak tangannya.
Javer yang melihat hal itu pun seketika mengerutkan keningnya. "Babby, kenapa kau terlihat kesal sekali?"
Teya lantas menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap Javer yang juga menghentikan langkahnya.
"Aku? Kesal? Haha.. Tidak!!" Gadis itu berkata dengan sangat ketus kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan emosi yang di tahan.
Javer yang melihat hal itu pun hanya mengikuti langkah Teya dengan kebingungan yang tercetak jelas di wajahnya.
Saat memasuki kamar, Javer lantas duduk di sofa dan membiarkan Teya yang hendak membersihkan diri. Javer berniat untuk membahas hal ini setelah Teya sedikit mendinginkan tubuhnya.
Karena sungguh, Javer benar-benar tidak bisa menebak tentang apa yang menjadi alasan Teya terlihat sangat kesal.
Setelah Teya selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Javer pun meminta Teya untuk menghampirinya.
Teya yang hendak naik ke tempat tidur pun mengurungkan niatnya kemudian menatap Javer yang masih duduk di sofa.
"Apa?"
"Duduklah.." Ucap Javer seraya menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya.
Teya menghela nafasnya kemudian menghampiri Javer. Saat gadis itu hendak duduk di samping Javer, Javer sudah lebih dulu menarik Teya agar duduk menyamping di pangkuannya.
"Javeeer.. Apa yang kau lakukan?" Gadis berusaha beranjak dari pangkuan Javer.
Namun, Javer menahan Teya dengan memeluk pinggang gadis itu.
"Duduk dengan benar dan bicaralah, apa yang membuatmu kesal, hmm?"
"Aku.. Emmm.. Aku tidak tau." Teya berkata dengan sangat lirih.
Karena ya.. Kalau boleh jujur, Teya juga tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba merasa kesal. Hanya saja, setelah mendengar Javer mendapatkan luka dari Fabio, Teya merasa seperti Javer sedang menghadapi bahaya yang besar.
Mungkinkah Teya merasa khawatir? Tapi.. Ah, entahlah, Teya terlalu sulit untuk menjelaskan perasaannya.
__ADS_1
Teya lantas menghela nafasnya kemudian menundukkan kepalanya.
Yang mana, hal itu seketika membuat Javer menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kini aku benar-benar tidak tau apa yang ada di dalam pikiranmu, babby.."
"Aku sendiri pun tidak tau." Sahut Teya cepat masih dengan nada suaranya yang sangat lirih.
Javer yang mendengar itu pun seketika terkekeh geli.
"Ck, apa yang kau tertawakan!!" Teya berkata seraya memukul pelan dada bidang Javer.
"Tidak, hanya saja, wajah cemberutmu terlihat sangat menggemaskan."
"Ck," Teya lagi-lagi memukul dada bidang bidang Javer dengan gemas.
Yang mana, hal itu pun lagi-lagi membuat Javer terkekeh geli. "Baiklah-baiklah, sekarang coba deskripsikan, apa yang membuatmu merasa kesal, hmmm.."
"Entahlah, mungkin aku hanya merasa khawatir."
"Apa yang kau khawatirkan? Apa sekarang kau meragukanku?"
Teya lantas menatap Javer dengan tatapan yang sulit di artikan. "Tidak.. Hanya saja, jika pria itu berhasil melukaimu, bukan kah itu berarti dia sangat berbahaya? Dan juga, jika dia berada di bawah kuasa Horis. Bukan kah itu berarti dia juga memiliki kekuasaan yang cukup untuk melawanmu? Terlebih lagi ketika tadi dia menunjukkan seringaian tipisnya padamu. Benar-benar membuatku merasa khawatir juga merasa kesal."
Dan ternyata, selain Javer dan Liam, Teya juga menyadari seringaian tipis yang di tunjukkan oleh Fabio.
"Kau menyadarinya?" Javer bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Teya pun menganggukkan kepalanya.
Javer lantas menghela nafasnya kemudian menarik kepala Teya agar bersandar di dadanya. "Jangan terlalu di pikirkan, ok.. Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja dan akan selalu melindungimu, hmm.." Pria itu berkata seraya mengelus kepala Teya dengan lembut.
"Tapi.."
"Cukup percaya padaku, ok." Javer segera memotong perkataan Teya.
Teya yang mendengar hal itu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia akan berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal ini dan mempercayakan semuanya pada Javer. Pria yang selama ini selalu ada untuk melindunginya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..