
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Gena yang tengah duduk di depan cermin, sekilas melirik pada Teya yang tengah duduk di tepian kasur bersama dengan Hana.
"Te, apa dulu kau se gugup ini?" Gena bertanya kemudian.
Teya yang tengah bermain ponsel pun meletakkan ponselnya kemudian menatap Gena. "Kau bertanya sesuatu?"
"Apa dulu kau se gugup ini?" Gena mengulangi pertanyaannya.
Teya lantas menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau lupa kalau dulu aku bertunangan atas dasar pemaksaan?"
Gena seketika saja menghela nafasnya. "Ah ya, aku melupakan hal itu."
"Apa kau benar-benar gugup?" Hana bertanya seraya mendekati Gena.
"Ya.." Gena menganggukkan kepalanya. "Sangat gugup.. Bahkan kedua tangannya rasanya sangat-sangat dingin."
"Benarkah? Biar ku periksa." Hana berkata kemudian menggenggam kedua tangan Gena yang memang terasa sangat dingin.
"Kau merasakannya?" Tanya Gena.
Hana menganggukkan kepalanya. "Apa kau baru saja menggenggam es batu?" Gadis itu bertanya dengan dahi yang sedikit mengernyit.
"Tcih!" Gena memutar bola matanya malas. "Bukan kah candaanmu terlalu kaku?"
Hana mengangkat bahunya acuh. "Setidaknya kau bisa sedikit tersenyum."
"Ya, sedari tadi aku hanya melihat wajah cemberutmu. Bukan kah seharusnya kau tersenyum di hari pertunanganmu." Timpal Teya.
"Aku hanya merasa sedikit gugup ok.." Kata Gena.
"Oh ayolah.. Jangan seolah kau hendak pergi untuk berperang, Ge. Tenangkan dirimu, okay.. Anggap saja pertunanganmu dan Liam hanya di lihat oleh kita. Jadi kau tidak akan terlalu gugup." Kata Teya.
Ketika Gena hendak menyahuti perkataan Teya, gadis itu harus menelan kembali kalimatnya tat kala ibunya masuk ke dalam kamar.
"Hai aunty.." Ucap Teya.
"Hai girl.. Apa kalian sudah siap? Acaranya sudah di mulai. Kalian harus turun sekarang juga." Sahut Rose.
"Ah ya, kita akan turun sekarang." Ucap Hana.
Gena dan Teya pun menganggukkan kepala.
Mereka lantas segera turun menuju ballroom, di mana acara pertunangan Liam dan Gena di adakan.
__ADS_1
Acara pertunangan Liam dan Gena di adakan di salah satu hotel milik keluarga Griffiths.
Awalnya, mereka hendak melangsungkan acara pertunangan di kediaman milik Gena.
Namun, karena Gena ingin mengadakan pesta dansa setelah acara penyematan cincin. Mereka pun akhirnya sepakat untuk melangsungkan acara pertunangan di salah satu hotel milik keluarga Griffiths yang di lengkapi dengan ballroom.
"Te, apakah sebaiknya aku kembali ke kamar saja? Aku benar-benar gugup.." Gena berbisik seraya meremat lengan kanan Teya yang di gandengnya.
"Haruskah ku musnahkan tamu ini satu persatu agar kau merasa sedikit lebih rileks?" Teya menyahut dengan acuh tak acuh.
"Yak, haish!! Apa kau gila!" Bisik Gena dengan sedikit kesal.
"Sudahlah, hadapi saja.. Kau akan bertemu dengan calon tunanganmu ge, bukan dengan psikopat!" Kata Hana.
"Aku justru lebih memilih untuk bertemu dengan psikopat dari pada harus berhadapan dengan Liam. Oh Tuhan, kalian lihat betapa gagahnya dia.." Gena berbisik dengan gemas.
Teya dan Hana seketika memutar bola mata malas.
"Kalau begitu, anggaplah dia sebagai seorang psikopat!" Teya berkata seraya menempatkan Gena agar berhadapan dengan Liam.
Teya dan Hana lantas meninggalkan Gena menuju kursi yang tersedia untuk para tamu.
"Apa kau gugup?" Liam bertanya seraya mengembangkan senyum kecilnya.
Gena menatap Liam dengan sedikit memelas kemudian perlahan menganggukan kepalanya.
Liam kembali menyunggingkan senyum kecilnya. "Calm down okay.. Anggap saja hanya ada kita berdua di sini."
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Liam terkekeh geli.
Saat ini, waktunya untuk menyematkan cincin. Sang pembawa acara pun meminta Liam dan Gena untuk saling menyematkan cincin.
"*Thank you for being my life partner." Liam berkata seraya menyematkan cincin di jari manis tangan kiri Gena.
*Note : Terima kasih telah menjadi pasangan hidupku.
Gena lantas menyunggingkan senyum manisnya. "*Thank you for trusting me to be your life partner." Gadis itu berkata seraya menyematkan cincin di jari manis tangan kiri Liam.
*Note : Terima kasih karena telah percaya padaku untuk menjadi pasangan hidupmu.
"Can i kiss you?" Bisik Liam seraya menatap mata Gena dengan penuh cinta.
Gena tersenyum malu kemudian menganggukkan kepalanya.
Mendapatkan persetujuan dari sang calon istri, lantas membuat Liam perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Gena. Pria itu menempelkan bibirnya pada belahan bibir Gena yang lembut. Kecupan itu kini berubah menjadi ******* lembut.
Yang mana, hal itu sontak saja mengundang tepuk tangan dan sorak sorai dari para tamu undangan yang hadir.
Gena yang masih menyadari keberadaan mereka sekarang ini meminta Liam untuk segera menyudahi lumatannya dengan menepuk kecil dada pria itu.
__ADS_1
Liam pun akhirnya melerai lumatannya meskipun dengan sedikit enggan.
Mereka lantas menghadap ke arah para tamu undangan kemudian mengangkat tangan kiri mereka, menunjukkan cincin couple yang terpasang di jari manis mereka. Pertanda kalau mereka kini sudah saling mengikat satu sama lain.
"Kapan kau akan menyusul kami?" Tanya Teya pada Hana yang kini terlihat tengah mengelap sudut matanya.
"Tanyakan hal ini pada kakakmu.. Kapan dia akan memberikan kepastian padaku, bukan malah terus-terusan bermain bersama dengan para ****** di luar sana!!" Hana menyahut dengan sedikit ketus.
Teya seketika saja menampilkan cengiran lebarnya. "Maaf, aku tidak bisa terlalu membantumu. Tapi aku tetap akan mencoba untuk berbicara dengannya. Kau tau betul kan, aku dan kakakku memiliki sifat keras kepala yang sangat-sangat tinggi."
Hana mendengus sebal. "Ya, dan aku membenci hal itu."
"I'm sorry for this, okay.."
.....
Setelah acara penyematan cincin usai, sang pembawa acara pun kini mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati pesta dansa.
Pesta dansa di awali oleh sang pasangan utama, yaitu Liam dan juga Gena. Mereka berdansa dengan di iringi lagu romantis yang di nyanyikan oleh Elvis Presley yang berjudul Can't Help Falling in Love.
Di susul oleh kedua orang tua Gena, yaitu Rose dan Robby. Lalu di susul lagi oleh Leon dan Calista.
Setelah itu, satu persatu dari pasangan yang ada pun ikut menyusul untuk bergabung dengan sang pasangan utama yang masih berdansa menikmati suasana romantis mereka.
Javer yang tidak ingin ketinggalan dengan yang lainnya pun segera menghampiri Teya guna mengajak gadis itu berdansa.
Teya yang melihat Javer tengah berjalan ke arahnya pun mengembangkan senyum manisnya.
Namun, entah kenapa, Teya tiba-tiba saja mengernyitkan dahinya tat kala merasakan sesuatu seakan melilit perutnya.
"Oh God!" Gadis itu bergumam seraya memegangi perutnya.
Hana yang melihat hal itu pun menatap Teya dengan khawatir. "Te, are you okay?"
Namun, alih-alih menjawab, gadis itu memilih untuk segera beranjak dari sana kemudian melangkah menuju kamar mandi dengan langkah yang sedikit tergesa.
"Te, kau mau kemana?" Tanya Hana dengan sedikit bingung.
Javer yang melihat hal itu pun seketika menghentikan langkahnya seraya menatap Teya dengan tatapan bingung.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..