Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Gigitan Singa Jantan Liar


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Sebelumnya..


Tapi, lama kelamaan, Teya mulai merasa tidak sabar ketika memperhatikan sikap Akira yang kian lama kian berani melakukan kontak fisik dengan Javer.


Karena entah kenapa, hal itu membuat hati Teya yang sebelumnya terasa panas kini kian memanas.


Yang mana, hal itu membuat tangan kanan Teya tanpa sadar terangkat untuk meremat lengan kiri Javer. "Sayang, bisa kah kita cepat kembali? Kepalaku tiba-tiba saja terasa sedikit pusing"


.....


Akira seketika menatap Teya dengan tatapan terkejutnya tat kala mendengar gadis itu mengucapkan kata Sayang. "Sayang??" Akira bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Teya lantas menatap Akira dengan senyum yang sedikit di paksakan. "Ah.. Maaf, aku lupa mengakatan jika aku adalah tunangan Javer"


"Tapi.. Aku tidak mendengar kabar tentang pertunangan Tuan Javer dengan Nona, bukan kah itu berarti tuan Javer tidak mengakui Nona sebagai tunangannya"


Bibir Teya sedikit berkedut ketika mendengar nada bicara Akira yang sedikit pongah. Gadis itu lantas menatap Akira dengan sinis.


Sedangkan Javer, pria itu diam-diam mengulum senyumnya saat melihat reaksi Teya yang sedikit di luar ekspetasinya.


Tapi, ketika Teya hendak menyahuti perkataan Akira, Mr.Yokotama sudah lebih dulu berkata. "Maafkan perkataan putri saya yang sedikit kurang ajar.. Ini salah saya yang belum memberitahunya tentang kabar pertunangan kalian"


"Akira, cepat minta maaf" Mr.Yokotama kembali berkata seraya menyenggol bahu Akira dengan sedikit kuat.


"Otosaaaan.." Akira merengek sebab merasa enggan untuk meminta maaf.


Mr.Yokotama seketika menatap Akira dengan sangat tajam. "Akiraaaa"


Namun, bukannya mengikuti perintah ayahnya, Akira justru beranjak dari duduknya dengan sedikit kasar kemudian berlalu pergi begitu saja.


Mr.Yokotama yang melihat hal itu pun menatap Javer seraya tersenyum canggung. "Maafkan ketidak sopanan anak saya.. Saya berjanji, hal ini tidak akan terulang lagi. Saya harap, Tuan Javer tidak membawa masalah ini kedalam bisnis kita" ucap Mr.Yokotama.


Setelah mendapat anggukan kepala dari Javer, Mr.Yokotama pun segera berlalu pergi dari sana untuk menyusul putrinya.


Seperginya Mr.Yokotama, Teya melirik Javer dengan sedikit sinis kemudian berlalu pergi begitu saja, tanpa tahu jika Javer kini tengah menatap kepergiannya dengan terkekeh geli.


Saat Teya sudah hampir menghilang dari penglihatannya, Javer pun segera melerai kekehannya kemudian beranjak untuk menyusul Teya, dengan senyum kecil yang terpatri di wajah tampannya.


Haaahhhh... Bukankah menyenangkan ketika satu kali mendayung bisa melewati dua pulau sekaligus???


....

__ADS_1


Sekilas, Javer menatap Teya yang kini sedang memalingkan wajahnya ke arah kanan. Pria itu seketika berdehem guna menahan tawanya ketika melihat Teya yang tengah menatap jalanan kota jepang dari balik kaca jendela mobil dengan mulut yang tidak ada hentinya berkomat kamit.


"Babby.. Apa kepalamu masih terasa pusing?" Javer mencoba berbasa basi untuk mencairkan suasana.


Teya melirik Javer dengan sinis. "Cih.. Jangan hiraukan aku!!"


Mendengar jawaban Teya yang sedikit sinis, membuat Javer tak kuasa lagi menahan kekehannya.


"Apa yang kau tertawakan!!" gadis itu kembali berkata dengan ketus.


"Apa kau marah padaku karena aku menanggapi ocehan Akira?"


Mendengar Javer menyebutkan nama gadis yang membuatnya emosi, seketika membuat darah Teya yang hampir dingin kini kembali mendidih. "Bisa kah kau tidak menyebut nama gadis tidak tau sopan santun itu??"


Javer kembali terkekeh. "Apa kau merasa cemburu??"


Teya seketika menatap Javer dengan sedikit melongo tak percaya. "What!! Aku??" Teya menunjuk dirinya sendiri. "Cemburu?? Haaaaaaa.." gadis itu sedikit menghempaskan tangan kirinya ke udara. "Yang benar saja.. Itu tidak akan pernah terjadi.. Kau terlalu berharap, Tuan"


Javer mengangkat bahunya acuh. "Aku hanya berbicara sesuai dengan fakta.."


Setelah menyadari situasi, Teya lantas bersedekap dada lalu menatap Javer dengan sangat tajam. "Oooh.. Jadi pria tua pemaksa ini sengaja bermain-main denganku.. Okay, lihat saja pembalasan dariku suatu saat nanti.." gadis itu berkata dalam hati.


"Tutup mulutmu, fokus saja mengemudi" Teya berkata kemudian memalingkan wajahnya ke depan.


"Dan jangan tertawa"


.....


Setelah melewati 2 hari di Jepang dengan penuh drama, akhirnya Javer dan Teya pun kini telah kembali ke Itali dan kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Seperti Teya sekarang ini, gadis itu kini tengah berkumpul bersama kedua temannya di sebuah coffee shop yang berada di dekat kampus.


"Menghilang kemana kau selama 3 hari kemarin?" Gena bertanya pada Teya yang kini sedang mencatat materi pelajaran yang kemarin sempat tertinggal.


"Terlalu sulit untuk di jelaskan" Teya menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari buku.


"Tapi.. Sepertinya cukup mudah untuk di jelaskan.." sahut Hana.


Teya yang telah selesai mencatat pun segera merapikan alat tulisnya, kemudian menatap Hana yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Apa?? Kenapa kau menatapku seperti itu??"


Hana mengangkat bahunya. "Aku tidak menatapmu.. Aku hanya menatap tanda merah yang ada di bawah telinga mu" Hana menjawab dengan acuh tak acuh.


Gena menoleh pada Hana dengan tatapan kagum. "Waaaah... Kau juga melihatnya?? Aku kira itu hanya halusinasiku.."


Hana menganggukkan kepalanya. "Hmm.. Aku baru saja melihatnya.. Aku pikir, itu semacam gigitan nyamuk raksasa.."


Teya memejamkan mata seraya menarik nafasnya dalam-dalam kala mendengar sindiran dari kedua temannya yang tidak ada habisnya. "Bahkan setelah aku menutupinya dengan make up, tanda ini masih terlihat juga.. Terkutuklah kau Javer!!!" rutuk Teya dalam hati.

__ADS_1


Flashback On..


Javer menatap Teya yang kini tengah merias diri di depan cermin dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit tubuh mungilnya.



Pict by : Anna Maria Sieklucka


*Note : Anggap aja dia cuma pake anduk ya wakk..


"Apa kau sedang menggodaku babby??" tanya Javer kemudian.


Teya sekilas melirik Javer yang kini tengah menatapnya dengan tatapan lapar melalui pantulan cermin. "Kau saja yang mudah tergoda" gadis itu menyahut dengan acuh tak acuh.


Mendengar jawaban Teya yang seakan menantangnya, seketika membuat Javer tak kuasa lagi menahan rasa gemasnya. Pria itu pun beranjak dari duduknya lalu segera menghampiri Teya. Dan dengan gerakan cepat, Javer menarik tangan Teya kemudian menghimpit gadis itu pada tembok di samping cermin.



Teya yang tidak siap dengan gerakan cepat Javer pun hanya bisa memberontak. Namun, pemberontakannya menjadi sia-sia ketika Javer semakin menekan kedua tangannya dengan sedikit kuat, hingga membuat tubuhnya kini menempel sempurna pada tembok.


"Javer, apa yang kau lakukan, lepaskan aku!!" gadis itu sedikit berteriak seraya tetap berusaha untuk melepaskan diri.


Javer menundukkan kepalanya ke arah telinga kanan Teya. "Kau terlalu menantangku babby.." ucap Javer lalu menjilat daun telinga gadis itu sekilas.


"Yakk, yakk.. Apa yang.. Ngeehh.."


Teriakan gadis itu berubah menjadi erangan tertahan tat kala Javer menghisap leher bagian bawah telinganya dengan sangat kuat.


Puas mengerjai gadisnya, Javer pun melepaskan Teya kemudian berlalu pergi begitu saja.. Meninggalkan Teya yang menatap kepergian Javer dengan sejuta sumpah serapah yang keluar dari mulutnya untuk Javer.


Flashback Of..


Teya lantas menatap kedua temannya yang kini tengah menatapnya dengan menaik turunkan alis mereka.


"Hum hum hum.. Jadi, bagaimana rasanya gigitan nyamuk raksasa??" Gena bertanya dengan nada jahilnya..


"Kalian tau.. Ini bukan gigitan nyamuk raksasa.. Tapi gigitan SINGA JANTAN LIAR!!" ucap Teya kemudian berlalu pergi begitu saja..


Meninggalkan kedua temannya yang kini tengah tertawa puas karena telah berhasil menggodanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2