Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Masih Bisa Dipecahkan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Haish.." Teya menggeser laptop yang tengah menyala yang ada di depannya itu menggunakan tangan kirinya dengan sedikit kasar.


Javer yang melihat hal itu pun menaikkan sebelah alisnya. "What's wrong babby?"


Teya lantas menoleh pada Javer yang tengah berbaring di kasur. "Apa aku benar-benar harus melakukan hal ini? Kepalaku sudah terlalu pusing memikirkan tugas-tugas kuliahku. Dan kini aku harus memikirkan tentang pakaian apa saja yang harus di kenakan oleh gadis itu!!"


Mendengar nada bicara Teya yang sedikit bersungut-sungut, seketika membuat Javer menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Khem," pria itu berdehem kemudian beranjak dari kasur untuk menghampiri Teya yang tengah duduk di karpet yang ada di depan sofa.


Javer lantas duduk di atas sofa kemudian menempatkan tubuh gadis itu di sela-sela pahanya. "Aku tidak benar-benar memintamu untuk bekerja, babby.. Kau bisa menyuruh dia untuk memakai pakaian apa pun yang kau kehendaki. Pakaian yang terlihat norak sekali pun tidak masalah." Pria itu berkata seraya memberikan pijatan pelan pada bahu sempet Teya.


"Bolehkah?" Teya bertanya seraya sedikit memiringkan kepalanya ke arah Javer. Gadis itu menatap Javer dengan sedikit memicingkan matanya.


Javer mengangkat bahunya acuh. "Lagi pula, aku tidak benar-benar menjadikan dia seorang model. Aku hanya ingin mengetahui rencana apa yang akan di jalankan oleh Fabio. Kalau pun nantinya dia terkenal, itu murni karena keberuntungan dia."


"Kenapa kau tidak bilang sejak tadi!!" Gadis itu berkata seraya mencubit betis kiri Javer dengan sangat gemas.


"Aaaassshh.. Babby, kenapa kau suka sekali mencubitku? Hasssh..." Javer meringis seraya mengusap-ngusap betisnya. Sungguh, meskipun Javer memakai cerana training panjang, cubitan yang di berikan Teya kali ini benar-benar terasa sedikit perih.


Lagi pula, Javer heran.. Kenapa semakin hari, cubitan yang Teya berikan semakin keras. Apa tenaga gadis itu semakin bertambah? Atau kah daya tahan tubuh Javer yang semakin melemah? Haaaah.. Sepertinya Javer harus menambah jam olahraganya..


Sedangkan Teya, gadis itu seketika memutar tubuhnya menghadap ke arah Javer. Dia ikut meringis tat kala melihat Javer yang menatapnya dengan sedikit tajam. "Apa kah benar-benar sakit?" Gadis itu mencoba untuk membatu mengusap betis Javer yang sebelumnya dia cubit.


Melihat wajah Teya yang sedikit panik, seketika terlintas pikiran jahil di kepalanya. "Sepertinya aku harus membalas perbuatanmu, babby.."


Tepat setelah mengatakan hal itu, dengan gerakan cepat, Javer mendorong tubuh Teya hingga gadis itu terlentang di atas karpet berbulu yang sangat halus itu.


"Yak yak yak, apa yang akan kau lakukan?" Teya bertanya dengan sedikit panik tat kala Javer mengunci pergerakannya dengan menempatkan kedua kakinya di sela-sela paha pria itu.


"Membalas perbuatanmu." Javer menampilkan smirknya kemudian mulai menggelitik pinggang Teya.


"Yaaaakkkk!! Haha.. Javer hentikan.. Haha, Javer itu geli!! Javer stooooooo!! Hahaa.. Javeeer!!" Gadis itu berusaha untuk menghindari serangan dari Javer dengan tawa renyah yang terus keluar dari mulutnya.


Namun, Javer tidak menghiraukannya. Pria itu terus menggelitik pinggang Teya. Javer benar-benar sangat menikmati tawa renyah Teya yang terdengar sangat merdu di telinganya.

__ADS_1


.....


Di sisi lain..


Flow melangkah menuju ruang kerja Fabio dengan sedikit tergesa-gesa. Gadis itu membuka pintu ruang kerja Fabio dengan sangat kasar.


"Yaakkkk!! Kau.." Flow menunjuk Fabio dengan penuh emosi. "Kenapa kau tidak memberitahuku jika Javer sudah memilik tunangan!!" Gadis itu berkata dengan sangat bersungut-sungut.


Flow lantas berkacak pinggang kemudian menengadahkan kepalanya, menahan perasaan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya.


Fabio yang melihat hal itu pun seketika menaikkan sebelah alisnya. "Bukan salahku, itu salahmu yang sebelumnya tidak bertanya padaku terlebih dahulu." Pria itu bekata dengan acuh tak acuh.


Flow lantas menatap Fabio dengan wajah melongo tak percaya. "Hah!! Jadi semua salahku?? Seharusnya kau memberitahuku terlebih dahulu!!" Gadis itu tiba-tiba saja terisak kecil. "Kau tahu, aku merasa seperti sudah kalah sebelum pergi berperang. Bahkan aku merasa kehilangan muka di depan mereka."


"Mereka?"


"Ya, aku bertemu mereka secara langsung!!" Gadis itu kini semakin terisak.


Fabio yang melihat hal itu pun segera beranjak dari duduknya. Pria itu lantas menghampiri Flow kemudian menuntun Flow untuk duduk di atas sofa. Dia lantas duduk di samping Flow dengan sedikit miring agar menghadap ke arah gadis itu.


"Calm down, okay.. Tarik nafas, buang.. Tarik nafas, buang.." Fabio berkata seraya mempraktekannya, mengajak Flow agar melakukan apa yang dia lakukan.


"Good.. Kau sudah lebih baik?"


Flow menganggukkan kepalanya lalu menoleh pada Fabio. "Tapi hatiku tidak." Gadis itu terlihat mencebikkan bibirnya.


"Ssshhh... Jangan menangis okay.. Kau masih bisa mendapatkan Javer. Jangan menjadi gadis lemah, kau harus menjadi gadis yang kuat." Fabio berkata dengan lembut, berusaha menenangkan gadis yang menjadi sepupu tertulisnya.


*Note : Maksudnya sepupu angkat ya wakk.. Kan si Fabio anak angkatnya Horis.


Gadis itu memalingkan wajahnya dengan sedikit kesal. "Tapi bagaimana caraku melakukannya? Mereka terlihat benar-benar saling mencintai."


Tangan Fabio terangkat untuk memegang kedua pundah Flow. Pria itu meminta Flow agar menghadap ke arahnya.


"Dengarkan aku.. Setebal apa pun kaca anti peluru, jika kau terus menghantamnya dengan sangat kuat, maka kaca itu akan pecah juga. Begitu juga dengan hubungan mereka.. Kau mengerti apa maksudku?"


"Jadi, aku harus menghancurkan hubungan mereka?"


Fabio menganggukkan kepalanya. "Begitulah caranya jika kau ingin mendapatkan Javer. Kau harus menggunakan sedikit usaha untuk mendapatkan apa yang kau inginkan."

__ADS_1


"Tapi aku tidak tahu caranya, rumor tentang Javer yang sangat sulit di sentuh benar-benar nyata. Bahkan tatapannya saja seperti ingin menghabisi nyawaku."


Fabio menghela nafasnya, dia sedikit bingung tentang bagaimana cara untuk meyakinkan gadis yang ada di hadapannya ini. Tapi, Fabio harus mengakui satu hal. Meskipun Flow adalah gadis yang sangat cengeng, tapi dia merupakan gadis yang kuat dan dapat di andalkan dalam segala hal.


"Ingat, kau tidak sendiri, Flow.. Aku ada bersama denganmu, selalu bersama denganmu.. Aku akan selalu membantumu.. Jika kau berhasil mendapatkan Javer, maka aku juga akan berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Bukan kah dari awal kita sudah sepakat untuk saling membantu satu sama lain?" Fabio berkata seraya menatap Flow dengan penuh harap.


"Apa kah aku bisa melakukannya?" Gadis itu bertanya dengan suara yang sedikit tertahan.


Gadis itu tiba-tiba terbayang akan masa lalunya yang sedikit buruk tentang pria.


"Kau belum tau hasilnya akan seperti apa jika kau belum mencobanya."


"Tapi.."


"Jangan terbayang akan masa lalumu yang buruk.. Cukup melihat apa yang akan kau lakukan di masa sekarang dan di masa depan."


Fabio berusaha meyakinkan Flow. Fabio tau apa yang menghambat Flow untuk melakukannya. Karena dulu, Fabio lah yang membantu Flow untuk bangkit dari keterpurukannya akibat seorang pria. Jadi Fabio tau betul tentang apa yang membuat Flow sedikit ragu untuk melakukan hal ini.


"Kau berjanji akan selalu membantuku?"


Fabio menganggukkan kepalanya. "Aku janji.."


"Baiklah, aku akan melakukannya.."


"Gadis pintar.."


Fabio lantas menarik Flow ke dalam pelukannya, dengan seulas senyum simpul yang mengembang di bibirnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2