
...Happy Reading π...
...Hope you enjoyed.......
...----------------...
Seperginya Javer, Teya tidak segera mengistirahatkan tubuhnya. Dia memilih untuk melepaskan hill's yang sebelumnya dia gunakan kemudian berjalan menuju dapur.
"Apakah ada sesuatu yang bisa ku makan?" Gadis itu bergumam seraya membuka kulkas 4 pintu yang ada di sana.
Karena ya, selama beberapa waktu terakhir ini, nafsu makan Teya meningkat dengan sangat drastis. Namun anehnya, Teya sama sekali tidak mengidamkan makanan apa pun. Dia akan memakan apa pun yang tersedia di dalam kulkas. Entah itu berupa camilan, atau makanan berat.
Setelah menggulirkan matanya ke setiap makanan yang tersedia, Teya memutuskan untuk mengambil sekotak cake tiramisu yang ada di sana.
Teya lantas membawa cake itu menuju sofa ruang televisi setelah sebelumnya dia juga mengambil sekotak susu putih. Teya ingin menikmati cake itu seraya menonton drama yang akhir-akhir ini dia sukai.
Setelah meletakkan sekotak susu itu di atas meja, Teya pun duduk di sofa seraya memangku cake itu. Namun, Teya tiba-tiba saja menghela nafasnya karena melupakan suatu hal.
"Haish.. Aku lupa mengambil remotnya." Teya menatap remot televisi yang tergeletak di samping televisi.
Gadis itu pun meletakkan cake itu di atas meja kemudian beranjak dari sana untuk mengambil remot televisi itu.
Setelahnya, gadis itu pun kembali duduk di sofa untuk menonton drama yang dia sukai seraya menikmati cake itu.
Tak terasa, 1 jam pun berlalu begitu cepat. Drama yang di tonton oleh Teya telah usai, bersamaan dengan Javer yang sudah kembali dari pesta. Cake yang sebelumnya Teya nikmati pun sudah habis tak tersisa.
Melihat Teya yang masih duduk di sofa seraya monton televisi, lantas membuat Javer menyunggingkan senyum kecilnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, hm? Bukan kah kau lelah?" Javer bertanya seraya melepaskan sepatu dan juga jasnya.
"Aku baru saja selesai menonton drama yang waktu itu aku ceritakan padamu." Teya menyahut seraya meletakkan piring cake yang masih berada di pangkuannya itu ke atas meja.
Melihat hal itu, seketika saja membuat Javer menaikkan sebalah alisnya. "Kau menghabiskan cake itu sendiri?" Pria itu bertanya seraya duduk di samping Teya.
Teya menampilkan cengiran lebarnya kemudian menganggukkan kepalanya.
Javer pun menyunggingkan senyum kecilnya. "Apa kau masih merasa lapar?" Pria itu bertanya seraya menyelipkan helaian rambut Teya ke belakang telinga gadis itu.
Teya menggelengkan kepalanya. "Perutku sudah cukup penuh untuk menampung makanan yang lainnya."
"Sebaiknya kau segera membersihkan dirimu, biarkan aku yang membersihkan meja."
"Emm.." Teya menganggukkan kepalanya kemudian segera beranjak dari sana.
Teya pun menuruti apa yang di katakan oleh Javer. Gadis itu segera membersihkan tubuhnya yang memang terasa sedikit lengket akibat beraktifitas selama seharian ini.
Setelah menyelesaikan acara mandinya, gadis itu pun menghampiri lemari untuk mengenakan pakaian tidur.
Namun, alangkah terkejutnya dia tat kala membuka lemari itu.
Bagaimana tidak? Bayangkan saja, di dalam lemari itu tidak ada satu pun pakaian layak yang bisa dia gunakan.
Yang dia lihat di dalam lemari itu hanya ada deretan lingeri.
__ADS_1
Pict by : Pinterest
Teya menatap deretan lingeri itu dengan tatapan horor. Teya yakin, dia akan mengalami masuk angin jika harus mengenakan lingeri itu selama semalam penuh.
Karena, oh ayolah.. Sekarang ini merupakan musim dingin, memakai pakaian normal saja Teya sudah merasa sangat kedinginan, apa lagi jika dia harus mengenakan lingeri-lingeri ini.
Teya benar-benar tidak bisa membayangkan akan sedingin apa ketika dia memakai lingeri itu.
Hingga ketika Teya akan menutup lemari itu, dia melihat note kecil yang tertempel di pintu lemari.
Teya lantas membaca deretan kalimat yang tertulis dia atas note itu.
-Selamat menikmati hadiah dari kami-
^^^^^^-Hana, Gena-^^^^^^
"Haishh!! Apa mereka ingin membuatku mati kedinginan!!" Gadis itu menggerutu seraya menutup pintu lemari itu dengan sedikit kasar.
Yang mana, hal itu membuat Javer yang baru saja memasuki kamar sedikit berjengkit karena merasa terkejut. Bahkan hingga membuat susu untuk ibu hamil yang dia bawa sedikit tumpah mengenai tangannya.
"E, eh.. Kau baik-baik saja? Apa tanganmu terbakar?" Teya menghampiri Javer dengan sedikit khawatir.
"Aku baik-baik saja, susu ini hangat. Minumlah sebelum dingin." Javer berkata seraya menyerahkan segelas susu itu pada Teya.
"Maafkan aku." Ucap Teya kemudian menerima segelas susu itu.
"Apa yang membuatmu merasa begitu marah sehingga kau membanting pintu lemari, hmm?" Javer mengelus kepala Teya dengan lembut.
Javer pun menghampiri lemari itu kemudian membukanya.
"Tcih!" Javer seketika saja terkekeh kecil ketika melihat isi lemari itu.
Pria itu semakin terkekeh saat melihat note yang tertempel di pintu lemari.
"Jadi ini yang membuatmu marah?" Javer menoleh pada Teya.
"Hm.." Teya menganggukkan kepalanya. "Apa mereka tidak ingat kalau sekarang merupakan musim dingin! Mereka benar-benar ingin membuatku mati kedinginan!!" Gadis itu berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Javer menaikkan sebelah alisnya. "Lantas, apa kau lupa kalau ada aku yang bisa menghangatkanmu?"
"Uhuk!" Teya seketika saja tersedak ludahnya sendiri. "Ap, apa yang kau katakan!"
Javer perlahan mendekati Teya. "Bukan kah tadi malam kau berjanji akan membiarkanku melakukan apa pun kepadamu malam ini?"
Wajah Teya tiba-tiba saja terasa panas, gadis itu meneguk ludahnya dengan kasar.
"Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu!!" Teya menggerutu di dalam hatinya seraya menatap Javer dengan mata yang mengerjap.
"Kenapa? Apa kau akan mengingkari janjimu, hm??" Javer bertanya seraya menangkup pipi kiri Teya menggunakan tangan kanannya.
Pria itu mengelus pipi Teya menggunakan ibu jarinya. "Kau tau betul, aku benci seseorang yang melanggar janjinya."
__ADS_1
Tangan pria itu perlahan turun menyusuri leher jenjang Teya, semakin turun menuju bahu gadis itu.
"Tidak kah kau ingat kalau malam ini merupakan malam pertama kita sebagai sepasang suami istri?" Pria itu bertanya seraya perlahan mulai menyingkap bathrobe yang di kenakan Teya.
Teya lagi-lagi meneguk ludahnya dengan kasar. "Ja, Javer.. ka, kau tidak lupa kan kalau aku tengah mengandung.. Dan, dan, dan juga.. Em, dok, dokter berkata, kalau kita ti tidak boleh terlalu sering melakukannya karena kandunganku masih di trisemester awal."
Javer menundukkan kepalanya untuk menyesap perpotongan leher Teya.
"Aku ingat babby.. Tidak boleh terlalu sering bukan berarti kita tidak boleh melakukannya, hmm?" Bisik Javer.
"Y, yaa.." Lirih Teya.
Gadis itu mulai tergoda karena Javer terus menyesap perpotongan lehernya dengan lembut.
Javer kembali menegakkan tubuhnya kemudian menatap Teya dengan lembut. "Aku berjanji, aku akan melakukannya dengan lembut."
Teya menatap Javer untuk sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan.
Javer menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menggendong Teya ala bridal.
"Bukan kah lingeri itu akhirnya tetap tidak akan berguna?" Javer bertanya seraya merebahkan Teya di atas kasur secara perlahan.
"Berhentilah menggodaku!" Teya memalingkan wajahnya karena merasa sedikit malu.
Javer lantas mengapit dagu gadis itu kemudian memalingkan wajah gadis itu agar kembali menatapnya.
"Aku suka melihat wajahmu saat tersipu malu seperti ini." Javer mengelus bibir Teya dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
Melihat Javer yang menatapnya dengan sangat intens, benar-benar membuat Teya merasa gugup setengah mati hingga tanpa sadar membuat dia menggigit bibirnya.
Yang mana, hal itu sontak saja membuat Javer tak kuasa lagi menahan hasratnya. Pria itu mulai melu...mat bibir Teya dengan lembut.
Mencurahkan semua rasa yang dia miliki untuk Teya. Rasa yang sejak mereka mengucapkan janji suci sudah menjadi rasa yang berbeda. Rasa yang berkali-kali lipat menjadi rasa yang lebih kuat dari pada sebelumnya.
Pria itu melerai ciumannya kemudian menatap Teya dengan sangat intens. "Aku pernah berjanji sebelumnya kalau aku tidak akan pernah melepaskanmu. Malam ini, aku akan mengulangi janjiku. Kalau bukan maut yang memisahkan, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Teya menyunggingkan senyumnya kemudian menganggukkan kepalanya. "Jangan pernah melepaskanku.." Lirih gadis itu.
Javer membalas senyuman Teya kemudian kembali melu..mat bibir gadis itu.
Luma..tan lembut yang perlahan berubah menjadi luma...tan penuh gairah.
Gairah yang bahkan menguar memenuhi ruangan kamar mereka, mengalahkan hawa malam yang terasa sangat dingin.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..