Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Terlalu Rindu


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Javer!! Apa yang kau lakukan disini??" Teya berbisik dengan gemas pada Javer yang hanya menampilkan smirknya.


"Oh God.. Bagaimana ini, bagaimana kalau orang tuaku tahu kalau kau ada di sini?" Teya menggerutu seraya mendorong Javer kembali ke sofa.


"Lagi pula, dari mana kau datang? Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?? Apa kau menyogok para penjaga yang di tugaskan oleh Daddy Yama??" Teya menatap Javer dengan di penuhi rasa penasaran.


Javer mengangkat bahunya acuh. "Para penjaga tidak menjaga halaman belakang. lagi pula, jendela kamarmu terbuka dengan sangat lebar, babby.."


Teya seketika saja menatap Javer dengan alis yang menukik tajam. "Jadi kau memanjat pagar halam belakang dan memanjat balkon kamarku?"


Javer kembali mengangkat bahunya acuh.


Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya menghela nafasnya. Gadis itu berkacak pinggang seraya menatap Javer dengan sangat tajam.


"Javer, sebaiknya kau pergi sebelum mereka menyadari keberadaanmu. Atau besok tidak akan ada pernikahan untuk kita." Gadis itu berkata dengan sungguh-sungguh.


Namun Javer masih saja mengabaikan gadis itu. Karena di matanya, ocehan yang keluar dari mulut Teya terdengar seperti nyanyian merdu yang selama 2 minggu terakhir ini dia rindukan. Ah, entahlah.. Mungkin Javer merasa terlalu rindu sehingga menjadi gila seperti ini.


Merasa sedikit kesal karena Javer teris mengabaikannya, lantas membuat Teya menggenggam tangan kanan Javer dengan niat untuk menarik pria itu agar segera keluar dari kamarnya.


Namun sayangnya, alih-alih berhasil menarik Javer agar pria itu keluar dari kamarnya. Justru Javer lah yang menarik Teya hingga gadis itu kini duduk di pangkuannya.


Javer lantas menatap kedua mata gadis itu dengan tatapan yang di penuhi sejuta rasa kerinduan.


"Ya, yak!! Javer, apa yang kau lakukan!!" Teya berbisik dengan sedikit gugup.


Karena, entahlah.. Meskipun mereka sudah sangat sering dalam posisi intim seperti ini, tapi Teya tetap saja selalu merasa salah tingkah. Bahkan kini jantung Teya sudah berdetak dengan sangat cepat.


"Ja, Javer.. Sudahlah, lepaskan aku, bukan kah esok adalah hari pernikahan kita.. Sebaiknya kau segera pergi dar.. Hmmmmppp!!!"


Javer segera membungkam mulut Teya dengan sebuah ciuman lembut. Karena sungguh, melihat kedua belah bibir Teya yang terus bergerak akibat ketika gadis itu berbicara, benar-benar membuat Javer tak kuasa menahan keinginannya untuk menyesap kedua belah bibir gadis itu.


"Yakhhmmpp!! Javhhmmpp!!" Teya memukul dada Javer dengan cukup kuat tat kala tangan pria itu kini mulai mengelus punggungnya.


Gadis itu berusaha untuk melepaskan tautan bibir mereka karena kini tangan Javer mulai merambat kemana-mana.

__ADS_1


Hingga akhirnya.


"Tssshh!!" Javer mendesis kemudian melepaskan tautan bibir mereka karena Teya mengigit lidahnya dengan cukup kuat.


Teya memanfatkan kesempatan itu untuk beranjak dari pangkuan Javer.


"Oh God, babby.. Lidahku berdarah!" Javer berkata seraya menatap Teya dengan dahi yang memicing tajam tat kala dia mengecap rasa asin yang sedikit anyir.


"Jangan salahkan aku!! Itu salahmu sendiri yang tidak mau mendengarku!" Teya menyahut dengan sedikit ketus.


Javer menghela nafasnya untuk sejenak kemudian sedikit menundukkan kepalanya. Tangan kanan pria itu lantas terangkat untuk memijat pangkal hidungnya. "Ok, ok.. Maafkan aku, aku terlalu merindukanmu hingga aku sedikit lepas kendali."


"Khem! Apa kau pikir hanya kau saja yang merasakan rindu, aku pun juga merindukanmu." Gadis itu menyahut seraya bersedekap dada.


Mendengar apa yang baru saja Teya katakan, lantas membuat Javer kembali mengangkat kepalanya untuk menatap gadis itu dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Ke, kenapa kau menatapku seperti itu." Teya sedikit memundurkan tubuhnya merasakan betapa mengerikannya tatapan yang di layangnya Javer untuknya.


Javer perlahan beranjak dari sofa seraya berkata. "Kalau kau memang merindukanku. Haruskah kita menghabiskan malam ini bersama?"


Teya memundurkan langkahnya tat kala Javer kini perlahan mulai melangkah mendekatinya.


"Hey, hey, hey.. Bukan seperti itu maksudku.. Aku, yakk!!" Teya berteriak tat kala Javer tiba-tiba saja mendorongnya hingga punggungnya menyentuh permukaan kasur.


"Shhuutt.." Javer menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. "Apa kau ingin orang rumah mengetahui keberadaanku?"


Teya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu tenanglah.." Javer berkata kemudian mulai menyeruakkan kepalanya ke perpotongan leher Teya.


"Javer, hentikan!!" Teya berkata dengan sangat gemas seraya berusaha untuk menjauhkan kepala Javer dari perpotongan lehernya.


Alih-alih menjauh, Javer justru semakin gencar menyesap aroma mawar yang menguar dari tubuh gadis itu.


"Javer, stop!! Jika kau tidak menghentikannya, aku akan berteriak agar semua orang mengetahui keberadaanmu!"


"Ck!" Javer menghela nafasnya kemudian menjauhkan kepalanya dari perpotongan leher Teya. "Bukan kah kau terlalu kejam, babby? Aku benar-benar merindukanmu."


Teya seketika saja memutar bola matanya malas. "Oh C'mon Javer.. Bukan kah besok kita akan menikah.. Setelah ini, kau bisa menyentuhku sepuas hatimu."


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Javer menatap Teya dengan mata yang berbinar. "Sepuas hatiku?" Pria itu mengulangi apa yang baru saja Teya katakan.

__ADS_1


Teya menganggukkan kepalanya. "Ya, sepuas hatimu. Bukan kah besok aku akan menjadi istrimu? Ah tidak, bahkan sebelumnya saja kau sudah menyentuhku di mana pun kau mau."


Ah, seharusnya Teya berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu. Karena lihatlah, betapa lebarnya senyum yang tersungging di bibir Javer setelah Teya mengatakan hal itu.


"Baiklah." Ucap Javer cepat kemudian melepaskan Teya dari kungkungannya.


Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya menyunggingkan senyum kecilnya. Meskipun sejujurnya, di dalam hatinya dia merasa sedikit was-was membayangkan apa yang akan terjadi setelah malam ini terlewati.


Namun, senyum yang tersungging di bibir Teya hilang saat itu juga tat kala Javer kini justru merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Apa yang kau lakukan?" Teya menatap Javer dengan alis yang menukik tajam melihat Javer yang kini memejamkan matanya dengan nyaman.


"Tentu saja tidur, apa lagi?" Sahut Javer tanpa membuka kedua matanya.


"Haish!! Kembalilah ke rumahmu! Jangan tidur di sini!!" Gadis itu berkata seraya menarik Javer agar beranjak dari sana.


Namun, Javer justru menarik Teya hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya.


Sebelum Teya kembali mengeluarkan protesannya, Javer lebih dulu berkata. "Biarkan aku menemanimu hingga kau tertidur. Aku berjanji, aku akan pulang setelah kau tidur, hmm.."


Teya menghela nafasnya kemudian berkata. "Akan ku pegang janjimu."


Gadis itu lantas menyamankan posisinya dalam pelukan Javer. Karena sejujurnya, dia juga merasakan rindu yang teramat dalam akan pelukan hangat yang selalu Javer berikan padanya.


Hingga tak lama kemudian, Javer kini dapat mendengar dengkuran harus dari Teya, pertanda kalau gadis itu kini sudah terlelap dalam tidurnya.


Namun sayangnya, bukannya menepati janjinya, Javer justru ikut terlelap dengan nyaman seraya memeluk gadis itu dengan sangat erat.


Pria itu benar-benar mengabaikan janjinya karena merasa terlena akan pelukan hangat yang Teya berikan.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2