
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Pagi harinya..
"Waaaaah.. Rasanya aku seperti baru saja terbebas dari rantai yang membelenggu..." Teya berkata seraya merenggangkan tubuhnya.
"Seharusnya alat-alat itu masih terpasang di tubuhmu, babby.." Sahut Javer lalu menyesap kopinya.
"Ck.." Teya pun hanya menanggapinya dengan berdecak kesal.
Ya, setelah bangun tidur, Teya memaksa Javer untuk melepaskan semua alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. Meskipun hal itu harus melewati perdebatan yang cukup rumit. Tapi akhirnya Javer mengijinkan Teya untuk melepaskan semua alat-alat medis itu.
Javer lantas beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Teya yang kini tengah duduk di tepian kasur.
"Kalau begitu, kau istirahatlah.. Aku harus mengurus beberapa pekerjaan terlebih dahulu, akan aku usahakan kembali sebelum jam makan malam." Javer berkata seraya mengelus kepala Teya dengan lembut.
Teya menganggukkan kepalanya.
"Ingat, kau belum sembuh total.. Jadi, jangan melakukan hal yang akan menguras banyak tenaga.."
Teya kembali menganggukkan kepalanya.
"Jangan melakukan hal yang akan melukai tubuhmu.."
Teya menganggukkan kepalanya lagi.
"Jangan melakukan hal yang akan membahayakan nyawamu.."
Teya lagi-lagi menganggukkan kepalanya..
"Jangan..."
Teya yang sudah jengah pun memutar bola matanya malas lalu segera memotong perkataan Javer. "Haisssh.. Kenapa kau jadi cerewet sekali.. Cepat, pergilah, aku mengerti.."
Javer pun menghela nafasnya kemudian mengecup puncuk kepala Teya untuk beberapa saat sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana menuju markas.
.....
Sesampainya di markas..
"Di mana Kheil?" Javer bertanya pada Enzo dan Liam yang terlihat tengah menikmati kopi pagi mereka.
Enzo dan Liam menggelengkan kepala.
"Dia pergi sejak 4 jam yang lalu dan belum kembali hingga saat ini." Liam berkata kemudian menyesap kopinya.
Javer yang mendengar hal itu pun seketika menggaruk pelipisnya yang tidak gatal karena dia tau betul kenapa Kheil bisa menghilang dalam waktu berjam-jam..
"Lalu, bagaimana jalurnya?" Javer bertanya seraya mendudukan dirinya di samping Enzo.
__ADS_1
"Jalurnya sedikit sulit untuk di lewati kendaraan.." Enzo menjawab kemudian membuka peta yang semalam dia buat, lalu kembali berkata seraya menunjuk beberapa titik yang sudah di lingkari. "Tapi kita bisa menggunakan helikopter untuk mencapai titik titik tertentu."
Javer menganggukkan kepalanya. "Kapan kita akan bergerak?"
"Hari ini, aku sudah menyiapkan semuanya. Kita bisa berangkat sekarang." Jawab Liam.
Javer kembali menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita berangkat sekarang.."
"Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan Kheil?" Tanya Enzo.
"Kita bisa meninggalkannya.." Jawab Javer.
"Baiklah, mari kita bersiap.." Ucap Enzo.
Mereka lantas segera bersiap dengan berganti pakaian dan memilah senjata apa yang akan di gunakan.
Setelahnya, mereka pun segera masuk ke dalam helicopter untuk menuju tempat yang di maksud oleh kakek tua Robert, bersama dengan 1 helicopter lain yang menampung beberapa bawahan Javer.
Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih sekitar 2 jam lamanya, mereka pun sampai di titik tujuan. Satu persatu orang pun mulai turun dari dalam helicopter.
"Kalian bertiga, tetaplah di sini bersama Liam" Titah Javer pada 3 orang bawahannya.
"Baik Tuan." Ucap 3 orang bawahan itu secara bersamaan.
"Dan kalian, ikuti aku dan Enzo." Titah Javer pada 2 orang bawahan lainnya.
"Baik Tuan." Ucap 2 orang bawahan itu secara bersamaan.
Setelahnya, Javer, Enzo dan 2 orang bawahan Javer pun segera bergerak menuju rumah yang di maksud oleh kakek tua Robert.
"Kau yakin ini jalurnya?" Javer bertanya pada Enzo yang berjalan di depan.
Mendengar pertanyaan Javer, lantas membuat Enzo membuka peta yang di bawanya.
"Ya, kita sudah melewati jalur yang semestinya.. Dan seharusnya kita akan sampai di tujuan dalam 5 menit." Enzo berkata seraya memperhatikan peta dan jalur yang mereka lewati.
"Baiklah.." Ucap Javer.
Dan benar saja, tepat setelah 5 menit berlalu, mereka dapat melihat sebuah rumah yang sama dengan yang ada di dalam foto. Hanya saja, rumah itu memiliki beberapa perubahan. Namun, bentuk dan tata letaknya sama persis seerti dengan yang ada di dalam foto.
Tapi, ketika Enzo hendak mendekati rumah itu, Javer segera menahannya.
"Tunggu dulu, sebaiknya kita awasi dulu dari sini." Ucap Javer.
Enzo pun menuruti perkataan Javer..
Hingga 1 jam pun sudah terlewati, dan tidak ada tanda-tanda orang yang akan keluar ataupun masuk ke dalam rumah itu.
"Sebaiknya kita periksa ke dalam." Ucap Enzo.
Javer pun menganggukkan kepalanya lalu menatap 2 anak buahnya.
"Kalian tunggulah di sini untuk memastikan situasi, biarkan aku dan Enzo yang memeriksa ke dalam." Titah Javer.
__ADS_1
2 bawahan itu pun menganggukkan kepala mereka.
Javer dan Enzo lantas segera mendekati rumah itu dengan sedikit mengendap-endap. Hingga ketika mereka sampai di dekat rumah itu, mereka mendengar suara wanita dan seorang anak laki-laki tengah bermain dan bercanda.
Yang mana, hal itu seketika membuat Javer mengerutkan keningnya.
"Tunggu, bukankah seharusnya sudah tidak ada lagi anak laki-laki??" Javer bertanya di dalam hatinya.
Javer lantas menatap Enzo yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan bingung. Setelah berpikir untuk sejenek, Javer pun menganggukkan kepalanya guna memberi kode untuk Enzo agar membuka pintu rumah itu.
Enzo yang mendapat kode pun seketika mendobrak pintu rumah itu.
Namun, Enzo tiba-tiba tertawa renyah tat kala melihat apa yang ada di dalam rumah itu..
Javer yang melihat itu pun menatap Enzo dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa?" Tanya Javer.
"Sebaiknya kau melihatnya sendiri. Aku jamin, kau akan tersenyum melihat apa yang ada di dalam sana." Jawab Enzo.
Dan benar saja, setelah melihat apa yang di maksud, seketika membuat Javer menyunggingkan senyum simpulnya. Yang mana, di sana terdapat satu alat pemutar rekaman suara, satu boneka perempuan, dan satu boneka anak laki-laki yang tersusun rapi di atas meja bundar.
Pria itu lantas masuk ke dalam rumah lalu mendekati meja bundar itu kemudian meraih pemutar rekaman suara itu.
Sejenak, Javer terlihat menimang pemutar rekaman itu seraya memperhatikan ke adaan sekitar.
Begitu pula dengan Enzo, pria itu menyusuri setiap sudut ruangan untuk mencari sesuatu yang bisa di jantikan petunjuk.
Di rasa tidak ada hal yang terlihat aneh, Enzo menoleh pada Javer kemudian menggelengkan kepalanya. Javer yang melihat itu pun lantas menekan nekan tombol pemutar rekaman itu yang hanya menghasilkan suara seperti radio rusak.
Hingga setelah menekan tombol untuk yang ke 6x nya, tidak ada sedikitpun suara yang di hasilkan dari pemutar rekaman itu. Setelah menunggu sekitar 2 menit lamanya, Javer yang berniat menyimpan kembali pemutar rekaman suara itu ke atas meja, harus mengurungkan kembali niatnya saat mendengar suara seorang pria.
Yang mana, hal itu juga membuat Enzo segera memfokuskan atensinya pada rekaman itu.
"Tes tes tes.. Apa kalian bisa mendengarku.. Ah, sepertinya kalian bisa mendengarku dengan jelas.. Begini, khem, khem... Aku tau, kalian pasti sedang mencariku.. Tapi, akan sangat tidak menyenangkan jika kalian bisa menemukanku dengan mudah.. Jadi, mari kita bermain petak umpet terlebih dahulu.. Ah, sebaiknya aku sudahi dulu berkata-katanya.. Aku harus bersiap-siap.. Bukan kah aku harus bersembunyi dulu??" Lalu terdengar suara kekehan mengejek dan habis, tidak terdengar apa-apa lagi dari pemutar rekaman itu.
Setelah mendengar isi yang ada di dalam pemutar rekaman itu, seketika membuat Javer mengembangkan semyum kecilnya seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Javer kemudian menatap Enzo yang juga tengah menyunggingkan senyum simpulnya.
"Bukankah ini menarik?" Javer berkata seraya menunjukkan apa yang ada di belakang pemutar rekaman suara itu pada Javer.
Di mana, di sana terdapat sebuah koordinat angka yang entah menunjukkan tempat seperti apa.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..