
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sebelumnya...
"Cih.. Lalu, apa dengan membiarkan gadis kampungan ini masuk begitu saja termasuk dengan mematuhi peraturan? Kau pikir aku tidak melihat jika gadis ini datang begitu saja? Kau pikir aku tidak mendengar percakapan kalian? Apa kau tidak tau jika aku ini adalah orang penting untuk atasanmu!!" Flow kini sedikit meninggikan suaranya.
"Cih, orang penting mana yang berpakaian seperti seorang gadis penghibur?" Teya yang sudah merasa muak dengan tingkah Flow yang terlihat aneh pun berkata dengan nada suara yang terdengar sangat merendahkan.
Nah kan.. Benar kan apa kata Landslay, perkataan yang keluar dari mulut Teya tidak kalah pedasnya dari perkataan yang keluar dari mulut Javer maupun Marco. Landsley yang mendengar hal itu pun hanya bisa berdehem kecil.
Sedangkan Flow, dia yang merasa terhina atas perkataan yang di lontarkan oleh Teya pun menatap Teya dengan sangat tajam. Telunjuk tangan kiri gadis itu terangkat untuk menunjuk wajah Teya.
"Apa otakmu tidak berfungsi dengan baik?? Ini adalah baju paling mahal yang di buat oleh Griffiths Company!! Akan ku laporkan pada CEO perusahaan ini kalau kau sudah menghina busana yang di produksinya!!!" Flow berkata dengan sangat emosi.
Namun, Teya yang mendengar hal itu justru memberikan senyum remeh pada Flow. Teya mengakui kalau baju yang di kenakan oleh Flow adalah baju paling mahal yang di produksi oleh perusahaan Javer. Tapi Teya tau, gadis itu mendapatkannya secara cuma-cuma. Kalian tau kan istilah endorsement? Nah itu, Flow mendapatkannya hasil dari endorse.
Meskipun begitu, bukan kah tidak pantas mengenakan pakaian terbuka seperti itu untuk datang ke perusahaan yang sifatnya formal? Toh Teya juga tau, baju itu di buat khusus untuk mereka-mereka yang sering berpesta di malam hari. Tanpa harus Teya jelaskan, kalian sudah tau kan apa yang di maksud oleh Teya..
"Kau pikir aku tidak tau jika kau mendapatkan baju ini hasil dari endorsements yang di berikan oleh perusahaan?" Teya semakin menatap Flow dengan tatapan meremehkan.
Yang mana, hal itu seketika membuat wajah Flow terlihat memerah. Entah karena emosi, entah karena malu.. Hanya Flow, sensi dan Tuhan yang tau..
"Jaga bicara mu!! Aku membelinya dengan uangku sendiri!! Kau pikir aku orang miskin?? Aku bahkan bisa membeli harga dirimu saat ini juga!!!" Flow berkata dengan mata yang menatap Teya dengan sangat nyalang.
Landsley yang sedari tadi menyaksikan perdebatan 2 gadis itu pun kini terlihat memijat pelipisnya. Tidak bisa kah Teya sedikit memperhalus apa yang hendak dia katakan? Karena sungguh, jika terus seperti ini. Landley yakin, sebentar lagi akan ada fisik, bukan hanya adu mulut. Landsley yang benar-benar bingung bagaimana caranya agar memisahkan 2 gadis itu pun akhirnya memilih untuk menghubungi Marco.
Sedangkan Teya, gadis yang terlihat sangat tenang itu kini justru bersedekap dada seraya menampilkan ekspresi terkejut yang di buat-buat. "Ooowww.. Aku sungguh merinding mendengarkannya.." Gadis itu sedikit memajukan wajahnya ke arah Flow. "Kalau begitu, bisa kah aku meminta tolong padamu untuk membeli harga diriku saat ini juga?" Gadis itu bertanya dengan suara yang di buat serendah mungkin.
__ADS_1
Flow yang merasa terhina atas sikap Teya pun hendak mengangkat tangan kanannya untuk menampar pipi gadis itu. Namun, Flow harus mengurungkan niatnya tat kala melihat pintu lift yang terbuka. Di mana, dari dalam lift itu munculah orang yang sedari tadi dia cari, siapa lagi jika bukan Javer.
Landsley yang melihat kedatangan Javer lantas menghela nafasnya dengan sangat lega. Tapi, di balik itu, dia merasa sedikit bingung. Karena ketahuilah, Landsley belum sempat menghubungi Marco. Tapi, Landsley segera menyingkirkan kebingungannya itu. Yang terpenting sekarang adalah keributan yang dapat terhindarkan.
Sedangkan Teya, dia yang membelakangi lift sehingga tidak mengetahui kedatangan Javer pun hanya bisa mengernyitkan dahinya. Dia sedikit bingung tat kala melihat Landsley dan Flow yang menampilkan ekspresi berbeda. Flow dengan ekspresi lega nya, dan Flow dengan ekspresi sumringahnya.
"Babby, sejak kapan kau ada di sini?"
Mendengar suara seorang pria yang sangat di kenal oleh Teya, seketika membuat Teya memutar bola matanya malas. Kenapa juga Javer harus muncul di saat yang tidak tepat.
Sedangkan Flow, dia yang mendengar Javer megucapkan kata -Babby- itu tiba-tiba menjadi salah tingkah. Karena dia pikir, Javer menujukan kata -Babby- itu untuk dirinya. Jangan heran kenapa Flow sangat percaya diri. Karena saat dirinya menjadi BA, Javer sendirilah yang menunjuknya. Hingga membuat Flow merasa salah paham akan hal itu.
Namun, Flow seketika merasa terkejut karena Javer justru menghampiri gadis yang sebelumnya dia Hina habis-habisan.
Yang mana, hal itu justru membuat Teya menatap Flow dengan menaikkan seulas senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
Tak kunjung mendapat tanggapan dari Teya, Javer memasukkan kedua tangannya ke dalam saku depan celana yang dia kenakan kemudian menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Teya yang masih bersedekap dada itu lantas menoleh pada Javer. Alih-alih menjawab, Teya justru memberikan pertanyaan untuk Javer. "Kau sendiri, sedang apa kau di sini?"
Javer mengangkat bahunya acuh. "Aku hendak ke kampus untuk menjemputmu, apa lagi?"
Landsley yang sudah terbiasa akan hal itu pun hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Namun, gadis itu segera kembali merubah sikapnya agar terlihat lebih sopan.
Sedangkan Flow, dia yang merasa sangat terabaikan pun hendak bersuara. Terlebih lagi, Flow amat sangat penasaran tentang hubungan apa yang di miliki oleh Javer dan Teya. Namun, belum sempat Flow mengeluarkan kalimatnya, Landsley sudah lebih duku berkata.
"Maaf tuan, ini nona yang sebelumnya mencari tuan."
Javer pun menoleh pada Flow dengan ekspresi yang sangat berbanding terbalik ketika tadi Javer menatap Teya.
Yang mana, hal itu membuat Flow merasa sangat tersinggung juga merasa sangat emosi. Tapi sedetik kemudian, Flow segera menghilangkan rasa tersinggungnya itu kemudian mengembalikan kepercayaan dirinya. Karena jika di perhatikan lebih jauh, bukan kah mereka terlihat seperti sugar daddy dan babby nya?
__ADS_1
Flow merasa sedikit yakin atas pemikirannya itu. Karena jika di lihat dari wajah gadis itu yang terlihat masih sangat muda, Flow sangat yakin jika gadis itu memiliki usia kisaran 22/23.
Tidak kunjung mendapatkan tanggapan dari Javer, Flow pun mencoba untuk memberikan penjelasan.
"Tuan, saya Flow.. Model yang sebelumnya di rekomendasikan oleh Tuan *Garry. Saya kesini untuk menandatangani kontrak. Kalau tidak salah, seharusnya Tuan Garry sudah menghubungi tuan untuk hal itu." Flow berkata dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya.
*Tuan Garry : Salah satu penanggung jawab model yang ada di perusahaan milik Javer.
Teya yang mendengar hal itu seketika mengernyitkan dahinya. Karena, bukan kah seharusnya Flow menandatangani kontrak di gedung agency? Untuk apa Flow menandatangani kontrak di gedung utama?
Memikirkan hal itu, seketika membuat Teya merasa sedikit curiga pada Javer. Dia lantas menoleh pada Javer yang masih saja menatap Flow.
Namun, ketika Teya hendak mengeluarkan kalimatnya. Javer sudah lebih dulu berkata.
"Landsley, urus beberapa hal terlebih dahulu. Setelahnya antarkan dia ke ruanganku." Pria itu kemudian menggenggam tangan kiri Teya kemudian berlalu pergi dari sana.
Meskipun Javer berkata dengan suara datarnya. Tapi tetap saja, hal itu membuat Teya menatap Javer dengan di penuhi rasa curiga.
Sedangkan Flow, dia yang mendapatkan respon seperti itu pun kini semakin terlihat percaya diri.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..