
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Babby.."
Teya yang tengah duduk di sofa seraya bermain ponsel pun menoleh pada Javer yang tengah duduk kursi meja kerjanya.
"Kemarilah," ucap Javer.
Teya lantas meletakkan ponselnya di atas meja kemudian menghampiri Javer.
"Ada apa?"
Alih-alih menjawab, Javer lebih memilih untuk menarik Teya agar duduk menyamping di pangkuannya.
Pict by : Pinterest
*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi.
Teya yang merasa sedikit terkejut pun memegang pundak Javer sebagai pegangan untuk menjaga keseimbangannya. "Tidak bisa kah kau tidak mengejutkanku? Bagaimana jika aku terkena serangan jantung mendadak." Gadis itu menggerutu dengan sangat ketus.
Namun, lagi-lagi Javer tidak menghiraukan Teya. Pria itu hanya menghela nafas, kemudian memeluk pinggang Teya dengan sangat erat sebelum akhirnya meletakkan pipi kanannya di pundak kiri Teya.
"E,eh.. Kau kenapa?" Teya bertanya dengan kening yang sedikit mengerut.
"Tidak.. Aku hanya sedikit lelah." Javer menjawab seraya menghirup aroma menenangkan yang menguar dari leher Teya.
Tangan kanan Teya terangkat untuk mengelus pipi kiri Javer. "Apa sangat lelah?"
Javer menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu beristirahatlah untuk sejenak sebelum acara di mulai." Teya berkata seraya mengelus kepala Javer dengan lembut.
Ya, malam ini adalah malam di mana acara peringatan ulang tahun perusahaan milik Javer akan di laksanakan. Yang di mana, acaranya akan di adakan di lantai paling bawah gedung perusahaan milik Javer itu sendiri.
Kini, Javer dan Teya tengah menunggu mulainya acara di dalam ruangan milik Javer. Mereka sudah ada di dalam ruangan Javer sejak 2 jam yang lalu karena Javer harus mengurus beberapa pekerjaan penting.
Awalnya, Teya hendak datang ke acara bersama dengan ke 2 temannya. Namun, Javer meminta agar Teya menemaninya sebelum acara di mulai. Toh jika di pikir kembali, akan sangat tidak baik jika sepasang tunangan datang secara terpisah.
Dan ya, Teya pun menyetujui permintaan Javer.
Setelah beberapa saat berlalu, Teya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Gadis itu sedikit menghela nafasnya saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07.45 malam, di mana acara akan di mulai pada pukul 08.00 malam.
"Javer, kita harus bersiap, acaranya akan di mulai 15 menit lagi." Teya berkata dengan sedikit enggan.
__ADS_1
Karena ya, dia juga merasakan kelelahan yang Javer rasakan. Oleh sebab itu, Teya merasa sedikit enggan menganggu kenyamanan Javer. Namun, apa boleh buat, Javer harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.
"Javer.. Waktu terus berjalan, hmm.." Teya kembali berkata tat kala Javer tak kunjung menunjukkan pergerakan.
Javer pun menghela nafasnya kemudian melepaskan pelukannya di pinggang Teya. "Mari kita turun ke bawah."
"Kau tidak ingin mencuci wajahmu terlebih dahulu? Wajahmu benar-benar terlihat lelah." Teya berkata seraya mengelus wajah Javer dengan lembut.
"Ya, sepertinya aku harus mencuci wajahku terlebih dahulu."
Teya mengembangkan senyumnya lalu beranjak dari pangkuan Javer. "Cepatlah, waktunya hanya tinggal 10 menit lagi."
"Biarkan aku memelukmu untuk sejenak." Javer berkata seraya menenggelamkam wajahnya pada perut Teya.
Teya pun membiarkan Javer melakukan keinginannya. Tangan gadis itu terangkat untuk mengelus kepala Javer dengan sayang.
"Sudah.. Akan sangat tidak baik jika pemimpin mereka telat menghadiri acaranya sendiri." Teya berkata kemudian.
Javer pun melepaskan pelukannya pada pinggang Teya dengan sedikit enggan. Pria itu mendongakkan wajahnya untuk menatap Teya selama beberapa saat sebelum akhirnya beranjak dari duduknya kemudian berlalu menuju kamar mandi.
.....
Setelah Javer dan Teya turun ke bawah, mereka pun bergabung dengan teman-teman Javer yang sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Mereka lalu memperhatikan sang pembawa acara yang sudah mulai membawakan pembukaan acara.
"Baiklah.. Cukup sekian kata-kata pembuka dari saya. Acara selanjutnya adalah kata sambutan dari tuan rumah kita. Untuk Tuan Javer Vencentio Griffiths, di persilahkan untuk maju ke depan."
"Terima kasih atas kehadirannya dan silahkan di nikmati pestanya." Javer berkata kemudian mengangkat gelas anggurnya.
Setelah menerima tepukan meriah dari para tamu undangan, Javer pun kembali bergabung dengan Teya dan teman-temannya.
"Apa kau tidak memiliki kalimat yang lebih panjang selain itu? Aku bosan mendengar kalimat itu di setiap acara ulang tahun perusahaanmu." Enzo berkata kemudian.
Teya yang mendengar hal itu pun lantas menatap Enzo dengan alis yang sedikit menukik. "Apa kah Javer selalu mengatakan kata-kata sambutan yang sama di setiap acara ulang tahun perusahaannya?" Gadis itu berbisik dengan wajah yang sedikit tidak percaya.
"Hmm.. Dan itu sudah terjadi selama 8 kali berturut-turut." Liam menjawab dengan sedikit malas.
"Ck, ck, ck, ck, ck.." Teya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan kah dia terlalu membosankan?" Kheil bertanya kemudian terkekeh kecil.
Teya yang mendengar hal itu pun hanya menanggapinya dengan tertawa renyah.
Sedangkan Javer, pria itu hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh.
Setelah menyelesaikan basa basinya, sang pembawa acara pun kini mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati pesta.
Javer, Teya, Kheil, Liam dan Enzo pun memisahkan diri untuk berbincang dengan kolega mereka masing-masing.
__ADS_1
Setelah menyapa beberala rekan bisnisnya, Javer mengajak Teya untuk menghampiri Yama dan Athena yang tengah berdiri di dekat jendela.
Athena pun menyambut Javer dan Teya dengan senyum manisnya. Wanita itu kemudian memeluk Javer dengan penuh kasih sayang.
"Semoga usaha mu selalu berkembang dengan baik." Athena berkata seraya menepuk-nepuk punggung Javer dengan lembut.
"Thanks mom.." Sahut Javer kemudian melerai pelukannya.
"Aku tidak menyangka jika iblis kecilku akan tumbuh menjadi seorang pria." Yama berkata kemudian meneguk anggurnya.
Javer pun hanya menanggapi perkataan Yama dengan menyunggingkan senyum kecilnya.
Lalu, terlihat Leon dan Calista yang datang menghampiri.
"Selamat atas kerja kerasmu son." Leon berkata seraya menepuk-nepuk bahu Javer.
"Thanks Uncle." Sahut Javer.
"Aku tidak akan mengucapkan selamat kepadamu. Aku akan mengucapkan selamat kepada tunanganmu karena telah berhasil membuat anak iblis bertekuk lutut." Calista berkata kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Teya.
Mereka yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh kecil.
Sedangkan Teya, dia yang merasa sedikit malu pun hanya bisa mengusap tengkuknya canggung.
Saat mereka sedang asik berbincang, lalu datanglah seorang pria paruh baya bernama Horis yang merupakan rekan bisnis Javer, bersama dengan seorang pria yang wajahnya membuat mereka yang ada di sana merasa sangat terkejut.
Namun, mereka berusaha menetralkan rasa terkejut mereka dengan menyambut hangat kedatangan 2 pria itu.
Tapi tidak dengan Javer, dia hanya menatap kedatangan 2 pria berbeda usia itu dengan tatapan tajamnya.
"Tuan Javer, selamat atas kesuksesan anda." Horis berkata seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Javer.
Javer pun hanya menanggapinya dengan membalas uluran tangan Horis.
"Ah ya, Tuan Javer. Jika anda berkenan, saya ingin mengenalkan putra saya yang nantinya akan menggantikan posisi saya di perusahaan." Horis berkata kemudian meminta si pria yang datang bersamanya untuk memperkenalkan diri pada Javer.
Pria itu pun mengulurkan tangannya pada Javer. "Fabio El Dorado." Pria itu berkata kemudian menyunggingkan senyum simpulnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..