
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Melihat semua mobil team inti yang sudah terparkir rapi di basement markas, seketika saja membuat Teya menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Javer.
Begitu pula dengan Javer. Dia yang melangkah di belakang Teya pun ikut menghentikan langkahnya tat kala Teya menghentikan langkahnya.
"Apa sejak awal kau sudah tau mengenai hilangnya Al?" Wanita itu menatap Javer dengan sangat tajam.
"I'm sorry babby.. Aku hanya tidak ingin membuatmu merasa khawatir." Javer berkata dengan sangat tidak enak hati.
Teya seketika saja mendengus kesal. "Aku akan memperhitungkan hal ini denganmu di saat semua hal ini sudah terselesaikan!" Wanita itu berkata dengan penuh kesungguhan.
Javer pun hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah. "Ya, setelah ini, kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan."
Teya lantas kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dalam markas. Wanita itu mendekati Kheil yang tengah memeriksa seluruh rekaman CCTV melalui komputernya. Wanita itu berdiri di samping Kheil dengan bersedekap dada.
"Kheil, hentikan apa yang tengah kau lakukan. Lacak kode B-Nul.1107." Ucap wanita itu.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Teya, seketika saja membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah wanita itu.
"Apa kau memasang alat pelacak pada tubuh Al?" Kheil bertanya dengan dahi yang sedikit mengernyit.
Teya menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu alat pelacak yang diam-diam aku pasang pada kalung yang di pakai Nay."
Ya, pernah pada satu malam. Teya membubuhkan obat tidur pada minuman yang akan di minum oleh Nay. Hal itu sengaja dia lakukan untuk memasangkan alat pelacak pada kalung yang selalu di pakai oleh Nay.
Karena ketahuilah, sebenarnya, Teya sudah mencurigai Nay di saat Teya melihat gadis itu diam-diam masuk ke ruang baca pada malam hari. Hal itu terjadi ketika Nay memasuki minggu ke 3 dia bekerja sebagai babby sitter untuk Al.
Oleh sebab itu, Teya sengaja memasang alat pelacak pada kalung yang selalu di kenkan oleh Nay agar Teya bisa mengetahui kemana saja gadis itu pergi.
Namun sayangnya, selama gadis itu bekerja pada Teya. Gadis itu tidak pernah pergi kemana pun selain pergi ke supermarket. Hal itu tentu saja membuat rasa curiga Teya sedikit berkurang.
Teya tidak menyangka kalau gadis itu akan memanfaatkan acara ini untuk membawa Al pergi. Tapi ya, mau bagaimana pun juga. Itu merupakan kesalahan Teya sendiri yang sedikit lengah karena memberikan kesempatan pada Nay untuk membawa Al pergi.
Jadi, Teya tidak bisa terlalu menyalahkan siapa pun karena itu juga merupakan kesalahannya sendiri.
"Tapi, apa kau yakin kalau Nay mengenakan kalung itu?" Tanya Kheil.
Teya menganggukkan kepalanya. "Aku sangat yakin. Kalung itu tidak pernah lepas dari lehernya."
__ADS_1
"Baiklah.." Ucap Kheil kemudian segera melacak kode yang sebelumnya di sebutkan oleh Teya.
Javer yang merasa sedikit penaran pun menatap Teya dengan penuh tanda tanya. "Kapan kau melakukan hal itu, babby?"
Teya melirik ke arah Javer dengan sedikit sinis. "Apa ini waktunya untuk menayakan hal itu?"
Javer seketika saja mengusap tengkuknya. "Ok, maafkan aku.. Aku tidak akan menganggumu."
Enzo dan Liam yang duduk bersama dengan Javer pun menahan tawa mereka. Mereka tidak menyangka kalau Teya benar-benar mampu membuat seorang Javer tidak berkutik.
Yang mana, hal itu sontak saja membuat Javer melayangkan tatapan tajam pada 2 temannya iti.
Melihat tatapan tajam dari Javer, tentu saja membuat mereka berdua memalingkan wajah. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan Javer, apa lagi dengan situasi yang seperti ini, benar-benar membuat mereka berpikir dua kali jika ingin mencari gara-gara dengan Javer.
Teya yang melihat hal itu pun hanya memutar bola matanya. Wanita itu lantas memfokuskan pandangannya pada layar komputer milik Kheil.
"Fyuuuh!!" Kheil menatap Teya dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
"Kau mendapatkannya?" Tanya Teya cepat.
Kheil menganggukkan kepalanya. Pria itu lantas menoleh pada Javer dan Liam yang duduk tidak jauh dari tempatnya.
"Javer, Liam." Ucap Kheil.
"Apa kalian ingat arena balap yang kalian datangi saat kalian mencari keberadaan Fabio waktu itu?" Tanya Kheil.
Javer dan Liam menganggukkan kepala.
"Apa titik lokasinya terletak di sana?" Tanya Javer.
Kheil menganggukkan kepalanya. "Tapi aku tidak bisa memastikan letak tepatnya. Titik lokasinya terus berputar di sekitar tempat itu."
Mendengar hal itu, lantas membuat Javer menghela nafasnya untuk sejenak. "Marco, perintahkan team Alpha untuk mengintai lokasi. Enzo, siapkan team inti untuk menyerang. Kheil, lakukan tugasmu. Dan kau Liam, kau akan ikut bersama ku." Titah Javer.
Tanpa harus menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, mereka pun segera melakukan tugas mereka masing-masing.
Melihat Teya yang kini tengah merobek long dressnya, lantas membuat Javer segera mendekati wanita itu. Javer memgang bahu Teya agar wanita itu berhenti menyobek dress yang di kenakannya.
"Babby, bisa kah kau menunggu di sini?" Javer bertanya dengan lembut.
Teya menggelengkan kepalanya seraya kembali merobek long dressnya agar dress itu menjadi dress pendek. Hal itu dia lakukan agar mempermudahkannya dalam bergerak.
"Tidak! Aku akan ikut bersama kalian." Teya berkata dengan tegas seolah tidak ingin di bantah.
__ADS_1
"Tapi babby, ini terlalu berbahaya. Kita tidak tahu apa yang sudah di siapkan oleh mereka di sana."
Teya yang sudah selesai dengan dressnya pun menatap Javer dengan nyalang. "Apa kau meragukan kemampuanku?"
"Aku tidak meragukan kemampuanmu, babby.. Aku hanya tidak ingin kau berada dalam bahaya. Tunggulah di sini, hmm.. Aku akan menjamin keselamatan Al."
"Aku tidak bisa Javer. Bagaimana mungkin aku bisa berdiam diri di sini dengan keadaan yang sangat aman sedangkan Al saat ini sedang berada dalam keadaan yang berbahaya."
Melihat Teya yang benar-benar tidak ingin di bantah, lantas membuat Javer menghela nafasnya. "Ok, kau boleh ikut. Tapi berjanjilah, kau akan selalu berada dalam jarak pandangku."
Teya menganggukkan kepalanya.
Javer menatap Teya untuk beberapa saat. "Bawalah senjata yang kau butuhkan. Pastikan agar kau tetap aman."
Teya kembali menganggukkan kepalanya kemudian mendekati kotak kaca yang di dalamnya berisi berbagai senjata. Wanita itu mengambil sepasang pisau kecil yang di design khusus untuk di pasangkan di kedua tangannya, wanita itu juga mengambil pistol dengan jenis desert eagle untuk melawan musuh dalam jarak jauh.
Setelah mengambil senjata yang dia butuhkan, Teya lalu kembali menghampiri Javer.
"Kau akan ikut denganku dan Liam." Ucap Javer.
Teya menganggukkan kepalanya.
Mereka pun segera menuju mobil yang di mana Liam sudah bersiap di kursi kemudi.
Javer duduk di kursi penumpang di samping Liam, Teya duduk di kursi penumpang ada di belakang.
"Kita berangkat." Ucap Javer.
Liam menganggukkan kepalanya kemudian mulai melajukan mobilnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1