
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir kediaman Griffiths, Javer lantas menoleh pada Teya yang duduk di sampingnya.
"Kau yakin bisa berjalan sendiri?" Tanya Javer.
Teya mengangguk kecil. "Lagi pula, jika aku tidak berjalan sendiri. Apa yang harus ku katakan pada mommy, jika dia melihat kita datang dalam keadaan aku yang berada dalam gendonganmu?"
"Cukup katakan saja jika kau merasa kelelahan." Pria itu menyahut dengan acuh tak acuh seolah itu bukanlah sebuah masalah.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya melirik Javer dengan sinis. "Haish!! Apa kau tidak berpikir kalau mommy akan curiga?"
Javer menatap Teya dengan dahi yang sedikit mengernyit. "Curiga untuk hal apa? Bukan kah kau memang merasa kelelahan?"
"Ah, sudahlah.. Lupakan.." Ucap gadis itu kemudian keluar dari dalam mobil dengan sedikit kesulitan.
Javer yang melihat hal itu pun segera keluar dari dalam mobil kemudian melangkah memutar menuju Teya dengan maksud untuk membantu gadis itu.
Namun, Teya segera menolak hal itu karena dia harus terbiasa dengan rasa sakitnya. Terlebih lagi, mereka harus menemui Yama dan juga Athena. Teya tidak ingin sampai Yama dan Athena berpikir mengenai hal yang iya-iya jika Javer membantunya untuk berjalan.
Javer pun hanya bisa menghela nafasnya merasakan kekeras kepalaan gadis itu. Tapi, walaupun begitu, Javer tetap siap siaga kalau-kalau gadis itu tiba-tiba saja tidak bida berdiri dengan tegak.
Setelah menutup pintu mobil, Javer kembali menatap Teya dengan di penuhi kekhawatiran karena gadis itu kembali meringis seraya memegangi pinggulnya.
"Kau yakin baik-baik saja? Apa tidak sebaiknya aku menggendongmu saja?" Javer bertanya seraya memegang kedua bahu gadis itu.
"Aku baik-baik saja.. Hanya saja.." Teya menggantungkan kalimatnya, gadis itu tiba-tiba memicingkan matanya pada Javer.
"Salahkan milikmu yang terlalu besar sehingga menyakitiku seperti ini" Gadis itu melanjutkan kalimatnya dengan sedikit ketus.
Javer menatap gadis itu dengan menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah kau juga menikmatinya?"
Mendengar hal itu, seketika saja membuat wajah Teya memerah. "Itu.. Haha.. Itu.. Ck, bisa kah kau tidak membahasnya!" Gadis itu mengibaskan tangan kirinya ke udara.
"Maafkan aku babby.. Tapi kau yang lebih dulu membahasnya." Sahut Javer cepat.
"Baiklah-baiklah, mari kita lupakan.." Gadis itu berkata kemudian hendak berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
Namun, baru satu langkah dia berjalan, gadis itu kembali meringis merasakan intinya yang terasa amat sangat perih.
Javer yang melihat hal itu pun segera memegang kedua bahu Teya. "Aku tidak akan memapahmu, hanya gandeng lenganku agar kau lebih mudah untuk berjalan, hmmm?" Pria itu bertanya dengan lembut.
Teya pun menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng lengan kiri Javer menggunakan lengan kanannya.
Mereka lantas segera masuk ke dalam rumah meskipun dengan langkah pelan.
Saat mereka sudah masuk ke dalam, banyak orang yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga.
Athena yang melihat kedatangan Javer dan Teya pun segera berdiri untuk menyambut calon menantunya.
"Kenapa kalian baru datang? Apa ada sesuatu yang menggang.. Tunggu.." Athena menggantungkan kalimatnya tat kala melihat cara berjalan Teya yang sedikit aneh.
"Ada apa dengan cara berjalanmu?" Tanya Athena kemudian.
Yama, Mona, Eliza, Leon, Liam, Enzo dan Kheil pun seketika menoleh pada Teya dan Javer ketika mendengar apa yang di pertanyakan oleh Athena.
Mendapat pertanyaan seperti itu, seketika saja membuat Teya salah tingkah. Terlebih lagi ketika mereka yang ada di sana menatap ke arahnya. Rasanya membuat Teya benar-benar ingin menenggelamkam diri ke dasar bumi.
"Khem.. Itu.. Aku tidak sengaja terjatuh Mom.. Kakiku terkilir, jadi ya.. Begitulah.." Gadis itu menjawab dengan sedikit gugup.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya segera memegang lehernya dengan sedikit panik. Karena ya, Teya tidak sempat bercermin sehingga dia tidak menyadari kalau ada beberapa tanda yang Javer tinggalkan di lehernya.
Ketahuilah, saat ini Teya datang tanpa menggunakan make up sedikitpun. Gadis itu bahkan hanya mengenakan pakaian santai dan hanya menyisir rambutnya saja.
Melihat reaksi Teya yang seperti itu, sontak saja membuat Javer menahan tawanya. Termasuk Liam, Enzo, Kheil, Mona, Eliza dan Leon. Mereka bisa menebak dengan mudah apa yang sebenarnya terjadi pada Teya.
Sedangkan Yama, mengetahui kalau anaknya sudah melakukan hal itu. Dia hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal merasakan betapa miripnya Javer dengan dia.
Tidak ingin membuat Teya semakin salah tingkah, Athena pun akhirnya memilih untuk tidak menggoda gadis itu.
"Baiklah-baiklah, lupakan.. Sebaiknya kita segera duduk." Wanita itu berkata seraya membantu Teya untuk berjalan ke arah sofa.
Teya pun hanya bisa menurutinya dengan pasrah seraya berusaha menutupi lehernya menggunakan tangannya.
Namun, sebelum itu, Athena menoleh pada Javer.
"Apa kau tidak bisa bersikap romantis sedikit pun? Seharusnya kau menggendong calon istrimu, bukannya malah membiarkannya berjalan sendiri!! Haish.. Ternyata daddy mu lebih baik dari pada kau.." Wanita itu berkata dengan sedikit sarkas kemudian segera menuntun Teya untuk duduk di sofa.
Mendengar perkataan Athena yang seperti itu, sontak saja membuat Javer menatap wanita yang menjadi ibu kandungnya itu dengan wajah yang sedikit melongo tak percaya.
__ADS_1
Oh ayolah.. Kalian tau sendiri kan kalau Javer bahkan sudah memaksa gadis itu agar dia menggendongnya. Seharusnya mommynya mencela kekeras kepalaan Teya. Bukan malah membandingkannya dengan daddynya.. Oh astagaaa..
Namun, meskipun begitu, Javer hanya bisa menghela nafasnya kemudian menyusul Teya yang sudah duduk di sofa.
Sedangkan Teya, gadis itu hanya bisa semakin mengusap tengkuknya dengan canggung saat mereka menatap ke arahnya. Gadis itu terus berusaha menutupi lehernya menggunakan tangannya.
Melihat hal itu, lantas membuat Athena sedikit menundukkan tubuhnya untuk berbisik pada Teya yang sudah duduk di sofa.
"Abaikan saja mereka.. Anggap saja tidak terjadi apa-apa.. Mommy dulu bahkan memiliki bekas tanda yang lebih banyak dari pada itu.."
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya menatap Athena dengan wajah yang sedikit memelas.
"Mooooom..." Gadis itu merengek kecil.
Namun, Athena hanya menanggapinya dengan mengedipkan sebelah matanya kemudian kembali duduk di samping Yama.
"Apa yang mommy bisikan padamu?" Tanya Javer setelah dia duduk di samping Teya.
Teya menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya kau tidak usah mengetahuinya, atau kau akan semakin merasa kesal pada daddy mu.."
Javer lantas menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah?"
"Hmm.." Teya mengangguk kecil.
Javer pun hanya mengedikkan bahunya kemudian menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Baiklah... Apa yang akan bahas?" Tanya Javer kemudian.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1