
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Selamat atas penikahanmu.. Semoga pernikahan kalian akan bertahan hingga tua nanti.. Ah tidak, hingga mau memisahkan." Teya berkata seraya memeluk Nay dengan sangat erat.
Nay membalas pelukan Teya dengan tak kalah eratnya. "Terima kasih nyonya, jika bukan karena tuan dan nyonya. Saya mungkin tidak akan sampai pada titik ini."
Teya melerai pelukannya. "Heeey.. Jangan berkata seperti itu. Semua ini karena sudah garis takdirnya, aku dan suamiku hanyalah sebagai perantara."
Nay tersenyum seraya menatap Teya dengan mata yang berkaca-kaca, wanita itu kembali memeluk Teya. "Ah, nyonya, aku menyayangimu." Wanita itu berkata dengan suara yang sedikit bergetar akibat menahan tangis.
Teya terkekeh kecil. "Aku juga menyayangimu.. Sudah, jangan menangis, kau akan merusak riasanmu.."
Ya, saat ini Teya dan javer tengah memberikan selamat pada Nay dan Marco di atas pelaminan mereka.
"Sekali lagi, terima kasih nyonya.." Nay melerai pelukannya.
Teya menganggukkan kepalanya.
Wanita itu lantas sedikit menundukkan tubuhnya agar posisinya sejajar dengan anak Nay yang bernama Justin.
"Kau ingin memiliki adik?" Tanya Teya dengan tatapan jahilnya.
Anak berusia 2 tahun lebih tua dari Al itu menyunggingkan senyumnya, berbeda dengan Al yang dingin dan pendiam, Justin justru merupakan anak yang hangat dan periang. Jika di bandingkan, mereka bak Javer dan Enzo.
"Tentu saja, aku ingin memiliki adik perempuan. Tapi aku berharap kalau suatu saat nanti adikku tidak menjalin cinta dengan Al." Tutur Justin.
Hal itu membut Justin mendapat senggolan dari Nay, namun Teya memberikn kode pada Nay kalau hal itu tidak apa-apa.
Teya lantas menatap Justin dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa begitu?"
Al yang sedari tadi ada di sana pun menatap Justin, dia cukup penasaran atas jawaban seperti apa yang akan di berikan oleh Justin.
Justin yang menyadari rasa penasaran Al pun memilih menggoda temannya itu dengan meminta Teya untuk mendekatkan telinganya.
Teya pun mendekatkan telinganya pada Justin.
"Aku tidak ingin adikku menjadi cepat tua karena mendapatkan pria berwajah tembok." Bisik Justin.
Mendengar hal itu, sontak saja membuat Teya terkekeh geli.
Hal itu membuat Al menatap Justin dengan mata yang memicing tajam.
Namun, Justin hanya menanggapi tatapan Al dengan mengangkat bahunya acuh.
"Kalau begitu, aunty akan merubahnya.. Apa kau setuju?" Tutur Teya.
"Ok, deal." Sahut Justin cepat.
"Kalau begitu, sebaiknya kita cepat turun dari sini, banyak tamu yang menunggu untuk memberikan selamat pada pengantin." Kata Teya.
Javer dan Al menganggukkan kepala.
Mereka pun segera turun dari pelaminan, dengan Al yang memberikan lirikan tajam pada Justin.
"Apa yang kau sepakati dengan nyonya Teya?" Nay bertanya dengan di penuhi rasa penasaran.
Justin menyunggingkan senyum jahilnya. "Ibu tidak boleh tau, ini rahasiaku dan aunty."
"Ck!" Nay mencubit pipi Justin dengan gemas.
.....
Setelah turun dai atas pelaminan, Teya dan Javer pun segera bergabung dengan yang lainnya. Di satu meja bundar itu ada Liam, Gena, Enzo, Kheil, Hana dan Rion.
__ADS_1
Sedangkan Al, dia meminta ijin untuk pergi ke belakang.
"Ah, lucunya..." Teya mencolek pipi *Gia dengan sangat gemas.
*Note : Gia - anak Liam dan Gena.
Bayi cantik nan menggemaskan yang baru saja berusia 5 bulan itu menanggapi Teya dengan kekehan kecil.
Ya, Liam dan Gena telah memiliki seorang putri yang sangat cantik nan menggemaskan.
Liam dan Gena menikah 6 tahun yang lalu, sesuai dengan hari dan tanggal yang sudah di tetapkan pada mulanya.
Awalnya, mereka sama seperti Nay, mereka ingin menunda pernikahan mereka hingga Teya bangun.
Namun, karena alasan yang sama, mereka tidak tahu pasti kapan Teya akan tersadar dari komanya, mereka pun memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan mereka.
Setelah mereka melangsungkan pernikahan, mereka tidak menunda untuk memiliki anak. Tidak, bukan itu alasannya.. Bahkan Gena dengan senang hati ingin segera memiliki seorang anak, terlebih lagi di usia Liam yang sudah tidak lagi bisa di katakan muda.
Alasan kenapa mereka baru memiliki anak di usia pernikahan mereka yang memasuki tahun ke enam, itu adalah karena memang Tuhan baru mengijinkan mereka untuk memiliki seorang anak.
Waktu itu, segala usaha telah di lakukan oleh Gena dan Liam. Berkonsultasi ke dokter kandungan paling terbaik yang ada sudah mereka lakukan. Berbagai progaram kehamilan pun juga sudah mereka lakukan. Bahkan pemeriksaan kesuburan pun juga sudah mereka lalukan, dan semuanya baik-baik saja.
Tapi tetap saja, mau sebagaimana usaha yang mereka lakukan, mau sebanyak apa harta yng mereka habiskan, jika memang Tuhan belum berkehendak. Maka apa yang menjadi keinginan mereka, tidak akan terwujud.
Hal itu, sempat membuat Gena merasa frustasi, membuat Gena hampir ingin menyerah. Gena bahkan sempat meminta Liam untuk menikah lagi agar pria itu bisa memiliki keturunan.
Jujur, Liam akui, Liam juga ingin memiliki keturunan, bahkan Liam sangat mengharapkan hal itu.
Tapi, Liam tidak senaif itu. Liam tidak serta merta menyetujui apa yang Gena sarankan. Liam bahkan menolak mentah-mentah permintaan Gena untuk dia menikah lagi.
Karena mau dengan perempuan mana pun dia menikah, jika memang pada dasarnya Tuhan belum mengijinkan Liam untuk memiliki keturunan. Maka sampai kapan pun, Liam tidak akan mendapatkan keturunan.
Terlebih lagi, Gena bukanlah seorang yang cacat. Gena merupakan perempuan yang subur, Gena sehat secara keseluruhan.
Dari pada harus menikah lagi, Liam lebih memilih untuk tua bersama dengan Gena tanpa adanya keturunan.
Dan ya, setelah kerumitan yang terjadi di antara mereka berdua. Kesabaran, usaha dan doa mereka pun akhirnya membuahkan hasil.
Mereka menjaga dan merawat kandungan Gena dengan sangat hati-hati. Hingga pada akhirnya, kini mereka memiliki seorang putri yang amat sangat cantik nan menggemaskan.
Mereka menamai putri mereka dengan nama Del Gia Na Thonson, yang berarti hadiah terindah dari Tuhan.
Sedangkan untuk Hana dan Rion sendiri? Ah, lupakan mereka. Sensi akan menceritakannya lain kali..
"Putrimu benar-benar cantik Gena.." Teya tak hentinya mencolek pipi tembam Gia.
Gena menyunggingkan senyumnya, tatapan matanya tak lepas dari bayi perempuan mungil yang tengah berada di dalam gendongannya.
"Ya, aku sangat bersyukur bisa memilikinya."
Teya menatap Gia dengan lembut. "Semoga dia selalu di berikan kesehatan dan kemakmuran."
"Terima kasih.." Ucap Gena.
Teya kini mengalihkan atensinya pada Javer. "Dimana Al? Kenapa dia tidak kunjung kembali?"
Javer mengedikkan bahunya. "Kau akan melihatnya sebentar lagi."
Dan tepat setelah itu, sang pembawa acara pernikahan Nay dan Marco mengatakan kalau ada orang spesial yang akan menyanyikan sebuah lagu.
Betapa terkejutnya Teya saat melihat orang spesial yang naik ke atas panggung itu adalah Al.
"Apa yang akan di lakukan dia di sana?" Teya menatap Javer dengan tatapan bingungnya.
"Menyanyi, tentu saja.. Apa lagi?" Javer menyahut dengan acuh tak acuh.
"Ck!" Teya berdecak kesal kemudian menatap Al yang kini tengah bersiap dengan piano yang akan di mainkannya.
__ADS_1
"Khem, selamat malam." Ucap anak laki-laki berusia 7 tahun itu pada mic yang ada di depannya.
"Selamat malam.." Sahut para tamu undangan yang ada.
"Aku tidak akan memberikan banyak kata pembukaan, just.." Al menatap ke arah Teya. "This is song for you mom.."
Anak itu lantas mulai menarikan kesepuluh jarinya di atas tuts piano hingga menghasilkan melodi yang sangat indah dan menyejukkan hati.
"Ah, kenapa suaranya merdu sekali?" Teya menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku bahkan baru mengetahuinya." Sahut Javer.
Pria itu lantas merangkul Teya. "Kau bahagia?"
Teya mengangguk cepat. "Aku bahagia.. Sangat bahagia.."
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, terima kasih karena sudah melahirkan harta paling berharga untuk hidupku." Javer mengecup kening Teya untuk sejenak.
Teya menyunggingkan senyum manisnya. "Terima kasih juga karena telah mempercayaiku untuk menjadi pendamping hidupmu dan untuk melahirkan harta yang paling berharga itu."
Mereka pun kini memfokuskan atensi mereka pada Al yang terus menyanyikan lagu indah dengan iringan melodi dari piano yang terdengar sangat menyejukkan hati.
...-TAMAT-...
After Credit...
"Javer, ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, babby.."
"Kenapa kau menamaiku Blue Lotus Flower?"
"Hmmm.." Javer mengeratkan pelukannya pada Teya. "Kau tahu, pada zaman mesir kuno, bunga lotus sangat di muliakan. Bunga lotus biru sendiri di artikan sebagai sumber pengetahuan. Bunga lotus juga merupakan tanaman yang bisa di jadikan obat atau pun racun. Terlebih, bunga lotus biru memiliki efek kecanduan yang sangat tinggi. Pada zamannya, bahkan hingga saat ini, bunga lotus biru sering kali di jadikan salah satu bahan untuk membuat obat terlarang."
"Aku menyamakanmu dengan lotus biru karena kau tak ubahnya seorang yang memang harus di muliakan. Kau juga merupakan satu-satunya wanita yang bisa membuatku merasa kecanduan dalam segala aspek. Entah itu keindahan parasmu, aroma yang menguar dari tubuhmu, bahkan rasa yang ada padamu. Benar-benar selalu membuatku merasa candu." Tambah pria itu.
Teya mengernyitkan dahinya. Entah dia harus merasa terharu, atau dia harus merasa geli akibat penjelasan dari Javer yang sedikit nakal.
"Apa aku perlu menjelaskannya sekali lagi?"
Teya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu tidurlah.."
Teya mengangguk, dia semakin menyamankan posisi tidurnya dalam pelukan Javer dengan mata yang perlahan mulai terpejam.
...-SELESAI, TAMAT, THE END-...
Aaaaaaaa.. Akhirnya, tamat jugaaaa...
Terima kasih untuk kalian para pembaca setia karyanya sensi.. Terima kasih untuk kalian yang ngasih dukungan buat sensi.. Terima kasih juga untuk kalian yang selalu minta sensi buat update.
Gimana ceritanya? Bagus? Menarik? Atau malah membosankan?
Genre apa lagi yang harus sensi buat setelah ini? Misteri? Horor? Tentang psikopet? Sedih? Atau yang romance lagi?
Sensi bakalan berusaha sebak mungkin buat jadi lebih baik lagi dalam membuat Karya.
Pokoknya, terima kasih atas semua dukungan yang kalian udah kasih buat sensi..
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..