
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Tes tes.. Satu dua tiga.." Ucap sang pembawa acara dari atas panggung seraya melirik pada petugas sound sistem.
Salah satu petugas sound sistem itu pun mengacungkan ibu jarinya pertanda kalau microphone yang di gunakannya berfungsi dengan baik.
"Baiklah.. Kalau begitu, mari kita mulai saja acaranya.. Khem, khem.. Selamat sore para hadirin sekalian dan selamat datang di pesta perayaan yang di adakan oleh Tuan Javer Vencentio Griffiths."
Para hadirin yang hadir di pesta perayaan itu pun bertepuk tangan dengan sangat meriah.
Setelah mengucapkan berbagai kata sambutan sebagai pembuka acara, sang pembawa acara pun meminta Javer selaku tuan rumah untuk naik ke atas panggung guna menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya.
"Sekarang, saatnya kita mendengar kata sambutan dari sang tuan rumah. Untuk Tuan Javer Vencentio Griffiths, di persilahkan untuk naik ke atas panggung.."
Javer melirik Teya sekilas. "Are you ready, babby?"
Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian mengangkat bahunya acuh.
Javer pun beranjak dari kursinya kemudian segera naik ke atas panggung, dengan di iringi sorak sorai serta tepukan meriah dari para hadirin yang menghadiri pesta perayaan itu.
Para wartawan yang hadir pun segera menyorotkan kamera mereka ke arah Javer.
Setelah di atas panggung, Javer pun menerima microphone yang sebelumnya di serahkan oleh sang pembawa acara.
Setelah menghela nafasnya untuk sejenak, Javer pun berkata. "Selamat sore semuanya.."
"Selamat sore.." Sahut para hadirin yang ada.
"Tanpa berbasa basi, saya akan langsung menyampaikan maksud dan tujuan saya mengadakan pesta perayaan ini. Tapi, sebelum itu, saya minta kepada wanita cantik yang tengah duduk di sebelah sana untuk segera naik ke atas panggung bersama dengan bayi mungil yang berada di pangkuannya." Javer menunjuk tempat di mana Teya kini tengah duduk.
Mereka yang ada di sana pun sontak saja menatap ke arah Teya dengan berbagai pandangan. Mereka merasa sangat penasaran, untuk apa Javer meminta wanita dan anak yang di pangkunya untuk naik ke atas panggung. Berbagai macam pikiran dan asumsi pun mulai bermunculan di benak para hadirin yang ada. Terkecuali untuk mereka yang sudah mengetahui siapa Teya dan juga Al.
Tidak ingin terlalu lama menjadi pusat perhatian, Teya pun segera naik ke atas panggung dengan Al yang berada di dalam gendongannya.
__ADS_1
Setelah di atas panggung, Teya pun berdiri di samping di Javer. Wanita itu menyunggingkan senyum kecilnya kemudian sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa semua hadirin yang ada.
Tangan kanan Javer yang tidak memegang microphone pun terangkat untuk merangkul pinggang Teya yang masih terlihat sangat ramping itu.
"Khem.." Javer berdehem kecil kemudian mulai berkata. "Wanita cantik yang berdiri di samping kanan saya ini adalah wanita yang sudah menjadi pendamping hidup saya sejak 2 tahun yang lalu.."
Mendengar hal itu, sontak saja membuat suasana menjadi hening seketika, mereka yang ada di sana benar-benar merasa tercengang. Mereka sangat-sangat tidak menyangka kalau ternyata ada wanita yang mampu meluluhkan hati seorang Javer Vencentio Griffiths.
Javer lalu melanjutkan kembali kalimatnya. "Dia adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat seorang Javer Vencentio Griffiths merasa tertarik. Dia adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat seorang Javer Vencentio Griffiths rela melakukan segala hal atas nama cinta, selain mommy saya tentunya.."
Semua orang yang ada di sana tiba-tiba saja terkekeh. Mereka baru tau kalau ternyata Javer juga bisa bercanda. Setelah mendengar penjelasan dari Javer, kini mereka pun bisa menebak kalau bayi yang ada dalam gendongan Teya itu pasti lah anak kandung dari Javer.
Sedangkan Teya, dia hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya. Tapi percayalah, sejujurnya, jauh di dalam hatinya. Selain merasa bahagia, Teya juga merasa sangat gugup. Namun, Teya berhasil menetralkan rasa gugupnya.
"Dia putraku.." Ucap Athena pada Yama.
"Hmm.. Dia putramu.." Sahut Yama.
"Dan bayi mungil berusia 6 bulan yang tengah di gendong oleh wanita cantik ini adalah anak kandung saya, dia bernama Ralvano Del Griffiths. Yang mana itu berarti, dia adalah pewaris sah untuk semua harta kekayaan yang di miliki oleh keluarga Griffith's." Tambah Javer lagi.
Meskipun mereka masih merasa terkejut, namun mereka tetap memberika tepuk tangan yang meriah guna memberikan selamat untuk Javer.
"Tuan, apa kita bisa masuk ke sesi tanya jawab?" Bisik sang pembawa acara.
Javer pun menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui apa yang baru saja di katakan oleh sang pembawa acara.
"Ok, setelah kita mendengar inti dari di adakannya acara perayaan ini. Untuk para wartawan yang hadir, tentunya kalian sudah pasti memiliki berbagai macam pertanyaan yang ingin di tanyakan. Untuk para wartawan yang hadir, silahkan mengajukan pertanyaan. Kami akan memberikan waktu selama 15 menit." Tutur sang pembawa acara.
Para wartawan yang ada di sana pun segera mengacungkan tangan mereka untuk mengajukan pertanyaan pada Javer.
Javer lantas menunjuk salah satu wartawan wanita yang mengenakan pakaian berwarna biru.
Wanita itu pun segera berdiri kemudian berkata. "Begini, Tuan.. Kami semua sudah mengetahui nama anak tuan. Tapi, kami semua belum mengetahui nama istri Tuan. Jadi, bisakah Tuan memberitahu kami siapa mama istri Tuan? Terima kasih.." Wanita itu kembali duduk.
Javer menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menoleh pada Teya. "Dia.. Dia bernama Teya.. Mateya Bifatigirni."
Mendengar nama keluarga Bifatigirni di sebut, sontak saja membuat orang-orang yang ada di sana kembali tercengang. Bukan kah keluarga Bifatigirni hanya memiliki satu orag putra?
__ADS_1
Tapi, jika Teya memang putri dari keluarga Bifatigirni. Bagaimana caranya keluarga itu menutupi keberadaan Teya selama ini? Mereka hari ini benar-benar di buat tercengang untuk yang ke sekian kalinya.
Kamera dari para wartawan pun seketika beralih pada keluarga Bifatigirni yag memang hadir di sana.
"Tuan Roma, apa kah nona Teya memang benar-benar putri Tuan?"
"Bagaimana selama ini Tuan menyembunyikan keberadaanya?"
"Bisa kah Tuan mengklarifikasi hal ini??"
Tanya para wartawan itu.
Roma pun mengangkat tangannya, meminta para wartawa itu untuk diam sejenak.
Lalu, ada seorang petugas yang menghampiri Roma untuk memberikan michrophone pada pria itu.
Setelah melirik Teya untuk sekilas, Roma pun berkata. "Ya, gadis yang ada di atas panggung itu adalah putri keluarga Bifatigirni."
"Lantas, kenapa selama ini Tuan menyembunyikan keberadaanya?"
"Kami tidak menyembunyikan keberadaanya.. Hanya saja, kami memang sengaja tidak mengenalkannya pada publik. Hal itu kami lakukan agar kami bisa membesarkan putri tercinta kami dengan nyaman. Sebenarnya, kami berencana untu memperkenalkannya di saat dia sudah berusia 10 tahun. Tapi, putri kami menolak hal itu."
Semua orang yang ada di sana pun mengangguk-anggukkan kepala. Mereka semua dapat memahami alasa kenapa selama ini Roma tidak mengenalkan Teya pada publik.
Karena ya, hidup dengan berbagai sorotan kamera yang selalu menyertai kehidupan itu sangatlah tidak nyaman.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..