Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Berita Mengejutkan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Drrrtt.. drrrtt... drrrtt...


Drrrtt.. drrrtt.. drrrtt..


Teya lantas melirik jam yang terpasang di dinding tat kala mendengar ponselnya yang terus bergetar, gadis itu seketika menghela nafasnya saat melihat waktu yang masih menunjukkan pukul 05.00 pagi hari.


"Haishh.. Siapa yang menelpon di pagi-pagi buta seperti ini!!" Teya bergumam seraya menarik selimutnya hingga ujung kepala.


Drrrtt... drrrtt.. drrrtt...


"Ck.." tangan gadis itu akhirnya terulur untuk meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama orang yang menelponnya.


"Halo" ucap Teya dengan suara serak khas bangun tidurnya.


(Teya, kau harus segera melihat berita heboh pagi ini) terdengar suara seorang wanita yang berkata dengan sangat heboh.


Teya lantas mengernyitkan dahinya lalu melihat nama penelponnya yang ternyata adalah Lusi.


"Berita apa yang kau maksud?" Teya bertanya dengan sedikit tidak minat.


(Kau harus melihatnya sendiri)


"Baiklah.. Sebentar" ucap Teya seraya menekan tombol loudspeaker kemudian membuka halaman kabar berita yang ada di internet.


Setelah melihat berita apa yang terjadi, rasa kantuk gadis itu tiba-tiba saja hilang tergantikan dengan rasa terkejutnya.


"What the heck.." gadis itu berkata dengan sedikit linglung.


Gadis itu benar-benar merasa terkejut saat melihat berita yang menampilkan tentang sebuah gedung perusahaan fashion terkenal yang kini sudah habis di lahap si jago merah. Mungkin, jika itu adalah gedung perusahaan lain, Teya tidak akan merasa sangat terkejut seperti ini. Tapi ini, ini adalah gedung perusahaan tempat dimana dia menjalani masa magangnya.


Ya, gedung perusahaan fashion yang terbakar itu adalah gedung perusahaan Bottega Veneta.


(Teyaa...) Lusi mencoba memanggil Teya yang tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


( Teya...)


(Halooooooo..) kali ini Lusi sedikit meninggikan suaranya.


"Ah ya, halo.."


(Kau baik-baik saja?)

__ADS_1


"Ya.. Aku baik-baik saja, kalau begitu aku akan menghubungimu kembali nanti." Teya berkata kemudian mematikan sambungan.


Gadis itu terlihat merenung untuk beberapa saat.. Hingga..


"Tidak mungkin kan jika...." Teya menggantungkan gumamannya.


"Ah tidak, tidak.. Itu tidak mungkin.."


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghilangkan pemikirannya yang menurutnya sedikit konyol.


"Tapi... Bisa saja kan.."


Tepat setelah mengumamkan hal itu, Teya lantas segera beranjak dari kasurnya dengan sedikit tergesa-gesa kemudian menyambar kunci mobilnya yang ada di atas nakas.


.....


"Kau yang melakukannya?" Teya bertanya ada Javer yang kini tengah duduk di sofa yang tepat berada di hadapannya.


Javer lantas menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Teya yang kini tengah berkacak pinggang seraya menatapnya dengan sangat tajam.


"Tidak kah kau ingin mencuci muka mu dulu babby? Kau terlihat sedikit.. Berantakan." ucap Javer kemudian.


Teya yang mendengar hal itu pun seketika merasa sedikit gugup, gadis itu lantas berdehem seraya merapikan rambutnya yang memang sedikit berantakan.


Oh ayolah, lagi pula, siapa yang tidak merasa panik jika tiba-tiba saja membaca berita terbakarnya gedung tempatmu magang tepat setelah kau melakukan sesuatu yang mungkin saja membuat priamu marah.


Lagi pula, Teya bisa mengira itu ulah Javer karena memang hanya pria itu yang mungkin saja melakukan hal gila itu. Toh juga penyebab kebakarannya sedikit ganjil, jadi wajar saja kan jika Teya mencurigai Javer? Apa lagi kejadiannya tepat setelah pria itu mengatakan sesuatu yang sedikit menganggu pikirkannya.


"Aku tidak.." sahut Javer cepat.


"Haiss.. Sudahlah, jangan membahas penampilanku. Aku akan bertanya sekali kepadamu. Apa kau yang melakukannya?"


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud" Javer menjawab dengan sedikit acuh tak acuh.


Gadis itu menghela nafasnya sejenak lalu memperlihatkan ponselnya yang menampilkan halaman berita kebakaran gedung perusahaan Bottega Veneta kepada Javer.


Javer yang melihat itu pun tersenyum simpul. "Jadi kau menerobos masuk ke apartment tunanganmu di pagi buta seperti ini hanya untuk menanyakan berita tidak penting ini?"


Yang mana, hal itu seketika membuat Teya menatap Javer dengan penuh rasa tidak percayanya. "Hanya?? Berita tidak penting??"


Javer menaikkan sebelah alisnya.


"Jadi tebakanku benar? Kau yang melakukannya?" gadis itu kembali bertanya untuk memastikan.


Javer pun hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh.


"Haha.. Waaaah.." gadis itu sedikit menengadahkan kepalanya seraya tertawa dengan penuh rasa ketidak percayaan.

__ADS_1


Teya lantas menatap Javer untuk beberapa saat sebelum akhirnya bekata. "Kau benar-benar gila Javer"


"Cih" pria itu berdecih kemudian berkata "Bukan kah aku mengatakan untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuatku cemburu? atau aku akan membalasnya dengan sesuatu yang tidak akan pernah terlintas di pikiranmu"


Teya seketika kehilangan kata-katanya.. Ok, mungkin ini memang salah Teya yang sedikit nekat. Tapi, sungguh, bukankah menemani atasan untuk menemui client adalah sebuah hal yang wajar?


Dan juga, bukankah membakar gedung perusahaan adalah sesuatu yang sedikit berlebihan? Terlebih lagi itu adalah perusahaan milik orang lain. Apa pria itu tidak memikirkan tentang kerugian yang akan di alami pemiliknya?


Oh astaga, memikirkannya saja seketika membuat kepala Teya terasa berdenyut.


Pria itu lantas menaikkan sebelah alisnya tat kala Teya tidak memberikan respon apa pun. "Apa kini kau sudah menyadari kesalahanmu babny?"


"Ok, aku salah karena tidak menunggu persetujuanmu untuk pergi dengan Fabio dan mematikan ponselku juga tidak membalas pesanmu. Tapi bukankah hal wajar jika aku menemani atasanku untuk menemui seorang client?" gadis itu berusaha untuk membela diri.


"Apa kau pikir ini bukan kesalahan?" Javer bertanya kemudian menyerahkan sebuah map kepada Teya.


Teya menerima map itu dengan sedikit ragu. Gadis itu sangat terkejut ketika melihat isi map itu yang ternyata berupa foto dimana Fabio tengah memeluknya dalam posisi duduk.


Raut wajah gadis itu seketika berubah menjadi sedikit memelas tat kala Javer kini bersedekap dada seraya menatapnya dengan sangat tajam.


"Aku, aku bisa menjelaskannya.." Teya berkata dengan sedikit gugup.


Javer lantas menaikkan sebelah alisnya.


"Emm begini.. Kau tau.. Aku, aku benar-benar tidak tau jika dia akan memelukku setelah client menandatangani kesepakatan.. Sungguh, aku juga merasa terkejut karena dia tiba-tiba memelukku. Aku bahkan tidak membalas pelukannya. Kau bisa memastikannya lewat CCTV Cafe itu." Teya berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Karena ya, Teya memang tidak melakukannya. Teya juga merasa terkejut tat kala Fabio tiba-tiba memeluknya saat client itu sudah pergi dengan dalih senang karena client itu telah menandatangani kesepakatan. Tapi sungguh, Teya sama sekali tidak membalas pelukan Fabio, Teya bahkan segera mendorong pria itu karena Teya juga merasa sangat tidak nyaman.


"Oh ayolah Javer, aku mengatakan yang sebenarnya.. Apa kau tidak percaya padaku??" Teya kembali berkata saat Javer tak kunjung memberikan respon apa pun.


Javer pun menghela nafasnya lalu berkata. "So, bukan kah sudah ku katakan kalau aku tidak percaya pada pria itu?"


Teya seketika mengusap tengkuknya canggung. "I know but, tetap saja perbuatanmu itu sedikit berlebihan. Apa kau tidak berpikir tentang berapa kerugian yang akan di alami oleh pem.."


"Aku tidak rugi.." Javer memotong perkataan Teya dengan cepat. "Lagi pula, aku bisa melakukan apa pun atas apa yang menjadi milikku. Bukan begitu, babby?" pria itu lantas menarik senyum simpulnya.


Teya seketika menatap Javer seraya mengerjapkan matanya dengan bingung. "Tunggu.. Jangan bilang kalau..."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2