Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Malam Panas - Part 2


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Warning!!!


Bab ini berisi konten 21+!!!


Bocil harap minggir..


Di usahakan untuk membaca disaat bersama pasangan.


Untuk para jomblo, silahkan untuk menikmati kesendirian kalian..


....


Sebelumnya...


"Buka matamu dan tatap mataku babby.. Sudah terlambat untuk dirimu lari dari apa yang akan terjadi!!" Javer berkata dengan suara seraknya.


Meskipun sedikit ragu, Teya tetap saja perlahan membuka matanya untuk menatap Javer. Karena ya, apa yang baru saja di katakan oleh Javer memanglah sangat benar. Sangat terlambat untuk Teya lari dari semua yang akan terjadi.


Jadi, yang bisa Teya lakukan saat ini hanyalah pasrah menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.


.....


Dan tanpa berkata apa pun lagi, Javer mulai melu..mat bibir Teya dengan sedikit rakus.


Merasakan betapa kenyal dan manisnya bibir Teya dalam indra pengecapnya, benar-benar membuat Javer terlalu sulit untuk mengendalikan hasrat kelelakiannya.


Yang mana, hal itu membuat Teya kesulitan mengimbangi apa yang Javer lakukan padanya. Hingga membuat Teya memukul pelan dada Javer karena dia sedikit kesulitan untuk mengambil nafas di sela-sela ciuman rakus yang Javer berikan.


Namun sayangnya, Javer tidak lagi menghiraukan Teya. Yang Javer lakukan justru memegang kedua lengan Teya kemudian menuntun gadis itu untuk berdiri. Pria itu lalu menggiring Teya ke arah shower tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Dan ya, yang hanya bisa Teya lakukan adalah pasrah.. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Javer guna menjaga keseimbangan tubuhnya yang mulai goyah.


Setelah menyalakan shower hingga air yang di keluarkannya mulai membasahi tubuhnya dan tubuh Teya guna membilas shampo yang ada di kepalanya. Javer lantas melepaskan tautan bibir mereka untuk sejenak guna melepaskan atasan yang di kenakan oleh Teya.


Karena kebetulan, Teya sudah mengganti dress yang di kenakannya untuk pesta dengan pakaian santai berupa kaos dan celana pendek.


Setelah berhasil melepaskan atasan yang di kenakan oleh Teya, Javer kembali ******* bibir ranum gadis itu yang selalu menjadi candu untuknya. Dengan satu tangannya yang kembali mematikan shower karena shampo yang ada di kepalanya sudah terbilas.


Puas dengan belahan bibir ranum Teya, kecupan dan setiap sesapan Javer kini mulai turun merambat pada dagu gadis itu dan tertahan di perpotongan leher jenjang gadis itu.


Dan dengan gerakan cepat, Javer segera melepaskan celana pendek yang di kenakan oleh Teya hingga hanya tinggal menyisakan sepasang dalaman yang masih terpasang dengan baik di tubuh gadis itu.


Tangan kiri Javer kini mulai meremat pinggang ramping Teya dengan tangan kanannya yang perlahan mulai merambat naik dari pinggang menuju punggung mulus gadis itu.

__ADS_1


Dengan satu kali gerakan, tangan kanan Javer dapat meloloskan penutup dada yang di kenakan gadis itu dengan sangat mudah.


Pria itu lantas mendorong Teya secara perlahan hingga punggung gadis itu bersandar pada dinding kaca pembatas.


Kini, kecupan demi kecupan Javer semakin merambah turun menuju dada Teya yang sangat membusung itu.


Yang mana, apa yang di lakukan Javer itu sontak saja membuat Teya menengadahkan kepalanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Kedua tangan gadis itu terangkat untuk meremat rambut Javer guna menahan getaran aneh yang kini mulai menjalari seluruh tubuhnya.


"Nggehh..!!"


Gadis itu terus melenguh tertahan menahan semua gejolak yang menghanyutkan kesadarannya. Hinga dia benar-benar tidak sadar kalau Javer sudah melepaskan kain sisa yang melekat di tubuhnya.


Yang mana kini, Teya sudah sama halnya dengan Javer yang tidak mengenakan sehelai benang pun.


Puas bermain dengan dada kenyal milik Teya, tangan Javer mulai merambat turun secara perlahan menuju inti pusat gadis itu. Dan dengan gerakan lembut, Javer mulai mengelus permukaan inti Teya.


Yang mana, apa yang di lakukan oleh Javer itu sontak saja membuat Teya menahan nafasnya merasakan gelenyar sensasi yang samakin menjalari tubuhnya.


Menyadari hal itu, lantas membuat Javer mengecup pipi kanan Teya dengan lembut.


"Bernafaslah babby.." Bisik Javer di telinga kanan Teya tanpa menghentikan gerakan tangan kanannya dari sana.


Berhasil, bisikan yang diberikan Javer seketika membuat Teya kembali mendapatkan nafasnya yang sempat dia tahan.


"Nyyahh!! Javer.."


"Itu.. Aku.. Eunghh!!"


Teya yang sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya pun akhirnya ambruk di pelukan Javer dengan kepalanya yang bertumpu pada dada Javer.


Javer dengan sigap segera menggendong Teya ala koala kemudian menggendong gadis itu menuju kasur mereka.


Teya yang merasa sudah tidak berdaya pun hanya bisa mengalungkan kedua lengannya pada leher Javer dengan kepalanya yang bertumpu di pundak kekar pria itu.


Melihat ketidak berdayaan Teya, seketika saja membuat Javer menahan kekehannya. Karena hanya dengan melakukan hal itu saja sudah benar-benar membuat Teya kehilangan tenaganya.


Javer kini tidak bisa membayangkannya akan seperti apa jadinya dika mereka sudah melakukan inti dari permainan yang tengah mereka lakukan ini.


Melihat Javer yang menahan tawanya ketika pria itu membaringkan tubuhnya di atas kasur, sontak saja membuat Teya menatap pria itu dengan sangat tajam.


"Jangan tertawa!!" Gadis itu berkata dengan sangat ketus.


Tapi percayalah, apa yang ada di penglihatan Javer bukanlah tatapan tajam. Melainkan tatapan sayu yang seolah mengundang Javer untuk terus melakukan apa yang memang ingin dia lakukan.


"Aku tidak tertawa, babby.." Javer berkata dengan lembut seraya mengungkung gadis itu.


Javer lantas kembali melu..mat bibir ranum gadis itu dengan gerakan yang lebih lembut karena kini Javer mulai bisa kembali mengontrol hasratnya.


Pria itu kemudian melepaskan tautan bibir mereka kemudian menuntun tangan kiri Teya menuju miliknya.

__ADS_1


"Cobalah untuk menyentuhnya.." Ucap Javer lembut.


Namun, Teya menahan tangannya seraya menatap Javer dengan mata yang mengerjap.


"Haruskah?" Tanya Teya.


"Ya.. Kau harus terbiasa menyentuhnya.." Sahut Javer cepat.


Meskipun merasa sedikit ragu, namun Teya tetap memberanikan diri untuk menyentuh milik Javer dengan tangan yang sedikit bergetar.


Alhasil, apa yang di lakukan Teya mampu membuat Javer menggeram dengan mata yang terpejam merasakan sensasi yang menyenangkan akibat sentuhan kulit telapak tangan Teya yang begitu halus.


Namun, Javer kembali membuka matanya tat kala Teya menyebut namanya dengan nada yang terdengar bingung.


"Javer?" Ucap Teya.


"Hm?" Javer menyahut dengan sedikit menggeram karena Teya masih menggenggam miliknya.


Karena meskipun Teya tidak menggerakan tangannya, namun hal itu tetap mampu membuat Javer merasa sedikit kehilangan akal sehatnya.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Javer kembali bertanya tat kala Teya hanya menatapnya.


"Uhmm.. Bu, bukan kah ini terlalu besar?" Teya bertanya dengan sangat polosnya.


Mendengar apa yang baru saja di tanyakan oleh Teya. Seketika membuat Javer benar-benar terkekeh geli.


"Tchh.." Javer mendecih kecil karena tidak kuasa menahan rasa gemasnya pada Teya.


Oh, C'mon.. Haruskah Teya menanyakan hal itu sekarang?? Javer tidak mengerti kenapa dia harus jatuh cinta pada gadis yang memiliki mulut ajaib seperti ini.


Sedangkan Teya, melihat Javer yang terkekeh geli, sontak saja membuat gadis itu mencebikkan bibirnya seraya melepaskan milik Javer yang masih ada di genggamannya itu.


Tidak ingin merusak suasana, Javer pun segera melerai kekehannya kemudian menatap Teya dengan lembut.


"Apa kau takut?" Javer bertanya seraya menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi wajah Teya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2