Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Proposal Magang


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Beberapa hari kemudian..


Hari ini adalah hari dimana Teya akan mengajukan proposal magangnya kepada ketua program studi. Namun, sebelum menyerahkan proposal itu, Teya mengajak kedua temannya untuk singgah di sebuah Cafeteria yang berada di dekat kampus.


"Ge.. Kau mendaftar magang di perusahan mana?" Teya bertanya pada Geya yang kini tengah menyusun proposal magangnya.


Gena lantas melirik Teya sekilas. "Aku sedang mencoba keberuntunganku untuk masuk ke perusahaan Versace's"


"Hmm.. Perusahaan itu sangat cocok dengan seleramu yang sangat glamour.." Teya berkata seraya mengangguk-anggukan kepalanya perlahan.


Gena pun hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.


"Lalu kau, Hana?" Teya bertanya pada Hana yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.


Hana mengangkat bahunya. "Kemana lagi jika bukan perusahaan Corneliani, kau kan tau sendiri kalau aku menyukai fashion yang sedikit unik.. Dan ketua program studi pun sudah menyetujuinya, jadi aku hanya tinggal menunggu panggilan untuk wawancara." jawab Hana.


Gena yang sudah selesai dengan proposalnya pun menoleh pada Teya. "Lalu kau?? Kau akan mengajukan proposal untuk perusahaan mana?"


Teya menggelengkan kepalanya perlahan. "Entahlah.. Aku sudah menyelesaikan proposalku, aku hanya perlu mencantumkan nama perusahan yang akan aku masuki"


"Bukankah akan lebih baik jika kau magang di salah satu perusahan milik keluarga Griffiths? Toh nilai pelajaranmu juga di atas rata-rata.. Lagi pula, Javer juga tidak mungkin kan tidak menerima mu untuk magang di sana.." ucap Hana sedikit acuh tak acuh.


Mendengar perkataan Hana, seketika membuat Teya teringat kembali akan percakapannya dengan Javer tempo hari.


Flashback On..


"Babby, kapan kau akan mulai magang?" Javer bertanya pada Teya yang kini tengah mengetik proposal magangnya.


"Besok aku akan menyerahkan proposal ini pada ketua studi.. Jika mereka menyetujuinya, maka aku akan memasukkan proposal ini pada perusahaan yang aku minati" Teya menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari layar laptop.


Javer seketika menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau lupa jika aku juga memiliki perusahaan yang menaungi bidang fashion?"


Teya menghela nafasnya sejenak. "Aku tauuu"


"Lalu?"


Gadis itu menghentikan fokusnya pada laptop lalu menatap Javer dengan sedikit memicingkan matanya. "Bukan kah akan sangat tidak menguntungkan untukku jika aku magang di perusahan milik mu?"


"Tcih.." Javer seketika menaikkan sebelah sudut bibirnya. "Justru itu akan sangat menguntungkan untukmu babby.."


"Ehm, ehm, ehm" gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Aku tau apa yang ada di dalam pikiranmu" gadis itu berkata kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada laptop.


Javer berdecih kemudian dengan gerakan cepat, pria itu mendorong Teya untuk berbaring di atas sofa lalu menempatkan gadis itu di bawah kungkungannya.

__ADS_1



Pict by : Pinterest


*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi..


"Oh God, Javer.." ucap Teya seraya memutar bola mata nya. "Apa yang akan kau lakulan!!!"


Alih-alih menanggapi perkataan Teya, pria itu justru mendekatkan wajahnya pada telinga kanan gadis itu lalu meniup telinga gadis itu secara perlahan.


"Bukan kah kau tau apa yang ada di dalam pikiranku?" pria itu bertanya kemudian dengan suara rendahnya.


Yang mana, hal itu seketika membuat bulu kuduk Teya meremang. Hingga tanpa sadar, gadis itu perlahan meneguk ludahnya dengan kasar.


"Bu, bukan begitu maksudku" gadis itu berkata dengan sedikit gugup.


"Lalu?" pria itu kini mulai menyesap perpotongan leher Teya.


Namun, kegiatannya harus terhenti tak kala Marco memasuki ruangannya.


Marco yang melihat apa yang tengah di lakukan Javer dan Teya pun seketika memalingkan wajahnya.


"Khem.." Marco sedikit berdehem guna menetralkan hawa panas yang tiba-tiba saja menghinggapinya. "Maaf saya sudah lancang menganggu kegiatan yang sedang Tuan lakukan, tapi Tuan sudah di tunggu di ruang rapat" ucap Marco.


"Tunda rapatnya untuk 2 jam ke depan" Javer menyahut dengan cepat.


"Tapi , maaf Tuan.. Kali ini Tuan tidak bisa menunda rapatnya karena rapat ini merupakan penentuan pemegang saham"


Seperginya Javer, Teya menghela nafasnya lega kemudian segera merapikan barang-barangnya yang sedikit berserakan.


"Kau kira aku akan menuruti perkataanmu, heh.. Lihat saja nanti!!" Teya berkata kemudian segera berlalu pergi dari sana.


Flashback Of..


"Heeeeyy.. Apa yang kau lamunkan?" Hana bertanya seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Teya.


Teya lantas menoleh pada Hana lalu menatap temannya itu dengan sedikit memicingkan matanya. "Kau tau.. Itu bukan keputusan yang tepat.. Jika aku masuk ke salah satu perusahan milik keluarga Griffiths.. Aku tidak bisa menjamin jika aku akan melewati masa magangku dengan tenang." ucap Teya.


Hana seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe.. Sorry.. Aku sedikit lupa akan hal itu"


"Kenapa kau tidak mencoba perusahaan Bottega Veneta? Bukankah kau menyukai gaya klasik modern??" Gena bertanya kemudian.


Teya seketika menatap Gena dengan pandangan berbinar.. "Kenapa aku tidak memikirkan perusahan itu sejak awal... Aaaaahh, terima kasih Gena.. Kali ini aku mengakui jika kau dapat di andalkan" Teya berkata seraya mulai mencantumkan nama perusahan itu.


Gena yang mendengar perkataan Teya yang sedikit sarkas pun hanya bisa mencebikkan bibirnya..


"Sudah.. Ayooo.. Aku akan menyerahkan proposal ini sekarang" Teya berkata kemudian menarik tangan Gena dan Hana untuk segera menuju ruangan ketua studi.


Tanpa tau jika ponsel yang berada di dalam tasnya terus saja bergetar karena mendapatkan panggilan telepon.

__ADS_1


.....


Di sisi lain...


Terlihat Javer yang kini sedang duduk di kursi kerjanya dengan sedikit gelisah..


Hingga beberapa saat kemudian..


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan Javer.


"Masuk" ucap Javer.


Lalu masuklah Marco dengan membawa beberapa dokumen.


Marco mendudukan kepalanya. "Tuan, ini beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani" lau meletakkan beberapa dokumen yang di bawanya ke atas meja kerja Javer.


Namun, alih-alih menandatangani dokumen-dokumen itu, Javer justru menatap Marco untuk beberapa saat.


"Apa yang ingin Tuan tanyakan?" Marco bertanya kemudian.


"Berapa jumlah mahasiswa yang lulus seleksi magang di perusahaan kita?"


Seakan mengerti kemana arah pembicaraan Javer, Marco kemudian menjawab. "Sekitar 50 orang Tuan. Tapi, sepertinya Nona Teya tidak memasukan proposal magang di perusahaan kita."


Javer seketika menghela nafasnya. "Kau boleh pergi"


"Tapi.. Dokumennya Tuan.." Marco berkata dengan sedikit ragu.


"Ah ya.." Javer lantas segera menandatangani dokumen-dokumen itu.


Setelahnya, Marco pun mengambil kembali dokumen-dokumen itu. "Permisi Tuan" Marco berkata seraya menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Javer yang kini tengah berusaha untuk menghubungi Teya. Hingga tangan kiri pria itu terangkat untuk menekan pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja terasa kaku karena Teya tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Sepertinya kau benar-benar sedang menguji kesabaranku, babby.." pria itu berkata seraya menatap photo Teya yang menjadi wallpaper ponselnya.



Pict by : Anna Maria Sieklucka


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Byee byeeee..


__ADS_2