
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Babby?" Ucap Javer.
"Hm?"
Teya yang tengah berbaring di pelukan Javer pun sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap pria itu.
Javer mengelus kepala Teya untuk sejenak sebelum akhirnya berkata. "Bisakah kau terus melanjutkan studymu di rumah? Aku merasa enggan jika kau harus kembali ke kampus."
Teya menyunggingkan senyum kecilnya. "Jika kau memang menginginkan seperti itu, aku merasa tidak keberatan. Toh aku juga sudah terbiasa untuk belajar di rumah, aku juga merasa sedikit malas jika harus kembali ke kampus."
Karena ya, di saat kandungan Teya memasuki usia kehamilan yang ke 6 bulan. Teya sudah mulai melanjutkan studynya di rumah. Sebenarnya, Teya bisa saja mengajukan cuti hamil. Tapi, Teya tidak ingin kalau sampai masa kelulusannya tertunda. Teya ingin mengenakan toga bersama dengan Hana dan juga Gena.
Dan Teya pun sudah terbiasa dengan belajar di rumah. Jadi, jika Javer memang meminta Teya untuk terus melanjutkan studynya di rumah. Teya akan menyetujuinya dengan senang hati. Dengan begitu, dia juga bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk baby Al.
Toh, Javer juga merupakan pemilik universitas itu, tidak akan ada yang berani menentang kehendaknya. Dan juga, tidak ada salahnya kan kalau Teya sekali-kali memanfaatkan posisi kedudukan yang di miliki oleh Javer.
Javer membalas senyuman Teya. "Kalau begitu, kau tidak keberatan kan jika aku memintamu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik?"
Teya menggelengkan kepalanya. "Bukan kah itu lebih baik? Aku bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk Al. Tapi, jika Al sudah berusia 2 tahun dan aku sudah lulus. Boleh kah aku memiliki Home Fashion yang aku kelola sendiri?"
"Sure.." Sahut Javer cepat. "Kau bisa memilikinya.. Tapi kau harus menunggu hingga Al berusia 2 tahun dan berhenti menyusu."
Teya menganggukkan kepalanya.
"But, babby.."
"Hmm?"
"Bisakah kita mengumumkan pernikahan kita dalam waktu dekat?" Tanya Javer. Ah tidak, jika di pikir kembali. Itu seperti sebuah permintaan.
Karena ya, di saat mereka melangsungkan pernikahan. Mereka hanya mengadakan pesta yang tidak terlalu megah dan hanya mengundang beberapa orang penting saja.
Javer bahkan melarang siapa pun untuk membicarakan pernikahannya dengan Teya ketika mereka sudah keluar dari tempat di mana Javer dan Teya melangsungkan pernikahan.
__ADS_1
Hal itu sengaja Javer lakukan untuk menghindari adanya kekacauan ketika mereka melangsungkan pernikahan. Hal itu juga Javer lakukan demi memenuhi permintaan Teya yang tidak ingin identitas aslinya di ketahui oleh halayak publik. Teya selalu berkata kalau dia tidak ingin sampai ada banyak orang yang mengusik kehidupan tenangnya.
Cukup Rion saja yang menjadi pusat perhatian khalayak publik. Karena hingga saat ini, yang khalayak publik ketahui, keluarga Bifatigirni hanya memiliki seorang putra yang kini sudah mewarisi seluruh kekayaan keluarga Bifatigirni.
Oleh sebab itu, hanya segelintir orang saja yang tau kalau Javer dan Teya sudah resmi menjadi suami istri.
Namun, jika mengingat kembali hal itu, membuat Javer merasa sedikit menyesal. Kenapa tidak di saat itu juga dia mengumumkan ke khalayak publik kalau mereka adalah pasangan.
Dengan begitu, Javer tidak harus merasa khawatir kalau nantinya akan ada pria yang mendekati Teya.
Tapi, mau bagaimana lagi.. Waktu sudah berlalu, sehebat apa pun Javer, setinggi apa pun kuasa yang Javer miliki, Javer tidak bisa mengulang waktu kembali.
Yang bisa Javer lakukan saat ini hanya membujuk Teya agar Teya bersedia untuk mengumumkan perihal pernikahan mereka ke khalayak publik.
"Untuk apa? Jika kita berdua mengumumkan pernikahan kita ke halayak publik, bukan kah itu berarti sama saja dengan aku yang harus mengumumkan identitas asliku?" Teya bertanya dengan dahi yang sedikit mengernyit.
Teya merasa sedikit bingung. Kenapa Javer memintanya untuk mengumumkan pernikahan mereka dengan tiba-tiba. Bukan kah Javer sudah setuju untuk tidak mengumumkan pernikahan mereka ke khalayak publik?
Javer menghela nafasnya. "Apa kau merasa keberatan?"
Teya menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja, aku merasa sedikit enggan jika kehidupan tenangku harus terganggu oleh orang-orang yang memujamu."
"Bukan kah hal itu justru lebih baik? Dengan begitu, mereka bisa tau kalau aku sudah tidak lajang lagi. Toh, kedudukanmu juga tidak jauh berbeda denganku. Mereka tidak akan terlalu berani mengusik kehidupanmu. Lagi pula, ada aku disini yang akan selalu melindungimu. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal itu."
"Ketahuilah babby.. Aku juga ingin semua orang tau kalau kau adalah milikku dan akan seterusnya menjadi milikku.. Aku merasa cemburu di saat ada orang yang mendekatimu karena mereka berpikir kalau kau belum ada yang memiliki." Tutur Javer.
Mendengar penuturan yang Javer katakan, seketika saja membuat Teya terkekeh.
Teya lantas menatap Javer dengan tatapan jahilnya. "Jadi, itu adalah alasan utama kenapa kau sangat ingin mengumumkan pernikahan kita?"
Javer mengangguk tanpa ragu.
Teya kembali terkekeh. "Baiklah-baiklah.. Kau bisa mengumumkan pernikahan kita kapanpun kau menginginkannya."
"Are you sure?" Javer bertanya dengan bibir yang sedikit berkedut, pria itu menahan senyum yang bisa kapan saja tersungging di bibirnya.
Teya menganggukkan kepalanya. "Sure.. Lagi pula, bukan kah kau berkata kalau kau akan selalu melindungiku?"
Javer menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maka umumkanlah.. Aku tidak akan mengkhawatirkan apa pun.." Teya menyunggingkan senyumnya.
Javer kini tak kuasa menahan senyumnya, pria itu benar-benar tersenyum dengan sangat lebar. "Baiklah.. Aku akan mengumumkan pernikahan kita di saat Al berusia 6 bulan. Aku ingin menunggu hinggal Al siap di bawa kehadapan publik karena aku juga ingin mengumumkan kalau Al adalah pewaris dari semua kekayaan milik keluarga Griffiths."
Mendengar nada bicara Javer yang sangat antusias, membuat Teya tak kuasa menahan senyum lebarnya. Karena jika di pikir kembali, ini adalah kali pertama Javer merencanakan sesuatu dengan sangat antusias.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan pesta yang megah untuk mengenalkan statusmu dan status Al. Aku juga akan mengundang setiap wartawan yang ada agar semua orang tau siapa dirimu dan siapa Al di kehidupanku." Tutur Javer lagi.
"Mmmmn.." Teya menganggukkan kepalanya. "Kau bisa menyiapkan pesta seperti apa yang kau inginkan."
Javer seketika saja memeluk Teya dengan sangat erat. "Ah, kau tau babby. Ini adalah kali pertama aku merasa se antusias ini."
Teya membalas pelukan Javer dengan tak kalah eratnya. "Aku tau.. Aku senang jika kau merasa senang."
"Aku harus memikirkan pesta itu mulai dari sekarang. Aku tidak ingin pesta pengenalan kalian terlihat biasa saja."
"Kau bisa mendiskusikannya dengan mommy.. Aku yakin, mommy memiliki sejuta ide mengenai pesta perayaan." Teya berkata seraya menahan kekehannya.
Dia benar-benar merasa bahagia karena bisa melihat Javer yang menunjukkan sisi antusiasnya.
"Ya, aku akan mendiskusikannya dengan mommy.." Javer lalu sedikit melonggarkan pelukannya agar Teya merasa lebih nayaman. "Tidurlah, ini sudah malam. Aku akan membangunkanmu jika Al membutuhkanmu."
Teya menganggukkan kepalanya kemudian menyamankan posisi tidurnya.
"Good night Javer.." Ucap Teya.
"Good night babby.." Sahut Javer kemudian mengecup puncuk kepala Teya untuk sejenak.
Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian mulai memejamkan matanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..